Meminta untuk sarapan

1079 Words
Tak ada waktu satu jam, suara ketukan pintu di indekos sudah terdengar. Keysa sangat yakin jika itu adalah Dion, makanya ia malas untuk berdiri dan membuka pintu. "Assalamu'alaikum, Key!" panggil Dion, sambil terus mengetuk pintu. Terus-terusan seperti itu, perlahan Keysa merasa kesal dan bangun dari posisinya saat ini. Berdiri dan melangkah menuju ke pintu; lalu membuka pintu tersebut dengan raut wajah yang memberi ciri bahwa dirinya tengah kesal. “Lama banget sih buka pintunya? Lagi sibuk banget?” tanya Dion langsung, saat matanya menatap wajah Keysa. “Enggak usah kepo sama urusan orang!” jawab Keysa, sambil melirik sinis ke arah Dion yang juga tengah menatap dirinya dengan heran. “Yaelah! Gitu aja sewot,” ucap Dion, karena ia tahu alasannya mengapa Keysa bisa marah seperti ini. Keysa menatap Dion dengan tatapan tajam, lalu menjawab, “Ya iyalah! Enggak ada sopan-sopan nya banget! Main matiin telepon gitu aja!” “Ya udah, gue minta maaf ya,” ucap Dion yang tak digubris oleh Keysa. “Janji deh, enggak bakalan kek gitu lagi,” sambung Dion mencoba membujuk perempuan yang ada di depannya ini, meskipun statusnya hanya berpura-pura sebagai kekasih, tetapi sejak kemarin ia merasakan getaran-getaran yang aneh dalam dirinya. “Cari sarapan, yuk! Gue laper nih!” ajak Keysa tiba-tiba. Hal itu sontak membuat Dion tertawa mendengarnya. “Ayo! Enggak usah ketawa lagi! Gue laper banget sumpah!” teriak Keysa yang langsung dibalas anggukan oleh Dion. Dion melangkah mendekati mobil yang terparkir di depan indekos milik Keysa, diikuti oleh Keysa yang berjalan di belakangnya. Ia juga tidak tahu dari mana keberanian itu datang, padahal baru kemarin ia bisa ngobrol banyak dengan Dion, tetapi sekarang ia merasa sangat dekat dengan Dion. “Mau makan di mana?” tanya Dion meminta pendapat dari Keysa. Namun, karena Keysa adalah anak rantau, ia sama sekali tidak tahu tempat makan yang ada di Jakarta. “Gue itu anak rantau di sini, jadi mana tahu tempat makan yang ada,” jawab Keysa, yang membuat Dion menggelengkan kepalanya. “Gue tau lo anak rantau, tapi kan sehari-harinya lo itu makan. Nah! Tempatnya itu di mana?” jelas Dion yang berhasil membuat Keysa menganggukkan kepalanya paham. Keysa berpikir sejenak, lalu menjawab, “Gue kalau makan ya di warung kecil, tapi kalo boleh jujur rasa makanannya enak yang di situ, dari pada di tempat yang kemarin itu.” “Ya udah! Kita ke situ aja, yuk!” ajak Dion, lalu masuk ke dalam mobilnya. “Seriusan?” tanya Keysa memastikan. Ia tak percaya jika kasta yang dimiliki seorang Dion Prawira, mau makan di tempat kecil seperti itu. Dion menganggukkan kepalanya mantap. “Memangnya kenapa sih? Kan gue juga sama-sama manusia, kalau di situ rasanya lebih enak, kenapa enggak?” Keysa menganggukkan kepalanya paham, ia semakin kagum dengan semua sifat yang ada di dalam diri Dion. Namun, jangan lupakan sifat menyebalkan. “Ayo masuk, Key!” ajak Dion yang langsung dituruti oleh Keysa. Dion melajukan mobil miliknya, sedangkan Keysa menunjukkan jalan ke arah rumah makan yang biasa ia kunjungi. Tempatnya tak jauh, karena Keysa biasanya ke situ menggunakan kaki. “Di situ tuh tempatnya!” tunjuk Keysa, pada warung makan kecil yang ada di pinggir jalan. Dion segera menepikan mobilnya, pas di depan rumah makan tersebut, lalu bertanya, “Yang ini tempatnya?” “Iya, ini tempatnya. Kecil, kan?” jawab Keysa, sambil melihat ke wajah Dion. “Ya udah yuk turun!” ajak Dion, lalu melepas pengamannya dan keluar dari dalam mobil. Keysa mengangguk, lalu ikut melepas pengamannya dan keluar dari mobil tersebut. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah makan dan duduk di kursi yang sudah disediakan. “Mau makan, Mas? Mbak?” tanya seorang wanita pemilik rumah makan tersebut. Keysa menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, “Iya, Bu. Kita mau makan di sini.” “Mau pake lauk apa?” tanyanya lagi. Keysa memilih beberapa lauk yang ia inginkan, begitu juga dengan Dion yang melakukan hal sama seperti Keysa. “Makan ya, Dion,” ujar Keysa, lalu memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Tak ada yang berbicara di antara keduanya, karena Keysa juga sangat lapar. Jadi, ia terlalu fokus dengan makanan yang ada di depannya. “Dion,” panggil Keysa, setelah selesai mengusap mulutnya menggunakan tissue. Yang dipanggil tak mengeluarkan suara, hanya dagunya saja yang bergerak ke atas. “Ini, nanti lo yang bayarin ya,” cicit Keysa, yang langsung mendapat raut wajah heran dari Dion. “Kok jadi gue? Ya lo sendiri lah!” tolak Dion, dengan raut wajah yang berpura-pura marah. Padahal, ia sama sekali tak keberatan jika harus mengeluarkan uang dengan nominal segitu. Keysa memilih untuk menunduk, ia menyesali ucapan dan juga ajakannya pada Dion. Dan sekarang, bagaimana akhir dari hidupnya? Apakah ia akan masuk penjara, karena tak membayar makanan yang sudah dihabiskannya. Di dalam hatinya, Dion menahan tawa melihat ketakutan yang terlihat dari wajah Keysa. “Bu! Ini jadi berapa ya?” “Semuanya jadi 30.000, Mas,” jawab wanita tersebut. Dion mengangguk, mengambil dompet miliknya, lalu mengeluarkan uang pas untuk membayarnya. Mendengar interaksi antara Dion dengan pemilik rumah makan, Keysa sedikit memberanikan diri untuk melirik kedua orang tersebut. “Ayo! Mau pulang enggak?” tanya Dion, membuat Keysa semakin merasa tidak enak. Karena, dari kecil dirinya diajarkan untuk tidak pernah meminta apapun dari orang lain “Nanti gue ganti uang lo!” ucap Keysa yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dion. “Enggak usah diganti lagi, Key. Gue paham gimana rasanya merantau, punya uang yang pas-pasan. Apalagi punya tanggung jawab buat kirim uang ke keluarga di kampung,” ujar Dion, yang lagi-lagi menambah rasa kagum pada seorang Dion Prawira. “Maaf ya, gue jadi ngerepotin lo kek gini,” ucap Keysa tak enak. Bukannya menjawab, Dion justru membuat berantakan rambut milik Keysa. “Dion! Lo mah buat gue kesel terus!” teriak Keysa, lalu mencubit pinggang Dion dengan sangat keras. “Aww! Sakit tau, Key. Lo jahat!” Dion mengusap pinggangnya yang terasa sakit, sedangkan Keysa hanya menatap wajah Dion dengan memasang muka datar. "Siapa yang mulai duluan? Kan lo!" sahut Keysa tak mau mengalah. Dion menatap sebal ke arah Keysa, ia kembali berucap, "Gue kek gitu ke lo, enggak ngebuat sakit! Nah, kalo lo mah sakit tau!" "Bodo amat! Makanya juga jangan bikin orang kesel! Rambut udah rapi, malah dibuat acak-acakan lagi," gerutu Keysa, dengan tangan yang masih sibuk merapihkan rambutnya. Dion kembali usil, ia mengacak-acak rambut Keysa lagi, membuat Keysa menghentakkan kakinya kesal dan berteriak memanggil nama Dion dengan sangat kencang. Persetan dengan keadaan mereka yang berada di pinggir jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD