Bab 5

1804 Words
Dalam keadaan kacau Gelano pergi ke rumah Gresia. Tidak peduli dia akan diusir nantinya, yang pasti saat ini juga dia harus menemui Gresia. Rambutnya berantakan seperti pria yang habis mabuk. Tidak memakai jaket atau penghangat lainnya, dia keluar hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Bahkan alas kakinya hanya sandal jepit. Sudah terbalur darah. Tampak sangat berantakan ditambah noda darah dimana-mana. Berkali-kali dia menekan bel, tapi tak kunjung ada sahutan. Lama menunggu sekitar dua menitan, dia beralih menggedor-gedor pintu kayu bercat putih. Tidak lama kemudian maid membuka pintunya. Seorang wanita paruh baya berdaster menatap Gelano dari bawah sampai atas. “Ma-Mas Gelano? Ini seriusan? Mas kenapa? Kenapa kakinya luka-luka, banyak darahnya?” “Siapa Bi? Siapa tamu kurang ajar yang datang di malam-malam begini?! Sial, ganggu orang aja,” si pemilik rumah bertanya. Berjalan menuju pintu, di belakangnya ada seorang wanita paruh baya dan seorang pria muda seusia Gelano. Tiba di pintu, pria tua bernama Aryo memandang Gelano miris. Penampilan Gelano seperti gelandangan. Mata pria tua itu mengkilat, marah. Tentu saja marah, Gelano datang di waktu yang tidak tepat. Di malam-malam seperti ini, di jam manusia tertidur, Gelano malah datang menggedor-gedor rumah orang. Sama halnya seperti wanita paruh baya yang diketahui istri dari Aryo dan ibu kandung Gresia. “Kamu itu enggak liat jam ya, Gelano?” tanya Rianti, ibu Gresia ketus. “Maaf, Om, Tante, saya enggak bermaksud buat ganggu kalian tidur tapi saya ke sini mau nemuin Gresia. Saya hubungi dia tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Apa Gresia ada di dalam?” Aryo melirik putra dan istrinya secara bergantian lalu kembali menatap Gelano. “Dia tidak tinggal di sini lagi, kami mengusirnya,” jawab Aryo santai. Tanpa beban saat mengatakannya. Begitu juga dengan Rianti dan Revaldo—kakak kandung Gresi. Deg! Jantung Gelano seperti diremat, sesak dan sakit. Seperti ada batu menghantam tubuhnya kuat-kuat. “Ka-kalian mengusirnya?! Kenapa?!” tanya Gelano berteriak. Dia masuk ke dalam rumah, menekan bahu ayah Gresia. Mengguncangkan tubuh Aryo kuat. Rianti berusaha melepaskan suaminya dari cengkeraman Gelano, tapi Gelano menepisnya kasar. “Beraninya kau!” hardik Aryo, berusaha melepaskan cengkeram tangan Gelano. Namun tenaga Gelano jauh lebih besar ketimbang si pria tua Bangka ini. “Kenapa?! Kenapa kalian mengusirnya?! Gresia itu anak kandung kalian, dengan teganya kalian mengusirnya?! Di mana hati nurani kalian?!” bentak Gelano, di depan muka Aryo. Bugh! Revaldo meninju wajah Gelano dari samping, membuat tumbuh Gelano tersungkur. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk, dia menarik kaos Gelano memaksa Gelano berdiri kembali. Lagi, satu kepala tangan dilayangkan. Kali ini kepalan itu dia tunjukan ke perutnya. “b******k! Datang malam-malam cari keributan!” maki Revaldo menendangi tubuh Gelano. Tidak memedulikan hubungan persahabatan antar dua keluarga. “Sudah-sudah! Nak Gelano, sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam. Kamu tidak perlu mengurusi urusan kami. Kamu fokus saja sama diri kamu ya,” tutur Rianti, menepuk punggung Gelano. Tanpa diduga, Gelano menepis tangan itu. Pria itu berdiri, memandang Rianti miris. “Tante, Tante itu ibunya lho. Ibu mana yang tega ngusir anaknya sendiri? Gresia itu darah daging Tante. Dia udah jadi yang terbaik buat keluarga ini!” Gelano menyeka darah di sudut bibirnya. Nafasnya menggebu-gebu. Dia marah ke semua orang, termasuk ke dirinya sendiri. Entah kemana perginya Gresia. Dia terlalu pengecut untuk berbicara jujur. Gelano, Gelano Ardeno Aditchandra seorang pengecut. Setelah dia menemukan Gresia, dia akan memberitahu semua kesalahannya kepada keluarga Gresia. Untuk saat ini, dia akan mencari Gresia. Berbicara empat mata dengan wanita itu, meminta maaf sambil berlutut di depannya. Orang yang sangat Gresia percaya, ternyata telah menghancurkan kehidupan cerah yang selama ini Gresia mimpikan. “Kamu enggak tahu apa pun tentang masalah kami, Gelano. Kedatangan kamu ke rumah ini itu tidak sopan. Malam-malam, tiba-tiba marah-marah. Andai kamu bukan anak dari Permata, saya langsung membunuhmu,” kata si pria tua itu, “ini sebenarnya aib, tapi kami percaya kamu bisa menjaga rahasia ini karena ... kamu sahabatnya.” “Pah,” tegur Revaldo, ingin menghentikan ungkapan ayahnya yang terlalu berisiko untuk diungkapkan. Tangan Aryo terangkat, memberi isyarat Revaldo agar tetap diam. “Gresia hamil, entah anak siapa itu. Sejak tahu itu saya memutus hubungan. Kamu bisa cari tahu siapa ayahnya, setelah tahu beri tahu saya. Saya akan menghajarnya sampai mati.” Sampai mati .... “Apa pun tentang anak itu, saya tidak ada urusannya lagi. Kami sudah melepas. Mau dia hidup atau mati, kami tidak peduli lagi. Kami malu, sebentar lagi kami akan membuat berita kematian anak itu. Biarlah semua orang tahu, Gresia mati,” sambungnya. Apa katanya? Membuat berita kematian? Gelano mengangkat tangannya lagi, tapi Revaldo menahannya. Revaldo memutar tangan Gelano sampai pergerakan Gelano terkunci. Bisa saja Revaldo mematahkan tangannya. Posisi ini benar-benar membuat Gelano kesulitan bergerak. Setelah pergerakan Gelano terkunci, Revaldo menendang kakinya dari belakang. Rianti menjerit kaget melihat anak sahabatnya tersungkur di lantai, mencium ubin. “Jangan macam-macam, atau saya bunuh kamu sekarang juga,” ancam Revaldo. Tidak ingin menyerah sampai di sini, Gelano bangkit. Menatap pria tua itu marah sekaligus benci. “Sesalah apa pun Gresia, Gresia itu tetap keluarga kalian! Darah daging kalian! Kalian bisa bicarakan ini baik-baik, dan menikahkan Gresia.” “Jangan ceramahi saya, Gelano!” ketus Aryo emosi, “anak itu sudah menjadi aib. Saya tidak mau nama saya tercoreng karena perbuatan anak saya. Lebih baik saya tidak punya seorang putri, daripada punya anak seperti j*lang itu!” Dari dulu, sampai sekarang keluarga ini memang gila. Mereka mencari kesempurnaan. Apa pun hal yang menjadi penghalang kesempurnaan itu, mereka pasti akan menyingkirkannya. Kejam. Baru kali ini Gelano bertemu manusia iblis seperti mereka. Mengapa ibunya bisa menjadi sahabat mereka? “Gresia putri kalian,” gumam Gelano sesak. “Gresia bukan lagi putri kami. Lebih baik kamu pulang, dan lupakan Gresia. Sewaktu-waktu kamu menemukan Gresia, jangan pernah mengajak kembali ke rumah ini atau dengan tangan saya sendiri, Gresia akan terbunuh!” gertak Aryo lagi. “Kalian tidak memikirkan perasaan Gresia? Dia sudah makan atau belum, dimana dia tinggal sekarang dan apakah dia masih hidup sehat? Apa kalian tidak sedikit pun punya rasa empati? Kalian manusia atau iblis? Di mana hati nurani kalian huh? B*jingan!” teriak Gelano. Aryo mengangkat dagu, memberikan Revaldo kode untuk segera membawa Gelano pergi dari sini. Sesuai perintah, Revaldo menarik paksa Gelano ke luar rumah. Gelano memberontak, dia bahkan menendang Revaldo. Sayang sekali, Revaldo membalas tendangan itu berkali-kali lipat sebelum masuk kembali ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Gelano bergeming, kepalanya tertunduk. Air matanya berjatuhan. Gresia .... Gresia diusir. Gresia hamil, hamil anaknya. Anak kandung Gelano Ardeno Aditchandra. *** Pandangannya kosong tertuju ke depan. Semalaman Gelano menangis, melukai dirinya sendiri dan berteriak seperti orang gila. Sampai bisikan bunuh diri hadir membisiki telinganya. Wanita baik-baik dan terhormat, dinodai olehnya. Janji yang selama ini dia utarakan sudah teringkari. Di mana Gresia saat ini, sudah makan atau belum? Bagaimana kondisinya? Tubuhnya babak belur terutama bagian wajah. Tonjokan Revaldo masih terasa, tapi rasa sakit ini belum sebanding dengan rasa sakit yang didapatkan Gresia. Berpikir belum sebanding, Gelano memukuli dinding. Tulang-tulang jemarinya seakan remuk. Penyesalan ini sudah menggerogoti jiwanya. Sebelum dia mendapatkan maaf dari Gresia dan memulai kehidupan baru, dia tidak akan bisa hidup dengan tenang. Tok tok tok! Lemah, Gelano mengetuk pintu rumah. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya bersanggul tipis muncul di balik pintu. Tatapan ceritanya berubah menjadi sendu, melihat keadaan putra satu-satunya yang begitu memprihatinkan. “Lano, kamu kenapa? Kenapa kamu kayak gini? Siapa yang mukulin kamu? Terus ini.” Wanita paruh baya itu mengambil kedua tangannya secara hati-hati, membolak-balik tangan putranya. “Kamu nyakitin diri kamu sendiri? Kenapa? Ada masalah apa?” Beralih ke wajah, hati-hati dia melihat memerah itu dengan saksama. “Astaga, ini dipukulin orang. Kamu cari gara-gara sama siapa? Coba bilang sama Mama.” Air mata Gelano mengalir, semakin khawatirlah Permata. Memeluk tubuh ibunya erat, menangis sekuat-kuatnya di sana. Tidak ada tempat lain selain ibunya. Tempat yang dimana dia bisa menumpahkan apapun tanpa ragu. Permata melepaskan pelukannya. Wanita itu menghapus air mata Gelano. “Sini, Nak. Masuk.” Permata menuntun putranya masuk ke dalam, menundukkannya di sofa. “Kamu duduk dulu ya, Mama buatin minum.” Baru saja Permata ingin melangkah, Gelano langsung menahannya. “Gelano mau bicara sama Mama,” lirih Gelano pilu. Suaranya serak, nadanya bergetar. Gelano tidak punya banyak kekuatan lagi. Permata mengembuskan nafasnya panjang. Duduk di sebelah putranya. “Tapi kamu harus diobatin dulu, nanti lukanya infeksi. Lihat kaki kamu, banyak lukanya. Mama ngeri liat kamu.” “Enggak penting, Ma. Mama juga bakal hajar Lano kalau Mama tahu apa yang udah Lano lakuin.” Kedua alis Permata bertaut, bingung. “Maksud kamu apa? Kamu udah ngelakuin apa? Kenapa Mama hajar kamu? Selama ini kamu udah buat Mama bangga.” “Dan kali ini Mama akan kecewa,” sahut Gelano menundukkan kepalanya. “Apa? Apa yang udah kamu buat?” “Lano tidak sengaja menghamili anak orang—“ Plak! Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Gelano. Keduanya diam. Gelano merenung dan Permata yang sudah berkaca-kaca, tidak lama tangisannya tumpah. “Dan orang itu Gresia, Ma.” “Gelano!” bentak Permata, berdiri. Dadanya naik turun. “Mama tahu kamu cinta banget sama Gresia, tapi bukan begini, Nak. Kamu enggak bisa lakuin cara kotor, Papa kamu pasti kecewa.” “Maaf, Lano enggak sengaja. Lano mabuk, dan Lano pikir itu Cuma mimpi. Lano b******k! Lano malu jadi manusia, Lano malu! Lano bodoh! Lano pantas dihukum!” teriak Gelano, memukuli kepalanya sendiri. Permata yang tidak tega menghentikan tangan Gelano. Wanita itu kembali duduk. “Gelano, orang yang pukulin kamu keluarga Gresia?” tanya Permata pelan dibalas anggukan oleh Gelano, “keluarga Gresia udah tahu kamu yang hamilin Gresia?” Gelano menggeleng. “Gre-Gresia diusir, Ma. Sekitar seminggu yang lalu, mereka mau malsuin kematian Gresia. Karena Lano, Gresia diusir, Ma. Karena Lano hidup dan impian Gresia hancur. Mama, Lano b******n, Mama malu banget punya anak kayak Lano,” jawab Gelano, “ini salah Gelano, sekarang Lano enggak tahu harus cari Gresia dimana.” Permata memeluk Gelano, menenangkan putranya. Dia marah, kecewa tetapi bagaimana pun Gelano adalah anaknya. Tetap, Gelano yang salah di sini. Tidak heran lagi keluarga Gresia akan seperti itu. Puluhan tahun dia mengenal keluarga Gresia, sudah hafal seluk-beluk keluarga itu. “Seharusnya kamu sadar lebih cepat, Lano. Kalau sudah seperti ini, kamu bertanggung jawab mencari keberadaan Gresia sampai ketemu. Mama harap kamu bisa memperbaiki semua kesalahanmu. Mama yakin kamu enggak sengaja melakukan itu, kami anak kami yang baik,” ujar Permata, mengusap rambut putranya. “Sekarang Lano mau cari Gresia.” “Enggak, sekarang kamu obatin luka kamu. Istrirahat dulu, baru cari Gresia. Percuma kamu cari sekarang, kamu enggak akan konsen.” “Tapi, Ma .... Mana bisa Lano diam aja? Enggak, enggak bisa!” “Sht, denger Mama ya. Istirahat dulu, baru kamu cari lagi.” Entah dimana Gresia sekarang, Gelano berdoa semoga Gresia dan anaknya dalam keadaan baik. Dimana pun wanita itu berada. Tuhan selalu melindungi Gresia dan juga anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD