Malam Kedua

1387 Words

Gedung pencakar langit menjulang tinggi di bawah awan senja. Di kolong langit Jakarta,  menelusuri perjalanan merayap dalam mobil range rover berwarna hitam.  Telapak tangan Ceu Esih menempel pada jendela kaca,  seolah sedang mengelus setiap gedung yang ia pandangi sedari tadi. Senyum ceria menghiasi bibirnya yang terus berbicara dari Bandung sampai Jakarta,  mengalahkan back sound siaran radio yang diputar Bimo. “Aih,  aih meni raos pisan. Andai ya Esih bisa tinggal lama di Jakarta. Masa cuma tiga hari ke rumah anak. Itu mah apanya yang liburan” Masih saja mulut ceu Esih bicara meski di sisi bibirnya sudah berbusa. “Nanti atuh kalau Bapak sudah pensiun,  baru bisa lama-lama di Jakarta. kan si Ucup juga sakolah.” Sahut Pak Cecep,  yang sebetulnya sudah pengang mendengar nyanyian Esih S

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD