Bab 10

1618 Words
Gelano melirik Keyla. Wanita itu sudah berwarna putih dengan renda bunga di bagian bawah. Rambut yang awalnya lurus sekarang berubah menjadi bergelombang berkat bantuan hair styling. Langkahnya anggun bak seorang putri kerajaan, tidak dibuat-buat. High heels berwarna hitam terketuk seiring kaki wanita itu dilangkahkan. Gelano akui malam ini Keyla tampil cantik. Terlihat anggun dan tidak norak di matanya. Namun Gelano selalu menatap wanita sesuai porsinya, cantik dan biasa saja. Berbeda dengan Gresia, dalam keadaan apa pun Gelano selalu memuji kecantikan Gresia. Pujian ini dia pendam sendiri, karena percayalah Gresia bukan tipe orang yang suka dengan pujian. “Kak, aku keluar dulu. Kalau Mama udah pulang, bilangin ya ke Mama,” Keyla meminta izin. Bukannya merespons Gelano malah menyandarkan punggungnya, fokus ke film yang sedang ditonton. Keyla berdecak sebal, melenggang sambil merutuki sikap Gelano yang tak acuh. Setelah pintu tertutup Gelano menoleh. Bangkit, berjalan menuju jendela. Dari jendela dia bisa melihat Keyla menaiki sebuah mobil. Beberapa saat setelah kepergian Keyla, mobil ibunya memasuki pekarangan rumah. Tentang rencana Permata menjodohkan nya dengan Keyla, dia sudah tahu. Sebelum Permata memberitahu Keyla, terlebih dahulu Permata memberitahu Gelano. Dia sangat-sangat berharap Keyla menolak perjodohan ini. Janji yang sudah diberikan kepada ibunya tidak bisa dia langgar. Harapan satu-satunya ada di Keyla, berharap sekali Keyla tidak menerima perjodohan ini. Gresia tidak bisa dia temukan, dan dia sudah pasrah. Jika masih berjodoh dengan Gresia, pasti Tuhan akan mempertemukannya kembali. “Lan, Key keluar?” tanya seseorang, lantas membuat Gelano membalikkan badannya. Gelano mengangguk sebagai jawaban. “Ma, seharusnya Mama lebih sering-sering keluar seperti ini. Lano takut Mama stres, sekarang Lano mau lebih perhatiin Mama.” Permata tertawa. “Kamu khawatirin Mama?” “Salah? Bukannya wajar anak khawatirin ibunya?” “Bukan begitu Lano, Mama yang khawatir sama kondisi kamu. Kamu sudah cukup stress beberapa tahun kebelakangan ini. Hari ini dan seterusnya, Mama akan pastiin kamu bahagia,” tekad Permata, “Key terima kamu, Lano! Mama seneng banget!” lanjutnya berseru. Deg! Baru saja Gelano berdoa, sekarang sudah ada jawabannya. Berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan. Gelano mematung. Pandangannya kosong. Permata mengungkapkan rasa bahagianya. Kebahagiaan itu meluap-luap seperti lava yang keluar dari kawah panas. Wanita tua itu memeluk Gelano erat. “Mama seneng!” Tentu, Gelano bisa melihat rasa bahagia itu. “Akhirnya kamu mau menjalani kehidupan baru, Nak. Mama bersyukur banget.” Dan Gelano tidak siap menerima wanita lain selain Gresia. “Kamu enggak seneng?” Permata bertanya, melepaskan pelukannya. Matanya menilik wajah Gelano yang tampak tidak berbahagia sedikit pun mendengar kabar ini. Raut wajah Permata langsung berubah. Dia seperti menjadi ibu terjahat untuk Gelano. Seolah berbahagia di atas penderitaan putranya. Melihat perubahan tersebut, Gelano memaksa menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Menggenggam kedua tangan sang ibu erat. “Mama, Lano seneng. Walau sejujurnya Lano enggak seneng nikah sama orang yang enggak Lano suka, tapi Lano seneng liat Mama seneng. Bener kata Mama, kita enggak bisa stuck di sana. Pun gak tahu Gresia ada di mana, apa masih hidup atau udah ada di sisi-Nya. Di sini Lano masih punya Mama, tapi Lano bersikap seolah kehilangan semuanya. Mulai sekarang Lano akan membahagiakan Mama, Lano akan lakuin apa pun keinginan Mama termasuk menikahi Keyla.” Mata Permata berkaca-kaca, sebelum tetasan air mata mengalir lurus melewati pipinya. Dengan sigap Gelano mengusap air mata ibunya. Permata membalikkan tangan putranya, mengangkup sebelah tangan Gelano menggunakan dua tangannya. “Tapi Mama enggak mau kamu terpaksa menjalani ini, Nak. Mama mau kamu bahagia, kamu bisa nolak.” “Enggak, Ma. Lano enggak bisa nolak lagi, Kano mau nikah sama Keyla,” sela Gelano yakin. Sesak di d**a ini terobati oleh rasa kebahagiaan ibunya. “Kamu serius, Nak?” “Iya Ma, serius.” “Kamu enggak bohong ‘kan?” “Lano enggak bohong. Lano serius. Mama bisa gantung Lano kalau Lano bohong,” jawab Gelano terdengar seperti candaan. Sudah lama Permata tidak mendengar candaan Gelano. Bahagia bisa melihat putranya mau berubah. Berusaha mencari warna di dalam kertas kehidupan. Kertas warna yang sempat terhapus oleh kesalahan, kini Keyla yang akan mengoreskan warna-warna di kertas Gelano. Kertas kehidupan Gelano, kebahagiaan. Permata menoyor kepala Gelano pelan. “Lelucon itu Mama seneng dengernya. Udah lama Mama enggak denger kamu buat lelucon konyol. Lama-lama Mama beneran gantung kamu.” “Gantung di hati Mama enggak papa,” canda Gelano membuat Permata tertawa. “Maaf Gresia, maaf aku tertawa di atas penderitaanmu. Aku sudah berusaha mencarimu, bertahun-tahun. Tapi kamu tidak juga ditemukan. Manusia itu memiliki batas lelah, dan aku sudah lelah. Aku lelah mencarimu Gresia, tapi aku tidak lelah terus mencintaimu,” batinnya. *** Tawa Keyla membeludak, tertawa sekencang-kencangnya sambil melihat ke jalanan. Setelah puas makan bersama, pergi ke Sea World melihat nuansa laut, dan kini berjalan-jalan santai melewati jembatan. Seketika Keyla melupakan apa yang sedang terjadi di hidupnya. Dia tidak memikirkan apa yang dia katakan pada Permata tadi pagi. Menerima lamaran. Dan Keyla tidak tahu apakah Gelano menerimanya atau tidak. Hal yang ada dibayangkannya Gelano menolak perjodohan ini, tapi dia belum membayangkan seandainya Gelano menerima perjodohan ini. Meski kesempatan diterima sangatlah kecil, tapi bukankah setiap yang kecil itu bisa kapan saja membesar? “Kenapa tawa kamu tiba-tiba surut? Aku suka melihatmu tertawa,” Adrian bertanya, menyadari perubahan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Selalu dan selalu seperti ini, sudah dua kali dia melihat Keyla sedikit berubah. Dari berangkat, pergi makan, ke Sea World seperti Keyla baik-baik saja. Baru tadi dia mendengar tawa lepas Keyla, kini yang terlihat hanya kemurungan dan ketakutan. Keyla takut .... Diperhatikan baik-baik wajah Adrian, orang yang sangat Keyla cintai. Tiba saja wajah itu berubah menjadi wajah Gelano. Mata Keyla melotot, melepaskan genggaman tangannya. Bergerak mundur. Hal tersebut membuat Adrian mengernyitkan dahinya bingung. “Key, kamu kenapa?” “Ge-Gelano kenapa kamu ada di sini?” tanya Keyla, perlahan mundur menjauhi sosok pria itu. “Key?!” bentak Adrian, mengguncangkan bahu kekasihnya kasar membuat tubuh Keyla tercengang. Kening wanita itu berkeringat, menatap ke arah jalanan lalu kembali menatap Adrian. “Keyla, ini aku Adrian! Siapa Gelano? Ah, aku ingat, Gelano Kakak angkatmu ‘kan? Kamu ada masalah apa sama dia? Apa dia nyakitin kamu?” Adrian melontarkan rentetan pertanyaan, mendesak Keyla menjawab. Dipijitnya pelipis Keyla pelan. Menarik nafasnya panjang kemudian mengembuskannya. Menatap wajah kekasihnya baik-baik. Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia berhalusinasi. Saking tertekannya akan pernikahan yang belum tentu berlanjut ini, dia sudah jadi gila. Gelano pasti akan menolaknya, ya, pasti! “Ayolah Key, jangan pikirkan itu. Kamu sedang bersama Adrian, pacar kamu!” batin Keyla menenangkan. “Gelano, iya Kakak angkatku. Dia enggak nyakitin aku, Cuma aku kesel sama dia saking keselnya aku enggak sadar—" “Kamu mengkhayal ada dia di sini?” tuduh Adrian. Rahangnya mengeras kala Keyla terang-terangan memberitahunya tentang isi pikiran wanita itu. Keyla menggeleng panik. “Jadi selama kita jalan malam ini, itu yang kamu pikirin? Kamu mikirin Gelano?” “Adrian—“ “Kamu mau mati?” “Adrian, aku sama sekali enggak mikirin dia. Tiba-tiba dia muncul beberapa detik di pikiranku. Aku teringat dia bersikap tak acuh padaku, padahal aku menganggapnya seperti saudaraku sendiri,” jelas Keyla, dibumbui kebohongan. Bukannya mereda, kemarahan di dalam diri Adrian semakin membara. “Key, kamu tahu ‘kan aku ini pencemburu akut lho. Walau kamu nganggap dia kayak sodara, tapi inget dia sama kamu itu enggak ada hubungan darah. Baguslah kalau dia tak acuh, berarti kamu yang emang sengaja deketin dia. Atau jangan-jangan kamu suka ya sama dia?” Lagi-lagi Adrian menuduhnya. Keyla mendadak gemas. Ingin dia mencium bibir Adrian sekarang juga. “Oke Tuan Adrian Permana, mulai sekarang aku juga akan bersikap tak acuh sama dia. Sekarang kamu puas? Tuan pencemburu,” cibir Keyla mengerucutkan bibirnya. Adrian tersenyum puas, menarik pinggang Keyla membuat tubuh Keyla menempel di tubuhnya. Keyla mengalungkan tangannya di leher Adrian. “Satu lagi sayang, semua pikiranmu itu milikku,” bisik Adrian, menempelkan hidungnya ke hidung Keyla, “dan sebentar lagi. Aku akan memilikimu seutuhnya, mengikatmu sepenuhnya. Pikiranmu, jiwamu, hatimu dan tubuhmu.” Keyla sadar, cepat-cepat dia menjauh dari Adrian. Apa yang baru saja dia lakukan? Kenapa dia terhipnotis akan pandangan memesona Adrian. Terpantul cahaya lampu membuat wajah Adrian semakin tampan. Di tempat umum, bisa-bisanya dia memikirkan tentang ciuman. “Kapan kita bisa menikah sayang? Sekarang aku sudah siap. Tabunganku juga sudah terkumpul banyak.” Menikah? Keyla memang memimpikan momen itu. Setelah masalah beres dan dia tahu Gelano menolaknya, dia akan segera memberitahu Adrian tentang kesiapannya. Untuk saat ini, dia belum siap. Terlebih ada masalah yang harus dia urus, yaitu mendengar penolakan Gelano. Gelano lebih mapan. Gelano juga lebih tampan dan dewasa. Akan tetapi, Adrian yang merebut hatinya. Dia akan selalu mencintai Adrian sampai kapan pun juga. “Tidak untuk sekarang-sekarang ini, Adrian. Aku harus mengurusi cabangku dulu. Setelah terurus aku baru siap menikahimu,” dustanya. Bukan ini alasannya dia menunda-nunda, dia ingin menikah dengan Adrian secepatnya tapi dia harus menyelesaikan masalahnya. Dia tidak ingin memberikan harapan pada Adrian, jika sesuatu hal tidak diinginkan terjadi. “Beberapa bulan lalu kamu mendesak. Kamu ingin dilamar pas acara wisuda, tapi sekarang? Alasan.” Kesal Adrian. “Aku sudah bisa membeli rumah, kendaraan terbaik khusus untuk kita, kebun buah di belakang rumah, dan sebentar lagi aku akan naik jabatan. Semuanya aku sudah persiapkan untuk kita sayang, Just for you.” Wajah Keyla memerah. Senyumnya tertahan. Dia tidak mempercayai ini, Adrian sangat serius dengannya. Menyiapkan segala hal untuknya. Adrian menyelipkan helaian rambut ke telinganya. Jantungnya berdebar-debar. Cintanya begitu besar dan meluap-luap. “Kamu tinggal bilang ‘iya’ aku akan urus semuanya. Kalau perlu kita tidak perlu tunangan, langsung menikah saja. Aku ingin segera melihatmu menjadi ibu dari anak-anakku, melihatmu ketika aku membuka mata dipagi hari dan menutup mata di malam hari, aku ingin dibuatkan sarapan setiap hari, makan malam bersama dan menghabiskan waktu tanpa harus memikirkan jam berapa kamu harus pulang,” tutur Adrian. Mengusap lembut pipi Keyla. Jangan tanyakan Keyla yang sudah terombang-ambing dan hanyut oleh kata-kata Adrian. “Aku juga memimpikan hal yang sama.” “Lantas?” “Tidak sekarang.” Adrian tersenyum. “Ah, kecewa sekali. Aku ingin secepatnya Key. Ayo menikah secepatnya denganku. Tapi tidak papa, aku bisa bersabar. For you and only you.” Akankah impian itu terwujud?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD