bab 9

1131 Words
"Selamat malam, Ayah!" sapa Alfa pada mertuanya itu, mencium punggung tangannya bergantian menyalami tangan Vera. "Apa kabar, Tante?" "Baik!" jawab Vera singkat. Mereka berdua duduk di samping William, sedangkan Ana duduk di sebelah Vera. Di ikuti Barly dan Zio yang saling berhadapan. Menu makanan sudah siap tersaji di meja makan, meski ada kecanggungan dalam diri Zia ia harus mampu membuat semuanya lancar, setidaknya untuk malam ini. "Mas, makannya mau sama apa?" Zia mencoba membangun chemistry yang sudah mulai hilang pada suaminya itu. "Emh, makan sama cumi pedas saja, nanti biar aku saja yang ambil kalau kurang." Zia mengangguk, semua itu tidak luput dari pandangan Barly dan Zio. Seolah mereka sedang mengintai musuh yang akan menyerangnya. "Ibumu apa kabar Zia?" "Sudah sembuh, cuman masih belum bisa berjalan jauh! Terima kasih untuk suster yang ayah kirim." "Itu sudah kewajiban Ayah, bagaimanapun dia ibu kamu. Bukan begitu Ver?" "Iya, Mas!" "kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami." "Terima kasih, Tante!" Suasana kembali hening, tidak ada yang memulai percakapan hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Selesai menikmati makan malam, Alfa pamit pergi ke toilet entah dirinya merasa canggung atau apa satu yang pasti membuat Zia bisa bernafas dengan lega. Barly mendekati Zia yang sedang duduk di taman Restoran, menggoyangkan-goyangkan gelas yang berisi minuman tampak enggan meminumnya. "Jangan terlalu tegang, rileks saja!" ucapan Barly berhasil membuat Zia tersentak. "Entah sampai kapan semua ini akan terjadi, aku bahkan tidak yakin ayah bisa dengan mudahnya percaya begitu saja. Apalagi Zio sekarang pindah ke rumahku, pasti akan ada tanda tanya besar dalam kepalanya." "Tenang saja, aku akan membantu jika situasi di rumah ayahmu tidak mendukung. Oh iya, aku punya sesuatu! Tara!" Barly menunjukan kalung yang waktu itu di ambil paksa suaminya. "Ah, Barly! bukannya waktu itu udah putus ya?" "Aku sengaja membawanya dan menyuruh orang agar diperbaiki, ternyata hasilnya seperti baru lagi." "Terima kasih! bantu aku pakaikan ya," Tubuh Zia membelakangi Barly, rambutnya yang di gerai sedikit diangkat ke atas. Wangi parfum yang keluar dari tengkuknya membuat Barly kehilangan fokusnya beberapa saat. "Barly! kok lama?" "Eh, iya!" jawabnya gugup. Ia memasangkan kalung di leher jenjang Zia, tak hentinya ia berterima kasih pada asisten ayahnya itu yang sudah membuat kalungnya bisa bagus kembali. "Ehem!" suara deheman seseorang membuat mereka menoleh ke belakang, di sana berdiri Alfa dengan raut wajah yang sulit di artikan. "Ayah memanggil kita kembali ke meja makan!" Alfa dan Zia bangkit, mereka bertiga jalan bersisian tanpa banyak bicara. "Zia, ayah pikir tadi kamu gak pakai kalung itu?" "Sebenarnya kalung ini habis diperbaiki Barly, barusan dia mengembalikannya padaku." "Oh!" William menatap putri semata wayangnya, keningnya mengerut seperti sedang berfikir sesuatu. "Rusak kenapa?" tanya Wiliam seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangan Vera mulai menyentuh lembut punggung tangan suaminya, itu menandakan Wiliam sedang dalam keadaan waspada. "Anu, aku gak sengaja menabrak Barly dan kalungnya nyangkut di kancing kemejanya, karena kaget aku langsung menarik tubuhku dan akhirnya kalung ini putus." "Zia, kamu tahu kualitas perhiasan kita seperti apa?" Zia mengangguk dengan gugup. "Seharusnya kalau cuma nyangkut di kancing kemeja, kalung itu masih bisa bertahan tanpa harus putus!" Alfa, Zia dan Barly hanya bisa menelan salivanya sendiri. Tidak ada pembelaan dari pihak Zia, ia mulai meremas jarinya yang di sembunyikan di bawah meja. Seketika tangan hangat seseorang menyentuh jarinya yang mengeluarkan sedikit keringat, tangan Barly mencoba menenangkan, menyalurkan kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi situasi ini. "Ah, sudahlah anggap saja alasan kamu benar, itu berarti kita harus lebih mengawasi bahan yang digunakan untuk membuat produk perhiasan kita. Barly nanti kamu bantu Zia untuk mengurusnya." "Baik, Pak!" "Alfa, tolong kamu jaga sesuatu yang bersangkutan dengan Zia. Ayah tidak ingin ia mengalami kesulitan dalam hidupnya." "Baik, Yah!" Makan malampun berakhir, mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Barly sengaja membawa mobil yang menjemput Ana tadi, sekalian juga mengantar Zio. Sedang Alfa dan Zia masih dalam satu mobil, seperti semula diantara mereka hanya kesunyian yang tercipta. "Mau sampai kapan kita akan terus bersandiwara seperti ini?" tanya Alfa memecah kesunyian. "Entahlah, aku gak tahu! bisa 'kan kita jangan membahas masalah ini dulu, aku cape mau tidur sebentar!" Alfa diam dan kembali fokus di balik kemudinya, Zia pun mulai memejamkan matanya mencoba untuk tidur sejenak. "Bangun udah sampai rumah!" Alfa mengguncang tangan Zia dengan sedikit kasar. Tanpa mengucapkan apa-apa, Zia turun dari mobilnya menuju Ana yang di gendong Bi Juju. Lalu masuk ke dalam rumahnya, setelah Barly pamit pulang. Dengan wajah yang lelah dan langkah yang pelan, ia menaiki tangga sambil menggendong Ana yang terlelap. Zio pun masuk ke dalam kamarnya. "Kamu mau kemana, Mas?" tanya Zia yang baru keluar dari kamar mandi setelah melihat suaminya berkemas. "Ini surat perceraian kita, aku sudah menandatanganinya. Pikirkan baik-baik keputusan kamu! tawaranku masih sama, kamu berhenti menjadi CEO dan menjadi ibu yang seutuhnya untuk Ana atau kamu tetap pada pendirian kamu, tapi kita akan berpisah!" Alfa memberikan selembar kertas yang di bawahnya sudah dibubuhi tanda tangan dirinya. "Lantas kamu mau kemana sekarang?" "Aku akan tidur di kamar tamu, percuma tidur satu kamar juga namun pada akhirnya kita merasa seperti orang asing." Tukas Alfa yang menarik kopernya keluar dari kamar mereka dulu. Zia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu, dulu saja dia menginginkan dirinya menjadi wanita karier, tapi sekarang setelah bekerja masih saja salah Dimata dia. Tatapannya nanar ketika melihat selembar kertas yang ada ditangannya saat ini, bagaimana pun bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin suaminya bisa lebih menghargai pengorbanannya selama ini. Suara ponselnya berdering, nama William yang tertera di sana. Sebelum mengangkat telepon, Zia mengambil nafas pendek. "Malam, Ayah! belum tidur 'kah?" "Ayah hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, ingat apapun yang terjadi jangan sungkan untuk bercerita pada Ayah, ibumu atau Tante Vera. Kamu tahu ayah tidak suka di bohongi." "Iya, Ayah! Zia janji apapun yang terjadi, aku akan menceritakan semuanya sama Ayah. Sekarang ayah istirahat, aku juga mau tidur takutnya besok kesiangan berangkat ke kantor." "Ya sudah, ayah nitip Zio!" "Iya, Yah!" panggilan telepon berakhir, ia memutuskan untuk berbaring di samping Ana. Kertas yang di berikan suaminya tergelatak di atas nakas begitu saja. Zio baru keluar dari kamar mandi ketika sebuah notifikasi pesan masuk lewat ponselnya. [Tolong jaga Kakakmu dengan baik, jangan sampai ia merasa sendirian di rumah itu!] Zio tersenyum melihat pesan dari ayahnya, ia pikir ayahnya sudah mencium aroma yang tidak beres dengan rumah tangga kakaknya itu, syukurlah jadi ia tidak perlu repot-repot untuk mengadu pada ayahnya. [Baik, Ayah! urusan ka Zia jadi tanggung jawab aku, sekarang Ayah tidur. Salam sayang untuk Mamah!] Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya menerawang jauh. Sungguh malang nasib kakaknya, ia mendapatkan suami yang tidak tahu diri. Udah hidupnya so kaya, egois pula. Tanpa sadar kepalanya menggeleng tidak mengerti. Alfa yang tidur di kamar tamu sedang membereskan baju dari dalam koper, sebuah pesan masuk. [Sayang, tidurnya jangan kemalaman. Good night!] ditambah dengan emotikon love.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD