Beberapa bulan setelah Friendship di antara Didi dan Birendra. Pagi-pagi buta, selepas subuh. Biren mengetuk pintu kamar Didi. Seperti kebelet pup, ia pun mengetuknya berkali-kali. Didi yang saat itu sedang merapikan penampilannya yang serupa bantal lusuh segera membuka pintu, berhias senyum lima jari. “Ada apa kang pagi-pagi, udah kangen?” Didi menyandarkan kepalanya pada sisi pintu, sambil mengernyih. Biren mengusap muka Didi dengan sebelah telapak tangannya. “Biar lu bangun!” berupaya masuk ke dalam kamar sambil membawa dua setel pakaian. “Hii, bekas apaan nih Kang, kok bau?!” Didi mengernyitkan hidung langsung menjauhkan tangan Biren dari wajahnya. “Bekas ngusap keteknya Bimo.” kekeh Biren, hingga membuat sudut matanya berair. “Uwek!” Didi menjulurkan lidahnya, kalau

