Carolin berusaha bangkit dari tidurnya, namun tubuh orang itu langsung menerjangnya. Bak singa lapar, itu yang dapat Carolin lihat. Tapi, apa ia akan pasrah begitu saja? Tentu saja tidak.
"Lepaskan aku, Bian. Sepertinya kesepakatan awal tidak pernah kamu turuti, dan bila kamu masih ingin bebas dan semua berjalan seperti semestinya, kamu harus menuruti keinginanku. Atau..., aku akan bongkar semua kedokmu!" sepasang jari jemari lentik itu tampak mendorong tubuh kekar Bian.
Hingga pada akhirnya, pria itu melepaskannya meskipun sebenarnya ia ingin menerkamnya! Ia sadar betul ia ada di mana, dan ancaman yang wanita itu katakan terasa sedikit menakutkan.
"Jangan pernah main-main denganku, karena kamu akan membayar mahal dengan suatu hal yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan. Kalau kamu masih mencintai kekasihmu, maka menyingkir dariku!" bisiknya dengan suara tajam!
Pada akhirnya Carolin urung untuk istirahat, dan pada saat yang sama–ia tampak bangkit dari tidurnya dan berusaha pergi dari sana sembari membawa sedikit rasa luka dan juga kecewa yang cukup dalam. Carolin berusaha menghubungi Very dan meminta bantuannya sebentar.
"Bisakah kita bicara sebentar, aku ingin bertemu denganmu. Di mana kamu?" ujar Carolin.
Kepergian wanita itu membuat Bian menoleh ke arahnya tanpa membalikan badan. Nafasnya masih menderu, dan ia sungguh selalu tergoda dengan tubuh wanita itu. Akan tetapi, kata dari kekasih yang dimaksud oleh Carolin adalah Aleta– yang akhirnya membuat semuanya buyar! Dan ia tersadar! Ia bahkan bingung, sebenarnya apakah yang akan ia pilih sekarang.
"Astaga! Kenapa aku ini." gumamnya.
***
Carolin akhirnya sampai di sebuah lorong rumah di bagian samping. Di sana ia tidak menemukan apapun dan siapapun, hanya lorong panjang yang bahkan seperti tanpa ujung di sana.
"Nona, apa ada yang bisa saya bantu? Dan kenapa anda meminta bertemu di tempat yang sedikit lebih jauh dari tempat keberadaan pada anggota keluarga Tuan Bian?" tanya Very tiba-tiba. Tanpa sapaan, dan tanpa basa-basi, pada akhirnya ia mengutarakan niat hatinya tanpa banyak pertimbangan. Ia ingin tahu, dan akhirnya segera mencari tahu.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, apa aku bisa keluar sebentar? Aku tidak mungkin bertanya pada anggota keluarga ini, aku merasa bingung. Dan soal pria sialan itu– aku sebenarnya enggan bertemu dengannya, dan dia selalu saja seperti seekor binatang buas yang kerap kali ingin menerkamku setiap saat! Sebaiknya kamu nasehati saja dia! Bagaimana kalau aku hamil dan aku tidak mendapatkan kejelasan apapun darinya, sedangkan ia masih berpacaran dengan wanita lain!" ujar Carolin panjang lebar.
Very sedikit terkejut mendengar ucapan wanita itu, akan tetapi– ia juga memang harus menasehati temannya itu. Otaknya akhirnya berpikir secara cepat dan ia berusaha mencari cara aman.
"Begini saja, saya akan antarkan anda, dan anda akan beralasan keluar karena ada suatu acara yang rutin anda lakukan setiap hari ini." ujar Very.
"Maksudmu seperti arisan?"
"Itu juga boleh, Nona. Apa anda setuju?" pertanyaan itu akhirnya membuat Carolin menghela nafas panjang, ia memang tidak punya pilihan lain untuk kembali menipu.
"Siklus ini berputar ternyata, membuat satu kebohongan demi menutupi kebohongan lain, hah! Ya sudah, sekarang kamu keluar dulu, pastikan diluar keadaan aman, maka aku akan segera keluar dari sini dan menemuimu di luar, Very."
"Baik, Nona. Saya akan segera mengabarkannya kepada anda."
Langkah kaki itu terdengar makin menjauh, dan pada saat yang sama– Carolin berusaha menenangkan hatinya.
"Semua akan baik-baik saja, Carolin kamu bisa. Aku yakin!" gumam Carolin kepada dirinya sendiri. Kalau dikata apa dia stres dengan segala hal yang tengah ia lalui? Jawabannya tentu saja iya, akan tetapi– ia harus hidup dalam kepura-puraan itu selama yang ia mampu.
"Aku ternyata punya profesi baru ya? Penipu!" ujarnya lagi sembari tertawa getir!
***
Very keluar dari sebuah lorong, dan sesaat setelah ia keluar, tiba-tiba saja ada yang mencekeram kerah bajunya dan mendorongnya sampai ke tempok.
"Uuh!" gumamnya saat punggungnya menghantam tembok. Pada saat ia mulai menatap ke arah depan ke arah seseorang yang berusaha memojokannya, ia akhirnya dibuat bingung dan heran pada seseorang yang ada di sana.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana?!" gumam Bian dengan suara berat.
"Bian, apa yang kamu lakukan? Aku tidak melakukan apapun, dan aku datang ke sana hanya karena Carolin yang memintaku. Apa-apaan kamu ini?!" tekan Very.
Tatapan Bian seakan menusuk, seperti suatu hal yang seolah hendak menghabisi apapun yang ada di hadapannya, suasana di antara mereka berdua makin menegang, dan jujur–Very baru pertama kali merasakan hal semacam itu.
"Sopankah kau berkata demikian pada atasanmu sendiri?!"
Ucapan yang membusungkan dad4 itu terasa menyakitkan, akan tetapi–pada akhirnya Very memutuskan untuk melepaskan kedua tangan Bian dari kerah bajunya. "Aku tidak perduli soal itu, dan seumur hidup, aku baru pertama kali melihatmu seperti ini padaku. Apa yang terjadi padamu? Apa kamu cemburu saat wanita itu menghubungiku? Sebaiknya kamu akui saja kalau kamu menyukainya dan cemburu padaku. Perasaan seseorang bisa berubah, begitu juga dengan kamu. Kalau kamu tidak mau semuanya terlambat, maka katakanlah." ujar Very dengan sangat santai.
"Apa maksudmu?! Jangan bicara konyol dan omong kosong!" elak Bian. Very tidak memperdulikan ucapan temannya itu, ia malah terlihat sibuk dengan ponselnya dan lalu menghubungi seseorang yaitu...
"Hallo, Nona Carolin. Semuanya aman, silahkan keluar, dan kita akan berangkat, akan tetapi– sebelum kita berangkat, saya ingin mengatakan suatu hal penting." setelah mengatakan hal demikian, akhirnya pada saat itu Very mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Carolin menjawab setiap ucapannya pada saat itu.
***
"Lah, apaan sih Brengs*k?! Kenapa udah dimatikan teleponnya?! Ternyata..., dia tidak kalah menyebalkan dari bosnya!" gerutu Carolin pada saat itu. Ia sungguh kesal pada Very yang tiba-tiba saja mematikan sambungan telepon, akan tetapi..., hal yang ingin dikatakan Very akhirnya membuatnya mau tidak mau segera keluar dari sana.
"Menyebalkan sekali! Aku sungguh paling tidak suka diberi teka-teki begini!" gerutunya sembari melangkah pergi.
Pintu dibuka perlahan. Ekspresi wajah Carolin terlihat sangat masam, dan ia sangat kesal juga. Akan tetapi, pada saat itu– ia terkejut melihat siapa yang ada di sana.
Nafasnya seketika berat dan dad4nya terasa sesak. Tatapan tajam itu seperti sebuah hal yang sudah mau menusuknya dan seolah hendak mengintrogasi tentang apa yang baru saja terjadi.
"Bisa kamu jelaskan padaku, apa yang kalian lakukan tadi? Aku sudah bilang, apapun yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah bisa menjadi milik orang lain!"
Tubuh Carolin ditarik dan merapat ke arah tubuh... Bian Regan.