Bab 22

1709 Words
Pertama mengajak Meira berbelanja. Membeli segala kebutuhan Meira mulai dari pakaian, alat tulis, tas, alat menggambar dan buku-buku dongeng. Mulai besok Meira akan masuk ke taman kanak-kanak(TK). Gelano sudah memilihkan TK terbaik untuk Meira. Sebuah TK berbasis islami, karena selain belajar Meira akan belajar soal agama di sana. Setelah masuk TK nanti, banyak yang akan Meira pelajari. Tidak hanya itu, Meira juga akan mendapatkan teman. Permata dan Meira tidak berbelanja berdua saja, Permata sengaja membawa sopir pribadi untuk menemani mereka berbelanja. Kemungkinan barang belanjaannya mereka akan sangat banyak. Permata tidak bisa membawanya seorang diri. Tutur kata Meira yang lucu membuat Permata gemas sendiri. Apalagi pipi chubby, rasanya Permata tidak bisa diam saja melihat pipi Meira menganggur. Putri Gelano dan Gresia, ada karena ketidaksengajaan. Akan tetapi Permata sangat bersyukur pada Tuhan, dengan masuknya Meira ke dalam rumahnya semuanya berubah. Hari-hari Gelano sangat bahagia. Pergi ke kantor selambat mungkin dan pulang secepat mungkin hanya ingin melihat Meira. Siapapun akan terhipnotis dengan keimutan Meira. Ceria, periang, cerdas dan pintar, siapa yang akan membenci gadis seperti Meira. Bahkan dihari Meira datang ke rumah, Permata tidak sabar memeluk tubuh mungil Meira. Mata Meira berbinar, melihat luasnya tempat ini. Kepalanya menengadah menatap ke segala arah. Permata menggenggam lengan Meira. Sesekali Permata tertawa melihat tingkah lucu Meira. Wajahnya perpaduan antara Gresia dan Gelano, lebih condong ke Gelano. Cantik, imut dan menggemaskan. Mereka bertiga masuk ke dalam toko pakaian anak-anak. Permata berjongkok, mengusap pipi Meira. “Kamu pilih pakaian yang kamu suka. Kamu suka ambil, ambil aja yang banyak. Oma juga bantu nyari baju cantik buat kamu.” “Yang banyak?” beo Meira, Permata mengangguk. Cepat-cepat Meira menggeleng. “Mei enggak mau bolos-bolos, nanti uang Daddy habis.” Anak lain pasti akan langsung kesenangan memilih apa yang disuka. Pernah Permata melihat, ada seorang anak yang sampai menangis-nangis ingin dibelikan sesuatu tapi terbentur biaya, Meira malah menolak padahal uang ayahnya tidak akan habis meski satu toko ini diborong. Gresia pasti mendidik Meira dengan sangat baik. “Dengerin Oma sayang, ini Daddy kamu yang minta. Nanti Oma dimarahin kalau enggak bawa pulang banyak-banyak apa yang dia minta. Kamu mau Oma dimarahi?” Meira menggeleng. “Mangkanya kamu tunjuk aja apa yang kamu suka, nanti Pak Wahyu yang bakal ambilin buat kamu.” “Kalau Mei ambil banyak-banyak, Daddy enggak malah ‘kan sama Oma?” tanya Meira dibalas anggukan oleh Permata, “tapi Mei enggak bisa milih banyak-banyak, biar Oma aja ya yang pilihin.” “Iya sayang, Oma ikut milihin tapi kamu juga ikut milih. Pak Wahyu, awasin Meira ya. Ambil semua yang Meira tunjuk.” Permata bangkit dari posisi jongkoknya, meminta tolong pada Pak Wahyu. Meira diajak ke bagian paling ujung oleh Pak Wahyu, sementara Permata tetap berada di sini. Memilih sambil memperhatikan cucunya dari jauh. Pakaian-pakaian di sini sangat bagus, semuanya akan cocok dipakai Meira. Tubuh Meira tidak kurang, tapi tidak gemuk juga. Beberapa pakaian sudah berhasil Permata pilih. Sejenak dia diam, memerhatikan Meira. Gadis kecil itu kebingungan, mengetuk-ngetuk jari di dagu lalu menunjukkan salah satu gamis. Pak Wahyu dengan sigap mengambilkannya untuk Meira. Permata mengulas senyum ketika Meira berjingkrak-jingkrak aktif sambil memamerkan pakaian yang gadis itu pilih ke Pak Wahyu. Sifatnya mirip Gresia, dan dia bersyukur. Andai sikap Meira akan sama seperti Gelano, pasti akan membosankan. Diam saja seperti orang cacingan. Siapapun yang ingin berteman dengan Gelano dulu—sewaktu kecil—harus terlebih dahulu menghampiri Gelano. Tipe malas berteman, menganggap dunia pasti akan didapat tanpa berteman. “Pak! Tolong Pak, ambilin baju itu,” pinta Meira halus, menunjuk dress selutut berwarna putih. Pak Wahyu mengambilkan pakaian yang ditunjuk Meira. “Ini Non?” “Non?” beo Meira, asing sekali di telinganya, “Non apa ya, Pak? Oh baju itu namanya Non?” tanya Meira bingung. Sontak saja Pak Wahyu tertawa. “Non itu Nona, Non. Nona Meira,” jelas Pak Wahyu. Meira mengernyitkan dahinya. “Tapi nama Mei, Meila Gessi, bukan Nona Meila.” Lagi Pak Wahyu hanya bisa tertawa mendengarnya. Melihat itu Meira kebingungan. Berlari menghampiri Permata, menarik pelan ujung dress yang Permata gunakan. Permata menghentikan aktivitasnya, menatap ke bawah. “Lho Mei, kamu udah selesai pilih bajunya?” “Enggak Mei lagi pilih baju sama Pak Wahyu, telus masa Mei dipanggil Non Meila. Kan nama Mei, Meila Gessi, bukan Nona Meila,” adu Meira sambil melirik Pak Wahyu, “terus Pak Wahyu ketawa. Masa Mei diketawain, kan Mei bener. Nama Mei itu Meila Gessi, bukan Nona Meila.” Sama seperti Pak Wahyu, bahkan Permata sekarang tertawa terpingkal-pingkal. “Kamu enggak suka dipanggil ‘Nona’?” tanya Permata. “Nona itu apa? Maksud Mei Nona siapa?” Bukannya menjawab, Meira malah bertanya. “Nona itu panggilan kaya ‘Bu’, ‘Pak’, ‘Kak’, ‘Tuan’, ‘Nyonya’, ‘adik’. Bukan siapa, Nona itu bukan orang sayang. Nona itu nama panggilan. Kalau kamu enggak suka dipanggil Nona, nanti Oma bilang ke Pak Wahyu buat enggak manggil Mei ‘Nona’ lagi,” jelas Permata rinci. Meira mengangguk paham. “Iya, Mei enggak suka dipanggil ‘Non’ Mei suka dipanggil ‘Mei’ tapi bukan Mei-Mei, Mei aja. Meila,” keluh Meira. Permata menatap Pak Wahyu. “Denger Pak? Panggil dia Mei, katanya.” “T-tapi—“ sela Pak Wahyu hendak menolak, tapi Permata memelototi Pak Wahyu. “I-iya Mei, ayok pilih baju lagi. Tadi yang warna putih jadi enggak?” Meira mengangguk antusias. “Iya!” “Udah, Mei. Kamu pilih pakaian lagi ya. Oma mau lanjut, kalau udah kamu kasih ke Oma.” Meira meraih tangan Pak Wahyu, kembali memilih pakaian sambil berjingkrak-jingkrak. Tidak sengaja kaki Meira menyandung sesuatu, akhirnya gadis kecil itu terjatuh. Permata panik, ingin menghampiri Meira tapi gadis itu lebih dulu berdiri menyengir pada Pak Wahyu yang sudah khawatir setengah mati. Permata mengembuskan nafasnya lega. Takut terjadi sesuatu pada Meira. Ternyata gadis itu kuat, padahal dia tahu sekali Meira terjatuh sangat keras. Namun dengan wajah ceritanya, Meira menyengir meyakinkan Pak Wahyu bahwa lututnya baik-baik saja. “Meira kamu enggak papa?” Permata bertanya, sedikit berteriak. Meira menoleh lalu mengangguk. “Mei enggak papa Oma, Mei Cuma jatuh!” Cuma jatuh katanya. *** “Kamu tahu, Lan? Anak kamu itu super aktif. Dia nolak belanja banyak katanya takut duit kamu habis,” cerita Permata setelah sampai di rumah. Meira sudah terlelap di ranjang sambil memeluk boneka teddy bear seukuran tubuh Meira. Gelano mengusap rambut Meira, sesekali menepuk-nepuk kepalanya lembut. Tidak heran lagi dengan sikap super aktif putrinya. Dia menatap barang belanjaan yang begitu banyak. Namun menurutnya barang belanjaan ini masih kurang. Pakaian Meira masih belum cukup. Permata merapikan semua pakaian yang baru dibeli, memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam lemari. “Pas sampe ke rumah, Lano tawarin dia buat kolam renang juga sama. Katanya enggak mau menghamburkan uang. Mending uangnya disumbangin ke orang yang membutuhkan, katanya,” timbrung Gelano terkekeh. “Mama kira Cuma ke Mama. Mama bilang aja disuruh kamu, terus Mama ancam kalau enggak beli banyak-banyak Mama diomelin sama kamu. Dan bener aja ‘kan? Barang segini banyak masih dibilang kurang? Ngomel-ngomel aja bisanya, mangkanya ikut terus borong,” kata Permata kesal. Sedari tadi Gelano mengoceh karena banyaknya barang yang dibeli tidak sesuai keinginan Gelano. Seharusnya Gelano ikut juga dan ikut memilih. “Nanti Lano ajak Mei lagi.” Ajak? Permata berdesis. Melemparkan black card ke Gelano. Dengan sigap Gelano menangkap kartu hitam itu. Semenjak usaha Gelano meningkat drastis, Gelano lebih memilih menabung daripada menghabiskan demi kesenangan pribadi. Jangan heran, tabungan Gelano tiada habisnya. Bagaimana tidak? Bukan berkurang tapi akan selalu bertambah. Belanja hari ini, menurut putranya belum seberapa. “Hari ini aja Mama maksa-maksa Gelano Ardeno Aditchandra, gimana bisa kamu ngajak Mei lagi. Pasti Mei ngomelin kamu!” sangkal Permata. Jangan harap Meira akan menyetujui permintaan Gelano yang ingin mengajak Meira berbelanja lagi. Gelano tertawa. “Mama takut Mei marah-marah? Lano malah suka banget Mei marah-marah. Lucu, gemes, boleh enggak sih Ma, Lano karungin aja?” “Bercanda kamu kelewat, Lan. Mati anak orang dikarungin.” “Anak Lano, Ma,” koreksi Gelano. Banyak yang Permata beli. Sampai Meira penat, dan tertidur di gendongan Pak Wahyu. Mulai dari pakaian, alat tulis, boneka, alat gambar, sepatu dan kalung untuk Meira. Semuanya Permata rapikan, menyimpan sepatu dan sandal di rak sepatu. Alat tulis dan warna di mejanya. Firasat seorang ayah ternyata sangat tajam. Tiada angin tiada hujan, Gelano mendekor kamar bercat pink khas perempuan. Waktu itu Gelano tidak tahu anaknya masih hidup atau tidak, jika masih hidup jenis kelaminnya lelaki atau perempuan. Benar saja, anak Gelano adalah seorang perempuan cantik mirip sekali dengan ayahnya. “Besok Mei udah mulai belajar di TK, Lano yang antar Mei dan Mama yang jemput ya. Lano enggak bisa jemput karena jarak kantor ke rumah lumayan jauh dan buang-buang waktu.” “Kamu enggak perlu khawatir Lano, Mama yang jemput Meira. Kamu fokus saja bekerja, jangan capek-capek tapi kerjanya,” ujar Permata, “ah, akhirnya selesai. Ayo ikut Mama sebentar, Lan. Mama mau bicara empat mata sama kamu.” Pria itu mengangguk, dia bangkit dari tempat tidur. Sebelum pergi mengikuti Permata, dikecupnya kening Meira singkat lalu melenggang pergi mengikuti Permata. Entah mengapa Gelano bisa menebak apa yang ingin Permata bicarakan. Di sinilah Gelano berada. Di kamar Permata. Sebuah kamar bernuansa putih abu-abu yang sangat luas, lebih luas dari kamarnya. Ya, kamar yang ditempati Permata adalah kamar utama. Kamar mendiang Rezasa—ayahnya sekaligus suami Permata. Gelano dipersilahkan duduk di sofa. “Mama mau bicara serius sama kamu,” ucap Permata duduk berhadapan dengan Gelano. “Mama mau bicarain soal pernikahan ini? Ma, Lano udah bilang, Lano mau batalin pernikahan in—“ “Dan kamu mau buat nama keluarga ini jelek Lano? Kamu mau buat Keyla malu? Mama enggak persalahin kamu, karena muka kamu tebal Gelano. Keyla yang bakal jadi gunjingan. Lagi pula mau sampai kapan kamu hidup sendirian, kamu harus menikah Lano dan Meira butuh seorang ibu,” potong Permata tegas. “Tapi Lano bisa jadi ayah sekaligus ibu buat Meira,” sela Gelano. “Enggak bisa Gelano, sampai kapan pun enggak bisa. Meira butuh sosok ibu yang nyata, kamu jangan egois. Semua keputusan ada di kamu, kamu mau buat nama keluarga ini hancur, buat Keyla nangung semuanya dan buat Meira enggak merasa kehilangan seorang ibu selamanya. Meira masih kecil, Meira butuh ibu. Kamu jangan egois, Mama tahu kamu bijak dalam menangani masalah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD