Bulan Madu

463 Words
_HIDDEN_ "Mr Edgard, tunggu!" Alia sedikit berlari, cukup kewalahan menghadapi Mr Edgard, pria paruh baya itu baru saja memghentikan pekerjaan Alia. Mr Edgard benar, tak ada yang mau di rawat oleh Alia, mereka memandang Alia sebelah mata, sama sekali tak memberi kesempatan Alia menolong. Semua terasa sia-sia bahkan setelah hampir dua minggu berlalu. Mr Edgard berhenti, sekarang berhadapan dengan Alia "Saya menyelamatkan waktu kamu yang terbuang percuma Alia." Tegas Mr Edgard "Kamu memang cerdas, saya tau itu. Tapi kalau sejak awal saja tidak ada yang mau ditangani oleh kamu, tidak ada artinya kamu di rumah sakit saya!" Mr Edgard bukanlah seseorang yang mau buang-buang waktu. Alia diam, menelan ludah kasar "Tapi waktu saya mas-" Mr Edgard mengangkat tangannya didepan Alia, menghentikan ucapan Alia yang sudah menguap di udara "Maaf, saya tidak bisa melakukan apapun meski saya pemilik rumah sakit ini. Andai kamu lepas cadar itu saya yakin kamu ak-" "Maaf Mr Edgard, saya berhenti. Terimakasih untuk waktunya." Alia menunduk memberi hormat, Mr Edgard tercenung, sungguh teguh pendirian gadis itu, padahal kalau saja Alia melepas cadarnya, dia akan sangat berhasil di dunia medis. Sejak dulu Mr Edgard berteman dengan Mr Paul yang selalu merekomendasikan mahasiswa nya yang berasal dari Indonesia kepada Mr Edgard, Mr Paul tidak pernah salah, mereka yang direkomendasikan selalu berhasil dalam karir kedokteran mereka. Tapi Alia, hanya sebuah cadar, karirnya bisa sangat terancam. Alia masuk ke dalam lift, dadanya sesak, hal ini begitu rumit dan berat bagi Alia, rasa-rasanya Alia tidak sanggup, mimpinya, karirnya, bahkan asmaranya semuanya hampir tidak ada yang berjalan lancar, gadis itu bersandar di dinding lift, didepannya pantulan dirinya yang baru terlihat, jika Alia putar penampilannya beberapa tahun lalu, penampilannya hari ini tidak pernah ada dalam benak Alia, cadar dan khimar ini. Alia memijit pelipisnya, dia ingin menangis rasanya, selama di rumah sakit memang benar tidak ada yang mau di tangani oleh Alia, mereka selalu menolak, bahkan menatap sinis Alia, tidak percaya, curiga. Alia tidak mengerti memang apa yang salah, Alia ingin membantu, alasan satu-satunya Alia ingin menjadi dokter adalah karena Alia mencintai pekerjaanya, ingin membantu orang sakit untuk menjadi sumber pahalanya, secuilpun tak ada niat dalam dirinya untuk menyelakai orang lain. Lalu kenapa, Alia yang tak melakukan kesalahan apapun rasanya menjadi orang paling bersalah dimuka bumi ini, Alia bukan gadis kuat, Alia juga rapuh. "Astagfirullah." Alia menutup wajahnya tak kuasa menahan tangis atas kekecewaan yang begitu besar hari ini. Ting. Alia menghapus airmatanya yang berjatuhan dengan cepat ketika ada yang masuk kedalam lift, Alia segera keluar rumah sakit, menghentikan sebuah taxi. Alia menyebutkan alamat kantor Rafa, namun urung, fikirnya Rafa terlalu berjarak dengan Alia, gadis itu tidak ingin menangis dan tidak akan nyaman bercerita pada Rafa, lebih baik Alia ke rumah langsung, menangis seorang diri seperti biasa. Seperti semua yang pernah Alia lalui. Dia cuma butuh sendiri. Alia menutup pintu rumah dengan pelan, Rafa tidak ada di rumah, tentu saja karena Rafa sedang bekerja. Pria berdarah Turki-Indonesia itu pasti masih sibuk. Alia melepas cadarnya, duduk diujung ranjang, memandang wajahnya yang menyedihkan di cermin. Alia lalu melepas khimarnya, gadis itu memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya lalu menangis sesenggukan. Alia tidak bermaksud seputus asa ini, tapi alasannya tidak dipekerjakan sebagai dokter di rumah sakit Mr Edgard cukup membuat Alia merasa dunia tidak adil. Alia bukanlah perempuan paling sabar, bukanlah perempuan kuat, Alia hanya gadis yang masih berusaha mengikuti ajaran Allah sebisanya. "Alia, kamu sud-" Rafa berdiri mematung di depan pintu, dimatanya terlihat rambut Alia yang tergerai indah berwarna coklat, Rafa langsung berbalik pantulan wajah Alia samar terlihat di cermin, rasa tak asing itu kembali menyeruak. "Mas Rafa." Alia berdiri, terkejut. Gadis itu menyambar khimarnya, lalu kembali memasang cadarnya. "Ma-mas Rafa pulang cepat hari ini?" "Kamu sudah pakai cadar?" "Eh iya mas." Rafa meredam jantungnya yang berdegup, tidak tahu kenapa. Rafa kemudian berbalik, langsung menatap mata Alia yang memerah "Kamu menangis." Rafa mendekat, kini berdiri berhadapan dengan Alia. Alia menunduk, tidak ingin terlihat menyedihkan. "Al, kamu menangis?" Rafa bertanya sekali lagi, lebih lembut. "Maaf mas." Alia masih menunduk, Rafa menghela nafas pelan. "Jangan minta maaf kalau tidak salah Al, menangislah kalau itu buat kamu tenang. Kalau kamu tidak nyaman menangis didepanku. Aku bisa keluar." Rafa mengusap pucuk kepala Alia pelan, lalu benar-benar memilih keluar, benar kata Alia, Rafa mungkin bisa membaca fikirannya, Alia mengunci pintu, tubuhnya lemas duduk bersandar di pintu, Alia malu pada Rafa, lagi, Alia memeluk lutunya kemudian menangis lagi hingga lelah. _HIDDEN_ Rafa bingung harus melakukan apa, ia melihat Alia menangis tadi, ingin bertanya kenapa tapi entah kenapa merasa tak berhak, ingin menenangkan tapi Alia terdengar mengunci pintu tidak ingin diganggu, Rafa duduk di sofa, hanya diam disana. Dia pulang cepat hari ini, tidak ada agenda lain selain rapat pagi tadi, perusahaan yang ditinggalkan almarhum ayahnya adalah perusahaan real estate. Perusahaan itu cukup besar, mengingat sudah lama berdiri. "Assalamua'laikum Raf!" "Bunda!" Fatma berdiri di tengah pintu, dibelakangnya ada Sarah yang menenteng sebuah kotak kue. Rafa bergegas menyalimi keduanya. Fatma meletakan banyak sekali makanan di meja, sepertinya memang sudah niat berkunjung. "Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" Fatma dan Sarah tersenyum, entah sejak kapan mereka akrab. "Kejutan namanya." Jawab Sarah "Mana Alia?" Bagaiman Rafa menjawabnya, Alia sedang menangis di kamar, waktunya sungguh tidak tepat, Rafa bahkan tidak tau alasan Alia menangis. Rafa berdehem "Lagi di atas Ma, baru pulang, kayaknya lagi ganti baju. Mau Rafa panggilkan?" Sarah mengangguk, dia rindu sekali pada Alia, menantunya begitu sopan, tutur katanya pun begitu lembut. Ah Sarah yakin Alia pasti bahagia. "Dia sopan sekali." Ujar Sarah ketika Rafa berjalan ke lantai atas. "Memang begitu, dia anak yatim piatu, tapi didikan orangtuanya kelihatannya baik sekali." Ini kamar Rafa, tapi entah bagaimana rasa takut mengetuk kamar sendiri itu ada, konyol sekali. "Al, boleh aku masuk. Di luar ada Mama kamu dan Bunda." Rafa menanti, beberapa menit kemudian pintu dibuka, Alia sepertinya habis mencuci muka, tapi matanya yang sedikit memerah tidak bisa disembunyikan. "Kok bisa Mas?" "Kejutan katanya." Alia gugup "Aku gak kelihatan habis nangis kan mas?" "Merah, lebih baik temui dulu, kasian sudah jauh-jauh. Mama kamu sepertinya kangen." Alia mengangguk, keduanya menuruni tangga, Sarah menyambut keduanya dengan heboh "Ini dia pengantin baru kita." Alia tertawa, gadis itu sedikit berlari memeluk sang Mama. "Al kangen Mama." "Al, janga ngerengek begitu. Malu, kamu sudah nikah." Alia berdecak"Maaa." Sarah terkekeh, begitupun Fatma dan Rafa. Mata Sarah cukup tajam untuk melihat bahwa Alia habis menangis, senyum Sarah turun. "Mama bawakan kue kesukaan kamu," Fatma sudah mulai melesat ke dapur, mulai memanaskan makanan yang di bawa "Raf bantu Bunda dong, sepertinya Alia masih kangen sama mamanya." "Oke Bun." Sarah tersenyum, Sarah duduk di sofa yang cukup jauh dari meja makan, Sarah menatap lamat Alia yang duduk didepannya "Dia nyakitin kamu Al?" Alia menatap Mamanya, menggeleng cepat "Enggak Ma." "Kamu habis nangis kan?" Alia diam, "Tapi bukan karena Mas Rafa." Sarah memeluk Alia erat "Kasih tau Mama kalau Rafa bikin kamu nangis." Alia tersenyum meraih tangan Sarah "Dia baik banget Ma." Alia tidak mau mengumbar hubungannya dengan Rafa yang memang rumit, cukup Sarah tau kalau Rafa sangat baik. "Kamu buat nangis Alia kan." Tuduh Fatma pada Rafa yang fokus membuka tuperware. "Nuduh aja Bunda. Mana ada. Rafa juga enggak tau kenapa Alia nangis. Pulang-pulang sudah gitu." Fatma memukul bahu Rafa "Tau gitu kenapa kamu tinggal, bukannya ditenangin." "Dia masih malu buat nangis didepan Rafa Bundaaa." "Halah," "Serius loh." Kekeuh Rafa. Fatma memutar bola mata malas, kalau begini Rafa pasrah, dasar Fatma. Mereka sudah selesai makan malam, sekarang Rafa dan Alia mengantar Sarah dan Fatma ke mobil mereka, Fatma akan menginap di butik sedangkan Sarah sudah dijemput sopirnya untuk pulang. "Mama sama Papa ada hadiah buat kalian." "Jadi Papa bilang kalian boleh pilih mau bulan madu ke manaaa aja. Nanti Papa yang siapkan, tidak boleh di tolak, ini hadiah pernikahan kalian." "Bulan madu!" Rafa dan Alia membeo, Sarah dan Fatma terkekeh "Sok kompak deh kalian, terima aja, lagian kalian kan belum bulan madu, enggak boleh menolak loh." "Bener, yasudah kalian fikirkan saja mau kemana, nanti kabarin mama. Di tunggu yah." Kedua perempuan itu masuk kedalam mobil masing-masing, meninggalkan kecanggungan bagi Alia dan Rafa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD