Bab 14

1603 Words
Gelano terduduk di tepi kasur. Menatap kotak berisi cincin yang dipesan mendadak. Sepasang cincin berlian sebagai tanda keseriusannya dia pada ibunya untuk memulai lembaran baru. Berkali-kali dia mengembuskan nafasnya. Mempersiapkan diri untuk memulai kehidupan baru. Keyla tidak pantas bersanding dengannya. Tidak! Bukan Keyla, tetapi dirinya yang tidak pantas bersanding dengan Keyla. Maka dari itu dia akan serius dan melakukan yang terbaik. Meski hati ini tidak bisa dibohongi, dia masih mencintai Gresia Ananta. Sangat-sangat mencintai, bahkan didetik ini saja dia masih membayangkan Gresia datang ke sini dan menghentikan dirinya melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Tunangan misalnya. Tangannya terulur, menarik laci dan mengambil album foto. Usianya dengan Gresia berbeda dua tahun, lebih tua darinya. Awal mula bertemu Gresia menjadi adik kelasnya. Waktu itu di acara pensi, teman duetnya tiba-tiba tidak masuk. Saat itu dia sudah ada di atas panggung sambil memegang gitar, entah apa yang dia pikirkan tiba-tiba dia menarik Gresia naik ke atas panggung dan memaksanya menyanyi. Dari pertemuan itu, akhirnya dia dan Gresia kenal dan akrab. Waktu bersama dengan Gresia begitu singkat, dan sekarang malah dipisahkan oleh takdir. Miris. Kesalahan itu tidak bisa hilang atau dilupakan. Kesalahan tetap kesalahan. Kesalahan ini tidak lagi disebut kesalahan, tetapi kejahatan. Seharusnya dia mendekam saja di penjara. Lembar demi lembar Gelano membuka albumnya. Menatap satu persatu foto kebersamaannya dengan Gresia. Setetes air mata mengalir, buliran itu terjatuh ke album foto. Sesak sekali dadanya. Setelah tunangan, tidak lama lagi akan berlanjut ke pernikahan. Ibunya begitu semangat, menyiapkan semuanya. Menolak lagi membuat hati Permata patah dan dia tidak akan membiarkan ibunya sedih lagi. Tok. Tok. Tok! Pintu terketuk, cepat-cepat dia bangkit lalu menyimpan album foto itu di laci paling bawah. “Gelano, kamu sedang apa di dalam? Ayo keluar, tetangga kita udah pada datang. Kamu turun ya, Mama mau panggil Keyla. Nanti kalian berdua turunnya bareng.” “Iya, Ma! Nanti Lano turun bareng Keyla!” sahut Gelano, menghapus air matanya. *** Gaun off shoulder selutut berwarna silver membuat Keyla seperti seorang putri kerajaan. Pilihan Permata memang tidak bisa diragukan lagi. Tidak lupa high heels yang sewarna dengan gaunnya. Rambut panjangnya dibuat sanggul tipis. Malam ini dia akan resmi menjadi tunangan Gelano Ardeno Aditchandra. Tidak lupakan soal Adrian Permana yang sudah lebih dulu meng-klaim dirinya sebagai tunangan Adrian Permana. Dengan berat hati Keyla melepaskan cincin pemberian dari Adrian. Melihat cincin itu dari berbagai sudut lalu menggenggamnya erat. Menahan tangis yang sudah diujung pelupuk mata. Make up yang sudah terhias di wajah, air matanya pasti akan merusak. “Maaf Adrian, maaf ... aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri, tapi Adrian aku juga menyayangi Mama Permata. Kamu tahu ‘kan? Pasti kamu mau mengerti. Maaf aku sudah memberikan banyak harapan, bahkan aku juga sudah berharap banyak. Jika kamu itu takdirku Adrian, Tuhan pasti akan menghentikan hubungan ini, pagi,” ucap Keyla mengecup singkat cincin itu. Cincin yang dia anggap sebagai cincin biasa karena sebagai tanda klaim saja, ternyata cincin ini sangat mahal. Saking mahalnya dia bahkan bisa membeli mobil terbaru. Tidak penting soal harga, hal yang Keyla pikirkan adalah Adrian. Niat Adrian untuk menjadikannya istri begitu besar. Semoga pria itu tidak gila mengetahui dia akan pergi dari hidup Adrian. Ah, entahlah, dia takut memikirkan itu. Drtt ... drtt ... drtt Handphone-nya berdering, nama kontak ‘Adrian?’ tertera di sana. Dia mengangkat panggilan itu, mendekatkan handphone ke telinganya. “Halo Babe?” “Ha-halo Adrian.” “Saat ini aku sedang berbaring. Memikirkanmu seorang, tunanganku. Sempat tadi aku tidur lalu aku kembali bermimpi buruk. Mimpi yang sama.” Di seberang sana, Adrian tertawa renyah. Namun terdengar menyayat di hati Keyla. “Bukankah itu lucu? Aku tertawa. Kamu sudah menjadi tunanganku, tapi aku masih takut kamu meninggalkanku. Aku tahu Key, kamu tidak akan meninggalkanku.” Senyuman pahit terukir di wajah Keyla. Mimpi itu pertanda. Ya, pertanda dari Tuhan karena Adrian adalah lelaki baik dan terbaik, Tuhan memberikan kode agar Adrian segera meninggalkannya karena dia berpikir kalau dia tidak pantas bersanding dengan Adrian. Selama ini Adrian memberikan banyak hal untuknya, tapi dia meninggalkannya dengan alasan balas budi. Tuhan pasti akan mengutuknya. “Lusa aku akan pergi ke luar negeri, ada rapat penting di sana. Menemani atasan, setelah rapat ini berjalan lancar beliau akan memberikan jabatan. Hal yang selama ini aku tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Aku mau besok kita bertemu, menghabiskan waktu seharian. Aku mau membawamu ke suatu tempat. Suatu tempat yang pasti kamu sangat menyukainya.” Haruskah Keyla merasa lega? Mendengar Adrian akan pergi? Dengan begitu dia bisa sedikit menghindari Adrian. Belajar kehilangan Adrian yang sangat tidak mungkin. Dia tidak siap kehilangan Adrian, begitu juga pria itu. Jika tahu, Adrian akan mengamuk seperti orang gila. “Berapa hari?” “Kemungkinan empat hari, paling lama tujuh hari. Kamu mau titip apa? Ah, bodoh Adrian besok kan ketemu.” Keyla tertawa singkat, mendengar kebodohan Adrian. “Oke bye, Babe. Sampai jumpa besok. Aku ingin melawan mimpi, aku akan membuktikan mimpi sialan itu tidak akan terjadi. I love you, Aku tidak bisa hidup tanpamu dan aku pasti akan memilikimu. I am yours, you are mine.” “I am yours,” gumam Keyla. Sambungan terputus, diputus oleh Keyla. Tok. Tok. Tok! Pintu terketuk. Keyla mematikan handphone-nya kemudian memasukan handphone ke dalam laci. “Key, ayo turun.” Gelano, itu suara Gelano. “Iya Kak!” sahutnya. “Oke Key, kamu bisa. Demi Mama Permata, demi Mama,” batinnya bertekad. Melangkah membuka pintu kamar. Gelano memakai setelan jas berwarna sama dengannya. Wajah tampan Gelano bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Pria itu memandangi Keyla, membuat Keyla tersipu malu dipandang seperti itu. Senyuman tipis mengukir di wajah Gelano. Meski tipis Keyla dapat melihatnya. Betapa bodohnya dia senang melihat Gelano memberikan tatapan berbeda dari sebelumnya. Gelano memberi isyarat pada Keyla untuk menggandeng lengannya. Ragu, Keyla menggandeng lengan Gelano. Mereka berdua berjalan layaknya sepasang calon pengantin. Berjalan menuruni tangga yang langsung mendapatkan perhatian dari para tamu undangan. Orang-orang yang diundang hanya tetangga sekitar, bahkan kerabat dekat Gelano saja tidak diundang. Ini sesuai dengan keinginan Gelano. Keyla tidak tahu menahu soal dekorasi yang terhias di rumah ini. Apa Permata yang melakukan ini secara mendadak? Lontaran rasa kekaguman terdengar di telinga Keyla. Wanita itu hanya memberikan sapa berupa senyuman manis, berbeda dengan Gelano yang tampak tak memedulikan soal para tamu. Sesampainya di tempat yang sudah Permata khususkan untuknya dan Gelano, mereka berhenti. Gelano mengambil mikrofon. “Selamat malam semuanya. Terima kasih sudah menghadiri acara pertunangan kami yang seadanya ini. Ini permintaan saya sendiri yang tidak mau berlebihan,” sapa Gelano berwibawa, tatapannya teralih ke Keyla, “pertunangan yang mendadak. Dan, jujur saya juga enggak bakal nyangka kalau Keyla Flawati, yang sudah saya anggap seperti adik sendiri ternyata jodoh saya. Berkat Mama kami dipersatukan.” Percayalah, Keyla terbawa arus. Dia merasa Gelano serius mengatakan itu, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Gelano sedang menipu semua orang. Pertunangan ini mungkin membuat Gelano muak. “Dikarenakan hubungan ini ada karena Mak Comblang kita yaitu Mama Permata, jadi saya ingin bertanya lagi kepada Nona Keyla Flawati. Apakah Nona Keyla mau jadi tunangan saya? Menjadi calon istri saya? Menjadi suami saya? Menjadi ibu dari anak-anak saya kelak?” Betapa kagetnya Keyla saat mendengar Gelano. Untuk pertama kalinya dia mendengar suara asyik dan menghibur Gelano. Biasanya dia mendengar suara dingin, ketus dan lainnya, ditambah wajah datar yang sangat menyebal, hari ini sifat Gelano berbanding terbalik. Dia melihat Gelano yang hangat. Sekilas Keyla menatap Permata. Wanita paruh baya berdress emas itu tampak antusias. Mendengar jawaban dari Keyla. Ayo, Key! Ayo, kamu pasti bisa. “Iya saya mau.” Setelah Keyla menjawab, suara riuh tepuk tangan menggema. Gelano mengambil cincin dari Permata lalu memasangkan cincin itu di jari manis Keyla. Sama seperti Keyla, wanita itu juga memasangkan cincin di jari manis Gelano. Suara tepuk tangan kembali menggema. Permata memeluk Gelano erat, kemudian beralih memeluk Keyla. “Makasih sayang. Mama sayang kalian berdua. Semoga sampai pernikahan nanti lancar, aamiin. Semoga kalian berdua diberikan kesehatan selalu, dan diberikan kebahagiaan yang berlimpah ruah,” kata Permata, berdoa dengan sungguh-sungguh. Kebahagiaan Permata tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Hari ini dia bahagia, apalagi melihat senyuman bahagia dari kedua anaknya. Dia menarik tangan Gelano ke bawah, menyuruh Gelano menunduk untuk dia kecup. Beralih ke Keyla. “Mama sayang sama Keyla, rasa sayang ini semakin besar. Kamu harus bahagia sama Gelano.” Permata mengambil mikrofon, berdehem singkat. “Terima kasih banyak telah menghadiri acara pertunangan ini. Acara pernikahan akan dilangsungkan dua Minggu terhitung hari ini. Nanti kami akan mengundang kalian secara resmi.” Dua Minggu .... Dua Minggu lagi Keyla akan menikah dengan Gelano. “Mohon doanya, Bapak, Ibu sekalian. Semoga Gelano dan Keyla bisa melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu jenjang pernikahan. Ini hanya sebagai simbol.” Permata menggenggam tangan Keyla erat. “Mari para tamu, dinikmati hidangan yang sudah kami sediakan.” Tubuh Keyla lemas, air matanya ingin tumpah. Kakinya bergetar, tapi sekuat mungkin dia menahannya agar tidak goyah. Senyuman dipaksakan ini selalu mengukir di wajah. Ini menyakitkan, sangat-sangat menyakitkan. Lebih dari apa pun. Apa yang dia lakukan saat ini itu tidak benar, dia mengkhianati Adrian, orang yang sangat dia cintai. Lantas apa yang harus dia lakukan. Dua Minggu lagi .... Dua Minggu lagi dia akan menjadi istri orang. Sekarang dia resmi menjadi tunangan dua orang sekaligus. Bagaimana dengan Adrian? Ketika tahu dia akan menjadi istri orang lain. Dan juga, bagaimana kalau Permata dan Gelano tahu dia sudah memiliki kekasih bahkan tunangan. Di hari yang sama, dia berhasil menjadi dua tunangan dari dua orang pria sekaligus. Tidak menyenangkan, dia berharap segera terbangun dari mimpi menakutkan ini. “Maaf Adrian, maaf ....” Sama halnya seperti Gelano yang masih memikirkan rasa bersalahnya terhadap Gresia. Dia menutup kelopak matanya sambil membatin, “maaf Gresia, maaf.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD