JEBAKAN

1445 Words
Apa yang nampak di ruang public belum tentu yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi semua hanya manipulasi untuk membuat seseorang jatuh terperosok sangat dalam. Dalam hidup tidak mungkin semua berjalan satu arah, kadang ke kanan, kadang ke kiri, kadang berhenti dan kadang harus mengikuti arus. Kehidupan tidak pernah mudah ditebak dan diramalkan. Pagi yang cerah, sinar matahari menembus kaca kamar Hotel. Chen membuka mata. Kessy masih terlelap dipelukan Chen. Chen tersenyum dan memeluk Kessy lebih erat lagi. Chen merasa sangat bahagia, hari bersama Kessy tidak akan pernah bisa Chen lupakan. Chen mencium kening Kessy. Kessy menggeliat. Kessy memeluk Chen lebih erat lagi. Hari bukan hari libur, tapi Chen enggan untuk pergi ke Kantor. “Aku gak mau ke luar dari kamar, aku masih betah disini sama kamu. Kamu bisa gak perpanjang satu hari lagi? Yahhh… sehari lagi.” Chen marajuk dengan memeluk lebih erat. “Gak bisa sayang, aku harus pergi dan aku juga ada kerjaan. Aku mau bantu Papah ngurus bisnisnya, mau belajar aja sih intinya.” Kessy menolak Chen. “Kalau gitu ini untuk yang terakhir.” Chen meraba paha Kessy dengan senyuman nakal. Chen memberikan sentuhan yang tidak bisa Kessy tolak. Pagi ini Chen dan Kessy menghabiskan waktu bersama lagi sebelum pergi meninggalkan Hotel. Chen tidak menaruh curiga pada Kessy, Chen menganggap malam yang dilewati adalah malam untuk menyatukan cinta bukan untuk mencuri data perusahaan. Kessy juga sama, Kessy memang suka dan cinta pada Chen tapi ada yang lebih Kessy sukai yaitu harta yang tidak dibagi dua. Kessy tidak suka menunggu di transfer oleh Chen, Kessy ingin punya duit sendiri, perusahaan sendiri dan menikmati semuanya sendiri. *** Chen tidak menyangka ketika meninggalkan kantor wartawan sudah menunggu di bawah dekat parkiran. Berita Chen korupsi dana anggaran public sudah menyebar kesana kemari bahkan saat status Chen belum ditetapkan menjadi tersangka. Chen tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan satu persatu. Semua pertanyaan wartaman menyudutkan Chen tapi Chen melewatkan begitu saja dengan bungkam dan memilih masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Chen ditemani oleh Walda. “Perkembangan kasusnya seperti apa Walda? Kenapa banyak sekali media? Apa yang sudah saya lakukan? Tuduhan apa yang diberikan kepada saya, bagaimana media bisa tahu kalau hari ini saya dipanggil untuk dimintai keterangan?” Chen bertanya pada Walda dengan nada yang datar. Chen sadar sebagai seorang pengusaha banyak sekali orang yang ingin menjatuhkan. Tapi Chen masih belum tahu dari mana orang bisa mencari celah untuk menjatuhkan Chen. “Saya juga belum dapat data banyak Pak, tim sedang mencari tahu. Tapi dari berita yang beredar kalau Bapak menggelapkan anggaran pembangunan proyek dan totalnya sampai milyaran. Ditambah ada anak buah Bapak juga yang tertangkap tangan saat menyogok salah satu pejabat.” Walda memberikan penjelasan kepada Chen. “Milyaran? Hanya MIlyaran? Kamu tahu kan total aset saya berapa dari bisnis yang saya jalani selama ini. Bahkan aset yang saya punya ada di berbagai negara. Bukan hanya di Indonesia, jika ditotalkan bisa mencapai beberapa trillion. Jadi gak mungkin saya korupsi dana sekecil itu. Kalau masalah karyawan saya yang kena OTT, memangnya siapa?” Chen bingung. Chen tidak pernah menyuruh karyawan untuk menyogok pejabat atas nama pribadi dan perusahaan. “Taufik san Basir Pak, Polisi sudah bilang kalau mereka disuruh oleh Bapak mengantarkan uang sogokan.” Walda sudah mengkonfirmasi terlebih dahulu semua informasi yang berkaitan dengan Chen. “Taufik dan Basir? Saya mengenal mereka? Apakah mereka berdua orang yang penting di perusahaan? Saya merasa tidak mengenal mereka dan tidak tahu ada karyawan dengan nama itu. Saya hanya kenal dengan jajaran inti saja.” Chen berpikir keras, semakin dipikirkan Chen semakin tidak mengerti. Walda menarik nafas. Walda kenal baik Chen. Walda sudah mendapingi Chen sangat lama. Walda yakin bahwa Chen tidak mungkin melakukan semua yang dituduhkan oleh penyidik. “Gini Pak, saya mencium bau bau penjebakan di kasus Bapak. Saya kurang tahu, persisnya siapa tapi dari data yang didapat dan dikirim kan oleh penyidik tadi bahwa saya bisa pastikan kalau orang yang menjebak Bapak sudah pasti orang dekat.” Walda memberitahu Chen. ‘Saya rasa begitu, apakah kali ini semua akan berlalu dengan mudah Walda?” Chen ingin kata penenang dari Walda tapi Walda justru menarik nafas sangat panjang. “Kali ini akan tidak mudah Pak, mereka punya bukti lengkap. Nanti saat ditanya oleh penyidik Bapak jujur saja. Jika Bapak tidak tahu maka jawab saja tidak tahu. Bapak jawab dengan tegas. Saya dan salah satu pengacara senior akan mendampingi Bapak.” Chen mengangguk. Chen melihat HP dan ingin sekali memberikan kabar untuk Nenek dan Kakek. Chen mengirim pesan di grup WA keluarga yang isinya hanya ada Nenek, Kakek dan Chen. Semua akan baik-baik saja, cucu Nenek dan Kakek seorang Midas. Jadi jangan terlalu khawatir, makan yang banyak istirahat yang cukup. Jangan banyak pikiran, hanya doakan saja cucumu ini. Chen juga membuka layar pesan Kessy, Chen sama sekali tidak menuliskan apapun. Chen merasa bersalah karena Kessy juga pasti akan tersorot oleh Media. Media tahu Kessy orang yang paling dekat dengan Chen. Tentu saja orang yang akan banyak dimintai keterangan adalah Kessy. “Bapak hubungi semua orang yang penting saat ini sebelum Bapak kehilangan hak menggunakan HP.” Walda memberikan saran kepada Chen. “Gak ada yang lebih penting dari Nenek dan Kakek, Walda. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada saya, tolong jaga mereka. Semua aset saya kamu pegang, semua surat kuasa saya kamu pegang. Semua harta tersembunyi saya Cuma kamu yang tahu, tolong amankan semuanya sampai tidak ada orang yang tahu sama sekali. Tapi ingat berikan setiap bulannya hak untuk Nenek dan Kakek.” “Saya mengerti Pak, saya akan berusaha mengerjakan semuanya dengan sangat amanah.” Walda merasa terharu, kali ini firasat Walda dan Chen kurang baik. Untuk urusan dengan pemerintah selalu tidak akan pernah mudah. Chen selalu menang dalam beberapa kasus hukum sengketa dengan pengusaha lain tapi dengan pemerintahan Chen tidak bisa menjamin. “Dengar Walda, siapapun tidak boleh ada yang tahu aset tersembunyi saya termasuk Kessy. Jika sesuatu terjadi kamu jelaskan saja aset perusahaan init, perusahaan saya yang lain jangan pernah kamu buka. Saya hanya bisa mengandalkan kamu sekarang. Biarkan semua orang berpikir bahwa satu-satunya yang berharga yang saya miliki hanya kontruksi.” “Semua akan baik-baik saja Pak. Saya pastikan lagi, bahwa harta bapak semua aman di Bank dunia. Tidak ada yang bisa mengaksesnya kecuali Bapak sendiri dan orang yang Bapak berikan kuasa yaitu Kakek dan Nenek.” Walda memberikan jaminan kembali. Perbincangan di mobil sudah akan berakhir. Chen dan Walda sudah akan sampai di kantor Polda. Baru memasuki gerbang Chen sudah melihat banyak wartawan. Chen menarik nafas panjang, Chen menenangkan diri dan bersiap menghadapi wartaman yang sudah menunggu. Turun dari mobil Chen diserbu oleh wartawan. Chen hanya diam saja dan berusaha maju untuk masuk ke Polda. Jelas wartawan akan ada karena Chen salah satu pembisnis muda yang menginspirasi. Chen sering sekali tampil di ruang public untuk menjadi pembicara dalam bisnis atau menjadi bintang tamu di TV. Chen dikenal sebagai sosok muda yang berperstasi, tentu orang akan sangat senang menggoreng berita tentang Chen. Chen berjalan lurus, Walda dan tim hukum melindungi Chen. Seperti perintah Walda salah satu orang dari tim memberikan keterangan sementara Chen sudah masuk ke dalam. Wartawan mengerumuni orang suruhan Walda. Orang suruhan Walda menjawab satu persatau pertanyaan wartawan. "Jadi intinya gini ya, Bapak Chen datang memenuhi panggilan sebagai saksi bukan sebagai tersangka. Untuk sementara itu yang bisa saya sampaikan, terima kasih buat semuanya, kalau ada kabar selanjutnya akan kami kabari lagi. Saya permisi ke dalam untuk mendampingi pemeriksaan." Semua masih berjalan dengan normal. Kessy sama sekali tidak menghubungi Chen. Chen sengaja tidak menghubungi lebih dulu karena takut Kessy merasa terbebani. Chen ingin menunggu Kessy yang lebih dulu menanyakan kabar. Tapi sayangnya, sampai saat HP Chen akan dimatikan Kessy tidak mengirim pesan meskipun satu kata. Pesan yang Chen dapat semuanya dari Risa. Risa sangat khawatir dengan kondisi Chen. "Risa." Chen menarik nafas dan memanggil nama Risa. Walda melihat ke arah Chen dan tidak sengaja melihat ke layar HP Chen. Walda senang karena akhirnya ada nama wanita lain yang Chen sebutkan selain Kessy. Walda sangat tidak setuju Chen dekat dengan Kessy. Walda saat bergabung dengan perusahaan Chen satu bulan sebelum kedua orang tua Chen meninggal. Walda sangat tahu bagaimana tabiat keluarga Kessy. Bahkan Walda menaruh curiga bahwa kecelakaan yang terjadi bukan murni kecelakaan tapi karena ada campur tangan orang lain. Beberapa tahun lalau Chen meminta Ayah Kessy untuk pensiun supaya masih dihormati. Ayah Kessy sering sekali menjual informasi ke perusahaan lain dan banyak melakukan korupsi. Ayah Kessy juga selalu mengambil keputusan tanpa sepengetahuan Chen. Chen masih punya hati tidak memecat Ayah Kessy secara tidak hormat tapi meminta untuk pensiun. Tapi yang Chen lakukan justru membuat keluarga Kessy merasa sangat marah. Chen diminta untuk mematikan HP. Saat HP Chen mati semua dunia yang terhubung menjadi terputus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD