Kesan Seterusnya Tanda Tanya ?

1072 Words
The Pines Cafe, pukul 18:30 kafe yang letaknya masih menyatu dengan The Lodge Maribaya menjadi destinasi terakhir mereka. Didi baru saja keluar dari Mushola, menghampiri pemuda berponi panjang itu terdiam sambil mengamati pemandangan perbukitan. Mata pemuda itu memicing, kedua alisnya yang tebal menyatu bagai ulat bulu, hidungnya terlihat bangir dari samping, bibirnya ... bibirnya serupa kelopak bunga yang berwarna Pink. “Ehem,” Deham Didi membuat Biren menoleh. “Eh, udah lama di situ?” tanya Biren cengengesan. Kali ini Biren bisa menjadi dirinya saat kamera sudah tidak menyoroti kegiatan mereka. Ya, para kru sedang sibuk makan di seberang, Lumayan jauh jaraknya dari table mereka. “Belom lama Kang.” Didi duduk di sebelah Biren masih merasa kikuk. “Jangan panggil Kang ah, emangnya gue tu-kang ojek.” “Terus apa doang? Aa gituh?” tanya Didi malu-malu, kalau aa kesannya manja banget, kan jadi pengen ... Pengen makan gagang ijuk. “Panggil nama aja, kayaknya umur kita gak beda jauh deh.” “Didi teh masih 25 tahun.” “Gue 28, gak kerasa dikit lagi 30.” Biren menengadahlah kepala sambil merapikan poninya yang terbelah tengah. “Pacar lu gak marah kita nge-date?” Pertanyaan Biren barusan membuat Didi berpikir berbanding terbalik. Kalau dia nanya kayak gitu berarti dia pengen tau gue udah punya pacar apa belum. Didi pun tersenyum mulai ke PeDe-an. “Didi gak punya pacar. Kalo Bi? Pasti banyak ya?” Bi? Panggilan itu sontak mengingatkan Biren pada Lisa. Wajahnya kembali murung. “Jangan panggil gue itu, panggil Akang aja deh gak apa-apa.” Didi merasa ada yang salah dengan panggilannya barusan, ternyata malah bikin Biren gak nyaman, baiklah Akang juga gak apa. bukannya malah lebih romantis. “Gue belum mikirin pacaran. Sekarang lagi fokus kerja.” Ihhh, berati Didi ada harapan. Walaupun dia bilang belum mikir pacaran tapi bisa jadi langsung ke pelaminan. Namanya juga angan-angan, gak apalah berlebihan kan halu gak pake ngeluarin uang, alias gratis. “Enak ya bisa kitu, Didi mah boro-boro. Umur 25 aja udah di oceh keun perawan tua, di suruh cari suami. Emangnya suami bisa beli di alpa mart apa?!” gadis itu keceplosan memegangi mulutnya. Ish, mulut-mulut mengurangi level wae! “Hahaha ...” tapi gak nyesel juga ternyata ocehnya malah bikin Biren tertawa. “Lu lucu juga.” Ih, ya ampun jadi pingin terbang walau cuma di bilang lucu. Tar dulu, lucunya itu masuk kategori imut apa lucu kayak Pak Tarno? Ayo, di buka kotaknya sambil nyanyi ya?! Dari Jawa Aan nacin-nacin. Dari Jawa Aan nacin-nacin! Awa awa ... Awa awa ... Gak jadi seneng lah, Didi pun berhenti cengengesan. “Lu ada keturunan orang Jepang ya?” pertanyaan Biren membuat Didi mengenyahkan lamunan. “Masa Jepang? Si Akang aya-aya wae.” “Nama lu unik abisnya. Adaku itu mirip-mirip bahasa Jepang.” “Didia Adaku itu bahasa Indonesia atuh Akang. Di dia ... Ada ... Aku ...” “Ooh, astaga. Sampe gak kepikiran gue. Tapi asli nama lu anti mind stream banget. Orang tua lu sastrawan?” “Bukan, Bapak guru bahasa Indonesia. Kalau Ibu pedagang sayur di pasar.” “Hem I see, guru Bahasa, pasti yang kasih nama Bapak?” “Iya. Mungkin saking susahnya nyari nama jadi ambil yang gampang aja.” “Lu masih kuliah atau udah kerja?” “Enggak kerja, nyari kerja yang sesuai dengan minat itu susah. Tapi belakangan ini karena terinspiras samai Akang, Didi jadi berani majang tulisan di platform online.” “Nulis apa? Artikel? Buat Blog?” “Bukan, iseng-iseng jadi author nulis nopel.” “Bagus kok itu, kenapa gak kirim ke penerbit mayor aja?” “Gak ada balasan Kang, nunggu lama-lama tapi gak ada yang bales. Mungkin karena tulisan Didi masih jelek.” Didi mengambil tasnya, membuka resleting. Mengeluarkan kertas putih yang tertulis naskah cerita yang dia buat. “Didi gak bisa kasih kenangan apa-apa buat Akang, Cuma bisa ngasih tulisan Didi. Barang kali Akang sudi membaca tulisan jelek Didi.” “Gak jelek kok ini.” Biren mengambil kertas dari tangan Didi membacanya sekilas. “Makasih ya, Nanti gue baca di rumah.” Di luar dugaan, ternyata idola gue lebih baik dari yang gue kira, pikir Didi semakin mengagumi Biren. Udah ganteng, kaya, baik hati kurang apa lagi coba? Sempurna banget. Tak tanggung-tanggung, Didi mengeluarkan novel karya Biren dan minta pemuda itu membubuhkan tanda tangan eksklusif. “Satu lagi kang, boleh minta foto bareng gak?” heleh, di kasih ati, minta lambung. Dengan senang hati, Biren membuka sebelah lengannya untuk merangkul Didi. Bagai mimpi di malam bolong. Ya kan ceritanya ini udah malam. Didi begitu menikmat setiap momen bersama Biren. Kapan lagi bisa di peluk cowok wangi dan ganteng. Meski dari pagi ke malam, tetap saja aroma ketiak orang kaya mah beda. Keringatnya itu bau-bau uang gepokan jutaan rupiah. Malam semakin larut, waktu kencan pun berakhir meski Didi masih sanggup kalau dilanjutkan sampai besok pagi. Tapi sepertinya Biren sudah lelah. Ish, jadi pengen ikut pulang bareng Akang Biren ke rumah. Para kru sudah kembali ke mobil. Dan Didi tentu saja di antar pulang sama supir Biren. Kasihan, padahal sudah ngebed banget Biren yang anterin Didi pulang. Biarlah, Didi tau di mana tempatnya berada. Bukan lagi tebing yang memisahkan, atau filosofi bagai bumi dan langit. Tapi telalu banyak jarak memisahkan, udah tebing, udah atmosfer, belum lagi semua orang yang mengingatkan kalau Didi cuma anak si tukang sayur Esih Sukaesih, terus datang lah burung-burung yang terbang lalu pup tepat di atas kepala Didi, sambil berkata “Heh lu siapa?” Didi pun masuk ke kamar, membuka kembali ponselnya. Memandangi kenangan terakhir bersama Birendra Padmana. Ya, halu itu memang gratis, tapi terlalu banyak makan gratisan juga bisa bikin perut sakit. Sama halnya dengan ke haluan Didi yang bisa berimbas pada jiwa yang sakit. Didi mematikan ponselnya, menaruh kepalanya di atas bantal. Mengakhiri mimpi manisnya saat ter bangun di esok hari. Sementara sang pujaan, sama sedihnya. Dipandanginya jendela kamar. Meresapi kembali kesunyian penthouse yang besar ini. Tangannya masih menggenggam gulungan naskah hasil karya sang penggemar. Namun tak ada artinya, sama seperti kekosongan yang ia rasa . Biren melempar gulungan kertas itu ke meja Srekkk!!! Membiarkannya terjatuh ke kolong, tanpa mau membacanya. Selama ini dia berusaha terlihat tanpa cela, tapi jika tabir itu di buka, ada lubang besar di dasar hati yang bertuliskan jumawa. Biren berjalan masuki kamar yang megah, menanti esok hari dengan menganggap kenangan hari ini hanya sebuah cerita yang tidak berarti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD