Perpisahan 9

1131 Words
Waktu berlalu begitu cepat, sampai akhirnya seminggu lagi tibalah saat perpisahan sekolah untuk siswa kelas XII. Semua siswa pasti akan merasakan betapa beratnya perpisahan. Tapi jika masa depan yang harus mereka capai melewati masa itu maka biarlah berlalu untuk menjadi sebuah kenangan yang indah. Begitu pula yang di rasakan oleh Randy pria itu menatap gedung sekolah, harusnya dia senang sebentar lagi bisa menyelesaikan sekolahnya minimal dia akan mengantongi ijazah SMA itu artinya dia bisa mencari pekerjaan, apapun itu pekerjaan yang dia lamar nanti semoga bisa membantu meringankan beban hidup ibu nya dan membahagiakannya. Kini dia berada di perpustakaan nasional, tempat dimana dia mendapatkan ilmu tanpa harus membayar, yah dari mana dia bisa ikut les atau bimbingan belajar seperti siswa yang lain bahkan untuk makan dan biaya sekolah saja dia dan ibunya harus bekerja keras. Saat dia sedang memandang keluar jendela ia teringat perkataan ibunya semalam. "Sebentar lagi kamu kan Wisuda SMA Ran, kamu dah mikirin mau lanjut kuliah atau ngak?" tukas Ibu. "Tidak usah bu, Randy rencananya mau ngelamar kerja bu sudah beberapa lamaran yang Randy lihat di koran dan spanduk sekitar jalan, nanti kalau Ijazah sudah keluar, Randy langsung ngelamar bu'" jawab Randy dengan lembut. "Ngak Kamu ambil saja beasiswa teknik elektro, nanti ibu akan cari uangnya untuk keperluan kuliah mu" tanya ibu kembali. "Ngak usah bu, walaupun gratis tetap saja bu pasti ada biaya ini dan itu, cukuplah Randy nyusahin ibu samapi saat ini" Randy berusaha tersenyum di hadapan ibunya, pria itu sebetulnya berat melepaskan beasiswa yang dia dapatkan walaupun awalnya dia hanya coba-coba saja. "Kamu ngomong apa sih nak, itu sudah tugas orang tua" tukas ibu. "Berbeda bu, ibu membesarkan Randy sendiri, harusnya itu kewajiban seorang pria, doakan semoga randy bisa balas jasa ibu selama ini" ucap randy sambil mencium punggung tangan ibunya. "Iya baiklah Ibu mendukung semua keputusanmu, pulang jangan larut malam yah" pesan ibu sambil membelai bahu kekar anak lelakinya yang sekarang sudah tumbuh dewasa. Bagaimana bisa dia melanjutkan kuliah jika penghasilan ibunya yang di dapatkan setiap hari hanya untuk makan dan bayar kontrakan mereka berdua, bisa saja dia paksakan berkuliah sambil bekerja tapi beasiswa yang dia dapatkan untuk mata kuliah reguler, akan susah nantinya mencari pekerjaan sesuai dengan jadwal kuliahnya. Lamunan pria itu mencair saat dia menangkap sepasang bola mata cantik sedang melihat ke arah nya. Iya ini bukan kali pertama beberapa wanita melihat ke arah Randy, tapi biasanya mereka akan pergi jika sudah mendekat dan mencium bau keringatnya, kadang Randi bisa mendengar bisikan mereka yang mengatakan bau badannya tak enak. Karena itu dia lebih memilih duduk di ujung dan sebisa mungkin menjauhi keramaian saat berada disini. Tapi saat ini sepasang mata cantik itu berjalan ke arahnya, dan dia tau siapa wanita cantik itu, Dhena wanita pertama yang ada di pikiran dan sebagian kecil hati nya. "Hai kak?" sapa Dhena. "Ehmm..." aku hanya menjawab seadanya, entah brapa lama dia pasti akan pergi dan menjauhi ku. "Baca buku apa?" tanya Dhena yang selalu memperhatikan setiap buku yang Randy baca. "Matematika statistik" Jawab Randy tanpa melihat ke atas Dhena. "Kak, boleh minta tolong" tanya Dena ragu-ragu. "Maaf aku bukan malaikat! yang bisa menolong orang" Randy yang masih fokus pada bukunya. "Liat dulu deh kak" Dhena yang tak kehabisan akal menunjukan hasil ujian MIPA pada Randy tanpa malu dia menjelaskan bahwa nilainya jelek dan dia tidak bisa bimbel seperti murid lain, karena kondisi keuangan keluarganya sedang tidak baik. "Lalu emang aku bisa apa? hah!" ucap randy melengos. "Dhena dengar kaka juara umum di sekolah, boleh yah ajarin Dhena please?" Wajah manis itu berubah jadi menyedihkan saat ini dan Randy kini tak bisa menolaknya. "Hum... Yang mana yang ngak ngerti!" tanya nya ketus. "Ini- yang ini kak" wajah Dhena sedikit takut saat ini. Randy mengajarkan beberapa pertanyaan yang Dhena kurang paham, pria itu terus menjelaskan tanpa menatap lawan bicaranya. Dhena tersenyum senang akhirnya dia bisa bicara dan mendekatinya. Iya Dena bukan anak yang bodoh di sekolah, dia sengaja menukar kertas ujiannya dengan pita dan Menganti nama pita dengan namanya seolah dia yang mendapatkan nilai jelek. "Kalau hanya memandang ke lawan bicara, kamu tidak akan pernah mengerti jawabannya" tukas Randy yang dari tadi memperhatikan arah pandang Dhena ke padanya. "Ah, ngerti kok" jawab Dhena yang malu karena kepergok menatap kakak kelasnya itu, dengan senyum manisnya. "Oh gitu yah, coba kamu kerjakan ini!" perintahnya. Dengan cepat Dena mulai mengerjakan soal yang di berikan Randy, dan benar dalam hitungan detik dia berhasil menjawabnya. "Itu gampang, sekarang yang ini!" Randy memberinya satu pertanyaan lagi dan Dena lagi-lagi dengan cepat menyelesaikannya. "Ya itu sudah bisa, sekarang pergi sana! Saya mau fokus baca" ucap Randy kesal dia tau wanita itu hanya mempermaikannya. "Eh tunggu-tunggu yang ini belum mengerti kak" Dhena panik saat Randy mengusirnya dia membolak balikan kertas ujian dengan terburu-buru. Karena gerakannya yang cepat tidak sengaja jarak mereka berdua semakin dekat, Randy dan Dhena mulai merasakan degupan kencang pada jantung mereka, sepertinya ada yang salah dengan perasaan mereka kali ini. "Maaf hari sudah petang! dan saya harus segera pulang lain kali kita bahas soal yang itu oke?" Randy yang sadar akan dirinya sendiri, dia mencoba berdiri dan merapikan buku lalu meninggalkan Dhena, yang masih terpaku di tempatnya. Saat di teras rumah Randy tidak sengaja mendengar percakapan Ibunya dengan Bang tigor. "Tari, Randy harus tau tentang penyakit mu, sampai kapan kau akan merahasiakan ini semua dia sudah besar sudah seharusnya dia gantian menjaga kau ini" ucap bang Tigor. "Tidak usah Bang biar Randy lulus kuliah dulu dan mendapatkan pekerjaan baru aku kasih tau dia" ucap Ibu. "Lah gampang sekali kau bilang, kau pikir usia mu masih ada saat itu terjadi, jangan menyesal Tari kasian Randy nanti" bang Tigor "Ehmm... Ibu, Randy pulang" saat Randy masuk wajah ibu begitu pucat. "Ra-randy kamu sudah pulang nak?" Ibu "Ibu sakit apa bu?" tanya Randy. "Ibu sehat nak, kamu bicara apa" Jawab ibu berusaha mengelak. "Randy sudah dengar bu, bang ibu sakit apa?" tanya Randy kini kepada bang Tigor. "Maaf Tari ini demi kebaikan mu, Ibu mu sakit radang paru-paru Randy dan harus segera di tangani dokter, tapi dia tidak mau" ucapnya. "Benar itu Ibu, kenapa merahasiakannya pada Randy anak Ibu satu-satunya!" Randy menatap kearah ibunya, dia melupakan emosinya. "Maaf nak, Ibu tidak-" Bu tari baru saja ingin menjelaskan. "Sudah Ibu besok kita ke dokter, Randy hanya mau mendengar penjelasan dokter tentang penyakit Ibu" ucap Randy ingin segera berlalu. "Tapi nak besok acara perpisahan sekolah mu" ucap Ibu. "Kesehatan Ibu buat Randy yang terpenting, Randy mau istirahat dulu bu" Randy menahan tangisnya saat mengetahui kondisi Ibunya yang selama ini tidak baik-baik saja, dia harus berfikir dari mana dia akan akan mendapatkan uang untuk mengobati penyakit Ibunya. Randy mengambil celengan dan memecahkan nya dia mengumpulkan lembaran demi lembaran dan uang receh hasil keringatnya sendiri yang tadinya akan dia gunakan untuk biaya perpisahan sekolah akhirnya dia memilih untuk biaya pengobatan Ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD