Permata berjalan bulak-balik seperti setrikaan. Semalam Permata tak bisa tidur nyenyak memikirkan putra semata wayangnya. Mendapatkan kabar dari Harus bahwa Gelano pergi ke luar kota karena ada urusan mendadak yang harus diurus secepatnya. Namun hati berkata lain. Mencoba untuk percaya dan yakin tidak terjadi sesuatu pada Gelano, tapi hatinya berkata lain. Perasaan cemas mendadak mengacaukan pikirannya. Tiba-tiba dia teringat Gresia, merindukan sosok wanita berparas ayu yang memiliki sifat baik dan lembut itu.
Berulang kali Keyla meyakinkan Permata. Gelano baik-baik saja, dan tidak terjadi sesuatu pada Gelano. Temannya sendiri yang bilang. Gelano sedang ada urusan mendadak di luar kota, hari ini pria itu akan kembali. Meski begitu, tetap saja Keyla tidak bisa mengeluarkan rasa cemas di diri Permata.
Sudah kali ke berapa Permata bertanya ‘kenapa Lano belum juga pulang’ sampai Keyla muak mendengarnya. Sungguh tidak tega mendengar kecemasan seorang ibu padanya. Jadi teringat ketika Keyla pulang larut malam, sampai Gelano menasihatinya. Mungkin saja Permata akan sekhawatir ini.
“Ma, sudahlah. Kak Lano sebentar lagi akan pulang. Mama makan dulu ya, nanti aku coba hubungi Kak Lano. Siapa tahu handphone-nya udah aktif. Sebelum itu Mama makan ya,” kata Keyla lembut menyuruh Permata makan.
“Enggak Key, Mama enggak lapar. Kamu makan aja. Mama mau tunggu Lano,” tolak Permata. Memandangi pintu rumah. Berharap Gelano segera datang dan muncul dalam keadaan baik-baik saja.
Keyla mendengkus kesal, menarik lengan Permata kemudian mendudukkan wanita itu di sofa. “Mama harus makan dulu. Kalau enggak makan makanan berat, ya makan sandwich. Ini enak banget lho.” Sepotong Sandwich disodorkan Keyla. Sementara Permata tengah gondok, berkali-kali Keyla menyuruhnya makan. Kali ini Permata tidak bisa lagi menolak permintaan Keyla.
Akhirnya Permata mau memakan Sandwich buatan Keyla. Memakannya secara tidak berselera. Iris matanya tiada hentinya menatap pintu. Beberapa saat kemudian, setelah Sandwich di tangan Permata habis. Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok pria tinggi berwajah tampan. Tidak sendiri, pria itu bersama gadis kecil. Gadis itu menggenggam jemari Gelano.
Permata terdiam, bukan Gelano yang Permata perhatian, melainkan seorang gadis cantik yang tengah menggenggam tangan putranya. Siapa gadis manis itu? Sama halnya seperti Keyla, tatapannya tertuju pada gadis kecil di samping Gelano.
Siapa gadis itu?
***
“Daddy! Ini lumah Daddy? Wah, rumah Daddy besal. Milip lumah Mila, eh lebih besal dalipada lumah Mila. Lumahnya cantik, apa ada kolam lenangnya?” Meira memandang kagum bangunan besar di depannya. Memandang ke bawah lalu ke atas, dan memandangi segala bagian yang tampak dari depan. Mata Meira berbinar, wajahnya berubah menjadi berseri-seri.
“Iya ini rumah Daddy, rumah kamu juga sayang. Di belakang rumah ada kolam renang, kamu bisa berenang nanti di sana. Kalau kamu mau Daddy juga buat kolam yang tidak terlalu tinggi, khusus untukmu,” jawab Gelano gemas. Mengusap surai panjang Meira. Gadis itu sangat menggemaskan. Gelano yang tidak terlalu suka anak kecil, ketika melihat Meira langsung menyukainya. Terlebih lagi Meira adalah putrinya, wajib memberikan kasih sayang berlimpah. Dia akan membuat Meira tidak merasa kehilangan.
Gelengan Meira yang terlalu berlebihan itu membuat Gelano terkekeh. Rambutnya berantakan karena kuatnya gelengan. “Mei enggak mau Daddy hambul-hambul uang. Mei enggak suka.”
“Tapi Daddy punya banyak uang sayang. Kamu bisa menghabiskan uang Daddy,” balas Gelano berlagak sombong.
“Kata Mama kita gak boleh hambul-hambul uang, mending uangnya ditabung atau sumbangin ke olang yang lebih membutuhkan. Mei enggak mau masuk neraka,” ucap Meira menampar telak Gelano. Orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk orang yang dia sayangi. Namun, selama ini dia memang tidak menghamburkan uang. Semua uangnya dia tabung untuk masa depan bersama Gresia.
Sayang sekali, Gresia sudah tiada.
Itu artinya semua tabungan untuk Meira.
“Tapi Daddy enggak hambur-hamburin uang sayang. Daddy Cuma mau yang terbaik buat kamu. Sesuai keinginan kamu, setiap bulan kita menyumbang.” Gelano menggenggam tangan Meira erat. “Kita masuk?” Meira mengangguk. Keduanya melangkah menuju rumah keluarga Gelano. Langkah Gelano kecil, menyamai langkah Meira.
Mata Meira semakin berbinar tatkala melihat seisi rumah yang begitu besar-besar dan mewah. Meira baru pertama kalinya menginjakkan kakinya ke rumah besar seperti ini. Rasa ketika kakinya menginjak ke ubin terasa berbeda. Sampai tiba pandangan Meira berhenti pada kedua wanita yang tengah menatapnya terheran-heran. Kepala Meira mendongkak, menatap Gelano bertanya-tanya. Ada perasaan takut di dalam diri Meira.
Tatapan-tatapan itu? Tatapan bingung dan tidak suka? Meira sudah hafal dengan tatapan itu. Sering dia menjumpai dan melihat berbagai jenis tatapan. Dari mulai tulus, senang, marah, kecewa, tidak suka dan lain-lain. Kali ini Meira menerka, kedua wanita itu tidak suka melihat keberadaannya.
“Lano kamu dari mana aja? Mama khawatir.” Wanita tua berpakaian modern itu memeluk Gelano singkat, lalu menatap Meira. “Ini siapa Lano? Kenapa manis banget?”
“Ini Meira, Mah. Meira Gessi Aditchandra.”
Deg!
Permata terkejut mendengar nama keluarganya beriringan dengan nama gadis kecil itu. Keyla juga sama terkejutnya. Mata Keyla melotot dengan sebelah tangan menutup mulut.
“Aditchandra?” beo Permata.
“Iya, Mah, ini anak Gelano dan Gresia. Kemarin Gresia meninggal dunia,” ungkap Gelano sedih.
Jdar!
Mulut Permata terbuka, matanya melotot saking terkejutnya. Dia menatap Meira. “Inalillahi wainailaihi rojiun. Kenapa kamu enggak kabarin Mama? Ya Allah, Nak.” Setetes air mata mengalir di pipinya. Wanita itu berjongkok, memeluk cucunya erat. Meira kaget, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan wanita ini. “Yang tabah ya, Nak. Maafin Oma yang enggak ada di samping kamu, enggak ada di samping ibu kamu. Kamu jangan ngerasa sedih lagi, ada kita.”
Pelukan itu terlepas, Permata mengecup Meira bertubi-tubi. Meira mengusap air mata Permata lalu menggeleng. “Oma jangan nangis, nanti Mama di sana juga ikutan nangis. Oma enggak malah sama Mei? Mei ‘kan anak—“
“Meira! Kamu lupa?” potong Gelano menegur Meira. Dia muak mendengar kata itu yang terus menerus diulang-ulang.
Meira mendudukkan kepalanya. “Maaf,” cicit Meira, merasa bersalah.
“Sayang, Oma enggak pernah marah sama kamu, enggak pernah marah sama mama kamu. Tolong buang jauh-jauh pikiran itu ya, Nak.” Permata mengusap pipi chubby itu gemas. “Lano, kamu bawa Meira ke kamarnya. Pasti dia lelah.”
Gelano mengangguk, lantas membawa Meira ke kamar atas. Dugaannya benar, dia akan memiliki putri. Tidak sia-siang dia membuat kamar untuk putrinya. Firasat seorang ayah memang setajam silet. Gelano sedikit takut, menjadikan kamar lantai atas untuk Meira. Dia takut Meira terjatuh di tangga atau terpeleset. Untuk sementara waktu ada baiknya Meira tidur di kamarnya, kamar Meira belum dia bersihkan.
Permata bahagia, begitu juga Keyla. Dengan kehadiran Meira di hidup Gelano, mungkin Gelano akan membatalkan pernikahan ini. Setelah itu dia akan hidup bahagia bersama Adrian. Lagi pula dia tidak sudi menjadi ibu sambung untuk anak yang ada karena ketidak-sengajaan. Anak yang ada sebelum adanya ikatan resmi. Hanya Tuhan dan Gelano yang mampu menjawab pertanyaan ini, apa keputusan yang akan Gelano ambil setelah ini? Akankah Gelano sibuk mengurusi anaknya atau melanjutkan pernikahan? Kemungkinan besar, sibuk mengurusi anaknya dan berakhir menghentikan pernikahan ini.
Tidak muluk-muluk, Keyla hanya menginginkan rencana pernikahan ini batal. Dengan begitu Keyla bisa menikah dengan Adrian tanpa harus merasa bersalah telah mengecewakan Permata.
***
“Ini kamal Daddy?”
“Iya, ini kamar Daddy. Kamarmu ada di sebelah kamar Daddy, tapi karena belum dibersihkan untuk hari ini kamu tidur di sini ya sama Daddy. Nanti Daddy bacain kamu dongeng sebelum tidur,” jawab Gelano, duduk tepi kasur. Dengan sekali angkat, Gelano mendudukkan Meira di kasur. Tubuh Meira sangat kecil dan ringan, meski satu tangan, Gelano bisa mengangkat tubuh putrinya.
Meira bersandar di kepala ranjang. Menatap ayahnya sambil tersenyum. “Kamu Istirahat ya, di sini. Kamu lelah habis perjalanan jauh. Kalau kamu belum mengantuk, sebentar.” Gelano bangkit, membuka laci—mengambil sebuah album foto. Setelah itu dia kembali duduk. “Ini album foto Daddy, kamu bisa lihat-lihat. Ada foto Mama Gresia juga di sini.
“Wah! Mei, mau liat!” seru Meira antusias. Meraih album foto itu.
“Daddy turun dulu ya. Kamu tinggal teriak kalau kamu butuh sesuatu, Daddy akan bisa mendengarnya,” ujar Gelano dibalas anggukan oleh Meira. Sebelum meninggalkan kamar, dia mengecup puncak kepala Meira terlebih dahulu lalu pergi tanpa menutup pintu. Sengaja jika Meira berteriak nanti, dia akan bisa mendengar suara Meira.
Ada banyak sekali hal yang mesti Gelano sampaikan pada Permata. Mereka berdua—Permata dan Keyla duduk bersampingan di sofa. Sampai di sana Gelano ikut duduk di sofa terpisah, menyerong ke arah sofa yang diduduki oleh Permata dan Keyla.
“Mama mau tanya sama Lan. Gimana kamu bisa nemuin Almarhumah Gresia?” tanya Permata memulai pembicaraan dengan pertanyaan. Pertanyaan yang harus dan secepatnya dijawab. Penasaran, sudah bertahun-tahun Gelano mencarinya tapi tak kunjung ketemu tapi hari ini? Secara tiba-tiba.
“Kemarin pagi-pagi, Lano pergi mencari Gresia. Tiba-tiba ada nomor tidak dikenal masuk, dan ternyata itu Gresia, Ma. Dia nyuruh Lano pergi ke Kencana Hospital Bandung.”
“Bandung?” beo Keyla dan Permata kompak. Gelano mengangguk.
“Iya, di Bandung. Gresia tinggal di desa terpencil. Lano telat 15 menit sebelum Gresia benar-benar meninggal,” lanjutnya sambil menggigit bibir bawah. Menarik kemudian menghembuskan nafasnya. Berusaha menahan tangisan. Andai Keyla tidak ada di sini, mungkin Gelano sudah menangis di pangkuan ibunya. “Lano belum sempat minta maaf, Ma. Lano enggak bisa ngapa-ngapain selain peluk jasad Gresia. Entah kalau Meira enggak ada saat itu, mungkin Lano sudah berpikir gila ingin mat—“
“Gelano!” bentak Permata. Matanya sudah banjir oleh buliran air bening. “Kenapa kamu enggak ngabarin Mama? Mama mau minta maaf juga walau di depan jasadnya.”
“Tadinya Lano mau membawa jenazah Gresia ke kota ini, tapi ada amanat dari Gresia untuk dimakamkan di sana. Lano enggak bisa apa-apa. Semuanya sudah berakhir dan Lano ada disituasi rumit.”
“Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kamu harus ikhlas, Meira sangat membutuhkanmu, Lano.”
Sempat Gelano berpikir, Permata akan membenci Meira, tapi sangat mustahil. Permata adalah orang yang sangat baik, anak orang lain saja Permata sayangi apalagi cucunya?
Gelano menatap Keyla. “Lano mau memutuskan rencana pernikahan Lano dengan Keyla!”