Bab 11

1631 Words
Bersama dengan Adrian hari-hari Keyla akan terasa menyenangkan. Ke mana pun dia pergi jika bersama dengan Adrian akan berarti. Andai saja Gelano tidak muncul secara tiba-tiba di dalam benaknya mungkin dia akan sepenuhnya bahagia. Hampir larut malam Adrian baru menghantarkannya pulang. Salam berupa pelukan dan kecupan hangat sebagai tanda perpisahan malam ini. Sepeninggalan Adrian, Keyla tetap berdiri di pintu gerbang menatap mobil Adrian yang semakin menjauh lalu menghilang terhalang oleh bangunan rumah. Sudut di bibir Keyla tertarik ke atas, membentuk senyuman bahagia. Mengingat perlakuan Adrian malam ini berikut kata-kata indah yang bisa membuatnya melayang-layang di udara. Tanpa dia ketahui ternyata Adrian sudah mempersiapkan semuanya khusus untuknya. Esok hari Adrian akan menjemputnya kembali, mengajaknya pergi ke suatu tempat. Melihat rumah impian yang di desain khusus untuknya, Adrian bersama temannya yang merancang rumah impian. Charles, teman Adrian, seorang arsitek ternama. Kami bertiga pernah makan bersama dan Adrian memperkenalkan Charles padanya. jauh-jauh hari, tidak! Setahun Adrian merencanakan soal ini. Mulai dari rumah, kendaraan pribadi, bahkan kebun impian yang Keyla bayangkan. Adrian membayangkan suasana pernikahannya nanti. Gaun apa yang akan Keyla pakai, high heels, perancang busana dan gedung untuk menjadi saksi terikatnya hubungan mereka. Cinta pertama Keyla sekaligus cinta terakhir, Keyla selalu berharap Adrian akan menjadi cinta terakhirnya. Lagi pula siapa dirinya, sekalipun dia berpaling ke orang lain, Adrian tidak akan membiarkannya. Dengan langkah mengendap-endap Keyla masuk ke dalam rumah. Semua lampu rumah ini sudah mati, itu artinya semua penghuni di sini sudah tertidur. Perlahan dia membuka pintu. Kembal melangkah mengendap-endap, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. sampai Permata dan Gelano mengetahui dia pulang selarut ini, bisa-bisa dia dipandang buruk. Cap sebagai wanita baik-baik akan hilang. Tiba-tiba lampu menyala. Matanya membelalak kaget. Dia menelan salivanya sampai berkali-kali. Takut-takut badannya berbalik. Mendapati seorang pria berkaos hitam sedang bersandar di samping pintu sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Gelano, dengan wajah datarnya menatap Keyla. Rasa ketidak-sukaan pada Keyla tampak semakin jelas. Habis sudah. “Tamat riwayatmu Key!” batin Keyla menutup kelopak matanya sampai beberapa detik lalu kembali terbuka. Menarik kemudian mengembuskan nafasnya sampai berkali-kali. Bagaimana jika Permata tahu dia pulang selarut ini? Sekarang yang ada di pikiran utamanya itu Permata. Masa bodo dengan Gelano. Dia tidak memedulikan pria itu. Apa pendapatnya dan ocehan apa yang akan pria itu lontarkan. Pria itu mendongkak menatap jam dinding. “Ini sudah jam berapa Keyla? Kamu pulang selarut ini? Kamu itu perempuan, walau pun kamu tidak ada hubungan darah dengan saya tapi mama saya menganggapmu sebagai putrinya. Bagaimana pendapat beliau kalau tahu putri kesayangannya pulang sampai selarut ini?” omel Gelano. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap seperti tadi, datar. Keyla berjalan mendekati Gelano. Telapak tangannya menyatu, sambil memohon, “Kak, jangan bilang sama mama ya? Aku enggak mau mama sampai tahu aku pulang larut malam.” “Saya tahu kamu wanita baik-baik Keyla, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Ini kota, banyak penjahat berkeliaran. Bukan Cuma perampok, penjahat lain seperti pembunuh, penculikan dan penjahat kelamin juga banyak berkeliaran. Mama pasti khawatir lihat anaknya pulang larut malem. Tadi aja mama berkali-kali nanya, ‘kemana Key?’ ‘kemana Key?’ ‘Gelano jemput putri mama, mama khawatir’ sesuai permintaan mama aku keluar mau jemput kamu tapi aku enggak tahu kamu ada dimana. Handphone kamu enggak bisa dihubungi.” Ternyata bukan hanya Permata yang mengkhawatirkannya tapi Gelano juga. Keyla diam dengan kepala tertunduk. Merasa menyesal sudah membuat Permata dan Gelano khawatir. Sampai-sampai Gelano mencarinya. Dia bersyukur Gelano tidak sampai menemuinya, sampai Gelano menemuinya entah akan semarah apa Adrian. Memikirkan Gelano saja membuat Adrian marah, apalagi sampai Gelano datang dan mengkhawatirkannya. Semuanya akan hancur dalam sekejap mata. Adrian akan marah, dan reputasi sebagai wanita baik-baik di depan Gelano dan Permata akan hancur. “Setelah saya yakinkan Mama, baru Mama mau tidur lebih dulu. Lain kali jangan pulang sampai larut seperti ini, handphone-mu juga jangan dimatikan. Mama sering khawatirin kamu, jadilah wanita baik-baik jangan menyusahkan orang lain.” Lipatan tangan Gelano terlepas. “Maaf, aku enggak akan ulangi kesalahan ini lagi,” ucap Keyla menyesal, “tadi aku ada urusan penting ja—” “Saya tidak membutuhkan alasanmu. Saya tidak peduli,” potong Gelano. Lantas pria itu pergi meninggalkan Keyla yang mencebik kesal. “Siyi tidik membitihkan ilisinmi,” cibir Keyla menye-menye. Gondok sekali berhadapan dengan Gelano. Beberapa saat dia merasa Gelano peduli dengannya, berbohong bertameng Permata. Sekarang dia sadar sekali. Matanya sudah terbuka sepenuhnya dan Gelano tidak sebaik yang beberapa saat lalu dia pikirkan. Gelano tetaplah Gelano. Si dingin dan tak acuh pada apapun. *** Keyla bangun pagi-pagi, menyiapkan masakan dan merapikan meja makan. Sebelum Permata dan Gelano turun, makanan yang dia buat harus sudah siap. Pagi ini dia membuat nasi goreng dengan lauk ayam geprek. Dia tahu keluarga ini menyukai makanan pedas-pedas. Sehubung dia juga menyukai pedas dia membuat ayam geprek sebagai lauk untuk sarapan. Sepeprti meracuni memang, tapi dia yakin perut mereka sekuat baja menahan pedas yang tidak seberapa ini. Menurut Keyla, ayam geprek yang dia buka mencapai level kepedasan standar. Jika dihitung menggunakan angka, tingkat kepedasan ini mencapai level tiga. Tiga piring nasi goreng spesia dengan lauk ayam geprek level tiga sudah disiapkan di meja masing-masing menuangkan air mineral ke gelas yang sudah dia siapkan. Segelas jus mangga khusus untuknya, sudah tersedia di smaping gelas berisi air mineral di mejanya. Dari arah berbeda, Gelano dan Permata datang. Hidung Permata mengendus-endus bak seorang chef berbeda dengan Gelano yang biasa saja, duduk di kursinya. “Wow, kamu yang masak Key?” tanya Permata terkagum-kagum menatap piring-piring berisi nasi goreng yang tampak menggugah selera. Keyla mengangguk antusias. “Iya, Ma. Aku buatin khusus untuk Mama, pencinta pedas. Ayo makan Ma, Kak Lano.” Gelano mulai menyendok nasi goreng lalu memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan, setelah halus dia telan. Permata dan Keyla menunggu respons Gelano tentang masakannya. Namun Gelano tidak mengubris tatapan bertanya dari ibu dan adik angkatnya. Memilih melanjutkan makannya. Mood makannya membaik karena nasi goreng ini. Gelano akui nasi goreng buatan Keyla enak, tapi tidak seenak nasi goreng buatan Gresia. Ah, Gresia. Gelano merindukan sosok gadis itu. “Kamu kok diem aja si, Lan. Seharusnya kamu review masakannya Keyla!” Kesal permata. Melihat putranya tidak memberikan respons apapun ada masakan Keyla. Jangankan ucapan, respons dari raut wajah saja tadi. Melihat raut wajah Gelano yang datar dan biasa saja, seperti tidak niat makan. Lebih buruk lagi, memberikan kesan buruk pada masakan Keyla. “Habis mau gimana?” tanya Gelano bingung. Melanjutkan makannya kembali. “Udah Ma, aku mau denger review dari Mama aja,” henti Keyla dibalas anggukkan oleh Permata. Permata berdecak sebal, memakan nasi goreng buatan Keyla. Matanya melotot, lanjut dia memakan ayam geprek. “Wah, ini sih, enak banget Key. Mama kasih rate 100/10. Ayamnya juga enak, Cuma menurut Mama pedesnya kurang. Mama jadi pengen makan lagi deh, kamu bisa enggak Key kapan-kapan buatin Mama,” puji Permata setelah memakan beberapa suap nasi goreng. Nasi goreng buatan Keyla setara nasi goreng yang dia makan di restoran terkenal. Tidak heran lagi, Keyla bisa merintis usaha resto ayam. Belum ada setahun, Keyla sudah bisa membuka cabang. Tidak lama lagi juga, Keyla akan membuat cabang-cabang lainnya, di seluruh Indonesia. Bangga bisa kenal dengan Keyla, menganggap Keyla seperti putrinya sendiri. Tidak lama lagi Keyla akan menjadi menantunya. Dia tidak membenci Gresia, dia malah snagat menyayangi Gresia sama seperti putrinya sendiri. Sama seperti dia menyayangi Keyla. Namun keberadaan Gresia tidak bisa ditemukan, entah masih hidup atau sudah meninggal. Gelano salah, putranya sudah mencari Gresia selama bertahun-tahun tapi Gresia tidak kunjung ditemukan. Alhasil dia menyerah, tidak sanggup melihat Gelano tetap terpuruk. Dengan menikah dengan Keyla, lembaran baru akan dibuka. Putranya harus bahagia. “Key, Mama mau ngomong serius sama kamu.” Keyla yang sedang meminum jus terhenti, menatap Permata. “Iya, Ma? Ngomong aja.” Permata melirik putranya sekilas lalu kembali menatap Keyla. “Nak, Gelano sudah menerimanya. Dia siap jadi suami kamu.” Jdar!! Gelano sudah menerimanya. Dia siap jadi suami kamu. Telinganya seketika berdengung. Tubuhnya seakan dihantam benda kuat. Hantaman tersebut tidak membuat tubuhnya goyah, tapi jiwanya yang goyah. Dia berharap telinganya salah mendengar atau pendengarannya tiba-tiba tersumbat sesuatu. Ini tidak mungkin terjadi. Apakah dia berkhayal sebelum Permata berbicara serius? Bisa saja. “Key?” panggil Permata membuat Keyla tersentak. Keyla kelabakan, menatap Gelano dan Permata secara bergantian seperti orang linglung. “Kamu mikirin apa Key? Kamu denger ucapan Mama enggak?” “Maaf Ma, Keyla enggak denger apa yang Mama omongin tadi. Tiba-tiba aku teringet sesuatu,” kata Keyla. Ingin memastikan bahwa pendengarannya ini salah. Pasi Permata berkata lain, tapi saat itu mungkin dia mengkhayal. Ya, dia yakin sekali pendengarannya salah. Permata mengembuskan nafasnya panjang. Tangannya meraih tangan Keyla, digenggamnya erat. Memberi tangan putih dan halus milik Keyla sedikit usapan. Senyuman Permata tidak lepas, menghiasi wajah berkerutan itu. “Kamu itu putri Mama, tapi sebentar lagi kamu jadi menantu Mama. Lebih tepatnya putri sekaligus menantu kesayangan Mama,” tutur Permata menjelaskan. Menantu? Itu artinya Keyla tidak salah dengar? Astaga. “Gelano siap menjadi suami kamu, sayang. Kamu juga siap ‘kan jadi istri Gelano?” sambungnya bertanya. Sementara Gelano diam saja, memerhatikan gerak-gerik Keyla yang tampak dibuat-buat. Ragu, Keyla mengangguk. Melemparkan senyum senatural mungkin. Impiannya menikah dengan Adrian seketika kandas. Apa yang harus Keyla katakan pada Adrian nanti? “Iya Ma, Keyla mau.” “Tuhan Keyla enggak mau! Tolong Keyla!” jerit Keyla di dalam hati. Rencana yang sudah di susun berbanding terbalik dengan harapannya. Gelano? Mengapa Gelano menerima perjodohan ini? Dilirikkan mata Keyla singkat, menilik Gelano. Pria tidak bereaksi apa-apa. Tetap fokus menghabiskan makanan yang tersisa. Mengapa? Mengapa Gelano bersikap seperti ini. “’Tapi, Ma. Apa Kak Gelano dipaksa Mama? Karena aku yakin Kak Lano masih mencintai Gresia?” tanya Keyla pada Permata. Dia ingin memastikan kalau Gelano menerima bukan karena sapaan. “Enggak, Mama tidak memaksa. Ini keputusan saya sendiri,” sahut Gelano berhasil membuat tubuh Keyla melemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD