Rasa Ini

1044 Words
Seminggu sudah setelah kejadian itu berlangsung, Dhena mencoba berbagai cara untuk menghindari kak Leo, saat jam istirahat dia makan bekal yang sengaja dia bawa di dalam kelas, saat jam pulang dia pergi lebih dahulu sebelum siswa lain keluar kelas. Tapi hari ini pak setu tidak bisa menjemputnya, bagaimana dia pulang nanti jika harus bertemu dengan kak Randy dan Leo. "Wait dey kenapa muka lo asem banget" tanya pita. "Gw lagi ngak mut pit, pak Setu ngak bisa jemput siang ini" pinta Dhena. "Widih princes dena lagi datang bulan" ujar Bayu meledeknya. "Ust... pergi lo bay, biarin Dhena sendiri dulu" usir Pita pada Bayu. "Iye eke pergi deh pit, tapi nanti pulang ceritain ke eke yah" bisik bayu di telinga pita, membuat pita jengah mendengarnya. Bel pulang sekolah berbunyi, tanpa kata dena langsung berlari meninggalkan kelas mereka. "Dey tunggu...!" Pita mencoba mengejar tapi nihil, bayangan sahabatnya itu telah hilang entah kemana. Dhena harus berlari menuju terminal bus sebelum siswa lain keluar, tapi sayangnya Leo sudah menunggunya di depan gerbang sekolah, sepertinya dia masih belum bisa menerima putusan Dhena. "Dhena! Aku mau bicara, ayo aku antar pulang" dengan kasar Leo menarik tangan Dhena. "Ngak usah kak, sebentar lagi Pak Setu datang" Ucap Dhena yang masih bisa menahan emosinya. "Dey pokoknya kak Leo ngak mau hubungan kita putus!" Kak Leo meninggikan suaranya. "Maaf kak, tapi keputusan Dhena sudah bulat" belum jadi suaminya saja Leo sudah berani bicara padanya dengan nada tinggi padanya. "Tin-tin! Dey, ayo bareng ngak!" tiba-tiba Dewi penyelamat datang, Pita memanggilnya dari dalam mobil. "Jawab pertanyaan kakak siapa pria itu!" Leo yang tidak mau kalah, lalu menekan Dena. "Apa sih kak, ngak usah mikir macem-macem deh kalaupun ada itu bukan urusan kakak, permisi Dhena mau pulang" untungnya saja pita datang tepat waktu, disaat ratusan siswa keluar dari kelas mereka untuk pulang. "Dey tunggu..." Kak Leo tetap berusaha mengejar ku. "Humfh... Makasih banget yah Pit" ucap Dhena, tangannya dingin dan dadanya masih bergetar ketakutan. "Gw tau Lo ada masalah, untung supir gw udah standby, jadi gw langsung suruh dia kesini" ucap Pita. "Hiks-Hiks" Suara isak tangis Dhena. "Udah dong jangan nangis Dey, Lo mau langsung pulang atau gw antar kemana dulu biar Lo tenang" tanya Pita. "Gw main dulu yah pit ke rumah Lo, boleng ngak" tanya Dhena, karena dia tau teman satu bangkunya ini banyak sekali kesibukan setelah pulang sekolah. "Iyeh tenang aja, lagian nyokap bokap gw juga lagi ngak di rumah" pita mencoba menenangkan Dhena. Sampailah mereka di rumah pita, rumahnya tidak begitu luas seperti rumah Dena, hanya ada dua kamar dalam bangunan tersebut maklum karena pita anak tunggal di keluarga tersebut. "What's!! jadi Lo suka sama sahabat cowok Lo sendiri Dey? Gila ini berita Gila" Dhena hanya mengangguk, setelah pengakuannya pada Pita. "Kenapa gw ngak sadar yah, OMG sahabat gw ini pasti dah gila" Pita mulai berdiri dan meneguk air putih dalam gelasnya. "Emang gw yang salah pit, makanya gw putusin kak Leo dari pada terlambat, hati gw juga ngak tenang bohong kelamaan" jawab Dhena membela diri. "Itu udah terlambat, dan sekarang penilaian kak Randy ke Lo pasti beda neng" benar juga yang dikatakan Pita, Kak Randy pasti makin benci dia sekarang. "Iya Pit, itu yang gw sesali dan gw makin tersiksa sekarang karena ngak bisa liat dia walaupun dari jarak jauh, gw takut ke gap kak Leo" ucap Dhena. "Syukurin! makanya hidup jangan pakai drama tapi logika, suka sama siapa jadian sama siapa" tukas Pita kesal. "Ih pit Lo kok gitu sih" sela Dhena. "Ya elo sih main terima ajakannya kak Leo waktu nembak Lo, harusnya Lo tanya dulu dia buka cowok yang ada di hati Lo" ucap Pita masih terus menyalahkan Dhena. "Iya terus gimana, nasi udah jadi bubur" Dhena menutup muka dengan kedua tangannya, dia malu jika mengingat kejadian itu, kenapa dia dengan gegabah menerima Leo untuk jadi pacarnya. "Tunggu-tunggu sebentar lagi kan perpisahan sekolah, Lo ngak mau bilang apa perasaan Lo yang sebenarnya ke kak Randy?" Pita menepuk pundak Dhena. "Gitu yah, malu Pit" Dhena bingung dengan ide pita yang tiba-tiba. "Ih kok ngeselin banget sih Lo cewek" Pita hanya menggeleng mendengar jawaban dari Dhena. "Gw takut di tolak pit, apalagi dia udah ngak suka sama gw gegara putusin temannya ya kan" jawab Dhena. "Ya terserah kalo Lo sih, kalo bisa ikhlas buat jalanin ini semua dan lupain kak Randy" ucap Pita. "Mungkin saat dewasa nanti, gw akan mencari sosoknya Pit dan bilang perasaan gw ke dia, itu juga kalo dia ngak berubah hehehe" dengan sedikit senyuman Dhena berkata. "Berubah jadi hantu lagi maksud Lo, kayak waktu itu Hahahaha" balas Pita mengejek, dan obrolan mereka berlanjut hingga petang. *** Seminggu sebelum acara kelulusan kelas XII, iya sebentar lagi Dhena tidak akan dengan mudah bertemu pujaan hatinya. Bagaimanapun dia akan tetap diam dan menyimpan rasa itu sampai suatu saat telah cukup keberaniannya untuk mengatakan pada Pria tersebut. "Tolong antar saya ke tempat biasa yah pak" Dhena berkata pada supirnya. "Oke non" jawab pak Setu. "Pak Setu langsung pulang aja, nanti Dhena pulang naik bus" ucap Dhena "Tapi non kasih kabar orang rumah dulu non, kalo ngak pulang sama saya" "Iya nanti Dhena SMS mama kalau pulang terlambat" "Hati-hati yah non, kalo ngak dapat busnya kabarin pak Setu, telepon ke rumah non" ucap pak Setu yang merasa khawatir pada dhena. "Ih pak Setu lebay deh, kan bukan kali pertama Dhena main kesini" tukas Dhena lalu berlalu menuju gedung tinggi yang berdiri di hadapannya. Saat masuk ketempat ini, Dhena selalu merasa tenang yah tempat ini sekarang menjadi tempat favoritnya untuk menenangkan diri sekaligus belajar. Tempat ini pula yang membawanya bertemu dengan cinta pertamanya, dengan malu-malu Dhena selalu menatap pria itu dari jauh, Jantungnya selalu berdebar ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu, tapi pria itu sama sekali tidak memandangnya, entah apa yang kurang dari nya atau wanita seperti Dhena bukan tipenya, ah kini berbagai macam opini bertebaran di otaknya. Raut wajahnya yang tegas dan keras, seperti banyak sekali beban yang ada di kepala pria itu, pernah suatu kali aku menyapanya tapi dia bahkan berjalan melewati ku. Dari situ aku merasa kecil hati untuk mencoba mendekatinya di tambah masalah yang ku buat belakangan ini. Tapi karena sudah merasa nyaman dengan tempat ini, jadi hampir setiap Minggu aku berada di sini, walaupun agak sedikit kecewa jika saat aku datang ketempat ini, pria itu tidak ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD