Bab 4

1880 Words
"Kenapa perasaanku tidak enak ya," gumam Gelano yang sedari tadi diam bergeming di pinggir kasur. Kepulangan kembali ke kota ini membuat Gelano cemas setengah mati. Entah apa yang dia cemaskan. Sebelumnya dia tidak pernah secemas ini. Jantungnya berdetak kencang, air mata mengalir dengan sendirinya tanpa tahu penyebab kenapa dia bisa menangis. Sudah tiga bulan terhitung sejak keberangkatannya ke luar negeri dia tidak berkomunikasi dengan Gresia. Bayangan Gresia kerap kali muncul dan mengganggu pikirannya. Meski begitu dia menganggapnya wajar, lantaran rasa cintanya terhadap Gresia sangatlah besar. Rasa cinta ini sudah membelenggu. Semakin bertambah dan terus bertambah setiap harinya. Diraihnya benda pipih di atas nakas. Bersandar di kepala ranjang sambil meluruskan kakinya. Projek yang selama ini dia nantikan tercapai, dan orang pertama yang harus mengetahui ini adalah Gresia. Hal membahagiakan ini, mengapa tidak membuatnya senang. Sebenarnya apa yang menahan dirinya untuk berbahagia? Apa? Dia menelepon Gresia. Namun nomornya tak lagi terdaftar. Melihat lekat-lekat nama yang tercantum di handphone serta nomor, takut keliru. Tidak, ini benar nomor Gresia. Dia bangkit dari duduknya. Berdiri di depan jendela sambil menatap nama kontak Gresia. "Ah, pasti anak itu mengganti nomornya," gumam Gelano seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, Gresia pulang dari kampus. Lebih baik dia langsung menemui Gresia. *** Sudah lima belas menit Gelano menunggu kepulangan Gresia. Ketika para mahasiswa keluar, dia langsung melongok mencari-cari seorang wanita bertubuh mungil. Tubuh Gresia yang kecil mungkin saja terimpit para mahasiswa lain yang kebetulan ikut keluar secara bergerombol. Ah, Gelano melupakan sesuatu. Gresia adalah mahasiswi semester terakhir. Artinya Gresia akan lebih fokus mengerjakan skripsinya, atau mencari referensi di perpustakaan. Kesibukan wanita itu benar-benar luar biasa. Antusias, tekad, cita-cita dan prinsip begitu kuat. Gresia akan menyempatkan waktu berharga untuk selalu berada di dalam jalan kebenaran. Tipe wanita yang tidak ribet, cerdas, sederhana, selalu menghargai waktu dan baik kepada semua orang. Itulah mengapa Gelano bisa sesuka ini pada Gresia. Dibandingkan dengannya, dia tidak ada apa-apanya. Nasib sial Gresia, hidup berada di dalam keluarga toxic. Sampai tiba waktunya dia akan menggandeng Gresia ke altar pernikahan. "Kak Gelano 'kan?" Suara seseorang berhasil mengagetkan Gelano. Secepatnya Gelano berbalik menemukan seorang wanita berbadan gempal, berkaca mata kotak. Itu sahabat Gresia, Daisy kerap dipanggil Enday oleh Gresia. "Ah, iya, Kak Gelano! Aku mau tanya ke Kakak, itu ...," Daisy menggantungkan kalimatnya. Kalimat keragu-raguan itu langsung dicerna baik oleh Gelano. Dia menebak, "kenapa? Gresia lagi cari referensi di perpustakaan? Atau kamu mau ngajak dia ke suatu tempat, kamu mau izin ke saya buat ngambil waktu saya sama Gresia?" Selalu, Daisy selalu meminta izin merebut waktu Gresia ketika bersamanya. Gelano tertawa remeh. Kening Daisy berkerut. Wanita berkulit putih dengan pipi chubby itu menatap Gelano dengan pandangan bertanya-tanya. Lantas segera membalas kalimat Gelano, "lho, jadi—" Daisy melirik ke kanan lalu mengembalikan tatapannya ke arah Gelano. "Jadi Kakak kesini mau cari Gresia?" "Ya iya, saya mau jemput Gresia. Udah lama saya enggak ketemu dia. Gimana kabar dia? Dia lancar 'kan skripsinya?" Gelano bertanya. Dia harus tahu perkembangan skripsi Gresia, setelah wanita itu menyelesaikan pendidikannya dia akan melamar Gresia tepat saat wisuda. Diamnya Daisy membuat Gelano bertanya-tanya. "Skripsi Gessi lancar, Kak. Di fakultas kami, Gessi yang pertama yang menyelesaikan skripsinya. Seharusnya Minggu depan dia sidang, tapi seminggu terakhir ini dia enggak masuk kelas. Aku pikir Kakak tahu, tapi ternyata tidak tahu ya? Nomor Gessi juga udah enggak aktif lagi," jelas Daisy khawatir. Nadanya melemah. Deg! Seminggu? "Sa-saya juga enggak tahu apa-apa. Saya pikir hari ini dia kuliah, mangkanya saya datang ke sini buat jemput dia. Kamu serius, seminggu dia enggak masuk kelas?" Wanita itu mengangguk. "Iya, aku serius. Gessi enggak pernah kayak gini. Dia jarang absen, kalaupun absen pasti ada alasan jelas. Dia demam aja masih maksain masuk kelas. Mustahil dia enggak masuk kelas kalau masalah yang dia jalani saat ini ringan." Benar, Gresia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Ada alasan tertentu kenapa Gresia tidak masuk kampus selama seminggu. "Tiga bulan terakhir, aku lihat Gessi selalu lesu, wajahnya pucat. Aku tanya, dia jawabnya selalu 'gak papa' padahal saya khawatir ada apa-apa. Kayaknya, dua Minggu lalu, saya pernah lihat Gessi muntah-muntah." "Muntah-muntah?" "Iya. Jujur aja aku khawatir, aku sekaku berdoa semoga Gessi baik-baik aja. Aku takut ke rumah Gessi, pernah waktu itu aku malah diusir sama kakaknya. Kelihatannya kakaknya galak banget. Kakak 'kan udah kenal banget Gessi, jadi Kakak pasti udah akrab sama keluarga Gessi. Kalau ada kabar, jangan lupa kabarin aku ya?" Daisy mengambil sesuatu di dalam tasnya, sebuah kartu nama lalu menyerahkannya pada Gelano. "Ini nomorku." Gelano menggeleng. "Saya udah simpan nomor kamu, jadi tidak perlu. Saya akan kabarin kamu, kalau saya sudah dapat informasi tentang Gessi." Kartu nama tadi Daisy masukkan ke dalam tas. "Aku harap Kakak ngabarin aku secepatnya. Aku khawatir. Tolong, beri aku kabar baik." "Ya, tentu. Saya akan langsung mengajarimu nanti, kalau begitu saya pamit." Lantas, Gelano pergi meninggalkan Daisy sendirian. Daisy menatap punggung Gelano yang semakin menjauh. Perasaan tidak enak ini selalu mengarah ke sahabatnya. "Semoga kamu baik-baik aja, Gess," gumam Daisy menatap luasnya langit. *** Tidak sampai di sana, Gelano masih terus berusaha menghubungi semua teman-teman Gresia. Sempat dia menyalin semua nomor kontak yang ada di handphone Gresia tanpa sepengetahuan Gresia tentunya. Bukan apa-apa, untuk berjaga-jaga. Jika suatu waktu kejadian tidak terduga terjadi pada Gresia, dia bisa menghubungi semua teman-teman Gresia. Kejadian seperti ini contohnya. Sudah nomor keenam yang dia hubungi tapi tak kunjung ada tanggapan bagus. "Halo selamat malam. Apa ini Harry?" Kali ini, dia menghubungi teman beda fakultas Gresia. "Iya benar. Ini siapa ya?" "Saya Gelano teman Gresia, apa kamu pernah bertemu dengannya seminggu terakhir?" tanya Gelano tergesa-gesa. Baru pulang dari luar negeri dia langsung mendapatkan kabar mengkhawatirkan. Apa mungkin ini, yang menghambat dia tidak bahagia? Tidak, dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Gresia. "Ah, Gresia. Saya bertemu dengannya seminggu yang lalu. Kebetulan dia teman satu kompleks saya. Dia menangis, duduk di kursi taman. Tadinya saya mau langsung nyamperin dia, tapi sebelum saya nyamperin, dia langsung pergi. Kayaknya dijemput kakaknya," jelas pria bernama Harry. Menangis? Sial, dadanya tiba-tiba nyeri. "Setelah itu kamu tidak bertemu dia lagi?" "Tidak, biasanya saya melihat Gessi duduk di depan rumah atau berdiri di balkon. Tapi akhir-akhir ini saya enggak lihat dia, dan saya juga enggak lagi liat dia di kampus padahal dia pernah cerita kalau sebentar lagi sidang," jawab Harry, "oh iya, saya kemarin ke rumah dia. Hantar kue, dan saya enggak lihat Gessi. Saya tanya Gessi ada di mana, kenapa dia enggak masuk kelas. Mereka malah ngalihin topik pembicaraan." "Oke, terima kasih banyak ya." "Sama-sama. Tolong kamu, tanya sama mereka. Saya juga khawatir ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Keluarga mereka, agak gila," mohon Harry serius. Nadanya terdengar khawatir. "Iya, saya akan bertanya pada keluarga Gessi nanti. Sekali lagi terima kasih infonya." Kedua tangannya mencengkeram gagang setir. Memukul-mukulnya keras. Sudah jelas sekarang, ada sesuatu terjadi pada Gresia. Keluarga Gresia sedikit gila. Temperamental, ingin selalu sempurna, dan taat pada peraturan keluarga. Sekali saja Gresia melakukan kesalahan, keluarganya akan main tangan. Alasan lain selain dia sangat mencintai Gresia, dia ingin membebaskan Gresia dari monster-monster berwujud manusia. Gresia pantas bahagia. Suatu saat nanti dia pasti akan membahagiakan Gresia. Pasti. "Sial-sial-sial! Kenapa saya enggak ada di sampingnya saat dia butuh sandaran! Argh! Projek sialan!" maki Gelano, memukuli kepalanya sendiri. *** Di bawah pancaran air, Gelano diam. Menyusun kembali semua kata-kata Daisy dan Harry di dalam otaknya. Dinginnya air saja tidak mampu membuat amarahnya padam. Demi kebaikan bersama, dia menunda waktu menemui keluarga Gresia. Di sela-sela kemarahan yang menggebu-gebu, tidak baik bertemu. Dalam kemarahan dia akan melakukan kesalahan. Tentunya emosi yang akan menuntun bukan pikiran sehat. Seselesai mandi dia masuk ke walk in closet, memakai pakaian kasual berupa kaos dan celana pendek. Pandangan kosong. Sibuk membenahi diri. Menerka situasi Gresia saat ini. Bahkan Harry saja tahu mengenai keluarga Gresia yang memang gila. Kegilaan keluarga Gresia tidak bisa lagi ditoleransi, dia harus segera membawa Gresia masuk ke keluarganya. Menjadi nyonya Aditchandra. Dia akan menjamin kebahagiaan Gresia, menjadikan wanita itu ratu istimewa. Satu-satunya orang yang menempati hatinya. Direbahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan lembut. Kelopak matanya tertutup. Tiba saja lintasan bayang-bayang tentang Gresia muncul di benaknya. Ingatan b******a di kasur ini terekam jelas. Kelopak matanya terbuka kembali. "Hei, Gelano, kamu lagi mikirin apa?! Kenapa kamu tiba-tiba mikirin mimpi itu?!" Marah Gelano memukul wajahnya sendiri. Disaat-saat seperti ini bisa-bisanya dia m***m. Namun sesaat dia terdiam. Bangun dari posisi tidurnya, menatap ke bawah. “Aku suka segalanya tentangmu, Gres. Saat menggenggam tanganmu, memelukmu dengan erat, membuatmu tertawa bahagia, mengusap rambutmu, makan bersamamu dan segalanya. Aku mencintaimu, aku … aku takut kehilanganmu." “Aku juga, aku juga cinta sama Kak Lano. Aku pikir, cintaku bertepuk sebelah tangan tapi ternyata enggak. Aku seneng banget!” Matanya memicing, memandang lurus ke depan. Setetes air mata turun dengan sangat berdosa. Kedua tangannya bergetar hebat. Dia mengingatnya. Kejadian itu? Kejadian saat dia mabuk? Apakah benar? Tidak! "Enggak! Ini mimpi, Gelano Ardeno Aditchandra enggak mungkin lakuin hal kotor kayak gitu! Enggak! Enggak mungkin!" teriak Gelano, meremas bedcover kuat-kuat. Matanya memerah, ingin menangis tapi dia tahan. "Ini mimpi!" "Gres, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu." "Kak, berhenti Kak, sakit." Tumpah sudah, air matanya tak bisa dibendung lagi. Dia mengambil vas bunga di atas nakas lalu melemparnya ke dinding membuat suara kencang. Pecahan-pecahan kaca tersebut berserakan. Beranjak, dari tempat tidur, mengambil barang lainnya untuk dia pecahkan lagi. Marah, kecewa dan malu, dia sangat malu pada dirinya sendiri. Pegangan teguh yang selalu dia jaga baik-baik tiba-tiba dia merusaknya. Gresia, wanita yang selalu dia jaga dan dia hormati, dia sendiri yang merusaknya. Malam itu dia mabuk, menelepon Gresia dan menyuruh wanita itu untuk datang ke apartemen malam-malam. Bodohnya dia tidak menyadari dan menganggap semua hal yang dia lakukan adalah mimpi. “Halo Kak Lano?” “Gres, aku ingin mengatakan sesuatu.” Sesuatu? Tunggu, pasti sangat penting. “Apa Kak?” “Kamu datang langsung ke apartemen saya, ya. Segera datang, saya … saya sangat membutuhkanmu.” Lagi, dia mengingat rentetan kejadian malam itu. Setelah dia bangun dari tidurnya, dia menelepon Gresia. “Halo?” Suara lemah dan parau itu mulai bersuara. “Hai, Gres. Kamu sibuk ya? Gimana skripsi kamu, lancar?” Gelano bertanya, namun Gresia diam di seberang sana, “Kenapa kok diem? Oh ya, aku mau jujur. Maaf ya, aku langgar janji aku ke kamu. Semalam aku minum, maaf ya Gres.” “I-iya, jangan minum lagi ya Kak. Nanti orang lain kena imbasnya." Nada suara Gresia semakin melemah. “Ya udah, semangat ya Gres. Semoga cepet wisuda, biar bisa masak bareng lagi.” Kejadian malam itu nyata. Ya, benar-benar nyata. Dia tidak bisa membayangkan semuanya. Perbuatan busuknya telah membuat Gresia kesusahan. Masalah utamanya bukan berasal dari keluarga Gresia tetapi dari dirinya sendiri. Dia adalah penyebab kenapa Gresia— Tunggu apakah Gresia hamil anaknya? Dan keluarga Gresia tahu? “I-iya, jangan minum lagi ya Kak. Nanti orang lain kena imbasnya." Tubuhnya merosot ke bawah, tidak memedulikan di lantai ada bekas pecahan kaca. Kenapa? Kenapa dia tidak menyadari kesalahannya sejak awal? Kenapa dia baru menyadarinya? Ucapan Gresia sudah tampak jelas. Begitu bodoh dia tidak menyadarinya. "Nanti orang lain kena imbasnya." Ya, dia mengerti semuanya. Alunan suara lemah parau milik Gresia mengalun di telinganya. Membuat tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Dia akan memperbaiki semuanya. Meski terlambat, tapi dia belum sepenuhnya terlambat. "Gresia, saya akan memperbaiki semuanya. Maaf saya tidak ada di samping kamu saat kamu butuh saya," batin Gelano.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD