Cincin ini, cincin yang seharusnya disematkan oleh Gresia malah disematkan oleh Keyla. Cincin yang seharusnya terpasang di jari manis Gresia, malah tersemat di jari manis Keyla. Detik ini pun Gelano masih merasa kesakitan. Cinta dan rasa bersalah, dua hal yang bercampur di dalam dirinya. Membelah menjadi dua kubu, kubu tetap menunggu sampai Gresia datang dan kubu menyerah, mengikuti kata sang ibu.
Sakit di hatinya berdenyut kala memikirkan kesalahan hari itu. Namun seberapa buruk kondisi hatinya, otak, mata dan jarinya harus tetap bekerja. Sampai tiba pikiran tentang pernikahannya yang akan dilangsungkan dua pekan lagi, berkeliaran di dalam otaknya. Sepuluh jari yang menari di keyboard seketika terhenti. Disandarkan punggungnya ke kursi sambil memejamkan mata.
Sekuat apa pun dia memaksa untuk bekerja, selama pikirannya sudah diambang kacau dia tetap tidak bisa memaksa bekerja. Terus dipaksakan akan membuat kerjaan ikut kacau juga.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, tanpa ketuk, izin atau pemberitahuan terlebih dahulu. Kursi yang tergerak itu dihentikan secara mendadak. Matanya terbuka, menatap ke arah seseorang yang baru saja datang ke ruangannya. Duduk di kursi di hadapannya tanpa menunggu dipersilakan duduk terlebih dahulu.
Seorang pria berkacamata tipis itu tertawa meledek, melihat Gelano si kaku sedang menatapnya penuh amarah. Jas abu-abu diletakan baik-baik di meja kerja Gelano, menyisakan kemeja putih dibalut rompi abu-abu. Tampak rapi dan berwibawa, tapi tidak dengan sifatnya yang seenak jidat masuk ke ruangan sang pemilik perusahaan.
“Apa perlu gue ambilin air dan sirem ke kepala lo?” Si pria berkacamata itu tergelak sementara Gelano, diam saja. Berpura-pura sibuk dengan melihat-lihat berkas yang ada.
“Siapa yang nyuruh lo dateng ke sini?” tanya Gelano tak acuh, terlihat aneh ketika Gelano memaksakan diri mengikuti logat lawan bicaranya. Terdengar memaksakan aksen Jakarta.
Muhamad Haris, itulah nama pria yang ada di hadapan Gelano. Teman semasa SMA, sekelas dengan Gelano. Sampai saat ini Gelano dan Haris masih berhubungan baik sebagai sahabat. Haris adalah seorang pengusaha sama sepertinya. Usaha yang Haris kembangkan adalah gula pasir kemasan, pabriknya ada di Cikarang sedangkan kantornya ada di Jakarta. Usaha ini hasil rintisan Haris sendiri. Padahal pria itu ditawari untuk melanjutkan usaha turun temurun keluarga, tapi Haris memilih membangun usaha sendiri dan menyerahkan tanggung jawab keluarganya pada kakak tertua.
Haris adalah satu-satunya temannya yang bisa tahan terhadap sikapnya.
“Masa gue enggak boleh si dateng ke sini?” Haris mendengkus kesal.
“Gue enggak bisa enggak boleh, tapi lo selalu kurang ajar. Masuk seenaknya, ngetuk pintu enggak, izin enggak, telepon enggak, mirip preman,” sindir Gelano tajam. Bukannya menyadari kesalahannya, Haris malah tertawa. Tawanya sangat keras sampai Gelano geram sendiri melihatnya, ingin memasukkan komputernya ke dalam mulut Haris.
“Dengar-dengar udah tunangan.”
“Kata siapa?” tanya Gelano tak acuh.
Mata Haris menilik cincin yang tersemat di jari manis Gelano. “Itu di tangan lo b**o! Cincin apaan? Jahat amat enggak diundang. Awas aja kalau sampe nikahan enggak diundang, gue bakal ambil calon istrinya.”
Mata Gelano berotasi malas. “Ambil aja, gue enggak peduli.”
“Nikahnya sama Dek Grey ‘kan?”
Dan Haris tidak tahu apa pun tentang masalah ini, yang Haris tahu Gelano mencintai Gresia. Sangat.
“Enggak.”
“Huh?! What the f**k?! Kok bisa? Lo udah bosen sama Grey? Sini deh buat gue aja, gue juga sebenarnya suka sama dia. Karena lo suka jadi gue ikhlasin.” Kaget Haris berakhir mengungkapkan kejujuran yang selama ini dia pendam.
Gresia, si gadis manis. Sudah lama Haris tidak melihat wajahnya.
Tangan Gelano mengepal kuat. Mata elangnya menatap Haris. “Jadi lo selama ini suka sama Gresia?” Haris mengangguk polos. “b*****t!” Gelano memaki. Sudah tahu alasan, kenapa semenjak dia mengakui perasaannya ke Gresia pada Haris, Haris sedikit menjauhi Gresia.
Gelano terlalu pengecut waktu itu. Apalagi saat tahu Gresia tidak ingin berpacaran sampai gapai cita-cita. Jadilah sampai saat ini dia memendam perasaannya. Hari itu, dia mengungkapkan perasaannya sebelum menghancurkan Gresia.
“Tenang, dude. Lo bilang ‘kan lo udah tunangan sama orang lain? Jadi gue bisa kejar Gresia. Because, cinta ini masih ada Bro,” kata Haris diiringi suara tawa. Terdengar seperti candaan, tetapi Haris serius mengatakannya.
Ah, Haris sangat mencintainya ternyata.
Gelano memijit pelipisnya. Menatap Haris sebentar, lalu menatap ke arah lain. Terus saja secara berulang-ulang Gelano melakukan itu, membuat Haris kesal sendiri. Haris melemparkan berkas ke wajah Gelano, untungnya Gelano langsung sigap menangkap berkas berharga itu.
“Gue masih cinta sama Gresia, Har. Sampai detik ini gue cinta sama dia, tapi ...,” ujar Gelano menggantung.
“Apa? Grey direbut orang lain? Parah anjing! Kenapa lo enggak kasih tahu gue, gue bisa rebut! Oke, gue bisa rebut yang penting gue enggak saingan sama lo,” sela Haris mengumpat. Ingin melempar berkas lagi, tapi Gelano menahannya.
“Gue enggak sengaja perkosa dia, Har dan dia diusir dari rumah setelah ketauan kalau dia hamil. Saat itu gue enggak tahu karena gue kira itu mim—“
Bugh!
Haris menonjok wajah Gelano, kursi Gelano terbanting di jendela kaca bersamaan dengan tubuhnya. Gelano jatuh ke lantai. Tonjokan Haris begitu kuat sampai-sampai meruntuhkan pertahanan Gelano. Haris menarik jas Gelano, menatapnya dengan mata berkilat penuh amarah. Kemudian tangannya kembali melayang dan—
Bugh!
“Sialan! b******k! Gue enggak punya temen b*****t kayak lo njing! Lo bukan suka tapi nafsu, sebelas dua belas sama hewan. Tingkah tinggi lo ini benar-benar topeng, b*****t!” murka Haris, menarik jas Gelano lalu memukulnya bertubi-tubi. Mood baiknya langsung anjlok, mengetahui kebenaran ini.
“Gue enggak sengaja. Gue lagi mabuk, Ris! Gue juga enggak mau! Bertahun-tahun gue cari keberadaan Gresia tapi gue enggak nemu. Gue mau perbaiki semuanya!” teriak Gelano menjelaskan.
“Seharusnya lo enggak begini, Lan. Gue kecewa berat sama lo,” nada suara Harus langsung berubah menjadi lemah. Wajahnya memerah, menahan amarah yang menggebu-gebu. Cengkeraman di jas Gelano mengendur dan akhirnya terlepas.
Gelano menangis menghadap tembok. Menghantam kepalan tangan ke dinding lalu berakhir menghantamkan kepalanya berkali-kali tanpa memedulikan apa yang akan terjadi pada kepalanya.
“Iya! Iya gue b******k! Gue mirip hewan! Gue b******n! Iya! Semua itu gue! Apa daya gue saat itu? Apa?! Gue enggak bisa apa-apa. Gue akui gue ini bodoh! Gue enggak sadar! Lebih baik gue mati aja sekalian!” Gelano kembali menghantamkan tubuhnya sendiri ke dinding. Haris mengusap wajahnya gusar, menahan tangisannya. Menghentikan tindakan Gelano yang bisa melukai dirinya sendiri atau memanggil malaikat maut.
“Berhenti g****k! Berhenti!”
Bukannya berhenti, Gelano semakin menghantam tubuhnya ke dinding. Manusia sepertinya memang tak pantas hidup.
“Berhenti! Istighfar!” Haris menarik tangan Gelano kuat, menjauhkan pria itu dari dinding. Tangan Gelano sudah berlumuran darah, wajahnya memar karena ulah Haris. Melihat Gelano seperti ini, menyadarkan dia kalau Gelano memang tidak sengaja melakukan itu. Cinta untuk Gresia masih terlihat, dan itu sangat besar.
“Gue enggak pantes hidup, Ris, bunuh gue sekarang juga,” lirih Gelano, menumpu tubuhnya di meja. Kepalanya tertunduk, menangis.
Haris memeluk Gelano, membiarkan Gelano menumpahkan air mata di dalam pelukannya. “Lo emang jahat, tapi lo masih pantas hidup Lan. Lo masih bisa perbaiki semuanya. Gue percaya kalau lo emang enggak sengaja, tapi ... gue tahu keluarganya Gresia. Violence is the best way, itu prinsip mereka.”
Gelano melepaskan pelukannya. “Gue tau, karena itu mereka buang Gresia. Daripada mencari jalan keluar secara baik-baik, mereka milih jalan pintas. Bisa aja mereka bunuh gue? Desak gue buat nikahin Gresia, dengan senang hati gue bakal nikahin Gresia karena gue cinta sama dia. Demi apapun gue cinta sama dia.”
“Dan lo korbanin orang lain, sedangkan lo sendiri masih cinta sama Gresia? Gue saranin lo cari Gresia dulu, jangan korbanin orang lain.”
“Bertahun-tahun gue cari dia, Ris. Gue gila-gilaan cari dia. Nyuruh banyak orang buat cari dia tapi enggak ada hasilnya sama sekali. Nyokap sedih liat gue kayak gini, jadi dia nyuruh gue nikah sama orang yang udah nyokap gue anggap sebagai anaknya. Gue ... gue pasrah, Ris. Gue cinta sama Gresia, tapi gue lebih cinta nyokap gue,” tutur Gelano, menutup wajahnya. Berusaha menyembunyikan air mata yang terus-menerus jatuh, membuatnya terlihat lemah di mata Haris.
“Saat Gresia ditemukan dan lo udah nikah sama wanita pilihan nyokap lo terus lo gimana?”
Gelano bergeming, dia tidak berpikir sampai sejauh ini.
“Kasih tahu gue, apa yang akan lo lakuin saat itu terjadi?” desak Haris.
“Gue ... gue juga bakal nikahin Gresia, kalau Gresia emang enggak mau dan dia milih lelaki lain, gue enggak masalah. Yang terpenting sekarang gue ketemu sama dia, lihat dia baik-baik aja dan minta maaf,” jawab Gelano ragu disambut tawa menggelegar dari Haris.
“Bastard! Jadi lo mau poligami? Are you okay, dude?” Haris menarik nafasnya kemudian mengembuskan. Berhadapan di situasi ini harus banyak-banyak bersabar. Wajah Gelano sudah bonyok, jangan sampai dia memukulinya lagi sampai wajah tampan itu akan menjadi buruk rupa. “Sial, kenapa gue harus punya temen bodoh kayak lo si?”
“Gue juga enggak mau ada di posisi ini! Gue berharap gue bisa ketemu Gresia sebelum gue nikah sama calon pilihan nyokap. Dengan begitu gue bisa ambil keputusan!”
“Gue harap banget, Gresia udah nikah sama orang lain. Cara buat nebus kesalahan lo Cuma dua, lihat Gresia nikah sama orang lain atau lo yang nikahin Gresia,” tekan Haris. Emosinya sudah bisa dia kendalikan.
“Gue harap begitu, tapi gue lebih berharap Gresia dalam keadaan baik-baik aja.”
“Kapan lo nikah sama calon pilihan nyokap?” tanya Haris.
“Dua Minggu lagi.”
“What?! Gila? Lo gila? Secepat itu? Seharusnya Lo undur, lo cari lagi Gresia. “
“Gue enggak bisa nolak permintaan nyokap gue, Ris. Tolong lo bantu tahu keberadaan Gresia. Gue mohon,” mohon Gelano, menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a.
Untuk pertama kalinya, seorang Gelano Ardeno Aditchandra memohon sampai seperti itu di depan Haris.
“Oke, gue bantu sampai ketemu. Waktu lo Cuma beberapa hari, setelah itu lo enggak bisa ngapa-ngapain. Tapi gue punya waktu lima bulan buat cari Gresia, karena sebelum lima bulan Gresia ketamu dan ternyata masih sendiri. Gue yang akan nikahin dia.”