Bab 5. Sikap Posesif Isaac

1005 Words
Gressida tidak mengantar ayahnya seperti biasanya karena kali ini ayah mertuanya yang mengantar bahkan bukan membuntuti mobil jemputan melainkan ikut duduk di sebelah Seno. Walaupun Gressida diam memperhatikan, tapi siapa yang tahu bahwa hatinya sedih karena harus melepaskan ayahnya untuk berobat. “Ayah diizinkan berobat jalan, tapi aku nggak mau ambil resiko karena kalau ayah kambuh ….” Gressida tidak melanjutkan perkataannya. Di sebelah perempuan itu berdiri sosok Isaac dengan kacamata hitamnya. Pria itu berdiri menenggelamkan kedua tangan di saku celana. Hanya mereka berdua yang tinggal di lobby hotel karena yang lain masih bersiap-siap di kamar. Gressida juga tak merasa bermasalah ketika tidak mendapat respon berarti dari suaminya. Dia pun memang sedang bicara sendiri. Perempuan itu menghela napas lalu balik badan diikuti juga oleh Isaac. “Biar saya bilang ke Joe.” Kepala Gressida menggeleng. “Jangan dibatalkan. Aku nggak mau bikin Joelle kecewa. Dia bilang mau beli boneka,” sahut Gressida cepat. Dia ingat saat selesai sarapan bisikan Joelle yang mengatakan ingin membeli boneka, tentu saja Gressida tidak tega mematahkan kebahagiaan adik iparnya. Itung-itung mendekatkan diri dengan keluarga suami. Balasan Isaac mengendikkan bahunya acuh lalu melangkah lebih dulu. Namun, belum sempat berjalan jauh sosok yang sedang dibicarakan sudah berlarian melambaikan tangan kepada Gressida dengan senyum lebarnya. Isaac menatap adiknya dengan datar karena berhasil membuat pusat perhatian. “Mbak, nunggu lama? Udah bisa pergi sekarang, Mbak? Aku sudah tidak sabar mau membeli boneka baru, kata mama dibolehin, tapi jangan banyak-banyak dan tidak boleh yang kecil—” “Joe.” Panggilan Isaac mengehentikan celotehan Joelle yang akhirnya cemberut karena teguran sang kakak. “Jangan berdiri di depan pintu!” “Joe,” panggil Gressida dengan nada lirih, dia pun tidak begitu berani dengan Isaac, tapi melihat keceriaan Joelle luntur membuatnya tak tega. Kini, tatapannya fokus pada sang adik ipar, meraih tangannya yang bertaut resah. “Sudah izin ke mama?” Joelle mengangguk, belum berani menatap Isaac. Hubungan kakak dan adik ini bukan renggang, tapi kurang natural. Jika seharusnya kakak atau adik saling menghubungi karena terpisah jarak jauh mereka tidak pernah, palingan jika Sekar yang menelepon anak sulungnya. Isaac dan Joelle berkomunikasi kalau bertemu langsung, makanya tak heran mengapa Joelle terkesan cerewet dan seringkali mencari perhatian pada Isaac. Namun, sekalinya ditatap dan diberi peringatan membuat Joelle menjadi diam. Sejatinya sebagai seorang adik Joelle ingin lebih dekat dengan kakak satu-satunya, tapi mau bagaimana lagi. Jarak usianya yang tergolong jauh dari Isaac lalu lingkungan dan tempat tinggal juga mempengaruhi kedekatan mereka ditambah lagi Isaac tipikal kakak yang sulit memperlihatkan kasih sayang pada anggota keluarga; kaku. Berhenti di parkiran mall mereka bertiga sama-sama menatap sekeliling. Isaac meminta istri dan adiknya masuk duluan sedangkan dirinya mengurus parkir mobil, tetapi Gressida tidak sejahat itu meninggalkan suaminya. “Kenapa mas Isa lama, Mbak?” tanya Joelle tidak sabar, berulangkali menengok pergelangan tangannya. “Mungkin susah cari parkirnya …?” Gressida pun kurang yakin dengan jawabannya sendiri. “Kenapa tidak telepon?” usul Joelle mengibaskan tangannya di udara; panas. “Aku yang telepon?” tanya Gressida ragu. “Itu kayaknya nggak perlu deh. Nanti malah jadi kesannya diburu-buru kalau ditelepon … ya meskipun memang benar, aku nggak enak hati kalau ngeburu-buruin orang, Joe.” Joelle cemberut, memeluk lengan ramping kakak iparnya bahkan tanpa segan menyenderkan kepalanya di bahu kecil Gressida. Tubuh tinggi Joelle sampai membungkuk karena perbedaan tinggi badan bahkan ukuran badannya pun lebih besar dari Gressida, tetapi menjadikan tubuh Gressida sebagai sandaran. Gressida yang mendapat beban dadakan hanya bisa sabar, menghela napas tanpa bersuara, dia cukup paham anak bule meskipun bertumbuh besar tetap saja jiwanya sesuai dengan umur. “Sabar sebentar lagi, ya. Kamu mau beli apa lagi selain boneka?” “Mama memberi izin beli sepatu soalnya sepatu olahragaku ketinggalan. Tapi, aku tidak mau membeli sepatu. Mau mencari baju renang saja soalnya selama di Indonesia dijamin tidak keluar rumah terlalu lama. Lebih baik berenang sepanjang hari,” jelas Joelle dengan aksen bule yang terdengar lucu berbahasa Indonesia. Sudah fasih, hanya saja gaya bahasanya terdengar baku. “Ya sudah, aku temani,” balas Gressida menepuk tangan Joelle yang memeluk lehernya dari samping. Tak berselang lama sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya. Pria itu—Isaac—berjalan ganteng menyugar rambutnya yang jatuh ke kening, tak lupa kacamata hitam seakan tidak pernah ketinggalan. Gressida baru menyadari bahwa tinggi suaminya memang lumayan, pantas saja berdiri di sebelahnya terlihat seperti kurcaci. “Mas Isa sudah datang, Mbak,” bisik Joelle di dekat telinga Gressida padahal tanpa memberitahu pun perempuan itu sudah melihatnya bahkan tak berpaling menatap sang suami. Tiba di depan istri dan adiknya pria itu menatap mereka secara bergantian, lalu tangannya mengudara menurunkan lengan ramping sang adik yang merangkul istrinya. Belum sempat memproses Joelle dikagetkan saat kepalanya ditonyor sehingga tak menempeli bahu kakak iparnya. Baik Gressida dan Joelle sama-sama terkejut akan tetapi, tidak ada yang berani mengeluarkan tanya sehingga yang terjadi keheningan. Disusul pergerakan Isaac yang memimpin di depan. Dua induk membuntuti di belakang dengan Joelle yang menggandeng lengan Gressida. Dug! “Ah!” Desah kaget Gressida saat keningnya membentur sesuatu. Kepalanya mendongak mendapati d**a bidang sang suami yang berdiri menyorotnya datar. “K-kenapa …?” Lalu tanpa aba-aba pria itu berdiri di sebelah Gressida, menggandeng tangan kiri istrinya sedangkan tangan kanan perempuan itu dirangkul oleh adik iparnya. Posisi Gressida yang berada di tengah-tengah antara kakak dan adik cukup kikuk. Entah apa maunya karena Gressida tidak banyak protes. Bahkan saat Isaac membawanya ke toko boneka perempuan itu tetap diam. Mewakili suaminya yang diam Gressida menatap adik iparnya yang juga mendadak tidak berisik. "Kamu mau beli boneka, 'kan? Ayo pilih yang kamu suka." “Temani aku,” pinta Joella tak berani menatap Isaac. Gressida mengangguk. “Suka warna pink atau ungu?” tanyanya basa-basi serta berusaha melepaskan tautan tangannya dari Isaac akan tetapi, genggaman tangan pria itu semakin mengerat sehingga membuat Gressida tertahan. "Mas, aku mau temani Joe." Tidak ada tanggapan sama sekali. Wajahnya tetap datar membuat Gressida berulang-ulang membuang napas boros. "Ayo, Joe," ajaknya menepuk lengan putih adik iparnya. Mereka berkeliling mencari boneka termasuk dengan Isaac yang mengikuti dengan gandengan tangan tidak mau lepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD