Bab 8

1672 Words
Adrian Permana, seorang lelaki keturunan Indonesia-Australia berwajah tampan memukau bak aktor papan atas. Sudah enam tahun Keyla kenal dengan Adrian dan tiga tahun menjalin hubungan. Seorang fotografer sekaligus karyawan kantor di perusahaan manufaktur. Tipe seorang pria yang mandiri, penyayang dan tegas. Keyla mencintai Adrian, begitu juga dengan Adrian yang sangat mencintai Keyla. Cinta pria itu sangat besar. Banyak hal yang Adrian korbankan untuk Keyla. Disaat Keyla sedih, pria itu selalu ada di sampingnya. Jelas saja penawaran Permata membuat wanita cantik ber-make up tipis dengan goresan lipstik merah muda di bibir itu dilema setengah mati. Kencan bersama Adrian terasa tidak menyenangkan. Padahal ini yang Keyla tunggu-tunggu selama berhari-hari, bertemu dengan sang kekasih. Bercengkerama, menghabiskan waktu sampai malam. Deheman Adrian langsung membuat Keyla tersentak. Keyla diam dengan gelas berisi jus terangkat. Cepat-cepat Keyla meletakkan gelas itu kembali ke tempatnya. Jemarinya memijit pelan kening, mengurangi rasa pusing di kepala. “Kamu banyak pikiran, Key? Aku perhatiin dari tadi kamu melamun. Aku enggak lihat Keyla Flawati seharian ini. Beri tahu aku, ke mana perginya Keyla Flawatiku?” tanya Adrian dengan nada menyindir. Bola mata Keyla berotasi. Tertawa tak niat, mengapresiasi sindiran halus itu. “Iya, ini Keyla orang lain bukan Keylamu. Entah, Keyla kamu ke mana. Yang jelas sekarang aku bukan Keylamu,” jawab Keyla bercanda. Namun di dalam candaannya terdapat kata-kata yang tidak bisa dipastikan itu sebuah candaan biasa atau informasi, bahwa dia akan menjadi milik orang lain setelah dia menerima penawaran Permata. “Oh begitu tah? Coba panggilin Keylaku, aku enggak mau kekasihku ini terus memikirkan ayam Keykey. Mentang-mentang udah buka dua cabang, sekarang kamu lebih fokus sama ayam-ayam sialan itu ya?” “Ayam-ayam sialan?” “Ya, mereka semua sudah mengalihkan semua pikiran kekasihku,” balas Adrian serius. Mengambil potongan kentang di piring Keyla, lalu melahapnya. Tatapan Adrian masih tertuju pada Keyla. Keyla melongo. Oh, Tuhan, Adrian cemburu pada ayam-ayam tak berdosa? Seketika Keyla menyadari sesuatu. Adrian akan marah besar, sangat-sangat marah saat mengetahui ini. Kemarahan Adrian itu tidak bisa dikendalikan. Namun pria itu masih bisa mengendalikan emosi di depannya. Pria si pencemburu akut. Demi membuat Keyla nyaman berada di dekat Adrian, Adrian selalu melakukan apa pun untuk membuat Keyla nyaman, memberikan wanita itu kejutan misalnya. Akankah Adrian menerima keputusannya? Lebih memilih membalas budi daripada memilih kebahagiaannya sendiri? Tidak! Keyla tidak bisa melakukan itu, demi apa pun Keyla tidak bisa meninggalkan Adrian. Selama ini Adrian sudah baik padanya. Dengan bangganya Adrian selalu mengenalkannya pada rekan-rekan kerja, kerabat dan bahkan keluarga. Adrian seserius ini. Rencana pernikahan sudah lazim dibicarakan. Pria itu pernah bercerita, selama ini pria itu menabung untuk masa depan mereka. Bagaimana ini? Balas budi? Atau cinta dan kebahagiaan? “Aku akan memakan semua ayam-ayammu, sampai kamu tidak ada waktu lagi memikirkan ayam-ayam itu,” sambung Adrian yang masih saja membicarakan soal ayam dan ayam. Kasihan ayam, tidak bersalah tapi dibenci pria posesif ini. “Adrian! Kamu bercanda?” Adrian menggeleng. “Aku enggak bercanda. Aku akan lakukan itu kalau kamu masih memikirkan hal lain. Ingat Key, aku ini pacar kamu lho.” “Aku juga tahu aku pacar kamu, dan kamu pacar aku,” balas Keyla tertawa ringan. Ah, Adrian selalu membuatnya kesal, tetapi kekesalan itu membuat mood-nya naik. “Oh iya, Key, aku ada rencana. Gimana kita tunangan dulu? Aku takut kamu direbut orang lain. Trust me, I can’t live without you,” usul Adrian sekaligus memberitahu hal mutlak itu. Glek! Keyla menelan salivanya kasar. Jantungnya memompa kuat-kuat, berdegup kencang kala Adrian mengatakan ‘I can’t live without you’. Sama halnya seperti Adrian, dia juga tidak bisa hidup tanpa Adrian. Keyla sangat mencintai Adrian. Cinta itu begitu besar, dia tidak bisa meninggalkan Adrian. Tunangan .... Adrian membicarakan soal pertunangan, sementara penawaran Permata belum dia jawab. Tatapan memohon Permata, Keyla tidak bisa menolaknya. Pertama kali Permata meminta padanya, dan dia tidak bisa mengabulkan. Terlihat seperti tidak tahu diuntung. “Mungkin aku akan gila tanpamu,” sambung Adrian seraya meminum minumannya. Terkekeh gila, “Because you will forever be mine, forever.” Keyla terkesima mendengar penuturan Adrian. Seolah Adrian tahu dia akan pergi, ya pergi dari hidup Adrian. Melepas hubungan yang selama ini dia jalin. Apa Adrian sudah mengetahui semuanya? Ah, tidak mungkin, pembicaraan ini hanya dia dan Permata yang tahu. “Kenapa kamu membicarakan soal ini, Adrian?” tanya Keyla memastikan. Dia takut hati Adrian tahu. Adrian mengangkat bahunya tak acuh. “I don’t know, perasaan itu tiba-tiba hadir. Aku pikir kamu mungkin akan meninggalkanku.” Deg! Diamnya Keyla membuat Adrian khawatir, lalu dia kembali bertanya, “Keyla kenapa kamu diam? Kamu enggak berniat ninggalin aku ‘kan?” Dan Keyla masih diam. “Keyla!” bentak Adrian membuat Keyla terkejut. “Enggak Adrian, aku akan selalu bersamamu,” jawab Keyla cepat. “Aku akan mempercepat proses pertunangan kita. Aku enggak mau kamu ragu dan pergi meninggalkanku. Keyla, kamu sudah buat aku gila seperti ini. Jangan harap kamu bisa pergi dariku,” tekan Adrian. Sekali lagi, Keyla dibuat dilema. *** “Sial! Kenapa kalian tidak bisa menemukan keberadaan Gresia!” teriak Gelano murka, membanting gelas ke dinding. Tiga orang pria berdiri dengan kepala tertunduk. Sudah bertahun-tahun Gelano mencari keberadaan Gresia, tapi tak kunjung ketemu. Ini sudah lama sekali, semakin lama dia akan semakin sulit menemukan keberadaan Gresia. Dia menempelkan punggungnya di kursi kantor. Membiarkan kursinya berputar. Frustrasi dia tidak bisa menemukan keberadaan Gresia. “Cari! Cari terus! Saya sudah membayar mahal kalian, kenapa kalian tidak bisa memberikan saya info?” tanya Gelano marah. Dadanya naik turun. Ingin membanting apapun yang ada di depannya, tapi dia sadar di mana dia sekarang. “Maaf Pak Gelano, kami sudah berusaha mencari Ibu Gresia tapi kami tidak menemukan jejak apa pun. Lagi pula kejadian hilangnya Ibu Gresia sudah bertahun-tahun. Mustahil untuk bisa ditemukan,” ujar seorang pria berambut cepak. Brak! Gelano membanting pajangan ke sembarang arah. Apa katanya? Mustahil? Dia ingin mengamuk, amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan. “Hentikan pencariannya, saya akan bayar hasil kerja tidak becus kalian ke rekening. Mulai hari ini dan besok, kalian tidak boleh muncul lagi di hadapan saya!” tegas Gelano lantas keluar dari ruangan. Beginilah Gelano tanpa Gresia, pemarah dan pemberontak. Gresia adalah wanita yang paling dia cintai. Dia ingin bertemu dengan Gresia saat ini juga. Memeluk tubuh mungilnya sambil meminta maaf. Anak yang di kandungan Gresia, apakah anak itu masih hidup? Tidak, dia sangat yakin anaknya masih hidup. Gresia wanita baik, Gresia tidak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri. Sesulit apapun hidup Gresia, Gresia tidak akan mengorbankan orang lain. Di sinilah Gelano berada sekarang. Di rooftop. Salah satu tempat yang bisa membuat kemarahan ini berkurang. Menarik dan kemudian mengembuskan. Dilakukan secara berkali-kali sampai kemarahannya berkurang. Dijatuhkan tubuhnya ke bawah, bersandar di pembatas rooftop. Kapan hidupnya akan baik-baik saja? Dia ingin hidupnya segera baik-baik saja. Kapan? “Tuhan, tolong berikan aku petunjuk tentang keberadaan Gresia,” mohon Gelano, menatap luasnya langit. *** Malam hari selepas azan isya berkumandang, Keyla baru pulang ke rumah. Dihantar oleh kekasih tercinta yaitu Adrian. Firasat pria itu sangat tajam. Saking tajamnya, firasat itu seperti anak panah yang melesat ke sasaran. Tidak percaya Adrian akan langsung menyadari dilemanya. Namun sampai saat ini dia belum memberitahu soal penawaran ini pada Adrian. Jika tahu pria itu akan nekat membawanya kabur. Adrian itu romantis, Adrian itu penyayang, Adrian juga pengertian, tapi Adrian memiliki pendirian teguh. Melakukan apapun sesuai apa yang dia pikirkan tanpa bertanya terlebih dahulu pada orang yang akan dilibatkan. Selain itu Adrian juga nekat, ya, nekat melakukan apapun demi tercapainya tujuan termasuk melarangnya menerima penawaran ini atau membawanya kabur. Masuk ke dalam rumah besar yang sepi. Kaki ringannya melangkah masuk, menaiki tangga. Tiba saja dia mendengar sesuatu. Suara tangisan seorang wanita paruh baya. Tubuhnya berbalik, mencari-cari sumber tangisan. Sampailah dia pada sebuah ruangan berpintu kaca. Sepertinya, ruangan kerja Gelano. Dia mengintip, seorang wanita paruh baya sedang menangis sambil mengusap bingkai foto besar. Foto bertiga, ada Gelano, Permata dan seorang wanita cantik. Di foto itu tampak seperti keluarga, dengan Permata duduk di tengah-tengah mereka menangkup pipi Gelano dan wanita itu. Saling berpelukan satu sama lain. Mendengar tangisan Permata membuat d**a Keyla sesak. “Mama enggak nyalahin kamu, Gres. Mama enggak pernah nyalahin kamu. Mama minta maaf, Mama minta maaf karena anak Mama hidup kamu hancur. Maafin Mama.” Permata menyatukan kedua telapak tangannya, memohon. “Dimana pun kamu berada, entah masih hidup atau sudah berada di sisi Tuhan, Mama selalu berdoa kebaikanmu. Tapi sayang, Gelano harus hidup. Putra Mama harus punya keluarga. Putra Mama harus bahagia. Tolong kamu jangan marah, Mama lakuin ini demi Gelano sayang. Mama tahu kamu sayang banget ‘kan sama Gelano. Kamu suka cerita-cerita sama Mama.” Permata menyeka air matanya, menormalkan kembali pernafasannya. “Kamu enggak perlu khawatir sayang. Mama harap Keyla mau menerima lamaran ini. Mama percaya sepenuhnya sama Keyla, Mama yakin sekali Keyla bisa buat Gelano berubah. Tolong, bantu Mama doa semoga Keyla Nerima lamaran ini. Keyla harapan Mama satu-satunya. Kamu pasti dukung keputusan Mama. Mama sayang kamu Gresia, sampai kapanpun Mama akan selalu sayang kamu.” Keyla bergeming, kakinya terasa berat untuk dia langkahkan. Setetes air mata mengalir tanpa komando. Harapan Permata begitu besar padanya. Wanita itu akan kecewa mendengar penolakannya. Apa yang harus dia lakukan? Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di sisi lain dia iba sekaligus ingin membalas budi kebaikan Permata, di sisi lain dia ingin bahagia dengan pilihannya. Apa pun pilihannya dia akan menyakiti orang. Serba salah. Dia masuk ke dalam kamar, menguncinya lalu bersandar di pintu. Tubuhnya melorot ke bawah. “Kenapa pilihannya begitu sulit? Mana yang harus aku pilih? Mana jalan yang terbaik? Aku tidak ingin menyakiti hati siapa pun.” Dipeluknya kedua lutut, menangis di lipatan tangan yang ditumpu ke lutut. “Apa? Apa yang harus aku pilih Tuhan? Gelano atau Adrian?” “Jalan terbaiknya hanya satu, Gelano menolak perjodohan ini. Dengan begitu aku tidak perlu susah payah memilih pilihan sulit ini,” lirih Keyla. Ya, semua pilihannya ada di Gelano. Lagi pula Gelano sangat mencintai wanita itu, mana mungkin Gelano mau menikahinya. Sekarang, dia berharap semoga Gelano menolaknya. Saat Gelano menolak, dia bisa terbebas dari pilihan sulit ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD