Bab 12

1655 Words
Sarapan yang seharusnya mengenyangkan perut malah menjadi petaka bagi Keyla. Mood-nya anjlok sampai ke tahap serendah-rendah, atau bisa diibaratkan jatuh ke inti bumi. Tidak-tidak, jatuh menembus bumi sampai terperosok ke planet mars. Setelah sarapan, Keyla izin pergi ke suatu tempat. Niatnya dia ingin bersantai-santai di rumah sebelum Adrian menjemput tapi diluar kendali, kejadian ini tiba-tiba terjadi. Mustahil dia bisa terus ada di tempat itu. Membicarakan soal pernikahannya dengan Gelano membuatnya mual. Ingin muntah dan mengeluarkan seluruh isi perut. Permata juga semakin mendesak, mempercepat pernikahannya dengan Gelano. Tidak tanggung-tanggung, ternyata wanita tua itu sudah mempersiapkan pertunangannya. Membicarakan soal dekorasi, gaun dan cincin. Acara pertunangan ini akan dilaksanakan tiga hari lagi. Di sana Keyla tidak bisa berbuat apa pun selain berkata ‘iya’ dan tersenyum selebar-lebarnya. Bertanya-tanya dalam hati, mengapa Gelano menerimanya sedangkan pria itu masih sangat mencintai Gresia. Apa mungkin Gelano diam-diam mencintainya, tanpa berpikir panjang Gelano langsung menerima perjodohan ini. Kepala Keyla menggeleng, menepis pikiran bodoh di otaknya. Di sebuah cafe Keyla duduk sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. Duduk di tempat paling ujung, kecil dan tersembunyi. Tidak ada yang sadar akan keberadaannya di sini. Sekalipun dia menangis kencang, mereka tidak akan memedulikan. Sebuah cafe yang jarang diminati, pengunjung cafe ini bisa dihitung. Keyla pengunjung setia cafe ini, dulu sewaktu dia belum pindah ke Bandung untuk kuliah. Ternyata cafe ini gulung tikar. Dalam hitungan bulan cafe ini akan benar-benar gulung tikar kecuali, ada yang menyuntikkan dana dan kembali membangkitkan cafe ini. Merubahnya sedikit lebih menarik, mencetuskan ide agar cafe ini bisa diterima di masa millenial seperti sekarang ini. Sudah satu jam Keyla menangis di lipatan tangannya. Tidak memedulikan para waiters yang menatapnya iba. Secangkir coffee latte dan seporsi serabi isi keju sama sekali belum dia sentuh. Menangis, membayangkan kehancuran hubungannya dengan Adrian. Tidak lama lagi, hubungannya dengan Adrian akan hancur. Menyakitkan itu pasti, sekarang pun rasanya sudah sangat menyakitkan. Adrian tipe orang keras kepala, segala keinginannya harus dipenuhi, tidak mentolerir kesalahan apa pun yang terjadi di depan mata. Mengetahui pernikahannya dengan Gelano nanti, dia tidak memastikan Adrian akan diam saja. Adrian akan melakukan apapun untuk menghancurkan hubungannya dan menarik kembali dirinya ke dalam pelukan pria itu. Meski begitu, hal yang akan terjadi setelah Adrian tahu; pertama akan berimbas padanya, kedua ke keluarga Gelano. Impian Adrian yang sudah dirakit, disusun matang-matang dan disiapkan dengan baik akan berada di masa kehancuran. Keyla sangat memimpikan hidup bersama Adrian. Hidup di satu atap dengan seribu kebahagiaan, melahirkan anak-anak menggemaskan sesuai keinginan Adrian. Menggelar karpet sambil memakan makanan di halaman rumah bersama suami dan anak-anaknya kelak. Membayangkan itu membuat hatinya berbunga-bunga, beberapa saat mimpi itu akan hancur menjadi awan hitam penuh kegelisahan. Drtt ...drtt ... drtt Handphone-nya bergetar, pertama Keyla tak acuhkan. Diam tidak berniat mengangkat panggilan itu. Tangisannya belum reda, sampai sekarang tangisan itu masih deras. Tidak ada lelah-lelahnya menangis. Sampai panggilan ke tiga Keyla meraih handphone-nya, melihat siapa gerangan yang menelepon disituasi yang buruk ini. Adrian? is calling Diusapnya pipi sampai air mata tak lagi mengalir. Menarik dan menembuskan nafasnya sampai beberapa kali lalu mengangkatnya dengan ragu. “Halo Babe? Kenapa kamu lama sekali mengangkatnya? Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Kamu ada di rumah ‘kan? Aku langsung jemput ke rumah ya?” Suara Adrian menangkan pikirannya. “Aku lagi ada di cafe. Kamu mau ketemu aku? Memangnya hari ini kamu enggak kerja?” tanya Keyla, berusaha menormalkan nafasnya. Nada suaranya masih terdengar serak. Adrian pasti akan langsung menyadari kondisinya. Hening. Adrian tidak mengeluarkan suara apa pun. Di seberang sana hanya ada suara deru mobil dan klakson kendaraan. “Tiba-tiba kantor ada masalah. Bukan masalah si, sebenernya ulang tahun perusahaan. Jadi Cuma setengah hari. Oh, Key?” “Iya?” “Kamu nangis? Sebentar, sebentar lagi aku sampai di cafe.” Tunggu, Keyla bahkan belum menyebutkan nama cafe-nya tapi kenapa Adrian sudah dalam perjalanan ke cafe. “Aku udah ada di parkiran.” What? Dari sana, langkah menggebu-gebu terdengar. Sebelum suara ringisan terdengar. Bukan suara Adrian, melainkan suara wanita. Keningnya berkerut, menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada Adrian. Dia menebak Adrian tidak sengaja menabrak seorang wanita. “Anda sengaja menyentuhnya?” Suara dingin Adrian terdengar. Keyla diam, dia tahu Adrian tengah bicara pada seseorang bukan dirinya. “Ma-maaf Tuan, saya tidak sengaja menyentuhnya. Maaf, sekali lagi maaf, saya permisi.” Kali ini, suara wanita yang terdengar ketakutan. Di sana Adrian berdecak sebal. “Hai Key, kamu masih ada di sana?” “Iya, kamu kenapa?” Ting! Lonceng yang berasal dari pintu terdengar. Spontan kepala Keyla mendongkak, melihat ke arah pintu cafe. Adrian tersenyum ketika iris matanya menemukan keberadaan Keyla. Berjalan menghampiri meja yang ditempati Keyla. “I found you,” bisik Adrian mendekatkan handphone ke mulutnya lalu mematikan sambungan telepon. Dia duduk berhadapan dengan Keyla. Menilik lekat wajah sembab Keyla. Bisa-bisanya wanita itu tersenyum di saat kondisinya seperti itu. “Aku belum memberitahumu, di cafe mana aku. Tapi kamu sudah tahu?” tanya Keyla serak. Mengambil tisu, mengusap air mata yang tersisa. “Selama handphone kamu aktif, aku tahu dimana kamu berada. Tapi sekarang itu tidak penting, Babe. Yang terpenting sekarang, kenapa kamu menangis? Apa yang membuatmu menangis hm?” Keyla menundukkan kepalanya. Dia tidak mungkin berkata jujur. Sangat menyakitkan, kenyataan ini akan menggerogoti kedua belah pihak. Entah dirinya sendiri ataupun Adrian. Bagaimana bisa dia berkata ‘Adrian, maaf aku akan meninggalkanmu. Aku akan menikah dengan orang lain’ mustahil dia berkata seperti itu. Saat itu juga Adrian akan mengamuk. Menarik tangannya kemudian membawanya ke tempat jauh. Sial, di saat seperti ini dia malah mengingat alur novel dark-romance. “Kenapa kamu malah diam, aku sedang bertanya.” “Tidak, aku tidak papa. Hanya saja tadi aku habis selesai menonton drama, full satu season,” dusta Keyla. Untungnya Adrian tahu Keyla suka sekali menonton drama, dan kejadian serupa sering terjadi. “Aku hampir mati memikirkanmu, ternyata menonton drama? Ah, syukurlah,” kata Adrian lega. Dan dengan mudahnya Adrian tertipu. Adrian terkekeh pelan, secara mendadak kekehan itu terhenti. Dagunya bertumpu di tangan, menatap Keyla sambil tersenyum. “Memangnya aku mudah dibohongi, Keyla Flawati?” Glek! “A-apa maksudmu Yan?” Diambilnya secangkir coffee latte yang sudah dingin lalu meminumnya sampai setengah. “Aku tahu kamu sedang berbohong. Menangis karena menonton drama? Lucu sekali.” Adrian menertawakan kebohongannya. “Lebih baik kamu jujur, kenapa kamu menangis. Daripada aku sendiri yang mencari tahu penyebab kamu menangis.” “Aku enggak—“ “Shtt, I don’t like you lying,” potong Adrian. Mengusap bibir Keyla pelan. Bagaimana? Dusta apalagi yang harus Keyla ucapkan agar Adrian mempercayainya? “Ada sesuatu yang selama ini aku pikirkan. Kamu tahu ‘kan Mama Permata itu berarti banget di hidup aku? Aku enggak tahu cara balas kebaikan dia. Kalau bukan karena Mama Permata aku mungkin udah jadi gelandangan. Apa kamu punya cara, Yan, aku ingin membalas kebaikan Mama Permata.” Keyla menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya sesak, dia bertanya pada Adrian padahal dia sudah tahu jawaban yang akan dia jalani. “Maaf Adrian, maafin aku. Aku cinta kamu, aku akan selalu cinta kamu,” batin Keyla menjerit dalam hati. Pria itu mengetuk-ketukkan jarinya di meja. “Jadi ini alasan kamu nangis? Kamu bingung mau balas kebaikan mama angkat kamu itu?” Keyla langsung mengangguk. “Kamu wanita yang baik, Key. Aku tidak salah memilihmu. Mungkin aku akan bisa mengusulkan sesuatu ketika aku bertemu dengan beliau. Jadi, kapan aku akan bertemu dengan beliau? Sekalian aku ingin membicarakan soal pernikahanmu.” “Jangan!” ketus Keyla, sedetik kemudian dia menutup mulutnya. Adrian menatap Keyla datar. “Maksudku, jangan sekarang Adrian. Aku juga mau pernikahan kita dilaksanakan dengan cepat, tapi Mama Permata pasti kaget.” “Cepat atau lambat pasti mama kamu tahu ‘kan?” “Ak-aku, aku akan mengatur waktu. Nanti saat waktunya pas aku akan menghubungimu,” gugup Keyla. Adrian mengangguk-angguk kepalanya. “Good, kita pergi sekarang? Mari kita lihat rumah impian kamu.” “I-iya.” Rumah impian? Iya, rumah yang akan selamanya menjadi mimpi Keyla. *** Mata Keyla terbuka lebar, menatap kagum pada apa yang dia lihat sekarang. Sebuah rumah yang selama ini dia mimpikan terbangun indah di depannya. Rumah bertingkat dua dengan desain mewah dan berkelas. Gerbang tinggi terbuat dari besi terbuka, dia langsung disuguhkan pemandangan menyejukkan. Halaman luas nan hijau, terpisahkan oleh jalanan aspal selebar 10 meter sisanya rerumputan hijau. Pepohonan rindang tertanam di sisi pagar tembok yang mengelilingi rumah ini. “I-ini?” “Yeah, rumah impian kita. Sebentar lagi kita akan tinggal di rumah ini. Kita lihat semuanya. Katakan apa pun yang harus ditambah dan dihilangkan,” kata Adrian, tersenyum manis. Menggenggam erat tangan Keyla, masuk ke dalam rumah. Dari luar atau pun dari dalam, rumah ini sangat mengesankan. Desain interior rumah ini begitu mewah, dan juga tidak terlihat berlebihan. Tubuhnya berputar, menatap ke segala arah. Adrian tersenyum, merasa senang melihat kekasihnya terkagum-kagum melihat bangunan ini. “Aku sudah membayangkan semuanya bersamamu. Rumah ini tidak begitu besar tapi juga tidak kecil, menurut aku ini pas untuk keluarga kecil kita. Aku membayangkan, kita mempunyai 2 putra dan satu putri. Pasti sangat menggemaskan,” ujar Adrian, membayangkan hidup berkeluarga bersama Keyla. Berjalan santai, melihat-melihat bagian dari rumah ini. Keyla diam, dia hanya merespons dengan mimik wajah bahagia. Namun itu tidak lama, sebelum kemurungan kembali melanda. Harapan Adrian begitu tinggi, membayangkan sudah terlalu jauh. Dia tidak siap melihat hancurnya Adrian. “Lihat, ini kamar kita.” bisik Adrian tepat di telinga Keyla, “aku akan menghabisimu di sini, di kamar ini. Malam pertama kita akan sangat menyenangkan, Keyla.” Nafas Adrian memburu, menggelitik lehernya. Pipi Keyla memerah, bodoh sekali dia membayangkan hal-hal yang Adrian ucapkan. “m***m!” Adrian terkekeh. “Suami-istri wajib melakukan itu, Babe. Aku akan melahapmu, sampai kamu terbaring lemah di sisiku lalu berkata, ‘Adrian, bantu aku ke kamar mandi. Aku tidak bisa berjalan karena ulahmu.’ Oh, yeah. Itu salah satu hal yang dinanti-nanti.” Keyla memukul bahu Adrian kuat. “Adrian! Berhenti menggodaku! Kita lanjutkan melihat-lihat rumah ini!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD