Selama perjalanan kembali menuju ke indekos, tak ada yang bersuara. Baik Dion, atau Keysa sama-sama terdiam. Di dalam hatinya masih saling merutuki satu sama lain, apalagi Dion jika sudah di dekat Keysa pasti akan berubah menjadi layaknya anak kecil yang sangat menyebalkan.
Bunyi nada dering ponsel, membuat Keysa langsung menajamkan pendengaran.
Beberapa detik kemudian, baru Keysa bahwa nada dering itu adalah milik ponselnya, Keysa segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku, lalu menggeser tombol hijau saat melihat yang meneleponnya adalah Sulis—adik tercinta.
“Assalamu’alaikum, Kak!” sapa Sulis, dengan bersemangat.
“Wa’alaikumussalam, Dek. Kok tumben, pagi-pagi udah telepon? Kangen ya?” jawab Keysa, disertai dengan candaan.
Sulis mengeluarkan sedikit tawanya, begitu juga dengan kedua orang tuanya yang berada di samping, mereka saling mendengarkan suara dari anak pertamanya. “Iya nih, Kak. Kita kangen banget malah! Oh iya, Kak, mama mau ngomong nih!”
Tanpa menunggu persetujuan dari Keysa, Sulis langsung menyerahkan ponselnya ke Nisa—mama dari keduanya. “Halo, Nak!” Suara Nisa langsung terdengar di telinga Keysa.
“Ma ... gimana kabarnya?” tanya Keysa, dengan hati yang sangat senang.
“Alhamdulillah, Nak. Kamu sendiri gimana?”
Keysa menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Alhamdulillah, Ma. Keysa juga baik-baik aja.”
“Syukurlah. Nak, nanti besok, Mama, Ayah, sama Sulis mau ke situ. Boleh, kan?” tanya Nisa, meminta persetujuan dari anak pertamanya.
Tak perlu berpikir, Keysa langsung menjawab, “Boleh dong, Ma. Boleh banget malah! Nanti Keysa kirim alamatnya ke adek ya, Bu.”
Siapa sih yang tidak bahagia, ketika ingin dikunjungi oleh keluarga sendiri? Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Keysa.
Perempuan itu merasa sangat senang dan juga antusias, setelah mendengar berita tersebut.
Tak hanya Keysa yang senang, tetapi juga Nisa setelah mendengar jawaban dari Keysa, ia seketika tersenyum senang. “Ya sudah, Mama mau lanjut buat masakan lagi ya. Adek juga mau siap-siap buat berangkat sekolah.”
“Oh. Ya udah, Ma. Sehat-sehat ya,” ucap Keysa, sebelum mengakhiri panggilan.
Dion yang melihat interaksi Keysa dengan keluarganya, semakin yakin jika ia memang benar-benar jatuh hati dengan Keysa dan segala tentangnya, lalu ia bertanya, “Orang tua lo, Key?”
Keysa menganggukkan kepalanya, menaruh ponselnya kembali ke saku dan menjawab, “Iya. Mereka mau datang ke sini, jenguk gue.”
Dion menganggukkan kepalanya, lalu pikirannya tertuju akan rencana pertunangannya dengan Keysa. Dan ia sudah menyusun rencana untuk mengungkapkan perasaan yang ia yakini adalah cinta.
“Kok mobil lo enggak jalan sih? Kenapa? Mogok?” tanya Keysa heran, ia langsung bertanya seperti itu tanpa melihat keadaan sekitar terlebih dulu.
Dion kembali menyentil dahi Keysa dengan gerakan pelan, lalu menjawab, “Makanya juga sebelum nanya tuh liat dulu! Ini udah ada di depan indekos kamu.”
Merasa tak percaya, Keysa membuka kaca mobil dan melihat keadaannya. “Hehe, kok gue enggak tau ya.”
“Kan tadi lo itu fokus sama telepon terus,” jawab Dion yang dibenarkan oleh Keysa. Karena memang seperti itu kenyataannya, Keysa menyadari hal tersebut.
Dion terdiam sebentar, ia memikirkan bagaimana caranya untuk berbicara, dan saat Keysa akan keluar dari mobil, barulah keberanian Dion langsung keluar.
“Tunggu, Key.” Dion mencekal tangan Keysa, membuat sang empu mengernyit heran dan melirik ke arah tangannya yang tengah dipegang.
“Kenapa?” tanya Keysa heran.
Dion menatap Keysa dengan wajah yang serius, menarik napas terlebih dulu, lalu berkata, “Gue mau ngajak lo keluar buat makan malam.”
“Makan malam?” tanya Keysa heran, hanya mengucapkan ajakan seperti itu saja, Dion harus memegang tangannya?
“Kalau gue boleh jujur, gue beneran suka sama lo, dan gue udah yakin kalau lo emang orang yang tepat buat ada di hidup gue,” ungkap Dion, dengan kedua tangan yang menggenggam tangan Keysa.
Mendengar ucapan Dion seperti itu, Keysa segera menghempaskan tangan milik Dion, lalu tertawa sumbang dan berucap, “Lo tuh kalo bercanda kelewatan ya, Dion!”
“Gue enggak bercanda, Key! Gue serius.” Kembali Dion menatap wajah Keysa penuh dengan raut yang sangat serius. Berharap, jika lawan bicaranya saat ini akan percaya.
Keysa menggelengkan kepalanya tak percaya, mana mungkin semuanya akan menjadi seperti ini? Bukankah waktu dulu mereka berjanji untuk tak saling ada rasa? Itu pun Dion yang membuatnya, apakah ia menjadi pelampiasan Dion semata?
“Gue tau lo masih sedih karena abis putus sama cewek lo, tapi jangan buat gue jadi pelampiasan juga, Dion! Tugas gue itu cuma sebatas pacar pura-pura lo, enggak akan lebih,” ucap Keysa, yang selalu mendapat jawaban gelengan kepala dari Dion.
Rasa yang Dion miliki itu tulus, hanya saja datang di waktu salah. Bukankah cinta datang tanpa adanya aba-aba? Dan perjalanan hidup kita tak ada seorang pun yang tahu.
“Key! Gue serius sama lo. Gue enggak mungkin jadiin lo bahan pelampiasan gue. Rasa buat mantan gue itu udah enggak ada, semuanya hilang saat gue tau kalo dia selingkuh,” jelas Dion, berharap Keysa akan mempercayai semua ucapannya.
Keysa menggelengkan kepalanya dan kembali menjawab, “Gue tau gimana perasaan orang yang abis putus, Dion! Udah ya, kita itu cuma sebatas pacar pura-pura. Enggak akan bisa berubah.”
“Enggak, Key! Apa pun bisa, kalau lo juga punya perasaan yang sama ke gue. Apalagi, nyokap juga udah setuju, dia udah suka sama lo. Jarang banget loh nyokap kek gitu,” ucap Dion menjelaskan apa yang menjadi pengalamannya selama ini.
Di dalam hati Keysa hanya ada nama Delon—kakak kelas yang sangat ia suka, tidak mungkin jika posisi Delon itu tergantikan dengan secepat itu.
“Udah ya, Dion. Enggak usah dipikirin tentang yang tadi, karena gue akan tetep jadi pacar pura-pura lo kok,” ucap Keysa, sambil tersenyum, lalu membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam indekos.
Persetan dengan Dion yang masih berada di luar indekosnya, ia bingung dengan ucapan yang dilontarkan oleh Dion tadi. Apakah benar apa yang diucapkan olehnya? Atau memang benar dugaan Keysa, bahwa dirinya hanya akan menjadi pelampiasan semata?
Keysa tidak ingin hati yang menjadi taruhan, apalagi mengingat jika Dion baru saja putus dengan pacarnya.
'Besar kemungkinan kalau gue cuma dijadiin pelampiasan aja kan ya?' gumam Keysa, yang mulai berpikir.