Hari yang sangat buruk

1023 Words
"Key! Apa kabar?" tanya Dion dengan senyuman yang terpasang di bibirnya. Sangat cocok. "Dion? Ngapain lo ada di sini?" tanya Keysa heran. Bukankah dia seharusnya berada di kantor milik ayahnya? Mengapa sekarang justru ada di sini? Dion melangkah mendekati Keysa, sedangkan yang didekati justru melangkah semakin mundur. "Ini itu kampus umum, jadi gue boleh dong ke sini?" "I-iya. Gue tau, tapi kenapa lo enggak kerja?" tanya Keysa yang masih belum terjawab rasa keingintahuannya. Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Keysa, Dion justru bertekuk lutut dan mengeluarkan buket bunga dari balik punggungnya. "Key, gue bingung harus pakai cara apa supaya lo paham sama perasaan gue. Semoga dengan ini, lo paham maksud dari ucapan gue tadi pagi," ucap Dion, sambil tersenyum getir. "Maksud lo apa sih?" tanya Keysa bingung. Tanpa berdiri dari posisinya, Dion menjawab, "Gue beneran sayang sama lo, gue punya perasaan yang tulus, enggak seperti yang lo kira." Keysa memutar bola matanya jengah, lalu dengan sangat kesal ia berucap, "Dengerin gue ya, Dion! Gue enggak akan pernah suka sama lo! Kita hanya sebatas pacar pura-pura, enggak lebih!" Ternyata memang benar, rasa sakit yang terdapat di dalam hati sangat sulit untuk diobati, lain halnya dengan sakit biasa, seperti panas, flu, atau batuk. Mata Keysa melirik ke arah pintu, tepat sekali Delon lewat di depan ruangannya. Keysa pun langsung berteriak. "Delon!" Mendengar namanya dipanggil, Delon berhenti terlebih dulu, lalu dengan ragu ia menatap ke arah dirinya mendengar suara tadi. Terlihat dari dalam ruangan tersebut, Keysa melambaikan tangan kanannya membuat Delon langsung mengernyit heran. Apa maksud dari lambaian tangannya? Namun, saat ada satu orang laki-laki yang berkerumun di situ, dengan tampang sok gentle ia melangkah masuk ke dalam dan menghampiri Keysa yang tengah tersenyum menatapnya. "Ada apa sih ini, Key?" tanya Delon, sambil sesekali melirik sinis ke arah Dion yang kini sudah berdiri di samping Keysa. Keysa menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya, "Kakak sendiri mau ke mana?" Delon menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "Aku mau ke sana sih! Biasa, Key. Ke taman." "Keysa ikut ya!" pinta Keysa dengan tangan yang langsung memegang erat lengan Delon. Tanpa berpikir panjang, Delon langsung menyetujui permintaan Keysa untuk ikut dengan dirinya menuju ke taman yang berada tak jauh dari kampus tersebut. "Orang tadi ceritanya mau nembak kamu, Key?" tanya Delon, saat mereka melangkah beriringan menuju ke taman. Keysa mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh Delon tadi. "Terus gimana? Kamu nerima?" tanya Delon dengan rasa khawatir. Keysa tersenyum, lalu menjawab, "Enggak lah! Kan Keysa enggak suka sama tuh orang." Delon menganggukkan kepalanya paham. Berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mendekati Keysa, persetan dengan tatapan Dion tadi yang seakan ingin membunuhnya di saat itu juga. "Kakak mau ke taman itu ngapain?" tanya Keysa ingin tahu. Karena jarang sekali ada laki-laki yang berkunjung menuju ke taman dan membuka buku, lalu belajar. Delon meringis, karena ia sendiri juga tidak paham kenapa harus di sini jawaban yang keluar dari mulutnya. "Enggak tau juga sih! Aku cuma lagi pengen ke sini aja." Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Delon, Keysa justru tertawa sedikit. Entah kenapa, rasanya berbeda dengan di saat Dion yang berada di sampingnya. Di dalam ruangan tadi, terdapat Dion dengan setumpuk kekecewaan. Bahkan, dengan sangat terang-terangan Keysa memilih laki-laki lain di depan mata dirinya. Dengan langkah lunglai, Dion menaruh buket bunga tersebut di atas meja yang ada di barisan paling depan, lalu menuju keluar dari ruangan tersebut. Semua yang ia bayangkan ternyata bertolak belakang dengan kenyataan, apakah selamanya kehidupan Dion selalu seperti ini? Mencintai perempuan yang tak memiliki rasa untuk dirinya. Meneruskan langkah hingga ia berada di halaman kampus Keysa, tetapi pandangannya terfokus pada seorang laki-laki yang ia lihat tadi, tengah bersama dengan wanita lain dan mereka tertawa sepanjang jalan. “Bukankah itu laki-laki yang Keysa ikuti?” gumam Dion, lalu menyipitkan matanya supaya penglihatannya lebih jelas. Tertawa bersama, dengan tangan Delon yang berada di atas pundak wanita itu, dan yang paling membuat Dion terkejut adalah tindakan Delon yang tiba-tiba mencium kening perempuan tersebut. “Kalau dari tatapan Keysa, ia sangat mengagumi laki-laki itu. Terus, kenapa laki-laki itu justru bermesraan dengan wanita lain?” Tak ingin pusing dengan urusan hidup orang lain, Dion lebih memilih untuk segera melanjutkan langkahnya menghampiri mobil yang berada di parkiran. Rencana yang seharusnya lebih romantis dari yang tadi, langsung gagal saat Keysa memilih pergi dari hadapan Dion bersama Delon. Karma memang selalu ada, tinggal menunggu waktu saja untuk Keysa merasakan apa yang dinamakan dengan cinta bertepuk tangan. Percayalah, rasanya benar-benar sangat sakit. Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta yang saat ini sedang tak terlalu ramai. Tujuannya kali ini adalah langsung menuju ke perusahaan tempat ia mencari uang dan memberi uang. Perusahaan yang bergerak dalam bidang industri makanan itu ia dirikan dengan susah payah, meskipun belum sebesar dan sesukses Prawira—Ayahnya sendiri. Setibanya di perusahaan miliknya, Dion langsung masuk ke ruangan yang berada di lantai paling atas. Melihat berkas-berkas yang sudah menumpuk di meja kerjanya, memeriksa satu persatu, lalu menanda tangani jika ada yang perlu ditanda tangani. Sepanjang ia bekerja, pikirannya selalu tertuju pada Keysa. Mulai dari memikirkan mengapa wanita tersebut menolak dirinya, hingga memikirkan bagaimana cara supaya dapat bersama. Rasanya sangat menyebalkan jika selalu saja seperti ini, mencintai tanpa dicintai. “Permisi, Pak,” sekretaris Dion mengetuk pintu ruangannya dan saat telah mendapatkan izin, barulah ia muncul di depan atasannya itu. “Ada apa?” tanya Dion langsung, iya bukan tipikal orang yang terlalu lama basa-basi. “Eum ... maaf, Pak. Di luar ada seorang wanita yang ingin bertemu,” jawabnya. Dion mengernyit, menerka siapa kira-kira yang ingin bertemu dengannya di jam seperti ini? “Siapa wanita itu?” tanya Dion, sambil memutarkan pulpen yang berada di genggamannya. “Tadi sudah tanyakan, dan namanya itu Farah, Pak,” jawab sekretaris tersebut. Mendengar nama Farah, Dion segera berucap, “Langsung usir dia! Dan bilang, kalau saya sedang tidak bisa bertemu dengan orang lain.” Sekretarisnya mengangguk, lalu segera keluar dari ruangan atasannya. Dion langsung memijat pelipisnya, rasa pusing semakin menjalar. Dion memilih untuk membuka jendela yang ada di belakangnya, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Hal itu bertujuan untuk me-refresh semua pikirannya yang diliputi dengan segala macam masalah, dari percintaan, hingga mantan yang kembali datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD