Bab 21

1746 Words
Gelano sudah menemukan tujuan hidupnya. Jika dia tidak hidup bersama Gresia maka dia akan hidup bersama Meira. Menjadi ayah terbaik untuk Meira. Mengganti setiap hari Meira yang dilewati tanpanya. Lantas, untuk apa dia masih menjalin hubungan dengan Keyla? Lebih baik dia fokus menjadi ayah yang baik. Tanpa seorang ibu pengganti dia bisa menjadi ayah sekaligus ibu. Lagi pula dia tidak percaya pada siapa pun terkecuali Ibunya. Terkhusus Keyla, mana bisa wanita itu menjadi seorang ibu. Sedari tadi Gelano memerhatikan Keyla. Sudah Gelano simpulkan, Keyla tidak menyukai anak kecil. Bagaimana bisa Keyla menjadi ibu sambung Meira. Lihat saja wajah Keyla yang sedari tadi tertekuk. Memikirkan banyak hal dan kemungkinan besar tengah memikirkan Meira. “Lano mau memutuskan rencana pernikahan Lano dengan Keyla!” putus Gelano. Sontak saja Permata dan Keyla terkejut. “Kamu gila Gelano? Kenapa kamu memutuskan secara sepihak? Kamu dan Keyla sudah bertunangan, di depan banyak orang. Kamu akan mempermalukan keluarga ini dan juga Keyla!” murka Permata menatap putranya nyalang. Keputusan Gelano akan berdampak buruk bagi keluarganya. Para tetangga akan menganggap bahwa keluarga ini main-main dengan ikatan suci pernikahan. Meski belum ke tahap pernikahan, mereka berdua—Gelano dan Keyla sudah bertunangan. “Ma, ada Meira,” tukas Gelano. “Justru ada Meira Gelano! Meira juga butuh ibu sambung. Kamu jangan kecewain Mama, Gelano!” tegas Permata menunjuk murka putranya. Orang yang ditunjuk tidak mengacuhkan ucapan Permata. Memilih berdiri lantas naik menuju kamar. Telinga Gelano seakan tuli, beberapa kali Permata berteriak memanggil tapi Gelano tidak menoleh apalagi menjawab. Permata mengembuskan nafasnya kasar, mengusap wajah gusar. Sementara Keyla sudah kesenangan dalam hati. Namun raut wajah menunjukkan kesedihan. “Ma, sudahlah. Mama jangan memaksa Kak Gelano, kalau Kak Gelano ingin membatalkan pernikahan ini, aku enggak masalah kok. Aku Cuma mau Kak Gelano bahagia, apapun pilihannya,” ucap Keyla sambil tersenyum, menepuk bahu Permata pelan. “Tapi Key, Mama mau kamu jadi menantu Mama. Kamu masih mau ‘kan nikah sama Gelano dan jadi ibu sambung Meira?” harap Permata, bertanya. Selain Gresia, wanita yang cocok untuk Gelano hanya Keyla. Tidak ada yang lain. Usia Gelano sudah sangat matang, sampai kapan lagi Gelano akan menunda? Gresia sudah meninggal, dan di sana pun—di tempat Gresia saat ini—pasti sangat sedih, melihat Gelano tidak membuat keluarga kecil. Keyla bergeming, sedetik kemudian mengangguk. Tersenyum kecil, tapi percayalah senyuman kecil itu tidaklah tulus. Dia mengambil tangan Permata, mengusap-usap lembut. Wanita tua ini sangat menuntut. Memaksanya agar tetap bersama Gelano, sedangkan Gelano sendiri tidak mau bersamanya. Tidak ada daya dan upaya, Keyla mau tidak mau tetap menyetujuinya. Dia yakin Gelano akan bersikukuh akan keputusannya. Biarkan perdebatan ini hanya antara Permata dan Gelano, tentang ibu dan anak. Keyla tidak mau ikut campur. “Aku mau, Ma. Aku mau jadi ibu sambung Meira, tapi aku Cuma minta satu Ma. Aku enggak mau Mama maksa Kak Gelano, aku enggak mau pernikahan ini karena terpaksa. Mama enggak usah khawatirin aku semisal Kak Gelano tolak pernikahan ini, aku enggak papa. Aku juga masih harus fokus urus cabang,” tutur Keyla. Senyuman di wajahnya tidak hilang. “Iya Mama enggak akan maksa. Kamu anak yang baik Keyla, Mama sayang sama kamu.” Wanita tua itu memeluk Keyla dari samping. Langsung saja Keyla membalas pelukannya sambil membalas, “aku juga sayang sama Mama.” Keyla tidak berbohong kali ini, dia sangat menyayangi Permata. Sangat-sangat menyayangi, lebih dari ibu kandungnya sendiri. Mustahil sekali jika Gelano melanjutkan pernikahan ini. Keyla tidak sedih, dia hanya berpura-pura sedih. Berakting selayaknya aktris ternama, seolah dunia yang sedang dia jalani adalah drama film sungguhan. Bedanya drama ini dirancang tanpa skenario, ya, drama kehidupan. Setelah rencana pernikahan ini benar-benar batal, Keyla akan berpesta dan segera mengambil keputusan pernikahannya dengan Adrian. Mimpi yang akan diambang kehancuran, akhirnya akan tercapai atas kehadiran Meira. Keyla akan sangat berterima kasih jika pernikahannya dengan Adrian terlaksana. “Adrian, kita akan menikah! Secepatnya!” seru Keyla dalam hati. *** Gelano duduk di atas kasur, mendengarkan anaknya mengaji. Tiada henti Gelano tersenyum melihat kepintaran putrinya. Keceriaan, semangat dan ambisi, mirip sekali dengan Gresia. Melihat mata Meira dia seperti melihat mata Gresia. Rasa rindu terobati kala dia bersama Meira. Gresia sangat pandai mendidik Meira. Menjadi pribadi yang baik, sopan santun dan patuh. Selain itu Meira juga cepat tanggap. Di usianya yang terbilang sangat muda, Gelano heran, Meira bisa melakukan dan tahu banyak hal. Hidup di dunia yang keras membuat Meira mengerti arti kehidupan. Kecil, tapi pandai. Gelano yakin sekali, Meira akan menjadi murid unggul di sekolah. “Alhamdulillah, Dad. Mei udah hapal surat Al-Kautsal. Daddy mau dengel enggak? Nanti kalau ada yang salah, Daddy perbaiki ya?” ucap Meira, menutup jus ama. Tanpa sadar Gelano menangis terharu. Dia tersentuh sekali dengan antusias Meira. Diusia Meira yang tahu bermain saja, Meira sudah lebih unggul dari anak-anak lainnya. “Inna a’thoina kalkautsal; Fasholli lilobbika wanhal; Innasyaani akahuwal abtal. Shadaqallahul adzim,” Meira melantunkan surat Al-Kautsar dengan tersendat-sendat. Surat berisi tiga ayat itu terhafal dengan sangat baik. Meira menatap ayahnya kaget, karena air mata berlinang di pipi ayahnya. Tangan kecilnya meraih pipi Gelano, mengusap air mata yang terus menerus mengalir. “Daddy kok nangis, suala Mei buluk banget ya? Tapi kata Mama suala Mei bagus, apa Mama boong?” Bibirnya mengerucut, maju beberapa centi. “Enggak, suara Mei buat Daddy tersentuh,” sangkal Gelano. “Ada yang salah enggak? Nanti Mei pelbaiki. Mei pengen hapal Al-Qur’an Dad, Mei mau kasih mahkota buat Mama.” Akhir-akhir ini Gelano menjadi sangat cengeng. Air matanya terus saja mengalir. Tangan kecil nan halus itu tiada lelah menghapus air matanya. Mulia sekali, niat putrinya sangat baik. “Enggak sayang, enggak ada yang salah. Tajwidnya juga benar. Daddy hafal itu, waktu sekolah Daddy pernah hafalan,” jawab Gelano, menggenggam kedua tangan putrinya lalu dicium punggungnya lama. Setelah itu menempelkan tangan Meira di pipi lembabnya. “Kamu bakal hadiahin Mama kamu mahkota di sana sayang. Daddy percaya sekali kamu akan jadi yang terbaik.” “Daddy kenapa nangis? Mei enggak suka liat Daddy nangis!” omel Meira, melepaskan genggaman tangan Gelano. Beralih mengusap air mata ayahnya. “Daddy bangga punya anak pintar kayak kamu, Meira. Daddy sayang, sayang, sayang sama kamu. Sayang banget.” Meira tersenyum semringah. “Mei juga sayang Daddy, sayang banget. Nanti Mei bakal hadiahin Daddy 2!” seru Meira. “Dua?” “Iya! Yang peltama banyak-banyak piala buat Daddy, dan kedua mahkota yang sama kayak Mama.” Ditariknya Meira masuk ke dalam dekapannya. Sesekali Gelano mengecup kening Meira. Gelano tidak memedulikan apapun, entah putrinya akan mewujudkan ucapannya itu ataukah tidak, dia tidak peduli. Hal yang dia pedulikan sekarang adalah, Meira ada di sini, di dekatnya. Apa pun keinginannya, akan dia penuhi. “Buat Mama aja sayang, Daddy enggak pantes pakai mahkota dari kamu,” batin Gelano. Manusia kotor sepertinya tidak pantas menerima kebahagiaan. Dunia atau akhirat. *** Diiringi lagu POP dan KPOP Keyla berjoget-joget ria di dalam kamar. Pintu sudah terkunci dan wanita itu bebas bergerak kesana-kemari sesuai lagu. Kali ini Keyla menyetel lagu yang energic dan penuh kebahagiaan. Hari ini harus dirayakan. Keyla harus merayakannya dengan menari-nari sesuka hati. Ting! Handphone tanpa case itu berdenting keras. Keyla berdecak sebal, mengganggu aktivitas dance-nya. Dia mematikan lagu, melihat notifikasi. Ketika nama kontak ‘Adrian❤️’ muncul di layar depan. Secepat kilat dia menekan notifikasi itu dan langsung menuju roomchat. Adrian❤️ : Kamu sibuk enggak? Aku mau telepon kamu Anda : Enggak, aku luang kok. Pesan itu terbaca, dan panggilan video dari Adrian langsung muncul. Adrian memakai foto profil dirinya. Walau berbentuk siluet, dia bisa tahu profil itu berisi foto dirinya. Diambil secara asal di pantai saat sunset. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia mengangkat panggilan Adrian. Seketika muncul Adrian tengah bersandar di kepala ranjang. Rambutnya berantakan, dua kancing kemeja atasnya sengaja terbuka. “Ah, akhirnya aku bisa melihatmu, Babe.” Pipi Keyla memerah. Hari ini adalah hari bahagia, dan Adrian meneleponnya untuk melengkapi kebahagiaan. Adrian tampil berantakan saja masih terlihat tampan dan seksi. Dia mengambil nafas lalu menghembuskan. Di seberang sana, Adrian mengernyitkan dahinya. Seolah tengah menebak-nebak, ada apa dengan dirinya. “Ada apa hm? Wajahmu terlihat senang sekali. Aku yang habis bekerja karena lelah pun langsung vit lihat wajah kamu.” Adrian turun dari ranjang, sebelah tangannya memegangi handphone dan sebelah lagi meminum. “Hari ini aku bahagia, bahagia, bahagia banget! Cepat pulang!” seru Keyla. Seketika Adrian terdiam. Matanya menilik sesuatu. Ya, senyuman indah di wajah Adrian menghilang tergantikan oleh wajah datar. Sontak saja Keyla kaget, dia lupa mengganti cincin! Glek! Keyla menelan salivanya. Petaka! “Itu cincin siapa Key? Kenapa kamu enggak pakai cincin pemberian aku? Aku marah lho, Key,” Adrian bertanya dengan nada dingin. “Oh ini!” Keyla menunjukkan cincin itu. “Ini cincin pemberian dari Mama Permata. Tadi aku habis mandi, aku lepas dulu karena takut jatuh. Cincin pemberian dari kamu lebih penting soalnya,” dustanya. Degupan jantung Keyla kian meningkat. Nafasnya seakan dihambat oleh sesuatu. “Kenapa kamu pakai di jari manis kamu?” Astaga! Keyla berlari, dia mengambil cincin pemberian dari Adrian di kotak perhiasan. Panik sekali. Dia mengganti cincin pertunangan Gelano dengan cincin pertunangan Adrian. Setelah selesai dia menunjukkan tangan kirinya. “Sudah, Cuma ada cincin kamu. Aku kira yang dipakai di jari manis itu cincin kamu, jadi aku salah pakai,” lagi, Keyla berdusta. Raut wajah marah Adrian seketika memudar. “Okay, aku percaya karena cincin pemberianku warnanya sama dengan cincin pemberian ibu angkatmu.” Adrian memijat pangkal hidungnya. “Aku hampir mengira kamu bertunangan dengan orang lain disaat aku pergi. Bodoh sekali aku berpikir seperti itu. Aku yakin kamu tidak akan berkhianat.” Keyla menggeleng cepat. Mana mungkin? Masalah sudah beres, dia pasti akan menikah dengan Adrian. “Enggak, aku enggak bakal hianatin kamu. Aku cinta kamu Adrian.” “Yeah, aku tahu itu,” balas Adrian. Pria itu kembali menyandarkan kepalanya di kepala ranjang. Melepas kemejanya tanpa malu-malu, memperlihatkan perut sixpack. “Kamu tahu, aku melakukan presentasi dengan sangat lancar. Klien sangat menyukainya, pemilik perusahaan akan mempercayaiku menjadi pengganti Keenan sebagai CEO.” Mulut Keyla terbuka lebar. “Oh my God! Selamat sayang! Aku selalu percaya sama potensi dan ambisi yang kamu punya, enggak tanggung-tanggung atasan kamu kasih kamu jabatan tertinggi. Lantas CEO terdahulu?” “Keenan anak pemilik perusahaan akan mengurus cabang. Memang sedari dulu, Keenan tidak menyukai pekerjaan saat ini. Dia susah diatur.” “Aku turun senang dengarnya Adrian. Segeralah pulang, aku menunggumu. I love you!” “Aku akan segera pulang. Love you too, aku harap segera mendengar berita baik tentang pernikahan kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD