Kesan Pertama Kencan Bareng Artis

1158 Words
“Halo Om, saya Bimo Manajernya Biren.” Pria bertampang oriental itu mengulurkan tangan. “Bi-biren saha?” tanya Bapak Didi terkejut melihat pemuda bertampang orang kaya datang bertandang ke rumahnya. Bapak pun melirik mobil Fortune yang dibawa Bimo untuk menjemput anaknya. Wah benaran kaya ini mah, kelihatannya bukan mobil rental, pikir si Bapak. Pandangannya kini berlari ke arah lelaki yang membawa kamera, dan menghadapkannya ke wajah si Bapak. Aih, ini ceritanya benaran masuk tipi?! Pasti yang namanya Biren itu orang terkenal, hati si bapak pun berdiskusi solo. “Biren itu Birendra Padmana yang main Film Cinta dalam Senja.” “Birendra artis?!” Bapak pun memekik. Sementara di dalam kamar, Didi sedang bercermin menggunakan dress bermotif bunga. Menyisir rambutnya dengan jari lalu memoleskan lipstik pink pada bibir yang ia kerucutkan. “Ieu! tu bibir apa bujur ayam, ” celetuk Ares yang memperhatikannya dari video Chat. “Serius lu mau pake baju itu? Udah kayak bebegig sawah.” “Hiih! Lu temen macam apa sih? bukannya muji! Ini kan hari pertama gue nge-date sama lalaki.” “Ya makannya, gue kasih tau seleranya laki-laki. Laki-laki tuh lebih suka sesuatu yang gak dibuat-buat. Just be your self, Di.” “Tapi kan dia bukan laki-laki biasa, Res. Selera dia sama selera lu beda.” “Please Di, sumpah itu jelek banget!” Tok tok tok... “Di, Aya tamu di luar, nyebutkeunna manajer Birendra, emang babaturan teh artis ?” (Di, ada tamu di luar, dia bilang manajernya Birendra. Memang bener temenmu artis?) “Muhun pak, punten wartoskeun antosan sakedap." (Iya Pak, bilang suruh tunggu sebentar.) Didi menelungkupkan ponselnya, menghapus lipstik dan berganti pakaian sesuai saran Ares. Memang gak cocok kayaknya siang-siang pakai dress. Lebih enak pakai celana jeans dan kaus seperti biasanya. Lagi pula ini bukan gue banget, batin Didi. “kumaha? How do I look?” tanya Didi lagi mengangkat ponselnya. “Much better. Itu baru Ma Friend.” Ares menepuk dadanya bergaya swag. Kang jaga warnet aja banyak gayanya. Ck ck ck. Didi berpamitan pada Bapak, karena Cuma ada Bapak di rumah. Sedang Ibu Esih pasti masih jaga warung sayurnya di pasar. Didi masuk ke dalam mobil dengan senyum semeringah. Dipandanginya jendela, matanya menatap jalan tapi pikirannya sudah sepuluh langkah ke depan. Dia tak sabar bertemu pujaan hati, jantungnya terasa berdebar. Telapak tangannya juga berkeringat menahan cemas. Tak lama mobil masuki kawasan pariwisata The Lodge Maribaya. Didi meremas jemarinya, sambil memasuki pintu utama. Berjalan pada hamparan rumput hijau. Menghampiri pemuda yang tertutupi badan kameramen dan pengarah gaya. Dug ... Dug ... Dug ... Debarannya kini semakin cepat, seperti roket yang siap terbang ke luar angkasa dalam hitungan tiga ... Dua ... Satu ... Siung!!! Lelaki itu menoleh, menyunggingkan senyuman pada bibirnya yang ranum. Kulitnya sangat putih dan berkilauan. Dia lebih berkilau dari pada sinar matahari di siang hari. Tatapannya sangat menyejukkan, bahkan udara lembang pun kalah sejuk dari wajahnya yang serupa kulkas tiga pintu. “Biren.” Lengan putih itu mengulur. Pemandangan indah tampak di depan mata Didi, dia lebih menawan dari pada gambarnya yang sering Didi lihat lalu lalang pada iklan Televisi. Ish, ya ampun, b******n! Dia kelewat ganteng dengan rambut yang acak-acakan. Ditambah kancing kemejanya yang sengaja dibuka tiga. Boleh bawa pulang gak?! “Didi.” Dengan gemetar Didi pun menjabat tangan Biren. Terasa tangannya yang basah, bagai konduktor yang menghampiri tegangan listrik berkekuatan 600Volt, ia pun tersengat begitu dahsyat sampai wajahnya memucat. Demi apa? gw beneran ketemu Biren?!!! hatinya terus berdecap tak percaya. “Takut ketinggian gak?” tanya Biren. Sebenarnya ada yang lebih ditakutkan Didi selain ketinggian. Yaitu, Takut hatinya tertambat pada hati Akang Biren lalu berharap hal yang gak kesampaian. Heduh, ini sih harapannya lebih tinggi dari pada sekedar balikan ke mantan. “Gak takut sih, Cuma ...” “Gak apa-apa ada gue. Kalo takut pegang aja tangan gue.” Serius lu Biren? Padahal jejaka tampan itu gak berani-berani amat sama ketinggian. Pengalamannya naik wahana memicu adrenalin jujur saja cuma sampai kora-kora di Dufan. Sedangkan Didi, jangan ditanya cewek tipe-tipe casual gini pasti nyalinya lebih besar. Yup, naik sky swing mah gak seberapa, karena dia hobi panjat tebing. Penjaga wahana memakaikan belt yang terhubung pada sling pengaman pada mereka. Biren menatap Didi yang tetap tenang. Ia merasakan jantungnya yang juga berdebar, bukan karena memandang gadis di depannya, melainkan karena ini pertama kalinya dia naik ayunan di atas tebing. Bayangkan bagaimana kalau tiba-tiba sling penjaganya terputus. Ish, semakin seram saja bayangannya. Didi duduk lebih dulu, disusul Biren duduk di sebelahnya. Pria itu mengangkat kedua simpul bibirnya, menutupi gelisah. Namanya juga aktor pasti lihai masalah mengolah mimik wajah. Padahal dia butuh mengatur nafas. Fuhhh..., tapi ditahan. Seperti biasa, ini masalah harga diri laki-laki. Biren membuka telapak tangan, berpura-pura memberikan perlindungan, padahal dia sendiri sekarang lagi dag dig dug, melihat pemandangan jurang di bawah kakinya. Denyut nadi Didi pun sama abnormal seperti Biren. terlebih saat menatap wajah pemuda di sebelahnya yang sedang membuka telapak tangan. Pelan-pelan namun pasti, gadis berambut panjang itu meraih genggaman jejaka tampan. Asli ini mah gemetaran, jadi hayang kawin Mak ... Batin Didi langsung meronta-ronta. Wusshh!!! Biren tertawa, ketakutan hanya terasa di awal saja. Ketika bangku dari kayu itu berayun dia merasa seperti terbang, tiba-tiba saja hatinya meringan. Ya, sejenak dia berhasil melupakan Monalisa. Rasa sedihnya kini berganti gelak tawa, membuat Didi semakin terpesona. “Habis ini mau naik apa?” tanya Biren. Apa aja asal bersamamu aku rela, batin Didi mulai menggila. Apa lagi kalau naik ke altar pelaminan, uwh ... Bukan main bahagianya. “Naik sepeda itu, mau gak?” Didi menunjuk ke sebelah kanan. “He hem, kayanya seru juga.” Biren kembali menggandeng tangan Didi menggoyangkannya sambil terus berjalan. Rupanya begini rasanya punya pacar. Diusia 25 tahun jujur saja Didi belum pernah merasakan gimana rasanya punya pacar sungguhan. Pacar satu-satunya itu pas masih SMP itu juga kenalnya di dunia maya, nembaknya ngirim bunga pakai emoticion, kencannya lewat game online, kirim foto editan lewat MMS, habis itu putus lewat SMS. Sampai sekarang pun Didi masih gak tau bagaimana wujud mantan pacar virtualnya itu. Seperti Mario bros kah? Atau mirip Pokemon? Begitulah percintaan jaman alay. Satu-satunya cowok yang bertahan di sisinya cuma sobat kecilnya, Ares. Didi selalu menyalahkan Ares kenapa selalu berada di sampingnya. Mungkin itu salah satu faktor yang membuatnya gak laku di pasaran. Walaupun udah promo besar-besaran. Tapi tetep aja aura negatif bertebaran, Sungguh masa remaja yang suram. “Sebentar,” Biren menghentikan langkahnya. Tatapannya sangat meneduhkan. Tangannya membelai helaian rambut Didi. Aih, sepertinya rambu hijau sudah menyala. Didi mengulum bibirnya, takut tiba-tiba maju. Kan malu ketawan banget minta di Uuu uuu... Biren mengernyih mungkin karena melihat wajah Didi yang serupa bok*ng simpanse, merah merona. “Ada nasi di rambut lu, gue baru tahu rambut ikutan makan nasi juga.” Biren mengambil sebutir nasi pada kepala Didi, lalu menunjukkannya. Ish, bukan main malunya. Jadi pingin pindahin muka ke ketiak aja rasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD