Hari kedua, Oase datang sendirian. Kali ini dia dengan semangat mengajak Maria untuk observasi rival. “Ayo ke sebelah!” teriak Oase begitu ia masuk. “Mereka punya kebab yang – ” Perkataan Oase terpotong saat matanya bertemu pandang dengan Matteo. “Oh... jadi kebab di sebelah lebih enak dari masakanku?” ucap Matteo, nada bicaranya begitu mencekam. Daripada bertanya, lebih terdengar seperti ancaman. “Setelah keliling tak jelas seharian, sekarang kau berniat mengajak Maria makan-makan? Kau anggap taruhanku dan abangmu itu omong kosong?” Serangan dengan pertanyaan bernada mengancam itu menikam nyali Oase bertubi-tubi. Pemuda malang itu sampai termundur hingga keluar dari restoran, saking mengancamnya sikap Matteo. Ditambah dengan langkah besar dari kakinya yang terus saja mendekat pada O

