Kesepakatan

1027 Words
"Key! Lo mau, kan? Pliss! Mau ya?" desak Dion sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Namun, Keysa masih saja diam. "Nanti gue bakalan nurutin apa aja deh terserah lo," ucap Dion lagi, ia tak henti-hentinya membujuk Keysa--si keras kepala ini. Apapun yang terjadi nanti, yang paling penting adalah ia bisa bersama dengan orang yang dicintai. Mata Keysa langsung berbinar, saat Dion mengucapkan perkataan tadi. Berasa ada angin segar yang menerpa wajah dan hatinya, tangan Keysa langsung terulur ke depan untuk berjabat tangan dengan Dion. Sama halnya dengan Keysa, Dion juga sangat terkejut saat melihat tangan Keysa yang terulur. Dengan raut wajah yang sangat bahagia, ia menjabat tangan Keysa. "Lo janji bakal ngelakuin apapun yang gue minta?" tanya Keysa memastikan ucapan Dion, sebelum melepaskan jabatan tangannya dengan Dion. Dion menyesali ucapannya sendiri. Dengan sangat terpaksa ia mengangguk dan menjawab, "Iya. Gue janji." Dengan senyuman puas, Keysa melepas jabatan tangannya dan kembali menyeruput hot choco, yang kini sudah tak bisa disebut seperti itu. Karena nyatanya coklat tersebut sudah berubah menjadi dingin. Melihat Dion yang belum pergi dari hadapannya, membuat Keysa kembali mengernyit. "Ngapain masih di sini? Cari meja yang lain sana!" Dion tak menggubris perkataan Keysa, ia tengah sibuk dengan gadget miliknya, lalu tak lama kemudian ia pindah posisi menjadi di samping Keysa. "Orangtua gue mau minta gue foto sama lo. Jadi kita harus foto dengan pose yang mesra," ujar Dion menjelaskan. Membuat Keysa mengurungkan niatnya untuk bertanya. Satu jepretan foto, tidak cukup. Dion terus mengulanginya sampai ke 10 kali. Tentu saja itu sangat menyebalkan untuk seorang Keysa Anastasya, yang tidak menyukai kehadiran kamera. Hanya untuk mengirim satu foto ke orangtuanya saja sampai seheboh itu, Keysa tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Dion sehari-harinya. "Oke thanks," ucap Dion sambil mengotak-atik layar ponselnya, memilih foto mana yang akan dikirim ke orang tuanya. Ia memilih foto yang paling terlihat mesra tentunya. Beberapa menit berlalu, Keysa hanya bisa diam dan melihat Dion yang fokus pada ponselnya saja. "Key! Pulang, yuk! Ikut gue!" ajak Dion tiba-tiba, sambil menggenggam tangan Keysa. Keysa segera melepas paksa tangan milik Dion. Dengan wajah kesal, ia pun berucap, "Apaan sih lo! Main narik-narik tangan orang! Gak sopan banget." Setelah itu, Keysa kembali fokus pada laptopnya. Namun, Dion kembali berulah. Ia kini menutup laptop Keysa tanpa aba-aba. "Ayo cepetan! Nyokap gue mau ketemu sama lo," jelas Dion yang sudah berdiri dari duduknya, entah sejak kapan. "Hidup lo itu ribet banget ya! Sana bayarin minuman gue dulu tuh!" Keysa tak memperdulikan ekspresi Dion, ia langsung saja sibuk dengan membereskan barang bawaannya masuk ke dalam tas. Dengan hembusan napas, Dion pun menuruti perkataan Keysa. Ia melangkah menuju meja kasir dan membayar minuman yang dipesan Keysa. "Udah gue bayarin!" ujar Dion sekembalinya dari kasir dan menatap kesal pada Keysa. Keysa tak menggubris ucapan Dion. Ia berdiri, lalu melangkah menuju ke pintu. Dasar Keysa ya, kok jadinya seenaknya sih sama Dion? Ya udah lah ya, kan Dion juga butuh bantuan Keysa. "Masuk mobil gue sini!" titah Dion saat berhasil mendahului langkah Keysa. Sesampainya di mobil, Dion segera melaju menuju ke rumahnya. "Nanti lo itu harus ngaku jadi kekasih gue, oke?" Keysa mengangguk setelah mendengar ucapan Dion itu. Flashback off .... - "Diminum, Key," titah Reta yang melihat Keysa hanya diam dan seperti tidak nyaman. "Ah! Iya, Tante," jawab Keysa dan segera mengambil gelas yang ada di depannya, lalu meminum air yang ada di gelas tersebut. "Kamu di sini merantau?" tanya Reta, kembali memulai obrolan. Keysa mengangguk. "Iya, Tante. Sekalian nyari ilmu sama pengalaman." "Asalnya dari mana emang?" tanya Reta lagi, yang mulai tertarik akan kehidupan calon menantunya itu. "Keysa dari Cirebon, Tan," jawab Keysa sambil tersenyum. Reta sedikit terkejut, ia menerka apakah ini adalah anak dari sahabatnya dulu? Ah! Tidak mungkin. Kota Cirebon itu kan luas. "Kenal sama anak Tante di mana, Key?" Keysa tiba-tiba saja batuk dan dengan sigap, Dion menyodorkan gelas air minum untuk Keysa. Keysa pun menerima gelas tersebut dan meminumnya. "Kita kenal di cafe, Ma," ujar Dion yang mengerti alasan Keysa batuk seperti itu. Reta menganggukkan kepala mendengar jawaban anaknya, obrolan ringan pun berlanjut hingga sore hari. Dengan rasa tak enak, Keysa meminta izin untuk pulang ke indekosnya. Karena banyak sekali tugas yang belum terselesaikan. "Eum, Tante. Keysa izin pamit pulang ya," ucap Keysa dengan hati-hati. "Oh mau pulang ya? Jam berapa sih sekarang?" tanya Reta, lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ya ampun! Enggak kerasa udah sore aja. Dion antar Keysa pulang gih!" Dengan rasa malas dan jengkel, Dion mengangguk, lalu terlebih dulu ke luar rumah untuk menyiapkan mobil miliknya. Keysa tersenyum, lalu mencium punggung tangan Reta. "Keysa pulang ya, Tante." "Iya, Sayang. Hati-hati ya," balas Reta seraya tersenyum juga. "Cepetan, Key!" seru Dion dari dalam mobil, sembari membunyikan klaksonnya. Reta hanya melempar tatapan sinis, dan tak menuruti perkataan Dion untuk mempercepat langkah. "Lama banget yaelah!" gerutu Dion, sambil memasang pengaman di tubuhnya. "Lo juga harus pakai ini," ucap Dion, sembari memasangkan pengaman pada tubuh Keysa. Membuat jarak di antara mereka semakin dekat, Keysa yang baru pertama kali merasakan hal seperti itu, tubuhnya mendadak menegang dan ia menahan napasnya untuk sejenak. "Santai aja kali, gak usah tegang gitu," ucap Dion, setelah kembali ke posisi semula. Keysa yang diejek seperti itu, segera menetralkan mimik wajahnya. "Rumah lo di mana?" tanya Dion memecah keheningan, setelah beberapa menit mobil bergerak. Keysa melirik Dion, lalu menjawab tempat indekosnya. Dion pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke alamat yang diucapkan Keysa tadi. Setelah mobil berhenti, Keysa membuka pintu mobil. Namun, pintu tersebut masih dikunci oleh Dion. "Belagu banget ya lo! Udah gue anterin, pas udah sampe mau nyelonong pergi gitu aja," ucap Dion menatap heran Keysa. Keysa yang menyadari kesalahannya itu hanya menunjukkan cengiran tak enak saja, lalu berucap, "Thanks ya." Setelah itu ia kembali memasang muka datar andalannya dan masuk ke dalam indekos. "Dasar cewek aneh!" seru Dion, yang tak mungkin didengar Keysa. Karena sudah masuk ke dalam indekos dari tadi. "Kenapa juga sih nyokap setuju sama tuh orang," gumam Dion kesal, tapi ada untungnya juga. Seenggaknya, ia terhindar dari masalah perjodohan tersebut. Masalah Keysa gampang, toh mereka hanya berpura-pura. Hanya menyusun rencana dan memainkan drama, udah kelar. Masalah selesai. Hilih! Dikira semudah itu bohong dengan orang tua? Dasar anak zaman sekarang!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD