"Mau makan dulu enggak?" tanya Dion, saat mobil baru melaju beberapa menit.
“Makan?” tanya Keysa, mengulangi pertanyaan Dion. Karena ia benar-benar tak percaya jika laki-laki yang ada di depannya ini sebaik itu.
Dion menganggukkan kepalanya. “Iya makan? Mau enggak?”
“Seriusan lo?” tanya Keysa memastikan.
Dion memutar bola matanya jengah, lalu menjawab, “Iya Keysa! Gue serius, lo mau atau enggak? Kalau mau nanti gue berhenti dulu, kalau enggak ya enggak usah berhenti.”
“Dari lo, kan?” tanya Keysa, karena dirinya tak membawa uang sama sekali.
“Banyak nanya lo mah! Berarti mau, kan?” sungut Dion, lalu melajukan mobilnya menuju ke salah satu restoran.
“Yuk turun!” ajak Dion, lalu ia melepaskan pengaman dan terlebih dulu keluar disusul oleh Keysa.
Keysa masih heran dengan bangunan restoran yang ada di depannya ini. “Kita makan di sini?”
Dion melihat wajah Keysa terlebih dulu, lalu menganggukkan kepala. “Memangnya kenapa? Mau pindah ke tempat lain aja?”
Keysa langsung menggeleng. “Bukan gitu! Gue tuh Cuma kagum aja sama bangunannya. Gede, luas, bagus.”
“Ya iyalah, kalau enggak kek gini bangunannya, mana ada orang yang mau ke sini,” jawab Dion, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut.
“Eh! Tungguin gue dong!” sentak Keysa, lalu dirinya meraih tangan Dion dan menggandeng dengan erat.
“Ahaha! Cie ... nih tangan enggak mau lepas?” tanya Dion dengan tertawa lepas.
Mendengar Dion yang berucap seperti itu, Keysa buru-buru melepaskan tangannya yang tengah menggandeng lengan milik Dion.
“Sorry, lupa,” ucap Keysa sangat singkat.
Dion kembali tertawa mendengarnya. “Enggak apa-apa kok, dipegang lagi aja, nih!” Sambil menyodorkan tangan kirinya.
“Ogah!” jawab Keysa, lalu menepis tangan Dion.
Bertepatan dengan itu, Dion melihat sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Raut wajah yang tadinya terdapat senyuman, kini berubah menjadi murung.
“Eh, lo kenapa? Kok diem?” tanya Keysa yang heran melihat perubahan wajah Dion yang sangat signifikan.
Dion tak menyahuti ucapan Keysa, ia justru melangkah kakinya terlebih dulu menuju ke salah satu meja yang masih kosong, meninggalkan Keysa yang masih diam di tempat menyaksikan perubahan raut wajah dan juga sikap Dion.
“Dion, lo marah sama gue? Jangan gini dong. Gue minta maaf ya,” ucap Keysa, yang sudah duduk di depannya.
Dion menatap Keysa, tanpa ada niat untuk menyahuti ucapannya. Namun, saat ia melihat Keysa yang menjadi sedih dan muram, Dion pun akhirnya memilih untuk menjawab, “Gue enggak marah kok. Santai aja.”
Keysa langsung menatap wajah Dion. “Lo beneran enggak marah, kan? Gue tadi Cuma bercanda kok.”
Dion kagum dengan sifat Keysa yang seperti ini, bahkan ini bukan karena salahnya saja, ia meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“Udah! Enggak usah dipikirin ya, gue enggak marah kok. Santai aja,” ucap Dion, lalu tersenyum tulus.
Keysa sedikit tenang mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dion, entah kenapa ia merasa sangat bersalah sekali tadi. Padahal, ia sendiri juga bingung apa salahnya.
Dion mengangkat tangan kanannya, yang membuat sang waiters itu datang dengan membawa buku menu yang disediakan restoran tersebut. Mereka berdua memilih makanan yang mereka suka, lalu memakannya setelah pesanan tersebut sampai di meja.
“Yuk pulang!” ajak Dion setelah mereka menyelesaikan makannya.
Keysa langsung mengernyit mendengar ajakan Dion. “Lo gak salah ngajak gue balik sekarang?”
“Memangnya kenapa?” tanya Dion heran.
“Kita baru aja selesai makan loh. Masa iya langsung pulang aja,” jawab Keysa, sambil meneguk minuman yang masih tersisa sedikit.
“Oh iya yah.” Dion menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui ucapan dari Keysa.
“Oh iya, kenapa sih lo enggak berjuang sama pasangan lo itu, buat mendapatkan hati mama lo itu?” tanya Keysa heran.
Bukannya menjawab, Dion justru menghela napasnya dan membuang muka ke arah lain.
“Eh! Orang ditanya bukannya jawab, malah melengos,” ucap Keysa yang kesal mendapat perlakuan seperti itu dari Dion.
“Enggak usah bahas dia lagi ya, Key. Gue muak! Ternyata apa yang mama gue bilang itu bener,” jawab Dion dengan wajah yang kembali lesu.
“Maksudnya gimana sih? Coba jelasin! Gue enggak paham nih.” Keysa melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah Dion, bersiap untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Dion.
“Huft ... singkatnya, dia itu selingkuh,” ucap Dion langsung pada intinya.
Keysa tak bisa berkata-kata, ia hanya membuka mulut, tetapi tak bersuara. Menurutnya, Dion itu laki-laki yang sudah termasuk dalam kategori yang sempurna. Namun, kenapa ceweknya bisa belok ke lain cowok sih?
“Selingkuh? Yang bener?” tanya Keysa tak percaya.
Dion mengangguk lemah, lalu mencoba untuk tersenyum, walaupun hanya terpaksa.
“Eum ... lo sih, jadi orang nyebelin,” sahut Keysa dengan nada bercanda.
Dion menarik hidung Keysa, lalu berucap, “Ish! Lo mah jahat, Key. Bukannya disemangati atau gimana kek, biar enggak sedih.”
“Hah? Lo, lo sedih,” tanya Keysa lebih tak percaya lagi, lalu tertawa lepas.
Dion menatap kesal pada perempuan yang ada di depannya ini, tetapi entah mengapa ia merasa nyaman melihat tawa milik Keysa.
“Memangnya kenapa? Kan semua orang juga bisa sedih kali,” ucap Dion kesal.
Keysa menganggukkan kepalanya. “Iya, gue tau. Setiap orang bisa sedih, tapi kalo orangnya model kek lo gini ragu gue.”
“Tau ah! Mending balik aja!” Dion langsung berdiri dan menghampiri bagian kasir, lalu membayar makanan yang sudah habis dimakan itu.
“Loh? Dion! Tungguin gue, ish!” Keysa segera berdiri dan mengambil tas miliknya, lalu mengejar langkah Dion yang sudah hampir membuka pintu restoran.
Dengan susah payah, akhirnya Keysa berhasil menyamai langkahnya dengan Dion, lalu tangannya menarik pergelangan tangan Dion.
“Kenapa sih?” tanya Dion, dengan ekspresi yang masih menunjukkan kesal, lalu mengangkat tangan yang tengah dipegang oleh Keysa.
Keysa segera melepas pegangan tangannya, lalu berucap, “Tungguin gue lah! Orang lo yang ngajak gue ke sini, masa iya gue ditinggal gitu aja!”
“Ya abisnya, ada ya orang yang nyebelin kek lo,” jawab Dion, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya.
Keysa langsung cemberut, kala mendengar jawaban Dion. “Enak aja. Gue tuh bukan nyebelin, tapi malah gemesin.”
“Dih! Percaya diri lo bagus banget.” Dion menyentil pelan dahi Keysa, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran.
Pujian yang keluar dari mulut Dion langsung membuat Keysa senang. Ia mengibaskan rambut panjang miliknya, setelah itu ia berucap, “Wuih! Iya lah! Keysa gitu loh!”
Dion menggelengkan kepalanya melihat wanita yang kini ada di depannya. Sebenarnya, dia itu sehat atau enggak sih? Atau jangan-jangan otaknya itu tinggal tersisa separuh? Jika benar seperti itu, Dion benar-benar menyesal dengan keputusannya memilih wanita ini sebagai pacar pura-pura.