Dion memang mengesalkan

1065 Words
"Turun gih! Udah sampe, kan?" tanya Dion, saat mobilnya sudah berada di depan indekos milik Keysa. "Yee! Santai dong Masnya!" Keysa langsung turun dan menutup pintunya dengan sangat keras, membuat Dion segera membuka kaca mobilnya. "Yang sopan dong, Mbak! Mahal tau enggak kalau rusak!" sentak Dion yang hanya dibalas dengan lidah yang dikeluarkan oleh Keysa. Tanpa berkata lagi, Keysa langsung masuk ke dalam indekosnya. Persetan dengan Dion yang masih ada di halaman indekos. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tak terlalu empuk, tetapi bersyukur masih bisa bertemu dengan alas tidur. Bayangkan, jika tidur hanya dengan lantai saja, tanpa ada apapun. Keysa memilih untuk mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu berselancar aktif di media sosial yang dimilikinya. Kalau saja ia boleh jujur, semua media sosial yang ia punya itu ... sepi. Tak ada chat masuk yang berasal dari cowok atau apapun itu. Mencoba untuk berpikir kritis, Keysa memilih untuk membuka laptop miliknya dan mulai mengerjakan tugas mata kuliah yang belum sempat ia tuntaskan. Namun, baru saja ia akan memulai untuk mengerjakan, tiba-tiba saja ponselnya berdering, pertanda ada telepon yang masuk. Benar saja, saat Keysa melihat ponsel miliknya, di layar ponselnya terpampang nama orang yang ia suka selama ini, yaitu ‘Delon’. Dengan segera dan tanpa berpikir panjang, Keysa segera mengangkat telepon dari Delon tersebut. “Halo, Kak?” sapa Keysa dulu, dengan nada bertanya-tanya. “Halo! Iya, Key! Eum ... nanti besok kamu ada jadwal kuliah enggak?” tanya Delon basa-basi. Keysa langsung menganggukkan kepalanya, meskipun sudah pasti Delon tidak akan melihatnya seperti itu. “I-iya ada kok, Kak. Nanti siang, sekitar jam sembilan,” jawab Meysah. “Ya udah, nanti kita berangkat ke kampusnya bareng ya,” ucap Delon, yang berharap banyak jika kali ini akan menjadi asetnya. “Berangkat bareng, Kak? Seriusan?” tanya Keysa yang masih saja belum percaya dengan apa yang diucapkan oleh Delon Delon menghela napasnya dan menjawab, “Iya, Key. Kita nanti berangkatnya bareng." Ada sedikit rasa senang yang menghampiri hatinya, tetapi tidak begitu senang saat dirinya bersama dengan Dion. Ada apa dengan dirinya saat ini? Tidak mungkin hanya karena tadi makan bersama, lalu bisa timbul perasaan aneh itu. "Oh ya udah, Kak," jawab Keysa seadanya. Delon Berpikir sejenak untuk mencari pembahasan apa yang akan ia lanjutkan setelah ini. “Eum ... kamu tadi lagi apa, Key?” Keysa bingung harus menjawab apa, tetapi bukannya berbohong itu tidak dianjurkan? Maka dari itu, Keysa memilih untuk jujur dan menjawab, “Tadi, Keysa baru aja mau ngerjain tugas.” “Ngerjain tugas ya? Berarti ganggu dong?” tanya Delon, ia sangat berharap jika jawaban yang dilontarkan Keysa adalah ‘tidak sama sekali.’ Namun, pada kenyataannya, Keysa justru menjawab, “Sedikit sih, Kak ganggu nya.” Delon tersenyum getir mendengar jawaban yang keluar dari mulut Keysa. "Ya udah, Key. Semangat ya ngerjain tugasnya!" "Hehe iya, Kak. Udah dulu ya, assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Setelah menjawab salam dari Keysa, Delon langsung mematikan panggilan teleponnya. Ada rasa yang aneh di dalam hati Keysa, tetapi karena ia merasa bingung, jadi tak mau menambah pikiran. Lebih baik Keysa segera mengerjakan tugas kuliahnya supaya cepat selesai. Jam 11 lebih 45 menit, tugas Keysa baru saja selesai. Rasa lelah dan juga kantuk langsung terasa, membuat Keysa segera mematikan laptop miliknya dan langsung tertidur. Untung saja, saat ia akan masuk ke dalam indekosnya tadi, langsung mengunci pintu. - "Assalamu'alaikum," ucap Dion, saat memasuki rumahnya. "Wa'alaikumussalam," jawab Reta dan Prawira bersamaan, karena mereka memang sedang duduk menonton televisi. "Ma! Yah!" Dion menghampiri Reta dengan Prawira, lalu mencium punggung tangan mereka dan berakhir dengan duduk di samping Prawira. "Habis dari mana kamu?" tanya Prawira membuka obrolan. Dion tak langsung menjawab, ia justru menatap wajah ayahnya terlebih dulu. Dengan ragu, Dion menjawab, "Biasa, Yah. Abis jalan." "Anak kita udah gede ya, Mas," timpal Reta, lalu tersenyum. Prawira mengangguk. "Kapan-kapan bawa ke sini lagi dong! Ayah belum tahu orangnya nih!" "Tapi, kalau dari cerita mama sih, dia orangnya baik, cantik pula," sambung Prawira yamg membuat Dion merasa senang, bingung. Sulit diartikan. "Iya, Yah, nanti besok Dion bawa Keysa ke sini," jawab Dion, lalu tersenyum senang. Prawira dan Reta mengangguk senang, karena kalau istrinya sudah setuju, itu pasti kekasih Dion sudah lulus seleksi dari apa yang diterapkan oleh Reta. Meskipun, caranya tidak diberitahu. Reta menilai perempuan yang dibawa oleh Dion dari apa yang dibicarakan olehnya dengan perempuan itu. Dan Keysa adalah perempuan satu-satunya yang mendapatkan restu dari Reta. Dion menguap, hingga matanya berair. Sebenarnya apa yang ia lakukan hanya sebuah alibi saja. Ia bangkit dari posisi duduknya, lalu meminta pamit, “Yah! Ma! Dion masuk ke kamar duluan ya, udah ngantuk banget.” Prawira heran dengan anak semata wayangnya itu. “Baru jam segini udah ngantuk? Masa sih Dion?” “Serius, Pa. Hari ini tuh Dion capek banget,” jawab Dion, lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya. Setibanya di kamar, Dion langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu memejamkan mata hingga berlanjut ke alam mimpi. Suara azan Subuh lah yang membangunkan Dion dari kegiatan tidur lelapnya, sama halnya dengan Keysa yang terbangun di jam yang sama dengan Dion. Tak ada yang banyak dilakukan oleh Keysa, ia hanya membersihkan tubuhnya dari keringat hari kemarin, lalu berwudhu dan melaksanakan salat Subuh. Setelah itu, ia kembali tiduran di atas kasur. Tak ada yang bisa Keysa lakukan, selain mendengarkan musik, sambil menarik ulur beranda sosial media yang ia punya. Rasanya sangat membosankan, bahkan untuk membeli makan sarapan pagi pun ia malas. Sampai akhirnya ponsel berdering dan lahar menampakkan dengan jelas, bahwa yang menelepon adalah Dion. Kekasih pura-pura yang sangat menyebalkan, niatnya tidak akan diangkat oleh Keysa, tetapi ia mengurungkan niatnya itu. Dengan alasan, siapa tau ada yang penting. Akhirnya Keysa menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel miliknya ke telinga. “Kenapa?” tanya Keysa to the point. “Buset! Enggak ada basa-basi nya ya ngomong sama lo!” sahut Dion kesal. Keysa menarik napasnya, lalu menghembuskan secara kasar. “Cepetan! Kenapa? Waktu gue enggak banyak nih!” Mendengar jawaban Keysa, Dion langsung memutar matanya jengah. “Gue ke sana sekarang! Percuma ngomong lewat telepon.” Setelah berucap seperti itu, Dion langsung mematikan sambungan teleponnya dan bersiap-siap untuk menuju ke indekos Keysa. "Loh! Eh, Halo!" Keysa langsung melihat layar ponselnya, saat tak ada suara sama sekali dari Dion. “Dih! Dasar cowok aneh! Enggak jelas! Segitu udah dikasih tau, gue enggak punya waktu banyak. Malah ke sini!” gerutu Keysa, yang merasa sangat kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD