Part 14

1236 Words
Cukup lama Azizah terisak di samping Cahaya. Entahlah, dia hanya ingin menangis saat ini. Bahkan Azizah melupakan kelasnya hari ini yang masih berlangsung. Namun, perasaannya sedang sendu membuat Azizah hanya ingin menangis saja. "Dulu, Cahaya nggak punya teman main bahkan sampai sekarang. Teman-teman Cahaya nggak mau berteman sama Cahaya karena Cahaya buta. Cahaya nggak bisa lihat dan mereka bilang kalau Cahaya nggak asik. Cahaya sedih banget karena nggak ada yang mau temenan sama Cahaya. Cahaya nggak bisa lihat ekspresi wajah mereka. Cahaya nggak tahu wajah mereka seperti apa. Karena nggak ada yang mau temenan sama Cahaya, Cahaya ngerasa kesepian, Kak. Setiap hari Cahaya selalu main sendiri di rumah dan menghapalkan Al-Qur'an. Setiap kali Cahaya ngerasa kesepian pengin punya temen, Umi selalu bilang kalau Cahaya nggak pernah sendirian. Allah selalu ada untuk Cahaya. Allah selalu temenin Cahaya di saat suka maupun duka. Di saat semua orang meninggalkan Cahaya, di saat semua orang nggak mau berteman sama Cahaya, tapi ada Allah yang selalu ada untum Cahaya." Cahaya tersenyum penuh arti. "Umi yang selalu bilang kayak gitu sama Cahaya. Ketika Cahaya sadar kalau Allah selalu bersama Cahaya, di saat itulah Cahaya nggak pernah ngerasa kesepian lagi." Di usianya yang masih delapan tahun, jarang ada anak yang bisa berpikir seperti Cahaya. Di balik kekurangannya, Cahaya memiliki kelebihan yang luar biasa. Selain seorang penghapal Al-Qur'an, Cahaya juga anak yang pintar dan baik. Cahaya selalu bisa berpikir positif dengan baik melebihi cara berpikir anak remaja pada umumnya. Azizah pikir mungkin itu adalah bagian dari cara Maryam mendidik dan membesarkan Cahaya seorang diri. Siapa pun yang melihat Cahaya pasti akan terasa menenangkan hanya dengan melihat wajahnya. Apalagi sampai mendengar suaranya ketika mengaji. Azizah tidak tahu kapan Cahaya akan merasa sedih karena yang selalu dilihatnya adalah Cahaya yang ceria. Cahaya yang murah senyum ketika ada orang yang menyapanya. Cahaya yang sabar. Bahkan Azizah saja tidak yakin bisa seperti Cahaya di usianya yang lebih tua. "Cahaya anak yang baik." ujar Azizah tersenyum. "Makasih ya, Cahaya." "Makasih untuk apa, Kak?" "Aku cuma mau bilang makasih aja. Aku juga mau bilang kalau suara kamu lagi ngaji itu indah banget. Aku nggak tahu kenapa rasanya menenangkan aja ngobrol sama kamu, Cahaya." ujar Azizah yang langsung dibalas senyuman oleh Cahaya. "Makasih juga, Kak Azizah." "Kalau gitu, aku balik ke kelas dulu, ya, Cahaya. Nanti kita ngobrol lagi." Azizah berdiri dan melambaikan tangannya kepada Cahaya ketika anak kecil itu melambaikan tangannya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." *** Sedari tadi Humaira mondar-mandir di depan pintu kantor pesantren. Wajahnya terlihat gelisah. Humaira hendak mengetuk pintu, tetapi dia urungkan. Humaira memejamkan mata, menghela napas gusar. Perasaannya benar-benar tidak keruan. Bahkan di saat jam pelajaran tadi pun rasanya Humaira tidak fokus. Ketika Humaira hendak berbalik, pintu ruangan terbuka menampilkan Maryam yang baru saja keluar. Wajah Maryam terkejut mendapati Humaira berada di depan ruangannya. "Humaira?" Humaira tak kalah terkejutnya menyadari kehadiran Maryam yang membuka pintu. Dia hendak pergi, tapi sudah terlanjur ketahuan oleh Maryam. "Assalamualaikum, Umi." Humaira mencium punggung tangan Maryam. "Waalaikumsalam." balas Maryam menatap Humaira yang terlihat gelisah. "Humaira ada apa? Ada perlu sama Umi?" tanya Maryam membuat Humaira terdiam beberapa saat. Dia bingung bagaimana harus mengatakannya. Namun, sedari tadi perasaannya terus gelisah. "Uhm, Umi ..." Humaira menunduk, menatap ujung sepatunya. "Humaira boleh nggak minta izin untuk telepon Ayah atau Ibu di rumah? Ada hal penting yang ingin Humaira sampaikan sama mereka, Umi." ujar Humaira tak berani menatap Maryam. Meski Maryam sangat baik padanya, tetap saja Humaira selalu merasa sungkan dengan Maryam. "Humaira ada perlu apa? Atau ada sesuatu keperluan Humaira yang kurang atau keperluan yang sedang Humaira butuhkan?" tanya Maryam menatap Humaira yang kini mendongakan kepalanya setelah mendengar suara Maryam. Humaira menggeleng pelan. "Bukan, Umi. Humaira hanya ingin menanyakan sesuatu hal yang penting sama Ayah dan Ibu di rumah." ujar Humaira membuat Maryam menghela napasnya. Melihat raut wajah Humaira membuat Maryam akhirnya mengizinkan Humaira untuk menghubungi kedua orangtuanya. Maryam menyuruh Humaira untuk masuk ke ruangannya sembari Maryam menekan tombol sambungan telepon kantor pesantren. "Kalau ada apa-apa, kasih tahu Umi, ya." Maryam memberikan gagang telepon genggam kepada Humaira yang langsung diterima oleh gadis itu. "Makasih, Umi." Maryam menepuk pelan pundak Humaira dan meninggalkan Humaira di ruangan khusus telepon ketika para santriwati memiliki keperluan untuk menelepon dengan keluarganya. Usai Maryam berlalu, Humaira menghela napas panjang ketika suara sambungan telepon berbunyi menandakan panggilan tersambung. Humaira menunggu beberapa saat hingga suara seorang wanita terdengar di telinga Humaira. Ada jeda beberapa saat sebelum Humaira berbicara. Rasanya Humaira takut untuk menerima kenyataan yang harus diterimanya. Humaira tidak sanggup untuk mendengar kenyataan bahwa orangtuanya sudah resmi berpisah. Namun, dia terus memikirkan hal itu berhari-hari. Humaira ingin untuk tidak peduli. Sayangnya, mereka adalah orangtua Humaira. Humaira tak bisa untuk tidak peduli meski hatinya terasa sakit sekali. Humaira ingin ada seseorang yang bisa menjadi teman bercerita untuknya. Humaira butuh seseorang yang bisa mengulurkan tangan untuknya. Namun, Humaira tak ingin ada orang yang tahu apa penyebab kesedihannya saat ini. Humaira tak ingin semua orang tahu bahwa orangtuanya tak bisa bersama lagi. Seandainya Humaira memiliki mesin waktu, dia hanya ingin kembali pada hal-hal yang manis dalam hidupnya. Saat berkumpul bersama keluarga, sesederhana makan bersama di meja makan, menonton televisi siaran kartun kesukaan Humaira bersama orangtuanya, lalu membicarakan banyak hal tentang kegiatan sehari-hari yang sudah ia lakukan. Humaira ingin mengulangnya berkali-kali. Humaira ingin melupakan hal-hal pahit dan rasa sedih yang dia rasakan. "Assalamualaikum." Suara Humaira terdengar gusar. Ada sesuatu tertahan di kerongkongannya saat ini yang sulit sekali dia ungkapkan. Lidahnya terasa kelu untuk menanyakan bagaimana nasib kabar hubungan kedua orangtuanya. "Ini Humaira, Bu." "Waalaikumsalam, Humaira?" Humaira bisa mendengar suara antusias dari ibunya. Sudut kanan bibir Humaira terangkat sedikit, menganggukan kepala meski dia yakin ibunya tak bisa melihat pergerakannya saat ini. "Ibu gimana kabarnya hari ini?" Dari sekian banyak pertanyaan di kepala, hanya itu yang bisa keluar dari mulut Humaira begitu saja. Humaira menggigit lidahnya sendiri untuk menahan air mata yang siap tumpah dalam satu kali kejapan. Perih di hatinya akan selalu terasa. Sakit di hatinya akan selalu ada. Luka di hatinya akan selalu membekas. Tidak ada seorang anak yang menginginkan kehancuran dalam keluarganya. Sebagai anak pertama, beban yang Humaira rasakan begitu berat. Humaira merasa seperti dilemparkan ke bawah jurang ketika dia sedang berjalan santai menikmati kehidupan. Humaira merasa seperti air hujan yang jatuh berkali-kali. Sayangnya, hujan tak pernah mengeluh meski sudah tahu bagaimana rasanya sakit saat terjatuh. Langit dalam kehidupan Humaira seolah mendadak gelap gulita saat mendengar perceraian dari mulut kedua orangtuanya. Humaira lupa bagaimana cara dia untuk bisa merasakan bahagia kembali. Kini, perasaannya terasa hampa. "Alhamdulillah, Ibu baik. Kamu sendiri gimana, Nak?" tanya ibunya di balik telepon membuat Humaira menghela napas. Humaira tahu bahwa sulit bagi ibunya untuk baik-baik saja. Namun, sebagaimana ibunya yang menutupi perasaannya, maka Humaira akan melakukan hal yang sama. Berpura-pura baik-baik saja, seperti biasa. "Baik kok, Bu." Hening. Ibunya diam di balik telepon tak menyuarakan apa-apa. Telunjuk Humaira mengetuk-ngetuk ke atas meja, mencari kata yang tepat untuk ditanyakan. Jika saja Humaira tidak tahu bahwa orangtuanya akan bercerai, mungkin Humaira akan dengan sangat antusias dan semangat. Menanyakan kabar keluarganya satu per satu, mengaku merindukan mereka dengan teramat. Kini antusiasnya mendadak membisu. Untuk menanyakan kabar saja membuat Humaira tidak tahu harus memulai darimana. Setelah cukup lama saling diam, suara Humaira terdengar lagi. Dia ingin bertanya banyak hal, tetapi Humaira belum siap demgan semua jawaban apa pun yang diterimanya. Humaira takut dengan risiko yang harus di hadapinya. Humaira tak ingin perasaannya semakin sedih. "Ayah ada, Bu?" tanya Humaira dengan kedua tangan memegangi Gimana kabar Ayah?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD