7, Luka.

1028 Words
Carolin baru saja menyadari kesalahan besar yang baru saja ia lakukan saat ia mulai melihat seseorang yang baru saja ia kenal di depan sana. Seorang wanita bergelayut manja di lengan Bian. Carolin sadar, ia bukanlah apa-apa suatu saat nanti, tapi – bila ia menyerah, maka ia akan berada dalam jeruji besi. Apa ia harus berjuang? Tapi, bagaimana caranya. "Bian, sebenarnya apa yang tengah kalian bicarakan?" tanya Aleta dengan suara manja. Bian menoleh ke arah gadis cantik itu, tapi tatapan matanya tampak datar. Very menelan ludahnya dengan sangat kasar pada saat itu, tapi sesaat kemudian, ia melihat seseorang yang berdiri jauh di depan sana. "Bian?" Very menyikut temannya dan ia tampak menatap lurus ke depan. Bian yang merasa penasaran dengan apa yang Very lihat akhirnya ikut melihat ke arah tersebut. Dan sesaat kemudian, ia terdiam saat melihat siapa yang ada di depan sana. Seorang wanita cantik, sangat cantik..., tampak memakai pakaiannya yang terlihat kebesaran, dan tatapan mereka seketika bertemu. Carolin benar-benar merasakan sesak dalam hatinya, ia sungguh tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bila semua pernikahan yang ia lalui hanyalah sebuah kebohongan, lantas – apa ini semua? Kenapa ia harus kehilangan kesuciannya? "Bian, siapa dia? Tunggu dulu! Kenapa dia memakai pakaian kamu?!" tekan Aleta pada saat itu. "Ah, ya..., biar aku yang jelaskan, dia sebenarnya dia —" "Dia istriku, Aleta." tiba-tiba saja Bian memotong ucapan Very. Hal itu justru membuat suasana terasa canggung pada saat itu. Tubuh Carolin mematung pada saat itu, Very sendiri tampak membelalakan matanya karena temannya mengatakan kebenaran pada kekasihnya sendiri. Entahlah apa yang akan terjadi nantinya. Aleta tampak menatap Bian dengan tatapan tidak percaya, dan ia bahkan terlihat sangat marah pada saat itu. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Carolin. Tatapan mata mereka seketika bertemu di saat jarak mereka tidak terlalu jauh. Aleta sudah mengangkat tangannya dan hendak melayangkannya pada pipi Carolin. "Bian! Lakukan sesuatu!" tekan Very, tapi Bian tampak tidak bergerak sama sekali. Ia hanya menatap lurus ke depan dan hendak mengamati apa yang akan terjadi nantinya. Melihat temannya tidak kunjung bergerak, Very akhirnya bangkit dari duduknya dan segera menghampiri dua wanita yang kini tampak tengah hendak bertengkar. Carolin yang melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita di hadapannya akhirnya mengangkat tangannya dan menangkis tangan wanita itu. "Jangan pernah melukai seseorang bila tidak ingin dilukai juga! Aku melakukan semua karena terpaksa, seharunya kamu tahu itu!" tekan Carolin. "Alasan kamu saja! Kamu pasti wanita gatal yang memang menyukai kekasihku, kan?! Mengaku saja kamu!" pekik wanita muda itu. Carolin menatap datar ke arahnya, dan ia sama sekali tidak takut tampaknya. "Menyukainya? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelum menyetujui pernikahan ini. Jangan hanya menyalahkan aku saja, apalagi menuduhku yang tidak-tidak, karena pada dasarnya – aku sama sekali tidak mengetahui seperti apa wujudnya sebelum aku menyetujui pernikahan ini." "Aleta, sebaiknya kamu minta penjelasan dari Bian saja, yang ia katakan memang benar. Dan aku bisa menjamin semua itu." ujar Very. Carolin menghempaskan tangan Aleta dan ia tampak membalikan tubuhnya serta pergi dari sana. Ada rasa sakit yang ia rasakan, padahal seharusnya ia tidak meresapi rasa itu. Carolin tampak menjauh dari sana, dan ia dapat mendengar suara langkah kaki yang seakan mengikutinya sedari tadi. "Nona, tunggu sebentar." panggil seseorang yang terus mengikuti langkah kaki Carolin. Carolin menghela nafas sebelum akhirnya ia menghentikan langkah kakinya dan membalikan tubuhnya. "Ada apa lagi? Apa kamu juga hendak menyalahkan aku? Aku juga terpaksa melakukannya, apa kamu juga menganggap aku wanita gatal?!" tanya Carolin dengan suara yang terdengar begitu kesal pada saat itu. Very terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mulai bicara. "Tidak, bukan itu..., perkenalkan, namaku Very, aku adalah teman lama Bian dan juga asisten pribadinya di kantor, beserta sekertarisnya di kantor." Carolin melirik ke arah tangan pria itu, ia tidak langsung membalas jabat tangan itu, melainkan terus memperhatikan tangan pria itu. Melihat tatapan dingin dan datar itu, Very malah seperti melihat sikap Bian yang sama persis dengan wanita yang ada di hadapannya. Carolin tidak jua membalas jabat tangan pria itu, ia malah melipat kedua tangannya di dad4nya. "Sepertinya kita tidak perlu berkenalan sampai seperti itu, tolong katakan pada temanmu itu untuk mengurus wanitanya yang manja itu! Dan aku tidak mau diganggu! Pernikahan ini memiliki sebuah akhir yang pastinya akan terjadi, jadi – sebaiknya ia tidak membuat aku pusing dengan wanita itu!" ujar Carolin. Setelah mengatakan hal itu, Carolin berbalik pergi dan mencoba mengingat-ingat kamar yang sebelumya ia pakai untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah. Very terdiam saat mendengar ucapan dari wanita itu, dan ia sungguh tidak menyangka Bian ternyata menikahi wanita yang hampir mirip seperti dirinya. "Apa ini yang namanya jodoh? Tapi, bagaimana dengan Aleta?!" *** "Bian! Bisa kamu jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini?!" Aleta mulai bicara dengan suara bergetar dan berlinang air mata. "Aku sudah kembali, tapi kamu malah menikahi wanita lain?" tanyanya dengan suara bergetar dan nyaris tidak terdengar. "Aku tidak bisa menolak perjodohan itu, Aleta. Kalau aku tidak menikahi wanita itu, aku tidak akan mendapatkan warisan sepeserpun! Dan soal hubungan kita, kamu tahu sendiri, kedua orangtuaku tidak menyetujui hubungan kita." ujar Bian pada saat itu. Mereka tampak saling berhadap-hadapan pada saat itu, dan Aleta tampak menangis sesenggukan. Gadis itu tentu saja merasakan sakit teramat sangat setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh kekasihnya, tapi – ada satu hal lagi yang disembunyikan oleh Bian, di mana ia mulai terangsang bila hanya menyentuh tubuh Carolin saja. "Aku tidak bisa tidak melakukannya, aku harap kamu mengerti." ujar Bian, bukan soal pernikahan yang ia maksud sebenarnya, melainkan ia yang sudah bersetubuh dengan Carolin, dan bahkan ia menikmatinya. "Lalu, bagaimana dengan aku?" gumam Aleta pada saat itu. "Aku akan mencari cara agar semua hal ini selesai, aku mohon – bersabarlah sebentar." ujar Bian. Ia memang sungguh-sungguh saat mengatakannya, tapi seketika bayangan tubuh Carolin dan wajah cantiknya yang pasrah dibawah kungkunganmya membuatnya diam. Seketika Bian mulai bingung dengan perasaannya. Dan hal yang baru saja ia alami juga membuatnya bertanya-tanya, apakah yang sebenarnya terjadi padanya? *** Carolin yang sampai ke kamar akhirnya melepaskan celana kebesaran yang ia pakai, ia sangat kesal pada saat itu, dengan langkah kaki yangnia hentak-hentak ke lantai, ia langsung menuju ranjang. Carolin merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai menutupi bagian lehernya. "Seharusnya aku tidak kecolongan begini." gumam Carolin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD