Suara lagu dari handphone mengiringi pagi Keyla. Bangun pagi-pagi sekali tapi tidak sepagi Permata bangun. Terbukti sudah ada segelas s**u di meja riasnya. Dia yakini Permata yang membuatkannya segelas s**u. Setelah mandi dan bersiap, dia membersihkan kamarnya. Mulai dari menyapu, membersihkan debu-debu menempel, merapikan pakaian di walk in closet. Tidak sampai di sana Keyla juga membersihkan kamar mandi. Dia seorang perfeksionis, tidak bisa melihat ketidaksesuaian sedikit pun.
Hari ini adalah hari libur, tidak ada hari libur untuk Keyla. Meski bekerja dari rumah, Keyla tetap melakukan yang terbaik. Melakukan video call dengan orang yang dia percaya mengurus restoran utama. Rencana menetap di kota ini semakin diperkuat oleh Permata. Di rumah ini Permata sendirian. Gelano juga jarang pulang ke rumah, dia lebih memilih apartemen daripada rumah ini. Rumah sebesar ini, ditinggal oleh Permata seorang. Terkadang Keyla berpikir, kenapa Permata tidak menikah kembali dan membuat keluarga baru. Lagi pula Permata masih terlihat cantik dan awet muda, pasti banyak yang mendambakan Permata.
Pernah dia iseng soal menikah kembali, Permata malah menolak tegas. Katanya dia akan setia dengan suaminya terdahulu. Hidupnya sudah cukup, melihat Gelano bahagia Permata akan bahagia. Namun hal yang sekarang terjadi tidak seperti itu, Gelano tidak bahagia otomatis Permata juga tidak bahagia. Apakah benar jika dia menikah dengan Gelano, Gelano akan berubah? Apakah benar dia bisa membahagiakan Gelano?
Tidak, itu hal konyol. Mengapa kebahagiaan orang lebih penting daripada kebahagiaannya sendiri?
Duduk di kursi sambil meminum segelas s**u yang sudah dingin. Meneguk s*su itu sampai habis tak tersisa. Di dalam gelas itu berisikan kasih sayang. Sebuah kasih sayang yang tidak dia terima dari keluarga kandungnya. Hidup tanpa belas kasih sayang orang tua. Beruntunglah Permata datang dan masuk ke dalam kehidupannya. Menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuknya.
Berhakkah dia mengecewakan beliau?
Ting!
Handphone-nya berdenting, dengan sigap dia melihat notifikasi itu.
Adrian? : Good morning
Adrian? : Ketemu hari ini? Aku jemput kamu malam nanti. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, kamu akan menyukainya sayang.
Adrian? : Dan ada hadiah menarik untukmu.
Anda : Morning. Wah, hadiah apa itu? Aku tidak sabar bertemu denganmu nanti malam.
Adrian? : See you. Aku akan menjemputmu nanti.
Anda : Jangan di rumah Mama Permata, aku akan menunggumu di depan gerbang perumahan.
Adrian? : Why? Aku juga mau ketemu calon Mama mertua. Aku mau lihat, sebaik apa dia sampai pacarku ini selalu memuji-muji beliau.
Sontak saja mata Keyla membulat. Bisa gawat Adrian datang ke rumah ini. Dia bersiap membalas pesan Adrian.
Anda : Jangan sekarang, Mama pasti kaget lihat kamu. Tiba-tiba, nanti kamu ditanya-tanya.
Adrian? : Tidak masalah sayang. Aku akan menjawab semua pertanyaan Mama mertua dengan senang hati. Aku tidak takut.
Kelopak mata Keyla ditutup rapat-rapat. Keningnya mengerut. Bibir bawahnya dia gigit pelan. Adrian akan bersikukuh menemui Permata. Semuanya akan hancur dalam sekejap mata. Dia akan mengenalkan Adrian pada Permata tapi nanti setelah Gelano menolaknya. Dengan begitu dia tidak menyakiti hati Permata. Permata itu sangat berharga di hidupnya. Dia tidak mau hati Permata terluka.
Anda : mengertilah, sampai jumpa nanti malam. Aku tunggu di depan perumahan.
Adrian? : aku tunggu di depan rumahmu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, spontan Keyla menoleh mendapati seorang wanita paruh baya mengenakan dress simpel berwarna merah maroon. Senyuman seindah bunga matahari itu terbit, melangkah mendekatinya.
“Pagi anak Mama!” seru Permata memeluk tubuh Keyla singkat, “Mama udah ketuk pintu berkali-kali tapi kamu enggak nyaut jadi Mama langsung masuk ke dalam. Mama khawatir sama kamu sayang.”
“Pagi juga, Ma. Tumben nih rapih banget, Mama mau kemana?” tanya Keyla penasaran. Begitu rapih dan cantik, memakai high heels yang tak terlalu tinggi dan di sebelah bahunya sudah disangkut tas selempang.
“Mama mau pergi, ketemu sama temen-temen Mama. Mama pikir, Mama harus refreshing sebentar. Di rumah suntuk. Oh ya, Key, Mama udah siapin sarapan di meja makan. Kamu makan ya, makan yang banyak biar tubuh kamu ini berisi sedikit. Jangan sampai orang lain ngatain Mama jarang ngasih kamu makan,” jawab Permata terkekeh pelan. Mengusap pipi Keyla lembut.
“Iya, Mama emang harus refreshing. Selama ini Mama sering kesepian di sini, kapanpun Mama butuh aku, aku pasti akan ada di samping Mama. Dulu Mama yang selalu ada di samping aku saat aku sulit, sekarang aku mau ada di samping Mama,” balas Keyla yakin.
Permata tersenyum, mengecup pipi Keyla. “Makasih sayang. Mama ngerasa punya putri. Cukup kamu di sini aja, temenin Mama, Mama udah seneng banget,” ujar Permata, “Mama pamit ya sayang. Kalau Gelano datang, bilang Mama keluar sebentar ya.” Permata berbalik, hendak meraih knop pintu tapi Keyla menahannya. Permata kembali berbalik, menatap Keyla bertanya.
“Ma, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong apa sayang? Ngomong aja, jangan sungkan-sungkan sama Mama,” suruh Permata.
“Ma, soal perjodohan itu hm ... aku—"
“Kamu enggak perlu menerimanya sayang. Mama enggak akan paksa-paksa kamu. Maaf Mama buat kamu ngerasa terbebani,” sela Permata merasa bersalah.
“Sama sekali enggak, Ma. Aku pikir aku akan coba jalanin ini. Lagi pula Kak Lano, pria baik-baik. Tapi, kembali lagi sama Kak Lano. Aku enggak mau Mama paksa Kak Lano buat nikah sama aku,” ungkap Keyla ragu-ragu.
Permata menarik tangan Keyla, masuk ke dalam dekapannya. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Keyla diam di pelukan Permata. Menerka-nerka apakah keputusan yang dia ambil itu benar? Ataukah salah. Harapan satu-satunya adalah Gelano, dia harus memastikan Gelano menolak pernikahan ini.
“Keyla b*doh! Kenapa kamu harus pusing-pusing memikirkan itu? Gelano tidak akan menerima perjodohan ini. Iya, aku yakin Gelano tidak akan menerimanya. Orang yang dicintai Gelano itu Gresia, dan selamanya akan begitu,” batin Keyla meyakinkan.
Tetap saja, dia merasa gelisah.
Pelukan mereka berdua dilepas oleh Permata. Tangan Keyla terulur, mengusap air mata yang mengalir di pipi Permata. Saking bahagianya mendengar jawaban Keyla, Permata menangis tersedu-sedu. Membasahi make-up yang wanita itu poles.
“Ka-kamu serius sayang? Kamu mau menikah dengan Gelano?” Ragu, Keyla mengangguk. Memberikan harapan besar di hati Permata. “Mama seneng! Mama seneng banget, harapan Mama akhirnya terwujud. Makasih, makasih banyak Keyla.”
Sesenang inikah Permata? Bahkan Keyla tidak tega merusak kebahagiaan ini.
“Mama, seharusnya Keyla yang makasih. Ngasih kepercayaan sebesar ini sama aku. Tapi Ma, aku boleh minta sesuatu?”
“Iya sayang? Kamu mau minta apa?”
“Aku minta Mama jangan nekan apalagi maksa Kak Lano. Biarin Kak Lano yang putusin semuanya. Apa pun keputusannya aku akan menerimanya,” pinta Keyla. Dengan begini dia akan lebih yakin. Tanpa desakan serta paksaan, mustahil Gelano si pria dingin itu mau menerimanya.
Sangat-sangat mustahil. Kesempatan diterima hanya ada 0,001% sisanya di tolak.
“Pasti sayang. Mama enggak suka maksa-maksa Lano. Mama mau kebahagiaan kamu, dan juga kamu. Mama enggak bisa berkata-kata lagi, Mama seneng banget!” Permata bergerak kesana dan kemari, menunjukkan rasa senangnya. Lagi, Permata memeluk Keyla. “Mama enggak tahu harus ngungkapin apa lagi. Mama seneng, Mama harap semoga Gelano juga menerima rencana pernikahan ini. Mama berdoa kebaikan kalian.”
“Maaf Ma, tapi aku berdoa semoga Gelano nolak aku,” batin Keyla tersenyum kecut. Tidak lama sebelum senyuman kecut itu berubah menjadi senyuman semringah.
“Katanya Mama mau refreshing ‘kan? Ayo Ma, aku antar sampai depan,” Keyla bertanya.
“Duh, Mama sampe lupa gara-gara kamu. Mama seneng banget! Yaudah kamu temenin Mama ke depan ya.” Wanita paruh baya itu menepuk keningnya pelan. Dia menggenggam tangan Keyla erat-erat, menuntunnya sampai ke depan rumah.
Betapa senangnya Keyla melihat Permata sesenang ini. Jawaban darinya seperti obat perubah suasana. Akan tetapi, mau sampai kapan dia terus seperti ini? Menyuntikkan kebahagiaan lalu tidak lama kemudian kebahagiaan itu pudar. Jawaban dari Gelano akan memudarkan kebahagiaan Permata dan memberikan warna padanya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Permata mengecup keningnya lagi. Masuk, tak lama mobil berwarna putih itu melesat keluar dari gerbang. Keyla, berdiri sampai mobil itu benar-benar hilang dari penglihatannya.
Ting!
Notifikasi masuk, dia mengambil handphone-nya, melihat siapa gerangan yang mengirim pesan.
Joanne : Key, kita jadi meeting hari ini?
Anda : Jadi Anne
***
Gelano melempar jasnya asal, merebahkan tubuhnya di sofa. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Mencari-cari tidak ada gunanya. Gresia tidak bisa ditemukan. Sudah beberapa orang yang dia sewa untuk mencari Gresia, tapi nihil tidak ada jejak apa pun yang mereka temukan.
“Mustahil Gresia masih hidup saat ini.”
“Keluarganya itu kejam. Bisa saja keluarganya membabi buta dan akhirnya mengugurkan anaknya, lalu Gresia diusir dari rumah?”
“Gresia itu mandiri, tapi semandiri-mandirinya seorang wanita tidak bisa hidup bebas di dunia luar.”
Suara-suara pendapat dari orang-orang terngiang-ngiang di otaknya. Rasanya kepalanya mau pecah. Dia memukul-mukul pelan kepalanya, lalu pukulan itu bertambah semakin besar dan besar sampai dia lelah sendiri memukuli kepala tanpa tahu apa manfaatnya. Toh, suara-suara itu tetap mengganggu pikirannya.
“Nanti kamu kasih laporan keuangannya ke saya ya, Anne. Saya mau cek seberapa jauh resto ayam Keykey ini berkembang. Oh iya, jangan lupa kamu buka lowongan kerja untuk waiters dan kasir untuk cabang baru ya, Anne.
“Baik, saya akan membuka lowongan di situs dan Einstragram kita. Apa saya perlu datang ke Jakarta untuk menyeleksinya atau Key sendiri yang akan menyeleksinya?”
“Kamu urus saja yang Di Bogor ya. Kalau kamu enggak sibuk, kamu bisa datang toh jaraknya juga enggak begitu jauh ‘kan?”
Gelano bangkit dari posisi, memicingkan mata melihat seorang wanita tengah melakukan video call di laptop. Tampaknya wanita itu tengah sibuk. Masa bodo, lagipula apa urusannya?
“Terima kasih atas bantuannya, Joanne.” Keyla menutup panggilan.
“Ke mana Mama?” tanya Gelano tanpa berbasa-basi.
Keyla mendongkak. “Mama ketemuan sama temen-temennya. Suntuk, karena kamu terus keliaran cari-cari yang enggak jelas.”
“Enggak jelas?”
“Enggak, kamu salah denger,” jawab Keyla tak acuh.
“Ini? Ini pilihan Mama?” batin Gelano tak suka.