Bab 3. Hadiah Pernikahan dari Ibu

1057 Words
“Ayah boleh masuk, Nduk?” Pertanyaan sarat kesedihan mampir saat Gressida sedang duduk di meja rias. Perempuan itu sudah dipersilakan masuk ke kamar ketika kolega bisnis suaminya—mereka sudah menikah dan Gressida tidak dipertontonkan sebagai istrinya di depan publik—maka dari itu, di sinilah dia berada. Sudah berganti pakaian piyama dan sedang membersihkan make up. “Tinggal saja, Mbak,” ujar Gressida mengusir MUA beserta asistennya karena kini perempuan itu membutuhkan privasi untuk berbincang dengan ayahnya. “Masuk, Ayah,” lanjutnya membalikkan badan tanpa berdiri. “Ayah butuh sesuatu?” “Ini,” ucapnya meraih pergelangan tangan sang putri. Meletakkan sebuah kalung di telapak tangan putihnya yang tidak lebih besar darinya. Gressida tercengang mendapati perhiasan zaman dulu yang terlihat antik. “Punya ibumu. Ibumu berpesan kepada Ayah supaya memberikan ini ketika putrinya menikah.” Gressida menitikkan air mata. Dia menunduk sesenggukan lalu membawa tangannya ke d**a, memeluk kalung peninggalan ibunya. Jelas saja dia tahu kalung ini karena selama sang ibu hidup kalung ini dipakai terus. Semacam benda kesayangan, konon katanya kalung dari tetua dan kini sampailah padanya di hari pernikahan. Sial! Gressida sudah berusaha tidak menangis bahkan saat mendapati ayahnya menatapnya sendu saat melihatnya dinikahi, sengaja dia acuhkah. Sepertinya hanya Gressida pengantin yang wajahnya biasa-biasa saja tanpa ada tangisan sehingga memudahkan MUA meriasnya. “Ayah minta maaf, Nduk. Ayah sadar selama ini selalu menyusahkan kamu. Maka dari itu, Ayah tidak mempersulit saat ada seorang pria yang mau bertanggungjawab untuk kita.” Semakin deras tangisan Gressida. Walaupun perempuan itu berusaha menutupi kondisi yang sebenarnya dari ayahnya, tetap saja Seno mengetahuinya. Pria itu sangat tahu dedikasi Gressida mencari uang demi melunasi utangnya. Tak mungkin memiliki waktu untuk berkencan. “Tanpa mengatakan apa pun Ayah tahu. Ayah merasa tidak berguna sebagai orang tua. Ayudisa, aku berdosa …,” ratapnya menangis menyebut nama mendiang istrinya dengan posisi berlutut di hadapan sang anak sehingga membuat Gressida langsung berdiri. Memegang kedua bahu ayahnya lalu membawanya duduk di sofa kamar. Gressida yang menangis berusaha menenangkan ayahnya dengan pelukan. Kecemasan ayahnya bisa saja kambuh kalau tidak segera ditenangkan. Segelas air putih di atas meja langsung Gressida sodorkan; bantu ayahnya minum pelan-pelan. “Ayah jangan cemas, ya? Saat ini fokus kesembuhan Ayah. Untuk urusan rumah serahkan ke Nadia. Ayah percaya sama Nadia, ‘kan?” tanyanya menyebut dirinya dengan nama tengah yang menjadi panggilan rumahan dari kedua orangtuanya. Di dalam hatinya ikut serta merana. Bukan seperti ini yang dia inginkan, sengaja Gressida meminta Isaac untuk menyembunyikan transaksional mereka akan tetapi, Seno dengan kepekaan tinggi jelas tak akan tinggal diam. Bahkan dengan mendengar nama belakang suaminya langsung membuat Seno tahu siapa menantunya itu. Bahwasannya keadaan ayahnya yang tidak terlalu buruk akan tetapi, dikarenakan Gressida yang tidak memiliki waktu untuk mengurusnya sehingga ayahnya tinggal di rumah sakit khusus kejiwaan. Terbukti juga bahwa kondisi ayahnya semakin hari semakin baik. Fokus Gressida adalah mencari uang sebanyak mungkin untuk membiayai pengobatan ayahnya serta melunasi utang yang tidak akan lunas semudah itu. Terbukti sampai saat ini tenaganya dijual untuk membayar utang. Kini, Gressida merasa memiliki sedikit waktu untuk rehat. Dia hanya perlu menunggu selama satu tahun pernikahan karena Isaac memintanya untuk segera hamil bahkan pria itu sudah menjadwalkan pemeriksaan program hamil sebelum mereka menikah. “Bahkan Ayah tidak diizinkan membiayai pernikahan putri sendiri,” lirih Seno. “Ayah hanya bisa menyusahkan putri Ayah.” Kepala Gressida menggeleng. “Nadia juga nggak ngurus apa pun kok, Yah. Semua sudah diurus sama mas Isaac,” balasnya menyakinkan. “Ayah jangan berpikir macam-macam, ya. Mas Isaac nggak mau merepotkan kita.” Seno terkekeh setelahnya. Mood-nya mudah sekali berubah. “Dalam waktu dua minggu pernikahan digelar setelah meminta izin kepada Ayah. Hubungan kalian baik-baik saja, ‘kan? Kalian saling mencintai, Nduk?" *** Gressida merasa baru tidur sebentar karena dia sempat mengantar ayahnya ke kamar sebelum besok pagi dijemput kembali ke tempat asalnya. Namun, yang dirasakan Gressida adalah geli pada bagian tubuh atasnya. Gressida tidak tahu hanya mimpi atau kejadian nyata karena saat kelopak matanya mengerjap perlahan yang dia dapati rambut hitam di atas dadanya. Dan rupanya saat kepalanya sedikit terangkat demi melihat ke bawah sontak matanya langsung melotot memekik membuat orang itu mengangkat kepala. “Kebangun?” Pertanyaan aneh di benak Gressida. Perempuan itu hendak mengangkat badannya duduk, tetapi dicegah oleh Isaac. “Pak?” Gressida menatap bosnya sangar. “Ngapain?” Lalu tidak lama kemudian pria itu beranjak dari atas tubuh Gressida. Yang tadinya hendak merapikan piyama yang ada tangannya dicekel oleh Isaac lalu yang terjadi setelahnya membuat perempuan itu memekik. Kedua tangannya diborgol di atas kepalanya entah dapat benda keramat ini dari mana. Pakaian yang hampir tanggal pun diloloskan oleh Isaac dengan cara merobeknya. Kancing-kancing piyama berhamburan tercecer di atas ranjang. Gressida menahan napas berusaha menahan ketika celana panjangnya hendak ditarik juga. Namun, tenaganya kalah dari Isaac karena terbukti celana tersebut berhasil lolos menyisakan celana dalam berendra yang membuat Isaac bersiul. “Lumayan menarik, ya. Ternyata kamu terobsesi dengan model lucu-lucu seperti ini,” ledeknya menekan tepat di tengah-tengah kewanitaannya. Isaac sialan karena berhasil membuat Gressida menggelinjang. “Jangan terkejut seperti itu karena yang begini wajar kita lakukan, Gressi.” Gressida juga tahu, tapi apakah tidak bisa besok saja? Mereka baru saja menikah tadi sore dan langsung digempur … dini hari! Mata Gressida semakin melotot mendapati jarum jam menunjukkan angkat dua. Saat sedang mengamati serta menghitung kiranya berapa jam dia tertidur sebelum direcoki oleh Isaac tiba-tiba tubuhnya tersentak karena pria itu memposisikan tubuhnya di tengah-tengah pahanya. Gressida tertegun, dia mengiba pada Isaac yang sudah terpancing gairahnya. “Pak ….” “Jangan memelas! Saya nggak akan kasihan ke kamu, Gressi.” “Saya nggak akan kabur dari tanggung jawab, tapi tolong jangan sekarang. Besok ayah saya sudah harus kembali, saya nggak mau ayah curiga.” Isaac mengeram. Dia beranjak dari atas tubuh Gressida lalu tanpa mengatakan apa pun melepaskan borgol di tangan istrinya dan turut serta berbaring memunggungi perempuan itu. Dingin sekali malam pertama mereka, selain dingin karena tidak memakai baju, ranjang mereka juga dingin. Hati Gressida lebih dingin. Perempuan itu pun turut memunggungi suaminya tanpa menarik selimut. Dia biarkan tubuhnya yang setengah bugil menerpa AC di malam hari. Hukuman untuknya karena mempermainkan pernikahan secara sadar. Diam-diam air matanya menetes bahkan di saat tak memikirkan apa pun. Kepalanya kosong alih-alih berisik. Dia yakin sampai pagi nanti tak akan bisa tidur. Berbeda dengan Isaac yang dengkuran halusnya terdengar di belakang punggung Gressida.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD