“Selamat pagi, Pak. Air untuk mandi sudah saya siapkan. Izin ke kamar ayah sebentar ya, Pak. Saya akan kembali lagi ke kamar supaya kita turun ke restoran barengan,” sapa berserta pamitan Gressida padahal mata Isaac masih menyipit menyesuaikan dengan cahaya lampu.
Konsisten sekali menggunakan bahasa formal membuat Isaac berdecak karena bukan hanya itu saja ulah Gressida sebab perempuan itu sudah tidak ada di kamar hotel mereka. Sudah keluar sebelum mendengar kesanggupan dari Isaac.
Mau tidak mau pria itu beranjak menuju ke kamar mandi. Mereka harus bersandiwara di depan keluarga, kerjasama di hari pertama menjadi pasangan suami-isteri.
Sedangkan di tempat Gressida perempuan itu sedang menunggu dengan sabar pintu kamar Seno terbuka. Tidak sampai 10 menit sosok yang ditunggu berdiri di hadapan Gressida. “Ayah sudah mandi, ya?” Seno terkekeh lalu membuka lebar pintunya mempersilakan sang anak masuk. “Aku sengaja ke sini siapa tahu Ayah butuh sesuatu gitu,” lanjut perempuan itu duduk di tepi ranjang. Barang-barang ayahnya sudah masuk ke tas, rajin sekali padahal Gressida berniat mau membereskan.
“Ayah nggak perlu diurus, Nduk. Suamimu bagaimana? Kemarin Ayah belum sempat mengobrol banyak,” tutur Seno duduk di sebelah sang anak.
“Mas Isaac lagi mandi pas aku tinggalin ke sini. Nanti juga ketemu di restoran, Yah. Ayah mau ngobrol sama suaminya Nadia?”
Seno tersenyum, mengelus surai panjang anaknya yang dibiarkan lurus. Biasanya Seno selalu mendapati rambut lembutnya dibuat gelombang atau curly bawah. Kini rambut asli Gressida terpampang nyata. “Ayah bahagia alih-alih khawatir.” Permulaan Seno yang membuat Gressida menatapnya khawatir.
“Ayah ….”
“Wajar, Nduk. Ayah terbawa euforia pernikahan kalian. Ayah merasa kelak kalian akan hidup bahagia terlepas dari semua yang terjadi saat ini. Ayah berbincang lumayan lama sama neneknya mas Isaac, beliau tidak mempermasalahkan dengan keadaan rumah kita, Nduk. Ayah berharap banyak mereka dapat membimbing pernikahan kalian di saat Ayah tidak bisa.” Seno menjeda ucapannya. “Nduk, kamu ini perempuan, seorang istri, hatimu jelas lebih lembut dan perasa. Buat suamimu betah, buat dia memandang kamu layaknya seorang istri. Ayah tidak ridho pernikahan kalian buat main-main seperti ini, keluarga Adhiyaksa juga tidak akan suka. Belajarlah menerima mas Isaac meskipun dia belum bisa menerima pernikahan ini secara penuh. Tidak melulu seorang suami yang mengarahkan jalan, ada kalanya istri juga berperan penting dikala suamimu salah jalan. Kamu paham maksud Ayah, Nduk?”
Kepala mengangguk pelan; menyanggupi meskipun kurang yakin. Dia akan mengusahakan walaupun belum tahu akan dibawa ke arah mana pernikahan mereka. Setahu Gressida mereka menikah hanya satu tahun saja, tapi Ayahnya ada benarnya juga sehingga perempuan itu berupaya menjaga rahasia ini serapat mungkin supaya tidak diketahui orang lain termasuk sosok Rianti Adhiyaksa. Membayangkannya saja membuat aliran darah Gressida nyaris mandeg; berhenti sejenak.
“Siapa, Nduk? Apa suamimu?” tanya Seno. Hampir setengah jam memang dihabiskan berbincang ringan karena Gressida kehilangan momen bersama Seno selama ayahnya diungsikan. Ada waktu jika hari Sabtu atau Minggu pun biasanya Gressida hanya menyempatkan telepon ke rumah sakit supaya disambungkan dengan ayahnya, tak sempat hadir karena pekerjaan menumpuk. Maka dari itu, rasanya baru masuk ke kamar ayahnya kok tahu-tahu sudah setengah jam.
“Mas Isaac toh. Masuk, masuk, Mas. Ngapunten Ayah minta maaf karena terlalu banyak ngobrol sampai nggak sadar menahan Nadia terlalu lama. Sudah nungguin lama, Mas?” tanya Seno. Bahasa daerah asalnya seringkali ikut terbawa-bawa karena terbiasa dan untungnya kepala Isaac mengangguk pertanda pria itu paham dengan perkataan mertuanya.
Gressida yang namanya dipanggil sudah berdiri meskipun tidak ikut mendekat ke pintu. Dia cukup sadar dengan arti tatapan mata Isaac. “Ayo kita turun,” ajaknya memilih menggandeng ayahnya alih-alih suaminya yang ditinggal sendiri di belakang mereka.
Kedua tangan Isaac yang terbenam di saku celana dengan pandangan mata memaku ke depan membuat siapa saja terpesona. Tubuhnya tegap berdiri dengan tinggi yang lumayan membuat orang merasa kerdil. Terbilang santai membiarkan Gressida berbincang ringan dengan ayahnya bahkan ketika masuk ke lift pun keliatan sekali kalau istrinya menghindari dia.
Alis Isaac terangkat naik, bibirnya menyungging tipis mendapati tindakan terang-terangan Gressida yang menghindari dirinya.
Tring!
Seperti ketika masuk, keluar pun Isaac mempersilakan lebih dulu. Caranya menghormati orang tua bisa diacungi jempol.
“Nah, itu dia pengantinnya!” Seruan Rianti saat mereka mendekat ke meja keluarga Adhiyaksa karena baik Gressida ataupun Seno tidak mengundang satu pun tamu. Hubungannya dengan keluarga Purwaninata begitu buruk karena kebangkrutan ini ditambah ketika ibunya mengakhiri hidup dengan cara tidak layak. Keluarga memutus hubungan begitu saja. Gressida tak ambil pusing walau rasanya sangat sedih.
Dia berjuang seorang diri, kesembuhan ayahnya dan utang-utang keluarga maka dari itu, pernikahannya sengaja tidak mengabari keluarga dan kerabat. Gressida tidak sudi merepotkan diri sendiri karena nantinya dalam satu tahun kedepan pernikahan ini akan selesai. Jadi, pilihan tidak mengundang sudah yang paling tepat. Bukan menyembunyikan pernikahan, melainkan membiarkan tahu dengan sendirinya. Tidak gembar-gembor.
“Mas, ternyata Mbak Nadia lebih cantik tanpa make up boros,” bisik seorang gadis remaja tanggung ketika Isaac baru saja duduk. Perkataannya itu mendapat kekehan dari seorang wanita paruh baya dan dehaman Isaac. “Kayaknya tanpa make-up juga sudah cantik. Iya kan, Mas?” lanjutnya menyenggol lengan kekar kakaknya, sekarang semakin berani karena kepalanya condong ke depan melewati Isaac demi bisa menjangkau Gressida. “Mbak, he-he ….”
Gressida mengangguk singkat lalu kembali menunduk. Dia cukup sadar sedari tadi tatapan Rianti tidak berpaling darinya sehingga ketika ibu mertua telah selesai menyajikan makanan dia pun berinisiatif mengambilkan nasi untuk Isaac. Hatinya benar-benar berdebar karena ditatap hampir seluruh orang. “Mas, mau lauk apa?”
“Apa saja,” jawab Isaac singkat.
Gressida mengangguk, lalu setelah selesai berpaling ke ayahnya yang diam-diam memperhatikan juga. “Ayah, mau lauk apa?”
“Apa saja, Nduk. Nasinya jangan banyak-banyak.”
Gressida mengangguk. Dia layani ayah dan suaminya dengan baik. Tak tahukan sikapnya ini memancing garis senyum di bibir tua Rianti. Walaupun wanita tua itu terlihat tidak banyak komentar, tetapi tatapannya menyaksikan.
“Pak Seno tidak mau menginap dulu di rumah kami? Kita bisa main catur, menantu Bapak itu jago main catur,” ujar Frederick berkebangsaan Kanada yang fasih bahasa Indonesia. Tatapannya sangat hangat, sama sekali tak terlihat menghinakan.
“Terima kasih banyak sebelumnya, Pak Fred.” Hanya balasan singkat, tetapi masih tergolong sopan bentuk penolakan Seno.
“Saya antar aja kalau begitu, saya juga mau tahu tempat tinggal besan saya. Boleh, ya, Bu?” tanyanya pada Rianti yang mengangguk saja. Sudah Seno katakan bukan bahwa Rianti tidak masalah dengan kerusakan yang dialami Purwaninata. Bahkan Rianti membantunya merasakan kenyamanan di tengah-tengah Adhiyaksa tanpa merasa malu.
“Aku ikut dong, Pi. Boleh? Aku bosan kalau di rumah Eyang Uti. Nggak punya teman, mau ke mall kan nggak ada yang mengantar. Mama pasti sibuk sama Eyang kalau di Indonesia. Mas Isa juga nggak pernah mau diajak jalan katanya aku ini rewel. Padahal nggak ya, Pi? Tidak, ‘kan? Papi yang sering temani aku—”
“Ajak Mbakmu coba. Jangan recokin orang tua, Joelle,” potong Rianti dengan tegas membuat bibir gadis itu mencebik manja.
“Papi ….”
“Coba ditanya mbaknya.” Kali ini Sekar yang bersuara.
Sontak saja Gressida terdiam saat semua pasang mata menatapnya termasuk juga Isaac. Dia nggak tahu harus jawab apa, tapi sepertinya dengan mengangguk sudah cukup, ‘kan?