"Oke, Mama ngerestuin hubungan kalian, dan ... nanti Mama sendiri yang akan menyiapkan dekorasi pernikahan kalian," putus Reta pada akhirnya.
"Ni-nikah, Ma?" tanya Dion terkejut, tetapi sedetik kemudian ia kembali menetralkan raut wajahnya. Bagaimanapun juga, Keysa adalah kekasihnya. Meskipun hanya berpura-pura. Jadi, Dion juga harus terlihat bahagia untuk hal itu.
"Apa! Nikah?" pekik Keysa dengan ekspresi yang sangat sangat terkejut.
"Kenapa memangnya, Nak? Atau kalian mau tunangan aja dulu?" tanya Reta bingung.
Keysa dan Dion saling bertatapan, lalu dengan kompak mereka menganggukkan kepala. "Iya betul, Ma. Lebih baik kita tunangan aja dulu. Iya kan, Sayang?" tanya Dion, lalu tangannya meraih bahu Keysa dan tersenyum manis.
"Ah! Iya, Tante. Kita tunangan aja dulu. Hehe," jawab Keysa, sambil melepaskan tangan Dion dari bahunya. Reta hanya menanggapi dengan anggukan.
Flashback ....
"Aww!" rintih Keysa saat tubuhnya terdorong ke depan dan menubruk badan mobil. Alhasil, dahi Keysa yang menjadi korban.
"Sorry," ucap Dion, lalu melangkah menuju pintu cafe yang bernuansa serba kuning itu.
Keysa menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan secara perlahan. Tahan Keysa, tahan. Marah itu cuma buang-buang tenaga doang. Dengan anggun, Keysa menahan perih di area dahinya, lalu kembali merapihkan buku-buku yang tidak sengaja terjatuh karena tersandung tadi.
Setelah itu, Keysa juga masuk ke dalam cafe bernama 'Dandelion', pandangannya menangkap laki-laki yang tadi sedang mengangkat telepon dengan ekspresi yang sulit ditebak. Keysa hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu melanjutkan lagi langkahnya mengabaikan laki-laki aneh tersebut.
Namun, belum sampai Keysa membuka pintu cafe Dandelion, sebuah tangan kekar menahan tangan kanannya. Dan saat Keysa menoleh, melihat siapa yang memegang tangannya. Ia langsung menepis kasar tangan tersebut.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Dion tiba-tiba dengan wajah yang sangat serius.
Alis Keysa terangkat satu, lalu dengan tatapan yang sangat sinis ia berkata, "Kenal enggak. Ketemu aja belagu! Sok-sokan mau ngajak ngobrol!"
"Please! Gue mohon sama lo," pinta Dion dengan tatapan memelas.
"Ogah!" Keysa membuka pintu cafe tersebut, lalu duduk di salah satu meja dan mengeluarkan laptop miliknya.
"Mau pesan apa, Mba?" tanya waiters yang menggunakan baju berwarna hitam dan menyodorkan menu hidangan yang tersedia di cafe Dandelion ini.
"Ah! Saya mau hot choco saja ya, satu," ucap Keysa sambil menunjuk minuman yang menarik perhatiannya.
"Baik, Mba. Tunggu sebentar ya." Setelah berucap seperti itu, waiters tadi melenggang pergi untuk menyiapkan hot choco pesanan Keysa.
Keysa mengeluarkan laptop dan buku kecil miliknya. Sembari menunggu laptop tersebut menyala, Keysa menuliskan apa yang ada di pikirannya saat ini. Apapun itu, Keysa memang terbiasa untuk menuangkannya di sebuah buku.
Konsentrasi Keysa pecah, saat menyadari ada orang yang duduk di depannya. "Hai!" sapa Dion--orang yang menempati kursi di depan Keysa tanpa izin.
Keysa mengernyit heran, mengapa orang tadi duduk di depannya. Bukannya masih banyak kursi yang kosong di sekeliling mereka? Keysa melanjutkan lagi kegiatan menulisnya dan mengabaikan Dion yang terus menatapnya.
"Lo mau kan? Please bantuin gue," ucap Dion lagi, berharap perempuan di depannya itu akan menganggukkan kepalanya cepat.
Namun, ekspektasi Dion terlalu jauh. Keysa sama sekali tak menggubris ucapan Dion, ia justru tengah sibuk dengan laptop dan jari-jari lentiknya mulai mengetikkan sesuatu.
"Lo denger omongan gue, kan?" tanya Dion kesal, pasalnya tak ada sahutan sama sekali dari Keysa.
Dengan sangat terpaksa Keysa menanggapi pertanyaan Dion. "Lo juga denger jawaban gue tadi, kan?"
"Kan gue sekarang nanya lagi. Gue harap sih, lo berubah pikiran."
"Kan lo tau, kalo nolong orang itu dapet pahala," sambungnya lagi.
Keysa menghela napasnya kasar, lalu menutup laptopnya dan menatap pria yang di depannya itu dengan dagu yang ia tumpu di kedua tangan. "Apa yang bisa gue bantu?"
Mendengar pertanyaan Keysa, Dion tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, ia menemukan juga orang yang bersedia berpura-pura menjadi pasangannya nanti. Perjodohan yang direncanakan orang tuanya pun akan segera batal.
"Ekhem! Sebelumnya kenalin dulu, gue Dion Prawira," ucap Dion sambil mengulurkan tangannya.
Keysa melirik terlebih dulu, baru menjabat tangan Dion. "Keyla Anastasya," sahut Keysa singkat.
"Permisi, Mba. Ini pesanannya," ucap waiters yang tiba-tiba muncul, dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat satu gelas hot choco pesanan Keysa.
"Terima kasih." Keysa tersenyum, setelah waiters tadi meletakkan pesanannya di atas meja, lalu kembali bekerja sebagaimana mestinya.
Setelah menyesap hot choco miliknya, Keysa kembali menatap Dion. Namun, ia dibuat salah tingkah karena Dion juga tengah menatapnya. "Ekhem!" Keysa memilih untuk berdeham dan kembali menyeruput minumannya.
"Gue dijodohin sama nyokap, bokap," tutur Dion dengan pandangan lurus ke depan. Keysa mulai mendengarkan dengan saksama apa yang diucapkan oleh Dion.
"Tapi ... gue udah punya pacar. Gue gak mau dijodohin," sambungnya.
Mata Dion beralih menatap Keysa. "Gue mau, lo nolongin gue ya Key. Please!" Sembari merapatkan kedua tangannya.
Keysa tak menjawab, tetapi ia menggerakkan dagunya. Sebagai pertanda bahwa ia menanyakan 'apa yang bisa dibantu'. Untungnya, Dion langsung mengerti dan menjelaskan sedikit demi sedikit apa yang harus dilakukan oleh Keysa nantinya.
"Lo jadi pasangan pura-pura gue," pungkas Dion yang sukses membuat Keysa tercengang, sekaligus heran.
Keysa kembali mengernyit, karena laki-laki bernama Dion ini benar-benar aneh. "Bukannya lo udah punya pacar? Terus ngapain lo minta gue buat jadi ... pacar pura-pura lo?" tanya Keysa.
Terlihat Dion menghembuskan napas terlebih dahulu, lalu menjawab, "Gue memang punya pacar, tapi gak sesuai sama kriteria nyokap, bokap."
"Maka dari itu, gue pengen lo yang jadi pacar gue, tapi cuma pura-pura. Kalo gak kek gini, gue bakalan dijodohin dan gak ada harapan lagi buat gue bersama sama pacar gue," sambung Dion panjang lebar.
Keysa menganggukkan kepalanya pertanda paham. Namun, ia belum ingin menanggapi ucapan Dion. Ia lebih memilih untuk menyesap kembali hot choco yang sudah mulai dingin itu.
"Lo mau kan, Key?" tanya Dion lagi. Ia benar-benar berharap supaya Keysa menyetujui sebagian rencananya itu.
"Kenapa lo minta hal yang kek gitu ke gue sih? Kan bisa ke yang lain," tanya Keysa sambil menunjuk beberapa perempuan di sekitar mereka yang sedang sendirian.
"Karena gue yakin banget kalo lo itu kriterianya nyokap," jawab Dion dengan sangat mantap.
Keysa kembali diam dan memikirkan keputusannya, apakah benar jika ia menerima Dion? Atau ia menolak saja ajakannya? Ah! Itu benar-benar bingung menurut Keysa, bahkan lebih bingung saat dirinya mengalami blok writer.
"Key? Lo mau kan?" tanya Dion lagi, Keysa melirik dan memantapkan hatinya, bahwa apa yang diutarakannya nanti. Itu yang terbaik.