Di kantor seperti biasa Zia masuk ke dalam ruangannya, kali ini giliran Zio yang dibicarakan satu kantor. Bagi yang belum tahu siapa dia, mereka menerka-nerka kalau itu adalah selingkuhan bosnya.
Alfa sendiri lebih banyak diam, ia pergi ke kantor sebelum Zia berangkat. Bahkan hanya pada Ana saja ia berpamitan.
"Zio, memangnya kamu gak kuliah?"
"Maleslah, Kak! aku lebih senang di sini, banyak cewe cantiknya!"
Zia melempar tutup pulpen yang sedang di pegangnya, bagaimana bisa ia mempunyai adik seperti ini.
"Kak, gawat! Ayah mau ke kantor! katanya ia mau bertemu dengan Kak Zia dan Kak Alfa."
"Apa? jangan bohong kamu!"
"Mana berani aku bohong, nih lihat!" Zio memperlihatkan isi chat dari ayahnya.
"Panggil Alfa ke sini! cepetan!"
"Telepon aja, kenapa mesti ketemu dia juga."
"Bentar!"
Zia langsung menekan nomer telepon duduk yang tersambung ke ruangan Alfa, "Bisa ke ruangan ku dulu! kita perlu membicarakan sesuatu."
"Kalau masalah pekerjaan aku akan ke sana, tapi kalau masalah lain, aku perlu waktu."
"Ini masalah pekerjaan, aku tunggu sekarang!"
Zio yang mengetahui Kakaknya sedang cemas, berinisiatif mengambilkan kopi hangat dari mesin otomatis.
"Minum dulu, Kak! rileks saja, aku yakin suamimu itu akan menuruti permintaanmu!"
"Semoga saja kali ini otaknya ikut di bawa juga!"
Pintu di buka lebar, Alfa berdiri dengan dingin. Mulai melangkah dan berdiri di hadapan istrinya, "Duduklah kita perlu bicara!"
Alfa masih saja enggan untuk duduk, dengan gemas Zio menekan ke dua bahu kakak iparnya itu untuk duduk.
"Hari ini, ayah akan datang ke kantor dan katanya beliau ingin bertemu dengan kita! bisakah kita mengesampingkan ego masing-masing agar terlihat baik-baik saja di hadapannya?"
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tunjukan semua yang ingin beliau lihat, kebahagiaan kita, kedekatan kita dan keromantisan kita. Berusahalah untuk tidak memberi celah pada ayah agar tidak mengetahui masalah yang sedang kita lalui."
"Baiklah, aku akan melakukan sesuai yang Bu Zia inginkan. Kalau ayah sudah datang beritahu aku!" ia bangkit, menatap sekilas ke arah Zio.
Zia meremas jarinya dengan cemas, sesekali melirik jam tangan. Jangan di tanya adiknya itu sedang apa, dia malah anteng bermain game dan ngomel-ngomel gak jelas itu menandakan kalau dia kalah dalam bermain.
Suara ketukan pintu membuat Zia bangkit dan membuka pintu ruangannya, berdiri sosok ayahnya ditemani Barly yang membawa koper, ia yakin itu adalah baju Zio.
"Masuk, Yah!" ucap Zia seraya menggenggam tangan ayahnya yang mulai keriput di makan usia.
"Alfa mana?"
"Dia lagi di ruangannya, sebentar aku panggil dulu!"
Zia meraih gagang telepon dengan dengan sedikit gemetar.
"Yah, apa kabar?" sapa Alfa ketika sudah berada di ruangan Zia.
"Baik, ayah perlu bicara dengan kalian berdua."
Zia dan Alfa duduk bersebelahan, tanpa di duga tangan Alfa menggenggam tangan istrinya dengan erat. Seolah rumah tangganya baik-baik saja.
"Begini, Zio sudah menceritakan semuanya kenapa dia kekeuh mau tinggal bersama kalian! jadi menurut kalian baiknya bagaimana?"
Mereka berdua menatap langsung ke arah Zio yang ditanggapinya dengan mengangkat bahu.
"Maksud ayah?" tanya Zia gugup.
"Zio bilang kalau dia akan tinggal dengan kalian karena akhir-akhir ini dia merasa kalian terlalu di sibukkan dengan bekerja, maka dari itu Zio menawarkan diri untuk membantu setiap pekerjaan kalian berdua."
Kini mereka bernafas dengan lega, mereka pikir Zio akan membuka rahasianya.
"Kalau ayah mengizinkan, kami oke, oke saja tidak keberatan. Zio 'kan adiknya Zia itu berarti adik aku juga!"
"Baiklah, kamu sudah dengar Zio! berbuat baiklah pada Kakak dan kakak iparmu ini, jangan membuat mereka kesal."
"Sip, yah!" jawab Zio dengan enteng.
"Oh iya, satu hal lagi. Malam ini kita semua akan malam bersama, Ayah tunggu di Restoran Del Monte tepat pukul delapan malam, jangan ada yang terlambat. Sekalian Ana bawa juga, ayah sudah lama tidak bertemu dengannya."
"Baik, yah!" jawab Zia dan Alfa kompak.
Setelah mertuanya pamit, Alfa kembali ke mode seperti semula. Ia hanya pamit dengan sedikit membungkukkan badannya.
Malam pun tiba, Zio bersiap di kamarnya yang tidak jauh letaknya dari kamar kakaknya. Samar terdengar kakaknya cekcok kembali, dengan memakai jasnya asal ia menuju kamar kakaknya.
"Ada apa?" tanyanya yang langsung berhasil membuat mereka berhenti bertengkar.
"Bukan apa-apa, hanya saja kami berdebat masalah pakaian yang akan di kenakan."
Zio masuk dan meraih kantung belanjaan yang berceceran di lantai, melihat merek setelan jas dengan nama yang terkenal.
"Kenapa? Kaka ipar tidak mau memakainya? apa setelah memakainya harga dirimu ikutan jatuh juga?"
"Zio, sudah! lebih baik kamu temenin Ana di bawah!"
Ia hanya mengangkat bahu dengan enteng, "Oh iya, kak Alfa harus ingat jas yang barusan itu dibeli dengan gaji yang kamu kasih untuk ka Zia!"
Pandangan Alfa beralih pada Zia yang mulai menyimpan kembali setelan jas ke dalam lemari, "Kamu gak perlu repot-repot untuk membeli jas yang mahal, gaji ku bulan ini tidak akan cukup untuk kita makan!"
"Aku malas berdebat denganmu, suka ya tinggal pakai, tidak suka biarkan saja itu jas jadi penghuni lemari pakaianmu. Aku hanya ingin memastikan di mata keluargaku, bahwa kamu layak jadi suamiku."
"Karena keluargamu kaya? jadi kamu malu ketika aku berpenampilan biasa-biasa?" tanya Alfa dengan sedikit pelan, ia takut kalau Zio akan mendengarnya dan membuat keadaanya semakin terpojok.
"Dan sejak kapan kamu bisa berpenampilan biasa-biasa? ketika ada acara dengan teman-temanmu saja kamu bisa berpenampilan seolah dirimu adalah seorang bos, tapi kenapa ketika mau bertemu keluargaku seolah kamu harus merasa dikasihani!"
Kini Alfa benar-benar menunduk, apa yang dikatakan istrinya memang benar, dulu ketika ada acara teman kuliahnya ia sering membeli jas yang serupa dengan yang dibeli Zia saat ini. Hanya agar teman-temannya merasa bangga pada dirinya yang berhasil sukses di masa depan, tapi kenapa ketika Zia yang membelinya ia merasa terhina padahal dibeli dengan uangnya sendiri.
Dengan terpaksa Alfa meraih jas dari dalam lemari dan memakainya, Zia terlihat tersenyum sinis menandakan dirinya berhasil menang satu langkah dari suaminya.
"Pakai mobil aku aja!" seru Zia ketika suaminya akan memakai mobil yang sering ia gunakan ke kantor.
"Lalu Zio?" baru saja Alfa selesai bertanya, suara klakson mobil terdengar dan berhenti di halaman rumah mereka.
"Aku bareng Kak Barly!" ujar Zio.
Sedang Ana dan bi Juju menaiki mobil yang berbeda, ia dijemput oleh supir suruhan William.
Dua mobil Lamborghini melaju beruntun, Alfa yang memang baru pertama kali mengendarai mobil itu awalnya terlihat gugup, namun lama kelamaan sepertinya ia merasa nyaman.
Tiba di Restoran, mereka turun. Alfa masih saja terlihat cuek, sampai Barly berada di sisi Zia dengan seringai yang cukup menakutkan.
"Mau aku yang gandeng istrimu? kamu lihat empat orang yang sedang melihat kearah kita? mereka adalah pengawal ayahnya Zia, kalau saja mereka melihat ada kejanggalan diantara kalian berdua maka malam ini adalah malam terakhir kamu bersamanya."
Ancaman Barly berhasil membuat Alfa tegang, terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia langsung meraih tangan Zia dan menggandengnya dengan mesra.