Zia keluar untuk makan siang, sudah saatnya membaur dengan lingkungan kerjanya saat ini. Sampai di kantin kantor, matanya menemukan sosok Alfa yang sedang makan siang dengan teman-temannya.
Mencoba ingin menyapa, namun suaminya itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Zia mengurungkan niatnya dan duduk di tempat yang sepi, sekilas terdengar karyawan yang masih tidak menyangka jika dirinya anak dari pimpinan Haera.
"Bu Zia cantik, ya!" seru karyawan wanita dari bagian marketing.
"Iya, ya cantik banget, sayang ia sudah menikah dengan Pak Alfa yang hanya karyawan biasa!"
"Padahal kalau belum menikah, pasti anak dari konglomerat lainnya akan mulai menjodohkan mereka." Timpal anak marketing tadi.
Dadanya tiba-tiba sesak mendengar mereka berbicara seperti itu, selera makannya berkurang yang ada hanya memfokuskan indera pendengarannya agar bisa tahu gosip yang beredar di kalangan karyawan.
Bukan tidak mungkin suaminya juga sering mendengar ocehan seperti ini.
"Mas, ke ruanganku sekarang!" panggilnya di seberang telepon.
"Baik!"
Alfa kini sudah berada di ruangan Zia dengan lebih sopan, ia jadi kurang bicara semenjak pertengkaran mereka tadi pagi.
"Ada apa, Bu Zia memanggil saya? apa saya melakukan kesalahan dalam bekerja?"
Zia mengangkat kedua alisnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Memang benar ini di kantor, tapi keinginannya jika mereka hanya berdua setidaknya embel-embel bos dan bawahan tidak berlaku.
"Nanti malam ada pesta ulang tahun salah satu klien grup Haera, mereka mengundang kita sebagai tamunya! nanti jam 3 kita akan pergi ke butik memilih pakaian untuk menemui mereka."
"Saya tidak ikut, silahkan Bu Zia mengajak orang lain saja. Saya tidak pantas berada di pesta itu, apalagi saya hanya seorang bawahan."
Zia bangkit setelah suaminya selesai bicara, "Mas, kamu itu suami aku! kalau aku tidak datang denganmu, lantas aku harus datang dengan siapa? dengan Barly?"
"Sepertinya itu akan jauh lebih baik!" tukasnya seraya menunduk.
"Jika kamu masih menganggap aku sebagai istrimu, aku tunggu jam 3 nanti di parkiran. Kita menggunakan mobil aku aja!"
Alfa keluar tanpa sepatah katapun, ia mengambil nafas sebanyak mungkin, sadar akan posisinya saat ini hanyalah bawahan istrinya dan itu membuat harga dirinya jatuh.
Jam dinding di ruangan Alfa menunjukan pukul 3 sore, itu tandanya ia harus segera memutuskan apakah dirinya akan menemani Zia atau tidak.
Egonya terlalu tinggi, ia tidak ingin jika klien istrinya itu akan merendahkan dirinya yang hanya menjadi bawahan, dengan pasti ia memilih tidak menemani Zia.
Di tempat parkir, Zia menunggu suaminya datang. Sesekali meneleponnya, namun sayang tidak ada respon apa-apa. Satu jam berlalu, kini sudah pukul 4, dengan berat hati ia mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran kantor.
"Halo, Barly kamu dimana?" sapanya di seberang telepon.
"Di rumah baru sampai! kenapa?"
"Bisa temani aku ke pesta Pa Robert? sepertinya suamiku terlalu memilih egonya yang tinggi sehingga ia tidak datang ketika aku menunggunya."
Terdengar suara Ayahnya yang bertanya pada Barly tentang apa yang terjadi, tanpa menanyakan lagi kesiapan Barly, ia memutuskan bahwa Barly akan menemaninya.
"Kamu sudah dengar keputusannya bukan? jadi aku sudah tidak punya pilihan lagi." Tukas Barly seraya mengakhiri panggilannya dengan anak bosnya itu.
Zia mengirimkan alamat butik yang akan di datanginya, ketika sampai di sana semua karyawan membungkuk bagaimana tidak, ia turun dari mobil yang bisa dikatakan harganya selangit, namun sebenarnya ia sedikit risi karena dulu tidak pernah di perlakukan seperti itu.
"Selamat sore, Bu! apa yang bisa kami siapkan untuk Ibu?" tanya salah satu pegawai butik dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.
"Tolong! bawakan gaun yang paling terbaik, kalau bisa warnanya hitam dan sepatunya berwarna senada. Terima kasih!"
Ada tida orang yang menyiapkan semuanya, sedang Zia duduk di sofa yang di mejanya sudah terhidang lengkap minuman dan kudapan. Tak berselang lama, Barly datang dengan tersenyum, senyum yang hanya di berikan pada anak bosnya itu.
"Apa sudah menunggu lama?" tanyanya seraya langsung duduk di sebelah Zia.
"Gak kok, baru saja!"
Barly mengangguk-ngangguk mengerti.
Salah satu pegawai wanita mendekati Barly, "Maaf, apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong berikan dia satu setel jas terbaik yang ada di sini, lengkap dengan sepatunya!" titah Zia.
"Baik, saya akan membawakannya khusus untuk suami anda. Saya permisi dulu!"
Barly dan Zia saling melempar pandangan, suami? ada-ada saja pegawai ini.
Setelah mencoba beberapa gaun dan jas yang akan dipakai mereka dengan warna yang senada satu sama lainnya, mereka pergi ke salon tempat langganan keluarga Wiliam, mungkin lebih tepatnya langganan Tante Vera.
"Ah, Nona Zia sudah datang, mari masuk!" ucap seorang wanita paruh baya yang ternyata ia adalah pemilih salon tersebut.
"Non Zia menginginkan model rambut seperti apa? mau di gerai atau di sedikit di sanggul?"
"Sebentar!" ucap Zia.
Ia memanggil Barly untuk meminta pendapatnya, bagaimana pun dia lebih tahu bagaiamana karakter klien yang menjadi tuan rumahnya.
"Lebih baik rambutnya sedikit di sanggul, tapi hanya menggunakan rambut aslinya tanpa tambahan rambut apapun!"
"Baik, Tuan! sesuai perintah, kami akan melaksanakannya."
Barly juga sedikit memotong rambutnya yang sedikit lebih panjang, Zia dan Barly sibuk dengan persiapannya masing-masing.
"Selesai!" ujar salah seorang pegawai wanita itu kepada Barly.
"Terima kasih!"
"Anda bisa menunggu istri anda di sofa sebelah sana, sebentar lagi istri anda pasti selesai."
Ia hanya bisa tersenyum tipis, rasanya geli ketika mereka menyangka bahwa Zia adalah istrinya. Barly memutuskan menunggu di sofa yang di tunjuk pegawai tadi, dengan memainkan ponselnya.
"Barly!" kepalanya mendongak melihat ke sumber suara, kini matanya melihat Zia tanpa berkedip, penampilan anak bosnya itu sangat memukau, sampai-sampai ia hanya bisa menelan salivanya sendiri.
"Hello, Barly! apa aku terlihat jelek ya?" Zia memutar badannya melihat gaun yang ia kenakan, sepertinya tidak ada yang salah."
"Cantik!" gumamnya dengan jelas tanpa sadar ketika melihat penampilan Zia.
Ada semburat merah yang di keluarkan dari pipi Zia, baru kali ini ia di puji oleh lawan jenis setelah suaminya mengatakan bahwa ia malu ketika membawanya ke sebuah pesta karena status pekerjaannya.
"Barly, sampai kapan kamu akan melihatku seperti itu?" tanya Zia dengan sedikit keras, padahal hanya untuk menutupi kegugupannya.
"Eh, maaf!" Barly menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
Setelah membayar tagihan menggunakan kartu debit, mereka berjalan beriringan. Tangan Zia melingkar di tangan Barly yang sebenarnya ia hanya tidak ingin jatuh saja, bukan karena so romantis atau apapun itu.
"Awas hati-hati, jalannya pelan saja! heran juga kenapa tuh sepatu tinggi banget ya?" celetuk Barly ketika melihat sepatu yang terpasang di kaki putih Zia.
"Gak papa juga sih, lumayan membuat badanku jadi sedikit lebih tinggi. Cuman takut tiba-tiba jatuh aja, kamu jangan lepasin pegangan tanganku ya? please ...!"
"Iya, iya makanya nanti kalau udah di tempat pesta fokus saja dengan langkah kaki kamu, jangan pedulikan orang lain."
"Okay, awas saja kalau kamu ngelepasin pegangan ku, 'kan gak lucu kalau sampai anak seorang William menjadi trending topik di headline new, dengan judul terjatuh karena memakai sepatu yang haknya tinggi." Ungkap Zia dengan bibirnya yang sedikit manyun ke depan.
Mereka pun tertawa dengan lepas, layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
Selama perjalanan ke tempat pesta, Zia tak berhenti menghubungi suaminya bahkan mengirimnya pesan, meminta izin kalau dirinya nanti pulang telat.
Di sisi lain, Alfa mengabaikan panggilan dari istrinya bahkan pesannya pun hanya di lihat saja tanpa berniat untuk membalasnya. Di tangannya ia memegang pulpen, tatapannya lurus menatap kertas yang ada di meja kerja yang berada di rumah.
Keputusannya kali ini sudah bulat, bahwa ia akan menggugat cerai istrinya itu apapun yang terjadi. Ya, iya akan berpisah dengan Zia nya yang telah berubah.