20, Masalah datang.

1106 Words
Pandangan mata mereka bertemu, dan sudah entah keberapa kalinya Bian melakukan hal demikian. Carolin terdiam untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya ia menarik dirinya menjauh. "Jangan macam-macam, kamu sudah sangat keterlaluan! Ingat, kamu bahkan menolakku, dan memilih terus berhubungan dengan wanita itu!" tekan Carolin pada saat itu. "Kenapa kamu terus membahasnya?!" tekan Bian, dan entah mengapa segala sikap pria itu kini malah membuat Carolin mulai bingung dengan segala hal yang ia lakukan. "Jangan keterlaluan begitu, kamu merasa harus mempertahankannya, maka aku mengingatkan padamu sekali lagi. Aku sudah boleh pergi kan, Very? Temanku sudah menunggu." dusta Carolin. "Tentu saja, saya akan mengantarkan anda ke tempat tujuan anda." ujar Very. Mereka berdua meninggalkab Bian begitu saja. Dan Carolin sendiri tidak memilirkan apapun selain bagaimana ia harus melangkah kedepannya. Bian sudah tidak lagi bisa diharapkan, dan dia tidak bisa diandalkan, sekarang– ia hanya bisa mencari solusi, dan mungkin kedua temannya bisa memberikannya solusi terbaik demi keberlangsungannya dalam menjalani hidup. Carolin mempercepat langkah, dan yang ingin ia lakukan hanya keluar dari sana, dan selalu saja begitu. Segala hal yang kini ada dalam dirinya seolah membelenggunya dan menariknya agar cepat meninggalkan atau terjebak lebih lama. Ia tidak punya pilihan lain, karena ia sendiri yang setuju untuk menjalankan semua ini. Menyesalpun tiada guna, karena saat ini– bahkan ia berada dalam sangkar emas dan terancam duri-duri bak berlian dari luar sangkar yang akhirnya hampir menghancurkannya juga. Di sebuah mobil, ia meresapi rasa yang ia rasakan selama beberapa hari, dan hatinya bahkan sudah merasa lelah. Carolin memejamkan matanya dan menyenderkan punggungnya ke kursi mobil... Mobil terus berjalan, suara halus dari mesin mobil dapat Carolin dengar, dan di depan– Very mengemudi dengan kecepatan sedang, dan sesekali ia mencuri pandang ke kursi belakang, mengamati Carolin yang kini tampak duduk sembari memejamkan matanya di kursi belakang. Wanita itu terlihat tenang, dan melawan pada Bian, dan itulah titik menarik. Bukan hanya Bian yang tertarik tampaknya, dan bahkan Very saja ikut tertarik pada wanita itu. Perjalanan berjalan sekitar setengah jam, dan pada akhirnya mereka sampai juga ke sebuah cafe. Mobil berhenti, dan Carolin langsung membuka matanya, ia memandang ke arah depan lalu menatap ke arah kemudi. "Terimakasih, Very. Aku akan kabarkan ke kamu bila aku sudah selesai, dan aku beri tahu– sebaiknya kamu pulang saja, aku tidak mau mengurusi teman kamu yang cukup gila itu. Dia akan mencari alasan untuk membuatku salah, jadi lebih baik kamu kembali. Tidak usah takut aku akan kabur, aku tidak akan pergi kemanapun." ujar Carolin. Wanita itu akhirnya membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana tanpa menunggu jawaban dari Very. "Sungguh wanita menarik, apa ini yang membuat Bian tertarik?" gumam Very setelah Carolin pergi meninggalkannya. *** Langkah kaki itu anggun meskipun terasa sedikit berat karena ia membawa beban yaitu kepura-puraan. Akan tetapi, kebohongan demi kebohongan yang harus ia lakukan akhirnya membuat Carolin merasa sesak. Setelah berjalan beberapa waktu, ia menemukan sebuah meja kosong, ia duduk di kursinya, sembari menunggu kedatangan dua temannya. Carolin bahkan sampai memesan minuman sembari menunggu temannya datang. Ia terus melamun, hingga... "Silahkan minumannya, Kak," seorang pelayan yang datang dan memberikan satu gelas minuman yang Carolin pesan. "Terimakasih," Carolin menerimanya sembari tersenyum manis, dan hangat sekali. Bibirnya yang berwarna pink karena sentuhan lip balm tampak enak di pandang. "Sama-sama, Kak." balas pelayan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Carolin. Kini hanya ia sendiri, menunggu sang teman sembari berpikir keras dan mempertanyakan semuanya pada dirinya sendiri, beserta, mencoba meyakinkan kalau ia memang bisa. Carolin mulai bingung dengan perasaannya, ia menyukai Bian, akan tetapi – mengingat pria itu memiliki kekasih, dan statusnya yang seperti istri tak di anggap, namun diinginkan tubuhnya, hanya tubuhnya... Hal itu membuatnya merasa goyah dan bingung pada saat itu. "Carolin?" panggil seseorang. Bukannya senang ada yang menyapa, Carolin merasa tubuhnya menegang. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara, dan melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari mejanya dan menatapnya dengan tatapan sendu namun dalam. Mereka terjebak dalam suasana yang seakan hanya menyisakan mereka berdua, dan ia mendekat meski Carolin pasti akan menolaknya. "Rey?" gumam Carolin dengan suara pelan, namun pasti. "Aku sudah mengetahui tentang pernikahan kamu, dan kenapa kamu begini?" tanya pria itu. Ada luka di matanya, terlebih hatinya. Dan apa Carolin menyesal? Tentu tidak. Ia tidak menyesalinya. Ia hanya menatap pria itu lama, dan ia tidak menyapa ataupun bertanya sebagai basa-basi. Akan tetapi, pria itu datang dan mulai duduk di salah satu kursi. "Kenapa kamu malah menikah dengan orang lain, apa maksudnya ini?!" tegasnya dan tatapan beserta suaranya terlihat dan terdengar penuh amarah yang ia simpan lama. "Rey, perasaan itu tidak bisa dipaksakan, dan aku sudah mengatakannya padamu berulang kali. Kamu temanku, dan aku tidak akan memaksakan perasaan ini hanya karena aku kasihan kepadamu." ujar Carolin. Suasana terasa sedikit canggung, dan hal itu akhirnya Carolin sadari. Ia hanya diam sembari menunggu Lala dan Lily datang. "Oh, jadi begini kelakuanmu di belakang Bian?" Carolin menoleh dan seketika mengernyit saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita tampak datang dan menambah masalahnya. "Apa yang ingin kamu lakukan di sini Nona Aleta? Bila kamu punya keperluan, maka lakukan saja, dan jangan membuat masalah denganku. Aku tidak ikut campur urusanmu, maka kamupun tidak boleh mencampuri urusanku!" tekan Carolin sembari bangkit dari duduknya dan menghadapi wanita itu. Mereka sudah berdiri sejajar, dan tampak melempar pandangan cukup tajam antara satu sama lain. Melihat wanita itu menghampirinya dan ikut campur segala urusannya, hal itu cukup menguras emosi Carolin. "Begini kelakuan kamu?! Aku rasa kamu tidak pantas menjadi istri Bian!" tegurnya dengan sangat kesal dan nada suara tajam. Carolin tersenyum semirk! Ia menatap tubuh di hadapannya naik turun lalu kembali tersenyum, kali ini senyumannya terlihat miring. "Lalu, siapa yang pantas? Kamu?" Carolin terkekeh pelan, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya pelan. Wanita di hadapannya tampak begitu geram saat mendengar tawa Carolin yang seakan mengejeknya. Ia sudah hampir tidak sanggup lagi menahan amarahnya kali ini. "Apa menurutmu, kamu lebih pantas – Nona Aleta? Kita lihat saja nanti, apa kamu yang akan dijadikan istri setelahnya, atau kekasihmu yang menjadi suamiku yang akan berlutut padaku dan meminta aku melayaninya sebagai seorang istri. Kamu harus ingat, tidak ada kucing yang menolak diberi ikan. Kamu akan mengadukan apa? Terserah saja, lakukan kalau kamu bisa membuatnya berpaling dariku– atau melepaskan aku sekarang." gumam Carolin tepat di depan telinga Aleta pada saat itu. Carolin menarik dirinya setelahnya, akan tetapi– Aleta yang merasa emosi dengan segala ucapannya akhirnya langsung mengangkat tangannya untuk menampar wajah Carolin pada saat itu. Akan tetapi, sebuah tangan menahannya sebelum ia benar-benar menampar Carolin pada saat itu juga. Dan Aleta akhirnya menatap ke arahnya. Apa yang ia lakukan urung, dan apa yang ia lihat hampir tidak ia percayai benar adanya. Carolin yang tadi diam akhirnya kembali tersenyum kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD