Turnamen Volly kali ini di selenggarakan di sekolah mereka, tidak hanya jadi tuan rumah tapi sekolah mereka di nobatkan menjadi sekolah percontohan untuk tingkat SMA sederajat di wilayah tersebut.
Belum juga pertandingan di mulai, hiruk pikuk penonton sudah memadati sisi-sisi ruang kosong yang ada di sekitar lapangan, sebagian dari mereka ada yang menonton dari lantai dua dan tiga tang mengarah langsung ke lapangan volly. Yah sudah bukan isapan jempol lagi sekolah kami selalu memenangkan kejuaran volly antar SMA dan tahun ini para pemain andalan akan resein karena mereka sebentar lagi lulus.
Sura peluit terdengar sangat nyaring di dalam lapangan.
Randy sebagai kapten tim yang tentu saja menanggung tanggung jawab besar di pundaknya. sebelum pertandingan di mulai Randy dan tim nya berdoa untuk kemenangan terakhir mereka untuk sekolah ini. Sekilas randi seperti mencari sosok penyemangatnya, tapi kali ini dia tidak menemukan wajah itu.
"Leo! Awas bola!" Randy berteriak saat pemain lawan melakukan jumping smash ke arah Leo.
"Lo kenapa sih hari ini kurang semangat, fokus bro scor kita hampir ketinggalan" Beny menegur Leo yang pikirannya terpecah karena Dhena.
Suara peluit terdengar, mereka di perbolehkan untuk beristirahat sebentar dan mengubah tak tik permainan.
"Lo bisa main ngak sih" bentak Yusuf pada leo dengan kasar.
"Kalo ngak bisa ngomong jangan diem aja!" Yusuf semakin kesal saat leo yang tidak menjawab pertanyannya.
"Gw keluar dulu aja, biar Ahmad yang masuk" ucap Randy mukanya pias.
"Gila lo Leo, ngak semudah itu langsung nyerah dimana pukulan smash lo yang tajam itu, kita semua punya masalah masing-masing dan gw harap kita lupain masalah itu sejenak, bisa kan! kita itu Team yang satu sakit semua akan sakit begitupun sebaliknya, jadi gw harap pertandingan selanjutnya score kita akan lebih baik" Leo berbalik dan teman-temannya mulai merangkul Leo, mereka akhirnya tersenyum dan membenarkan perkataan kapten team mereka.
Suara peluit terdengar lagi yang mengharuskan mereka untuk segera berkumpul di tengah lapangan untuk memulai pertandingan lagi. dan kembali terdengar teriakan dan sorak riang gembira dari penonton yang masih setia untuk kedua team.
Leo bermain baik kembali, dia tidak melakukan kesalahan seperti babak sebelumnya. Pukulannya juga terarah dan menghasilkan beberapa score untuk team mereka, itu artinya nilai mereka makin menjauh dari lawan.
"Good Job Leo!" Randy melempar pujian untuk menyemangati Leo.
Permainan Kapten team mereka tak kalah menarik Randy berkali-kali memblokade bola dari lawan dan melakukan smash ke arah lapangan lawan yang kosong.
"Go Randy-Go Rany Go!" teriakan dari para wanita penggemar kakak kelas merea itu.
Dan score terakhir 4-1 untuk keunggulan SMA Negeri 30 itu artinya sekolah mereka mempertahankan piala bergilir yang sudah tiga tahun ini bertengger di lemari piala sekolah. Randy mendapatkan selamat dan salam dari kepala sekolah dan beberapa guru yang ikut menonton langsung pertandingan mereka.
Setelah pertandingan usai, Leo langsung pergi dari hadapan mereka, padahal Randy dan pelatih mereka berencana merayakan kemenangan mereka.
"Lo mau kemana, apa masalah Lo ngak bisa di tunda? kita mau rayakan kemenangan kita bro" ucap Randy.
"Sorry banget gw ngak bisa, gw ada urusan sama Dhena" jawab Leo lalu sambil merapikan tasnya.
"Cewek aja Lo dulukan, awas nyesel Lo" ucap Beny dan tak di gubris oleh Leo yang langsung meninggalkan mereka.
***
Di tempat lain Leo berusaha merangkul Dhena tapi dengan cepat Dhena melepas kan tautan tangan Leo.
"Dhena jangan gini dong kita baru jadian satu bulan tapi kamu sudah minta putus, salah kak Leo apa Dey?" Leo berusaha mendekati Dhena, tapi gadis itu menolaknya.
"Ngak ada kak, Dhena ngerasa ngak ada perasaan aja sama kak Leo saat ini" jawab Dhena.
"Maksud kamu, ngak suka gimana jadi selama ini perasaan kamu ke aku semu belaka Dey" tukas Leo.
"Dhena ngak bisa jawab kak, tapi maaf itu yang Dhena rasakan sekarang" Dhena menuruti dirinya sendiri, kenapa tidak jujur dari awal. Dia terpaksa mengiyakan ajakan kak Leo tentang hubungan mereka lebih dari seorang teman tapi sekarang dia baru menyesalinya, bahwa ada satu nama yang tak bisa dia ganti dalam hatinya.
"kak mau pikirkan lagi Dey, kita Break dulu jangan langsung kasih keputusan sepihak kayak gini Dey" tukas Randy hatinya merasa di permainkan oleh Dhena.
"Maaf kak kita hanya pacaran dan usia kita masih terlalu dini untuk hubungan serius, maafin Dhena kak Dhena ngak mau nyakitin hati kakak lebih jauh lagi!" Dhena lalu meninggalkan Leo begitu saja, ada sesak di dadanya ingin dia tumpahkan tapi bukan tentang perasaannya ke pada Leo tapi ada nama seseorang yang tersayat di dalam hatinya.
"Dey kamu kenapa, dimana Leo?" Randy berpapasan dengan Dhena di koridor sekolah, Ingin rasanya Dhena berlari dan memeluk kakak kelasnya itu, tapi pikirannya masih normal tidak mungkin dia melakukan hal senekat itu.
"Permisi kak" Dhena akhirnya mengurungkan niatnya untuk berbicara pada kakak kelasnya itu.
"Adhena Larasati Utomo Tunggu!" suara Randy membuat tubuh Dhena seketika membeku.
"Aku tadi nya respek dengan hubungan kalian, tapi jika sahabat ku harus sakit hati karena wanita seperti kamu, berarti penilaian ku salah selama ini tentang mu" ucap Randy dengan lantang.
"Ha.. penilaian apa maksudnya, apa memang yang selama ini kakak lihat dari ku?" Dhena yang mencoba menatap Kakak kelasnya itu, sebelum berlalu dari hadapannya.
"Aku hanya tak percaya, kau wanita yang tak setia, apa kurangnya sahabatku di hati mu, hilang sudah rasa kagum ku kepada mu" ucap Randi dalam yang masih bisa di dengar oleh telinga Dhena.
"Apa aku salah jika aku menyukai orang lain kak, apa aku harus berbohong demi kebahagiaan orang lain dan mengorbankan perasaan ku sendiri" Dhena berusaha untuk tidak menangis saat mengatakan itu pada Randy.
"Maksud mu Dey, dari awal kau tidak menyukai sahabatku?" rasa penasaran menyelimuti hati Randy.
"Iya kak, aku salah menilai seseorang dan aku sangat menyesal permisi" ucap Dhena lalu, pergi berlalu begitu saja dari hadapan cinta pertamanya, yah bagi Dhena itu mustahil jika dia mengungkapkan perasaannya, dia takut dirinya akan di tolak, terlebih lagi dia sudah menyakiti hati kak Leo, yang tak lain sahabat Randy.
Sedangkan randy masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap punggung dhena yang menjauh meninggalkannya, banyak tanda tanya besar dalam hatinya jika Pria seperti Leo saja dia tinggalkan lantas pria seperti apa yang dia sukai atau itu hanya alasan saja untuk putus dengan Leo.