bab 3

1200 Words
Malam ini rintik hujan berubah menjadi deras, bahkan suara guntur mulai terdengar. Tubuh Zia meringkuk di sebelah Ana, di pipinya masih tersisa air mata bekas tadi ia menangis. "Bu, bangun! ibu belum makan dari tadi!" guncangan di tangannya membuat ia tersadar, oh ternyata ia ketiduran. "Kenapa, Bi?" bi Idoh yang berjongkok di sampingnya menunjuk nampan yang berisi nasi lengkap dengan lauknya. "Dari tadi, Ibu belum makan, makanlah nanti ibu sakit!" "Terima kasih, Bi! oh iya apa mertua saya masih ada di sini?" "Beliau menginap di sini, Bu. Barusan saja Pak Alfa sedang berbicara dengannya di teras rumah." "Apa, pak Alfa sudah makan?" "Tadi sudah dengan ibunya." Zia mengangguk dua kali, sembari mulutnya mengunyah nasi dan semur gurame. Ia tidak boleh sakit, ia harus tetap sehat dan lebih tegas lagi pada suaminya yang terlanjur egois. Sampai malampun ketika Zia bangun ingin ke toilet, suaminya tidak tidur di kamarnya. Mungkin ia masih marah atau bisa jadi terhasut omongan ibunya sendiri, ia menghembuskan nafasnya pelan, mengangkat bahu tidak peduli. Apapun yang terjadi dirinya akan tetap menjabat sebagai CEO. "Pagi, Bu!" sapa bi Juju yang meraih Ana ke dalam gendongannya. "Pagi, Bi! aku sarapan dulu ya." Di meja makan sudah terhidang beberapa lauk pauk, ini pasti ulah mertuanya. Ia duduk di samping suaminya yang hanya diam tanpa mempedulikan kehadiran Zia. "Semalam kamu tidur dimana, Mas?" "Dia tidur sama, Ibu!" celetuk mertuanya. "Mana mau Alfa tidur dengan istri yang tidak menghargai suaminya sendiri!" Zia memegang sendoknya dengan kuat yang mengambang di udara, perkataan mertuanya membuat selera makannya sirna secara tiba-tiba. "Makan yang banyak ya, Sayang! kamu kurusan tahu." Ucapnya seraya memegang pipi Alfa layaknya memperlakukan anak kecil. "Bi, tolong siapkan kotak makan untuk anak saya!" serunya pada Bi Idoh yang berada di dapur. "Mas Alfa tidak suka membawa bekal ke kantor, katanya malu dia bukan anak TK." "Oh, pantas saja anak saya jadi kurusan. Kamu biang keroknya, kalau gak mau itu ya, dipaksa, makanannya di simpan di dalam mobilnya. Masa gitu aja gak bisa!" Zia membanting sendok yang di pegangnya dan membuat suara yang memekikkan telinga, bahkan semua orang yang mendengarnya hanya bisa diam. "Bi Juju, tolong ambilkan tas bayi Ana, ada di kamar saya. Saya tunggu di mobil!" titah Zia sambil mengambil alih menggendong Ana. "Hei, tunggu! kamu bawa Ana kemana?" tanya Alfa. "Ibuku mau bertemu dengannya!" "Tapi bisa 'kan ibumu saja yang datang ke sini?" timpal ibu mertuaku. Zia memejamkan matanya, menahan amarahnya yang sejak tadi ia tahan. "Kakinya tergelincir jadi gak bisa jalan, lagipula itu hak ibu aku juga sebagai neneknya dia mau bertemu dimana juga." "Alasan, bilang saja mau menjauhkan ibu dari cucu ibu sendiri!" Zia memilih pergi ketimbang meladeni dua orang yang membuat paginya menjadi buruk, setelah Bi Juju naik ke dalam mobil, ia meninggalkan rumahnya. "Bu, maaf ni ya! Ibunya Pak Alfa kok gitu ya? saya jadi heran dengan sikapnya yang so benar." "Udahlah, Bi gak usah di ladenin. Ibu sama Anak sama saja, entah pikiran mereka terbuat dari apa. Nanti jika ia masih menginap di sana, bibi sama Ana gak usah pulang, takutnya memberi energi negatif buat perkembangan Ana." "Baik, Bu!" Keadaan menjadi hening, sesekali hanya suara Ana yang terdengar sedang tertawa kecil karena diajak main Bi Juju. Tiba di rumah ibunya, Zia langsung turun menggendong putrinya dan masuk ke rumah. Di sana sudah ada Barly, sedang duduk menikmati teh hangat yang aromanya sempat tercium. "Barly, kamu ngapain pagi-pagi udah di sini? ibu mana?" "Ibu kamu lagi di siap-siap mau pergi ke dokter, ayahmu yang menyuruhku datang ke sini untuk melihat ibumu." "Oh, maaf merepotkan kamu!" Barly hanya tersenyum sambil kembali fokus pada teh yang di minumnya. Sedangkan Zia langsung menuju kamar ibunya, benar saja ia sedang siap-siap dibantu oleh seorang suster yang mungkin juga suruhan ayahnya itu. "Bu, mari aku bantu!" Zia membantu ibunya berjalan ke meja rias, sedang suster yang tadi bergeser dan menunduk ketika bertemu dengannya. "Barly sudah menceritakan semuanya pada, Ibu!" "Apa ibu marah? karena aku selalu berhubungan dengan Ayah?" "Mana ada ibu marah, ayahmu punya hak yang sama dalam membesarkan kamu! apapun yang kamu lakukan, ibu akan mendukungmu. Lagipula suamimu itu keterlaluan mana ada istrinya di hina eh, dia malah diem dan akhirnya nyalahin kamu." Zia hanya tersenyum, ia merasa lega karena ibunya tidak marah dengan keputusannya kali ini. Mereka semua pergi ke rumah sakit dengan menaiki mobil yang Barly bawa, sedang mobil Zia di simpan di rumah ibunya. Tiba di sana sesuai anjuran dokter, ibunya harus di rawat karena tulang kakinya sedikit retak dengan terpaksa ia menuruti perkataan dokter. "Terima kasih, sudah mengantar ibu ke rumah sakit." "Sudah menjadi tugas aku untuk melakukan semua itu." Barly berhenti di tukang bubur yang berjualan di area taman satu kilo dari kantornya Zia. "Ayo turun, kita sarapan dulu!" "Gak usah, kamu aja." "Zia, kamu belum sarapan dari tadi mungkin lebih tepatnya sarapan kamu hanya di penuhi oleh Omelan mertua kamu." Barly sekilas mengulas senyum. "Bi Juju memang comel ya, jangan kasih tahu ayah!" "Bukan comel, aku yang bertanya sama dia, hanya ingin memastikan kalau semua berjalan dengan baik." Mereka sarapan dengan penuh kehangatan, ini bukan pertama kalinya mereka dekat, dulu ketika Zia sedang kuliah, hanya Barly yang membantunya meskipun tak lepas dari perintah ayahnya, hanya saja hubungannya menjadi renggang ketika ia sudah menikah dan sekarang mereka dipertemukan kembali. Barly mengantar Zia ke kantor, bahkan diantarkan sampai ke ruangannya. Menurut jadwal hari ini, semua karyawan akan mendapat gaji. Barly tentu saja dengan senang hati membantu Zia. "Zia kita perlu bicara!" Alfa berdiri dengan memegang gagang pintu ruangannya. Barly yang tahu posisinya siapa, segera keluar dan duduk di kursi dekat sekertaris. "Ada apa?" "Kata Bi Juju, ibumu masuk rumah sakit!" "Iya, kakinya sedikit retak. Oh iya, gaji kamu bulan ini sudah masuk ke rekening kamu. Tolong nanti pulang dari kantor, kamu beli s**u Ana dan keperluan lainnya. Seperti biasa sisa gaji nya kamu transfer ke rekening aku!" ucap Zia seraya tangannya masih sibuk mengutak-atik komputernya. "Aku pikir kamu tidak butuh uangku, karena mungkin gaji kamu lebih besar dari aku!" Kepala Zia mendongak melihat ke arah suaminya dengan tatapan yang tajam, ah suaminya ini ternyata kebiasaannya sekarang bertambah yaitu tukang perusak suasana. "Mas, kamu 'kan suami aku sudah sewajarnya dong kamu menafkahi aku! jadi, berhenti membahas gaji siapa yang paling besar diantara kita." "Maafkan aku yang tidak bisa memberimu lebih banyak uang lagi, mungkin kedepannya aku akan mencari sampingan agar bisa membuatmu membeli barang-barang mewah lainnya." Zia menunduk, mencoba menetralisir aliran darah dalam tubuhnya yang mulai mendidih. "Dengarkan aku baik-baik, mas! apa selama ini aku selalu mengeluh karena uang yang kamu berikan, enggak 'kan? memang benar gajiku lebih besar atau mungkin bisa di bilang aku yang memiliki semua ini, tapi apa pernah ketika aku mulai bekerja disini, satu kali saja merendahkanmu karena posisi kita sekarang? kamu saja yang pikirannya melebar kemana-kemana." Hahaha, "Jadi sekarang kamu yang menyalahkanku atas semua ini?" "Iya, dari awal aku sudah menyimpan rapat-rapat keadaan keluargaku, tapi hanya karena kamu mengatakan malu, mempunyai istri hanya seorang ibu rumah tangga, terpaksa aku membuka semuanya, lalu sekarang kamu masih saja menyalahkanku begitu?" "Kamu sudah berubah Zia! kamu bukan lagi istriku yang ku kenal. "Dan kamu juga tidak pernah berubah, Mas! dari dulu sampai sekarang, kamu masih tetap saja egois. Kamu yang selalu meninggikan ego merasa paling benar!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD