Bab 7

1662 Words
Dengan kaki terlipat Keyla duduk di sofa sambil menonton drama kesukaannya. Di tangannya sudah ada stoples keripik kentang. Mulutnya sibuk mengunyah, tangannya sibuk mengambil keripik kentang dan matanya sibuk menonton drama. Rumah sebesar ini terlihat seperti rumah kosong. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Para maid sudah beristirahat dan Permata juga udah ada di kamar. Satu yang belum dia lihat, Gelano. Sejak kedatangannya sampai saat ini dia belum menemukan Gelano. Sudah lama dia tidak melihat sosok dingin itu. Tuk. Tuk. Tuk. Suara pantofel bergesekkan dengan lantai terdengar. Fokusnya terbagi dua, satu ke drama dan satu lagi ke ketukan pantofel. Semakin lama suara itu semakin mendekat, sebelum hilang di telinganya. Keyla mengambil keripik kentang, memasukkan keripik kentang yang dia ambil ke dalam mulutnya. Penasaran dengan suara ketukan pantofel tadi, matanya mengedar. Tepat dari arah ruang tamu, matanya memicing. Ruangan sudah sepenuhnya digelapkan dan Keyla tidak takut malah kesenangan. Drama yang dia tonton bergenre thriller, bunuh membunuh suasananya semakin tegang. Ditambah suara pantofel yang tiba-tiba menghilang itu. Tiba-tiba tangan besar dan dingin menyentuh leher jenjang Keyla. Mata Keyla membulat, hendak menoleh ke belakang tapi tangan itu semakin menggenggam lehernya kuat. Keyla berteriak kencang. Namun tangan tersebut beralih menutup mulutnya. “Siapa kamu?” tanya seseorang dingin. Mendengar suara itu, Keyla mengembuskan nafasnya lega. “Keyla Flawati,” jawab Keyla lantas tangan itu turun. Keyla beranjak dari sofa, menyimpan toples lalu menekan sakelar lampu. Ketika lampu menyala, sepasang mata bertemu. Melongo. Keyla tampak terkejut melihat perubahan Gelano. Rambut pria itu gondrong menutupi alis, tubuhnya semakin tinggi dan tatapan dingin itu lebih menyeramkan ketimbang sebelumnya. Raut wajah letih terpampang di wajah pria itu. Jas tersangkut di sebelah bahu. Kemejanya kusut tergulung sampai siku. Usianya sudah terbilang matang, tetapi sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Gelano Ardeno Aditchandra. Pria itu melenggang, duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya. Keyla bertanya-tanya, sekeras apa Gelan bekerja sampai seletih ini. Bisa dipastikan Gelano bekerja dari pagi sampai semalam ini. Putus cinta memang akan membuat gila. Setelah dia mendengar cerita dari Keyla, sejujurnya dia merasa iba. Gelano tidak sengaja memperkosa seorang wanita yang dicintainya, wanita itu pergi dan sampai saat ini wanita itu belum juga ditemukan. Keyla menebak, wanita itu bunuh diri. Setelah diusir, cita-cita hancur lantas apalagi yang tersisa? “Kak Lano baru pulang ngantor? Aku tahu semuanya Kak. Mama yang cerita semuanya ke aku. Dan aku merasa prihatin,” ujar Keyla. Kelopak mata Gelano terbuka. “Hidup itu selalu berputar Kak. Jangan terlalu sibuk memikirkan masalalu. Dia mungki—" “b*****t! Jangan ikut campur urusan saya! Urus saja urusanmu sendiri. Mau hidup itu berputar kek, mau berhenti kek, saya enggak peduli. Dan asal kamu tahu, Keyla, kamu enggak punya hal barang sedikit pun untuk mengatur kehidupan saya!” potong Gelano marah. Bangkit dari posisi tidurannya. Siapapun itu, jika berani mengatur hidupnya dia akan langsung marah. Ibunya saja dia bentak, apalagi orang lain? Dikala marah dia bisa melakukan apa pun termasuk melukai. Lagi pula, siapa Keyla? Berani sekali mencampuri hidupnya. Tubuh Keyla menegang. Kepalanya tertunduk ke bawah. Kaget sekaligus tidak percaya. Dulu, meski Gelano cuek, pria itu masih memiliki hati dan tidak pernah sekasar ini, sekarang tanpa ragu-ragu Gelano melemparkan k********r. “Prihatin? Kamu prihatin? Oh, saya tahu kamu itu ngetawain hidup saya ‘kan?” tuduh Gelano, Keyla menggeleng cepat. Gelano berdecih. “Saya tahu kamu itu pura-pura baik, cari muka di depan ibu saya. Sudahlah saya tidak mau mencampuri kehidupanmu.” Gelano menegangkan tubuhnya. Pergi meninggalkan Keyla sendirian. Baru beberapa langkah Gelano berhenti, menoleh sambil berkata, “jangan terlalu mencampuri kehidupan orang lain, terutama saya. Siapa pun itu, bahkan ibu saya sendiri, saya tidak akan bisa menerimanya.” Perkataan apa itu? Keyla memutar bola matanya malas. Diam-diam mengangkat kedua jari tengahnya ke atas, menatap punggung Gelano yang semakin menjauh. Saat Gelano mencapai tangga, tidak sengaja Gelano kembali menatapnya. Secepatnya Keyla menyembunyikan tangan di belakang tubuhnya. Bisa-bisa dia dimaki kembali. Anak siapa sebenarnya Gelano? Ibunya sangat baik sekali, tetapi anaknya? Uh, sungguh menyebalkan. Dia berharap semoga anaknya kelak tidak seperti Gelano. Sudah dipastikan, manusia seperti Gelano tidak akan menjadi suaminya karena dia sudah memiliki calon suami yang super baik. Adrian. *** Mereka bertiga, Permata, Gelano dan Keyla berkumpul bersama di meja makan. Suasana mencengkam sekaligus menyeramkan terjadi di meja makan ini. Bukan tipe Keyla yang bisa makan dalam ketegangan ini. Keyla menatap Gelano. Sama seperti sebelumnya, Gelano memiliki mood jelek. Sangat-sangat jelek, lihatlah sekarang, melihatnya saja Keyla muak. Lama menatap Gelano, tatapan itu dibalas oleh Gelano. Keyla kelabakan, berpura-pura melihat ke arah lain. Memakan makanannya. Permata berdehem singkat. Menyudahi suasana tidak menyenangkan di meja makan. Beginilah, selama bertahun-tahun, di meja makan ini kebahagiaan menghilang. Dia berharap semuanya akan baik-baik saja. Keberadaan Keyla di sini, sedikit mengurangi suasana gelap. Memberikan sedikit cahaya. Keyla seperti lentera, sedikit membantu menerangi ruangan dikala kegelapan. “Wah Ma! Masakannya enak!” seru Keyla, memakan makanan yang ada di piringnya. “Kamu sendiri yang masak, kamu juga yang puji,” sindir Permata sambil terkekeh. Sedangkan Keyla tersipu malu, merutuki kebodohannya. Berbeda dengan Gelano yang sama sekali tidak memedulikan keadaan sekitar. “Tapi makanan kamu top, iya enggak Lan?” Permata menanyakan pendapat pada putra semata wayangnya. Anggukkan singkat nan tak acuh itu menjawab pertanyaan Permata. Gelano tetap fokus memakan makanannya dengan cepat. Setelah makanannya habis, Gelano langsung pergi tanpa pamit. Permata mengembuskan nafasnya panjang. Hatinya tersayat-sayat. Putranya marah, dan itu karenanya kemarin. Keyla yang menyadari itu langsung menenangkan Keyla, memberikan tepukan semangat di punggung tangan Keyla. “It’s okay, Ma. Seiring berjalannya waktu, Kak Lano pasti berubah. Kak Lano Cuma butuh waktu untuk ikhlas, cepat atau lambat semuanya pasti berubah. Aku yakin itu Ma,” kata Keyla lembut. Disela-sela tepukan hangat itu, dia memberikan usapan. Permata adalah sosok ibu sempurna. Dia sangat beruntung menemukan manusia sebaik Permata. Disaat orang mendorongnya, mengejek, menghina, membully karena Keyla anak yatim piatu, Permata mengulurkan tangannya. Membantu dia bangkit dan menggapai cita-cita, memberikannya perlindungan layaknya seorang ibu. Ibu kandungnya saja tidak sebaik Keyla. Dia menghormati Keyla lebih dari ibu kandungnya sendiri. Rasa sayang ini tidak bisa dibeli oleh uang. “Mama takut Key, Mama takut hidup Gelano akan terus seperti ini. Mama takut. Mama berterima kasih sama kamu, setidaknya adanya kamu di rumah ini suasana rumah tidak secanggung kemarin-kemarin.” Nada suara Permata pilu, nyaris bergetar. Matanya berkaca-kaca ingin menumpahkan tangisannya. Wanita paruh baya itu menarik nafas kemudian mengembuskannya. “Seharusnya aku yang terima kasih, Ma. Karena Mama aku enggak bisa jadi Keyla yang sekarang, karena Mama aku mungkin sudah mat—" Sebelum Keyla melanjutkan ucapannya, Permata lebih dulu menutup mulut Keyla. “Sht, kamu enggak boleh ngomong gitu sayang. Mama sayang sama kamu kayak Mama sayang sama Gelano. Mama pernah berkhayal kamu jadi menantu Mama. Kamu ... mau enggak jadi menantu Mama? Jadi istri Gelano?” tawar Permata membuat Keyla tercenung, “Mama enggak akan maksa Keyla. Kamu enggak perlu mikirin ini, Mama juga enggak masalah kalau kamu mau tolak penawaran ini. Anggap aja Mama enggak pernah ngomong ini ya!” Panik Permata, melihat reaksi sedih Keyla, dia sudah bisa menebak jawaban Keyla. “Ma, aku pikirin dulu ya. Semisalnya aku nolak, Mama enggak akan marah ‘kan?” Permata menggeleng cepat. “Enggak sayang, Mama enggak akan marah sama kamu, apapun jawabannya Mama akan terima. Hubungan kita enggak akan hancur karena masalah ini. So, kamu tenang aja. Mama mau dari hati, bukan pemaksaan. Lanjutin makannya Key.” *** Seorang wanita berdress simpel berwarna ungu muda duduk di kursi dekat kaca. Membiarkan sinar matahari sore menyorot ke mejanya. Kedua tangannya ditumpu ke meja. Memegangi kening sambil merenung. Keyla pergi ke cafe setelah dia sibuk bergelung di pikirannya sendiri. Di depan laptop dia diam. Membiarkan laptop itu menyala. Penawaran dari Permata membuat Keyla gila. Sangat-sangat gila. Permata memberikannya pilihan, dia bisa saja langsung menolak. Menikah dengan Gelano? Ah, yang benar saja. Gelano jauh berbeda dengannya. Pola pikirnya tidak sama. Menikah dengan Gelano sama saja masuk ke dalam neraka. Gelano masih mencintai wanita itu. Berharap cinta pada Gelano itu hal yang mustahil. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa hidup atau mencintai Gelano. Namun bukan itu yang dia pikirkan. Permata, orang yang sudah sangat berjasa di dalam hidupnya. Selama ini Permata tidak pernah meminta apa pun padanya. Andai tidak ada Permata di dalam hidupnya mungkin dia tidak lagi hidup. Setelah pembullyan itu, dia hampir bunuh diri dan Permata yang menyadarkannya. Memberikannya kasih sayang seorang ibu, memberikannya kemewahan, pakaian, makanan enak, pendidikan yang layak. Tuhan seperti memberikan bidadari seperti Permata untuk membantu hidupnya, menggantikan sosok ibu. Sekali Permata meminta sesuatu, permintaan yang amat sangat sulit dikabulkan. Berat rasanya menyanggupi permintaan Permata. Bisa saja dia menolak, dan Permata juga tidak mempermasalahkan itu. Akan tetapi di sini Keyla seperti manusia yang tak tahu diuntung. Permata adalah penolongnya, saat wanita itu berharap padanya seharusnya dia menolong. Penolakan ini membuatnya tidak tahu diri. Dia tidak hidup seperti sekarang ini tanpa bantuan Permata. Dia akan mati hanyut di sungai jika Permata tidak menolongnya. Permintaan kecil seperti ini saja, dia tidak bisa menyanggupinya. Anak tidak tahu diri. Ya, katakahlah seperti itu. Lantas Keyla harus apa? Bagaimana? Apa jalan yang harus dia pilih? Kepalanya seperti meledak. “Keyla, kamu harus menerima perjodohan ini. Kamu harus balas Budi, balas kebaikan Permata. Kamu tidak akan hidup tanpa bantuan Permata. Sekarang adalah saatnya, menunjukkan pada Permata bahwa kamu memang berguna.” “Keyla! Kamu punya kekasih! Kamu sangat mencintainya begitu juga dia yang sangat mencintaimu. Kamu tega meninggalkannya demi balas Budi? Bodoh kamu Keyla! Kamu tidak akan hidup bahagia dengan perjodohan ini!” Suara-suara itu memenuhi gendang telinganya. “Keyla terima!” “Keyla tolong tolak, demi kebaikanmu.” “Key! Berhenti memikirkan hal konyol. Waktunya membalas Budi.” “Pikirkan hidupmu sendiri Keyla.” Hentikan! “Keyla!” Seseorang dengan suara berat memanggilnya. Kelopak mata Keyla langsung terbuka, dia menoleh langsung mendapati seorang pria berjaket boomber. Kedua sudut bibir Keyla terangkat, dia bangkit berhambur ke pelukan pria itu. “I love you, aku merindukanmu. Adrian,” bisik Keyla. “I love you, too. Kesayangannya Adrian,” balasnya berbisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD