bc

Obses Murid dan Dosa Manis Bu Guru

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
kickass heroine
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
highschool
office/work place
childhood crush
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Hidup tenang Naya sebagai guru PNS teladan berubah 180 derajat setelah ia mengalami mimpi basah tentang malam pertama yang begitu liar. Sialnya, pria bermata biru di mimpi panasnya itu mendadak jadi nyata dalam wujud Mihan—murid baru berusia 18 tahun yang terobsesi padanya.

chap-preview
Free preview
SATU
"Sayang, boleh saya masuki sekarang?" Suara berat itu membuat Naya mendorong d**a bidang pria di atasnya. "Jangan dulu." "Kenapa, hm? Kamu takut?" Naya mengangguk kecil, pipinya merona. "Ini pertama buat aku," bisiknya. Pria itu tersenyum puas—menjadi yang pertama. Sunyinya kamar pengantin mereka hingga Naya mampu merasakan debaran jantungnya bertalu sangat kencang saat bertatapan langsung dengan pria bermata biru di atasnya. Pria itu menatap wajah dan lekuk tubuhnya tanpa kedip, tampak sangat tidak sabaran ingin memakannya. "Janji bakalan pelan." Pria itu merayu di telinganya. Sesekali ia menggigit kecil daun telinga Naya, membuat wanitanya melenguh halus. Dengan satu gerakan cepat, pria itu merengkuh tubuh Naya ke dalam dekapannya, tanpa izin melumat bibir tipis sang wanita. Naya pasrah, mencengkeram bahu tegap pria itu kuat-kuat sampai tautan bibir mereka terlepas dengan perlahan. Pria itu menatap lurus ke mata sayu Naya di bawahnya. Dia berbisik lagi, "Saya mau kamu sekarang." Naya menggigit bibir bawahnya, menatap mata biru pria itu. " Tapi...." "Saya akan bermain dengan pelan," potong pria itu di telinga Naya. Membuat sang empu kalah talak. "Kita menikah tentu untuk ini." Pria itu langsung mengambil ancang-ancang di atas tubuh Naya. Dengan sentuhan perlahan tangan besarnya mendorong hingga kedua kaki sang wanita melebar pasrah. Ia bersiap memajukkan tubuhnya, sementara wanita di bawahnya bersiap menyambut miliknya masuk untuk penyatuan mereka. Mata Naya memejam, sepenuhnya siap— KRIIIIIIIINGGGGG! Naya langsung melompat tegak di atas kasurnya saat bunyi alarm memekakkan telinga. Napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya dipenuhi peluh, sementara jantungnya masih bertalu dengan kecepatan ekstrem. Naya mengerang frustrasi, langsung mematikan alarm sialan itu dengan sekali sentakan kasar. Dia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, memegangi dadanya yang naik-turun. Sentuhan hangat, aroma parfum maskulin, dan tatapan mata biru pria tadi masih terasa begitu nyata di kulit dan benaknya. Seketika, senyum konyol terukir di wajah Naya. Dia menggigit bibir bawahnya, menutupi wajahnya yang mendadak memanas dengan bantal sambil menendang-nendangkan kakinya ke kasur seperti remaja yang sedang kasmaran. "Gila... ganteng banget cowok di mimpi gue!" gumam Naya dengan mata berbinar-binar. Dia mengusap dadanya yang masih berdebar kencang. "Sebel banget deh, kenapa cuma mimpi doang, sih?! Padahal dikit lagi mau masuk!" Arghh! Naya merengut kecewa, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang penuh harap. "Di mana coba gue bisa dapet suami spek dewa kayak gitu di dunia nyata? Huhuhu..." Naya menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih berdisko. Sambil menguncir rambutnya yang acak-acakan, dia melirik santai ke arah jam dinding kamarnya. Detik itu juga, binar kasmaran di matanya lenyap seketika. Matanya membulat sempurna sampai rasanya mau keluar dari kelopak. 06.15. "Sial, mampus gue kesiangan!" teriaknya panik setengah mati. Naya melempar bantalnya sembarang arah, melompat dari tempat tidur seperti kesurupan menuju kamar mandi, berusaha keras membilas sisa-sisa mimpi panas yang berujung tragis itu dari kepalanya. *** Naya berlari setengah mati menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi karena bel masuk baru saja berbunyi. Sambil membetulkan letak tas kerja dan merapikan rok span hitamnya yang agak berantakan, dia berkomat-kamit kesal. "Aduh, mampus deh gue. Bisa-biasanya telat gara-gara mimpi gila itu!" gerutunya pelan. Dia berbelok cepat dan langsung mendorong pintu ruang guru dengan napas terengah-engah. Ketika pintu terbuka, Naya mendadak mengerem langkahnya. Matanya membulat sempurna. Dalam ruangan, tepat di depan meja kerjanya, berdiri Pak Prabu—seorang Wakil Kepala Sekolah yang menyebalkan. Namun, kali ini bukan pria tua itu yang membuat jantung Naya mendadak berhenti berdetak. Di sebelah Pak Prabu, berdiri seorang cowok jangkung berseragam blue sky-hitam dengan seragam panjang yang tergulung hingga siku dan dasi garis-garis pelengkap atribut seragamnya. Cowok itu menoleh lambat saat pintu terbuka. Rambut pirang gelapnya tersapu angin masuk, postur tubuh tegap, gagah, dan sepasang mata biru jernih itu langsung mengunci pandangan Naya. Cowok itu menarik sudut bibirnya, melemparkan senyum tipis yang teramat familier. Astaga, Tuhan! Lutut Naya mendadak lemas. Otaknya error total karena visual cowok super tampan di depannya terproyeksi pas dengan pria yang menindihnya di kasur pengantin tadi subuh. Keseimbangannya runtuh. Naya limbung dan hampir jatuh terjungkal ke belakang. Gerakannya cepat. Tangan kekar itu dengan sigap mencengkeram lengan sang guru, sementara tangan satunya lagi menyusup ke pinggangnya, menahan tubuh wanita dengan nametag Naya Tishea Samantha itu dari belakang dalam sekali hentakan d**a yang kokoh. Jarak keduanya kini terkikis habis. Aroma parfum maskulin yang tajam, bercampur aroma mint yang segar, langsung menyerbu indra penciuman Naya. "Bau ini kan..." Naya bergumam dalam hati. Aroma yang sama persis dengan yang dia hirup di mimpinya. Naya membeku dalam dekapan hangat cowok itu. Dekapannya terasa begitu pas, seolah tubuh mereka memang diciptakan untuk saling mendekap. Memori Naya otomatis memutar ulang suara berat di kasur: 'Sayang, boleh saya masuki sekarang?' Bulu kuduk Naya seketika meremang hebat. "Ibu Naya tidak apa-apa?" Suara berat di dekat daun telinga Naya seketika memecah lamunan kotornya. Naya tersentak menyadari posisi mereka yang terlalu intim untuk ukuran guru dan murid. Naya langsung menarik diri menjauh dengan panik, berdiri tegak, dan merapikan seragamnya yang kusut dengan gerakan canggung. Wajahnya sudah memanas hebat. "Ah, iya. Nggak apa-apa," jawabnya gugup. "Ibu hampir saja jatuh. Ibu yakin baik-baik saja?" tanya cowok blasteran itu. Jari-jemarinya kemudian menyugar rambut ke belakang, menahan beberapa anak rambut yang sempat jatuh ke dahinya. Sorot mata tajam miliknya menatap lekat tapi dengan kelembutan, memastikan wanita di hadapannya. Gila, ganteng banget dia! Tapi cepat Naya mengubris pikirannya. "Saya gapapa. Cuma... agak pusing tadi," kilahnya cepat, berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Pak Prabu berdehem, memecah kecanggungan yang merayap di antara guru dan murid pindahan itu. "Nah, kebetulan Bu Naya sudah datang walaupun terlambat!" kata terakhirnya sengaja ditekan untuk menyindir guru muda itu. Pak Prabu lanjut bicara, "Kita kedangan murid baru. Ini Mihan, murid pindahan dari luar negeri. Mulai hari ini dia akan masuk di kelas Ibu, XII-B. Jangan khawatir, dia bisa bahasa Indonesia dengan sangat baik. Dia tidak akan merepotkanmu." "Ke-kelas saya?" potong Naya spontan. Mihan menoleh, melirik wanita yang tampaknya tak senang dengannya. "Kenapa Bu, keberatan menerima saya?" Naya buru-buru mengalihkan pandangan, meremas jemarinya sendiri menyembunyikan getaran gugup dari lirikan anak itu. "T-tentu saja tidak. Kenapa saya harus keberatan?" jawab Naya, berusaha keras menahan kegugupannya. Tak sempat Mihan memberi jawaban, Pak Prabu lebih dulu buka suara. "Bagus kalau begitu. Ibu Naya akan jadi wali kelasnya, tolong urus berkasnya dan bawa dia ke kelas, ya. Saya harus ke ruang kepala sekolah dulu." "Eh, ta-tapi, Pak?" Naya mau protes tapi Pak Prabu mengangkat tangan, memberi isyarat kalau keputusannya sudah final. Pak Prabu menepuk bahu Mihan sekali sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang guru, meninggalkan Naya dan Mihan dalam keheningan yang menyesakkan untuk sang guru. Naya cemberut, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Ih, Pak Prabu menyebalkan banget sih! Nggak peka banget kalau gue nggak nyaman anak baru itu masuk kelas gue! Pak Prabu tua bangka jelek! Nyebelin! Gerutunya dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa di depan mejanya, ada sosok yang sedari tadi berdiri, menonton lekat wajah cemberut yang dipasang oleh gadis itu. Saat Naya mendongak, mendapati muridnya di depannya, geraknya seketika kaku. Sial! Gue lupa lagi gue nggak sendirian di sini. Ihh, malu banget sumpah, dia pasti ngeliat muka aneh gue! Astaga Nayaaa! "Saya boleh duduk?" tanya cowok itu setelah lama diam memberikan waktu untuk sang guru berdumel dalam hati. Dengan gerakan kaku Naya memberi angukan. "Terima kasih, Bu." Kedua sudut Mihan terangkat lalu tangannya menarik kursi tepat di depan meja Naya dan duduk di sana. Jarak mereka hanya terpisah meja kayu tipis. Naya mencoba fokus dan bersikap profesional, membuka map berkas di hadapannya. Namun, tangannya yang basah oleh keringat dingin terus gemetaran. Saat Naya sedang membolak-balik kertas dengan gugup, Mihan tiba-tiba condong ke depan hingga Naya bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik cowok itu. "Perlu bantuan, Bu?" bisik Mihan lembut. Tapi ada binar usil di matanya. "Tangan Ibu kelihatan... gemetar." Naya tersentak, cepat-cepat menarik tangannya ke bawah meja dan menyembunyikannya di atas paha. "N-nggak usah! Saya baik-baik aja, cuma belum sempat sarapan," dustanya ketus, mencoba mempertahankan wibawa sebagai guru. "Saya juga. Mau bareng?" Mata Naya melotot mendengar ucapan Mihan yang lebih terdengar sedang menggodanya daripada peduli kesehatannya. "Saya bercanda." Mihan cepat menarik kata-katanya melihat wajah seram sang guru, meski lebih terlihat lucu daripada galak. Setelahnya, mata Naya justru beralih pada bibir Mihan. Saat cowok itu membasahi bibirnya sendiri dengan ujung lidah, Naya langsung teringat sensasi pagutan panas saat mereka berciuman di mimpi. Naya menelan ludah dengan susah payah, merutuki pikirannya yang mendadak kotor. Tidak, kalau begini terus gue bisa gila! "Mari ke kelas," ujar Naya yang sudah tidak tahan berlama-lama di sana. Dia berdiri terburu-buru dan berjalan mendahului. Selama berjalan menyusuri koridor, pikiran Naya benar-benar kacau. Dia melangkah lebar-lebar untuk memberi jarak. Gila, ini nggak masuk akal banget! Kenapa pria yang jadi suami gue di mimpi malah berwujud murid gue sendiri?! Kenapa nggak jadi guru aja sih?! batinnya menjerit frustrasi. Tapi kebetulan banget begini. Apa cuma bunga tidur biasa, atau jangan-jangan petanda jodoh dari Tuhan? Tapi masa jodoh gue bocah SMA sih?! Umur dia pasti baru delapan belas tahun! Sementara gue dua puluh lima tahun, ya kali gue nikahnya sama murid sendiri! Nggak boleh! Dia murid gue dan gue wali kelasnya! Lupakan mimpi gila itu dan fokus aja ngajar kayak biasanya, Naya! Naya berjalan sambil meremas map di dadanya. Menekankan diri tidak akan baper hanya karena mimpi gila itu! Lupakan Naya, Lupakan!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
753.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
986.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.6K
bc

Not just, the Beta

read
350.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook