"Dion! Dion! Udah cukup!" teriak Farah, sambil menahan tangan Dion yang akan kembali memukul Faisal.
“Apa?” sentak Dion, ia tak perduli dengan tatapan orang-orang yang tidak bersahabat.
“Udah cukup! Kamu enggak berhak mukulin dia!” jawab Farah dengan sangat berani, lalu ia melangkah mendekati Faisal dan membantunya untuk berdiri.
“Oh, jadi gini, Far? Gue kecewa sama lo,” ucap Dion, sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada apa ini?” tanya satpam mall yang baru saja datang.
Dengan cepat Farah menyela, “Ini loh, Pak! Dia itu tiba-tiba mukulin cowok saya!”
Mendengar ucapan Farah yang seperti itu, Dion justru semakin terkejut. Ia berjalan mendekat, lalu berucap, “Gue bener-bener enggak nyangka sama sekali lo kek gitu, Far.”
“Gue harap, lo bahagia sama pilihan yang ini,” sambung Dion, lalu merapihkan jasnya dan melangkahkan kaki menjauh dari tempat tersebut.
Tak perlu ada yang ditangisi, perempuan seperti itu tak cocok untuk mendapatkan air mata tulus dari Dion. Mulutnya selalu mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, tetapi lain halnya dengan hati yang semakin lama waktu berputar, rasanya semakin menyesakkan.
Dion buru-buru menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir, segera masuk ke dalam mobil tersebut, lalu meninggalkan halaman mall yang meninggalkan luka mendalam itu.
Setir kemudi mobilnya ingin menuju ke mana pun ia tak tahu, hanya terus berjalan mengikuti arus. Namun, Dion buru-buru menginjak rem saat ia hampir saja menabrak seorang perempuan yang tengah menyeberang.
“Mbak, maafin saya ya, Mbak,” ucap Dion, saat dirinya keluar dari dalam mobil, lalu menghampiri seorang wanita yang tengah menutup mukanya dengan kedua tangan.
Berasa tidak terjadi apa-apa, wanita yang tadi akan tertabrak Dion pun mendongak, menatap jalanan yang masih ramai, lalu melihat ke bawah ke arah kakinya yang masih menempel di tanah.
“Mbak. Enggak apa-apa, kan? Ada yang terluka enggak?” tanya Dion lagi, ia masih saja setia di belakang wanita itu.
Wanita tersebut menengok ke belakang, melihat orang yang mengeluarkan suara tadi. “Loh! Kok lo sih!”
Dion juga sama terkejutnya dengan wanita yang ada di depannya. “Lo! Kalau nyebrang yang bener dong!” ucap Dion yang langsung kembali naik lagi amarahnya.
“Dih! Gue udah bener kali! Lo aja yang nyetirnya asal! Enggak pernah fokus sih emang lo tuh!” sahut Keysa tak kalah sebal.
Baru saja Dion akan kembali menjawab ucapan Keysa tadi, tetapi suara klakson dari beberapa kendaraan memenuhi pendengarannya. Din berbalik, melangkahkan kaki menuju ke mobilnya.
“Mau bareng enggak?” tawar Dion yang dijawab gelengan kepala oleh Keysa, sambil berucap, “Ogah!”
“Dih! Yaelah, ya udah.” Dion masuk ke dalam mobilnya, lalu menggerakkan ke arah samping.
Setelah sudah terparkir dengan rapih di pinggir jalan, lalu ia kembali menghampiri Keysa dan kembali berucap, “Lo mau ke mana sih sebenarnya? “
Keysa melirik ke arah Dion yang ada di belakangnya, lalu menjawab, “Apa urusannya sama lo?”
“Enggak usah sok cuek lagi kali, enggak usah kek gitu. Kita itu udah pernah ngobrol sebelumnya, ini tuh bukan pertama kali,” ucap Dion yang mencoba untuk mengingatkan.
“Dih! Apaan? Itu mah paksaan dari lo, bego!” sentak Keysa tak terima.
“Biasa aja kali, enggak usah bilang kek gitu lagi,” ucap Dion, lalu dengan lancangnya ia membelai kepala Keysa.
Merasa diperlakukan seperti itu, Keysa langsung menepis kasar tangan Dion. “Jangan lancang banget coba!”
Dion mengernyit mendengar penolakan yang keluar dari mulut Keysa. “Loh? Kan lo itu calon tunangan gue?”
Tangan Keysa langsung mengusap kasar wajah Dion, sambil berucap, “Itu tuh juga gara-gara lo! Lo maksa gue buat mau sama lo!”
“Ah! Udah lah, yuk! Kali ini gue anterin lo ke mana aja, gue siap,” ucap Dion tanpa dosa. Namun, sedetik kemudian ia menyesali ucapannya yang seperti itu.
Keysa menaikkan kedua alisnya, lalu untuk memastikannya ia bertanya, “Lo yakin mau nganterin gue ke mana aja?”
Dengan semangat, Dion menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa ia memang siap dan bersedia mengantar ke mana pun Keysa akan pergi.
“Ya udah, kalau gitu gue mau beli peralatan buat kuliah. Lo yang bayarin,” ucap Keysa dengan ratapan menantang. Siapa juga sih yang akan menuruti kemauannya itu? Dion pasti enggak akan mau mengantarkan dirinya.
Dion kembali menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat jempol tangan kanannya dan berucap, “Ayo naik ke mobil gue!” Sangat tak disangka oleh Keysa, Dion menjawab mau. Padahal, niatnya hanya ingin Dion segera pergi.
Keysa mengangguk canggung, lalu ia mengikuti langkah Dion yang masuk ke dalam mobilnya dan mobil pun berjalan meninggalkan tempat tersebut.
“Bau mobilnya kok coklat banget ya?” tanya Keysa, sambil menahan mual yang menghampiri perutnya.
Dion sedikit tertawa dengan ucapan Keysa yang seperti itu, Keysa adalah perempuan polos pertama yang ia temui. Rasanya sangat lucu jika tengah berhadapan dengan wanita yang seperti ini. Namun, Dion memilih untuk tidak menyahuti ucapan Keysa yang tadi.
“Di situ tuh! Di depan sana, nanti berhenti bentar!” ucap Keysa, sambil menunjukkan toko buku yang menyediakan semua alat tulis, dengan harga satuan yang sangat miring.
“Di sini?” tanya Dion memastikan, saat mobilnya berhenti tepat di depan toko tersebut.
Keysa mengangguk, lalu ia masuk ke dalam toko buku itu, meninggalkan Dion yang bertanya-tanya, apakah Keysa tidak ingin mengajak dirinya untuk menemani masuk ke dalam.
Berasa seperti sopir yang tenga menunggu majikannya berbelanja, Dion akhirnya memilih untuk menyusul Keysa masuk ke dalam toko tersebut.
“Ngapain lo ikut ke sini?” tanya Keysa heran. Tak ada untungnya juga jika Dion masuk ke dalam toko dan menemaninya membeli sesuatu.
Dion mengernyit, lalu kembali bersuara, “Jadi gue enggak boleh ke sini nih? Ya udah lah! Gue balik lagi.” Dion membalikkan tubuhnya, berharap jika Keysa akan menahan kepergiannya, tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Keysa, karena di dalam hidup Keysa Dion memang tidaklah penting.
Saat antrian sudah tak ada dan kini giliran Keysa tiba, ia segera menyerahkan barang-barang yang sudah dipilihnya ke kasir. “Ini ya, Mbak.”
Kasir tersebut mengangguk dan tersenyum ramah, lalu memulai untuk menjumlah seluruh barang yang sidah dipilih oleh Keysa. Saat kasir tersebut menyebutkan nominalnya, Keysa segera membuka tasnya untuk mengambil dompet, tetapi ternyata ia tak membawa dompet sama sekali.
Dengan sangat terpaksa, jalan satu-satunya adalah meminta tolong ke Dion. Melihat Keysa yang meliriknya dengan cara tersenyum, Dion langsung paham dengan apa yang diinginkan oleh wanita yang ada di sampingnya itu.
“Ini, Mbak.” Dion menyerahkan kartu ATM miliknya pada kasir tersebut.
“Terima kasih atas kedatangannya,” ucap kasir tersebut, setelah Dion setelag selesai membayar semua barang belanjaan Keysa.
Kini, rasa canggung semakin dirasakan oleh Keysa, saat dion menatapnya tak biasa. “Biasa aja deh ngeliatnya!” sentak Keysa, lalu jalan terlebih dulu meninggalkan Dion yang menggelengkan kepalanya.