Alamat kampus Keysa

1104 Words
Jam makan siang telah tiba, tetapi Dion lebih memilih untuk memesan makanan lewat aplikasi. Rasanya sangat malas jika harus keluar dari ruangannya, apalagi di luar sana pasti sangat ramai. Saat makanan sudah tiba dan Dion akan memakan makanan tersebut, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Saat dilihat, itu ternyata berasal dari mamanya. Tanpa berpikir panjang, Dion segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tersebut di telinga. “Halo, Ma. Ada apa?” tanya Dion to the point. “Dion! Keysa tuh masih kuliah kan ya?” tanya Reta. Dion langsung mengernyit mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mamanya itu. Dengan ragu ia menjawab, “Iya, Ma. Memangnya kenapa?” “Kuliah di mana sih? Mama pengen tau soalnya.” Di saat seperti ini, Dion bingung harus menjawab apa. Jika ia menjawab tempat kuliah Keysa yang sebenarnya, bisa-bisa rahasia tentang pasangan pura-pura akan terbongkar. Namun, kalau Dion tidak berkata jujur bisa-bisa Reta akan curiga tentang hubungan Dion dengan Keysa, keduanya memiliki akibat tersendiri. “Dion!” Suara Reta kembali terdengar; karena belum ada jawaban dari Dion tentang pertanyaan yang baru saja ia ajukan. “Hah? Iya, Ma! Eum ... Dion enggak tahu nama kampusnya apa, tapi Dion tahu tempatnya;” jawab Dion asal, setelah menjawab seperti itu ia menyesali ucapannya sendiri. “Enggak tau namanya? Kok bisa tau sama tempatnya? Kamu mah aneh,” protes Reta dengan nada yang terdengar sedang kesal. “I-iya, Ma. Soalnya Dion pernah nganter Keysa ke situ, tapi enggak sempet buat baca nama universitasnya,” jawab Dion kembali beralibi. Mendengar jawaban-jawaban yang dikeluarkan oleh anaknya, membuat Reta semakin bingung. “Kamu emangnya enggak pernah nanya gitu tentang keseharian Keysa?” Mampus! Kan, kalau udah ada pertanyaan kek gini Dion lebih bingung lagi ingin menjawab apa. “Duh, Ma! Iya halo, Ma!” Dion mendapatkan ide untuk berpura-pura tidak ada jaringan di tempatnya saat ini. Lagi-lagi Dion mengeluarkan alasan yang benar-benar tak masuk akal. “Halo, Dion! Kamu dengar Mama kan, Nak?” ucap Reta, sambil berdiri dan mencoba untuk mencari sinyal. Namun, tetap saja Dion berpura-pura untuk tidak mendengar ucapan dari Reta, lalu memutuskan panggilan tersebut. Menghela napas lega, tetapi rasa pusing itu masih ada. Bagaimana jika Keysa justru menjauhinya dan tak mau lagi untuk bertemu? Bagaimana jika rencana perjodohan itu terjadi? Semua pertanyaan tersebut berputar-putar di kepala Dion. “Argh!” Dion mengacak rambutnya Frustrasi, mengapa rasa yang datang kepadanya selalu saja salah? Melihat ke arah makanannya yang ada di atas meja, rasanya pasti sudah dingin, lagipula nafsu makannya sudah lenyap begitu saja. Memegang ponselnya terus menerus dengan layar yang menampilkan nama Keysa, ingin menelepon, tetapi takut tidak diangkat. Hari ini, Dion sama sekali tak fokus dengan pekerjaannya. Pusing terus-menerus dengan keadaan seperti ini, Dion akhirnya memutuskan untuk menelepon Keysa. Persetan dengan apa yang terjadi nantinya. Ternyata apa yang dipikirkan oleh Dion tak terjadi, karena pada kenyataannya Keysa langsung mengangkat panggilan darinya. “Halo, Dion! Ada apa?” tanya Keysa, seperti tak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Dion sedikit heran dengan sifat perempuan yang satu ini, mengapa ia bisa dengan sangat mudah mengendalikan suasana? Bertambah nilai plus lagi untuk seorang bernama Dion Prawira. “Lo ... lo enggak marah, kan sama gue?” tanya Dion, dengan hati-hati. Bukannya menjawab, Keysa justru tertawa, entah hal apa yang membuatnya bisa tertawa seperti itu. “Jadi lo kira gue marah gitu? Ya enggaklah bego! Kek gitu aja marah, lebay.” “Ya kan gue kira lo marah,” sahut Dion, sambil menggigit jari yang berada di tangan kanannya. “Kenapa lo nelepon gue?” tanya Keysa, tak mengindahkan ucapan Dion tadi. Dion menepuk dahinya, ia sampai lupa dengan tujuannya menelepon Keysa. “Gue Cuma mau bilang, lo masih jadi pacar gue, kan?” “Pacar pura-pura,” koreksi Keysa yang membuat Dion menganggukkan kepalanya, meskipun hal tersebut tak dapat dilihat oleh Keysa. “Emangnya kenapa lo nanya kek gini?” tanya Keysa. Dion menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menjawab, “Bisa enggak kita ketemu?” Kini Keysa bertambah menautkan alisnya mendapat jawaban seperti dari Dion, jawaban yang sama sekali tidak menyambung dengan pertanyaan yang diberikan oleh Keysa. “Ngapain ketemu?” “Gue mau ngobrol lah sama lo!” jawab Dion setengah kesal. “Dih! Bukannya sekarang kita juga lagi ngobrol?” Dion mengusap wajahnya terlebih dulu, lalu menjawab, “Rasanya beda, Key! Kalau langsung mah enak.” “Dih! Ya udah, mau ketemu di mana?” jawab Keysa pada akhirnya. Dion menjawab dan menyebutkan salah satu cafe yang ada di dekat kampus yang Keysa tempati dan Keysa pun setuju. Dengan segera Dion pergi dari ruangannya, menuju ke tempat parkir dan segera melajukan mobilnya menuju ke cafe yang sudah dijanjikan. Entah karena Keysa tipikal orang yang tepat waktu, atau memang jarak dari kampus menuju ke cafe tersebut sangatlah dekat, makanya Keysa sudah terlebih dulu sampai. “Sorry ya gue baru sampai,” ucap Dion, lalu duduk di kursi yang ada di depan Keysa. “It’s okay! No problem, asalkan lo yang bayar semua makanan yang udah gue pesen,” jawab Keysa, sambil mengibaskan tangan kanannya, lalu menyeruput jus melon yang sudah tinggal tersisa sedikit, karena menunggu kedatangan Dion yang cukup lama. “Dih, dasar! Lo ke sini enggak bawa uang apa?” tanya Dion heran, sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan untuk mengeluarkan uang segitu. Keysa berdecak, sambil menatap wajah Dion yang baginya sangat menyebalkan itu, lalu menjawab, “Banyak protes ya lo! Katanya bakal mau ngelakuin apa aja kalau gue mau jadi pacar pura-pura lo?” Dion langsung terdiam, saat ia juga ingat dengan perkataannya waktu itu, sebenarnya lebih tepat disebut dengan perkataan kepepet. Karena tak ada pilihan lain untuk Dion membujuk Keysa supaya mau menjadi pacar pura-pura. “Inget, kan?” tanya Keysa, yang membuat Dion mau tak mau harus menganggukkan kepalanya. “Cuma itu doang kan yang lo pesen?” tanya Dion, sambil menunjuk ke arah jus melon yang ada di depannya. Dengan cepat Keysa menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Oh! Enggak dong! Ini mah salah satunya, masih ada banyak kok, Cuma belum siap mungkin. Makanya belum dianter ke sini.” Dion mengangguk ragu. “Lo udah dari tadi di sini?” Keysa mengedikkan bahunya, lalu menjawab, “Enggak terlalu lama kok. Sekitar setengah jam doang.” Nada bicara Keysa memang lembut, tetapi saat ia menjawab hak itu, membuat Dion langsung tersindir. Dan dengan santainya, Keysa kembali meminum jus melon yang ada di depannya sampai habis. “Oh iya, katanya mau ngobrol, tentang apaan?” tanya Keysa yang mengingatkan tujuan Dion untuk bertemu dengannya. Dion mengangguk, menatap mata Keysa terlebih dulu, lalu berucap, “Mama gue mau ketemu sama lo. Bahkan, tadi dia minta alamat tempat kampus lo!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD