Tak mengerti apa-apa

1089 Words
Mengembuskan napas berkali-kali, juga mengucap sabar berulang kali, supaya tak sampai mengeluarkan perkataan kasar kepada laki-laki yang ada di sampingnya ini. Mengusap d**a dengan penuh kesabaran menggunakan tangan kanan, kembali Keysa menghembuskan napasnya dan saat ini, ia benar-benar kelas dengan laki-laki yang berada di sampingnya itu. "Astaga Dion! Dan sekarang lo nggak ngerasa salah sama sekali? Diem aja gitu? Terus kita bakalan di sini terus atau gimana maksudnya? Kalau emang gak niat kita mau istirahat, mending gue turun di sini aja!" sentak Keysa, yang memang sudah kesal, lalu kedua tangannya itu bergerak untuk membuka pintu mobil, tetapi kalah cepat dengan tangan milik Dion yang buru-buru mengunci pintu tersebut. "Kenapa malah dikunci? Gue mau keluar aja! Daripada sama lo yang gak jelas!" protes Keysa, sembari menatap wajah Dion dari jarak yang lumayan dekat. Bukan apa-apa, tetapi itu adalah ekspresinya ketika sedang kesal, bahkan tak ada rasa malu sama sekali yang hadir di dalam hatinya. "Gue nanya deh, kalau lo keluar dari mobil milik gue ini, lo mau ke mana sih?" tanya Dion yang langsung membuat Keysa diam, dan tak dapat menjawab apa pun, tetapi pandangan matanya langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat jalanan, yang ternyata dia sendiri pun tidak tahu di mana tempat ini. Tentu saja pikiran negatif langsung muncul di dalam benak Keysa, ia sudah memiliki perasaan untuk berjaga-jaga. Takut saja jika laki-laki di sampingnya itu memiliki niat yang tak baik, apalagi belum lama ini ia Dion, bahkan kejadian pertama kali mereka bertemu pun tidak terlalu mengenakkan. "Gue bukan seperti laki-laki yang ada di pikiran lu ya!" tegur Dion, yang seakan ia paham dengan apa yang ada di dalam pikirannya Keysa itu. Mendapat teguran yang seperti itu, tentu saja membuat Keysa langsung menatap sinis ke arah Dion, lalu memilih berucap, "Ya udah, kalau lo emang laki-laki baik, bawa balik aja deh gue ke kantor yang tadi! Terus gue juga gak mau lagi kerja sama lo!" "Enggak segampang itu ya! Kan kita juga udah janjian, buat berpura-pura jadi pasangan. Jadi gak segampang itu buat lepas gitu aja!" tolak Dion mentah-mentah, karena hanya Keysa satu-satunya harapan dia supaya tak dijodohkan oleh pilihan kedua orang tuanya itu. "Pantesan aja lo itu sampai sekarang masih belum dapet jodoh, sifat lo aja gak jelas kayak gini! Siapa sih perempuan yang mau sama lo, kalau lo kayak gini," ujar Keysa, yang tentu saja membuat Dion sedikit kesal dan tak terima dengan ucapan tersebut. "Apa? Gak terima?" tanya Keysa, berhenti sebentar, lalu ia kembali berucap, "Harusnya itu, lo instrospeksi diri, kenapa sih di umur segitu lo belum dapat pasangan? Kenapa sih lo gini, gini, gini, gini. Harus introspeksi gitu, bukan malah lo gak terima pas gue bilang kayak gitu." Membuat Dion kembali diam. Dan anehnya, setelah diberi ucapan yang seperti itu, Dion sama sekali tak membuka mulut. Ia justru kembali menggerakkan mobil miliknya dan tanpa menoleh sama sekali ke arah Keysa, sehingga mobil tersebut berhenti dan ia terlebih dulu melepas sealt belt dari tubuhnya, lalu keluar dari dalam mobil. Sikap Dion yang seperti itu, tentu saja membuat Keysa heran dan hanya bisa tenang ada di dalam mobil, tapi karena langkah kaki Bimo yang semakin lumayan menjauh. Buru-buru ia keluar dari dalam mobil, dan berusaha untuk mengejar langkah laki-laki itu. Dari jauh Bimo menyalakan pertanda jika mobil tersebut sudah dikunci, meskipun dari kejauhan. "Lo itu benar-benar laki-laki paling aneh, yang pernah gue temuin tau gak? Tiba-tiba diam, yang tadinya cerewet. Heran gue sama loh!" ujar Keysa, yang tetap sama sekali tak digubris oleh Dion. Dan saat fokusnya sudah tidak lagi pada Dion, Keysa baru sadar jika lantai yang sekarang ia pijak itu bukanlah lantai rumah makan sederhana, atau bahkan kalangan yang paling rendah, tetapi ini adalah lantai restoran yang memiliki desain elegan dan juga sangat menawan. Dengan pintu yang langsung terbuka secara otomatis, bau wangi pendingin ruangan yang langsung menyeruak ke dalam indra penciuman dan juga dekorasi yang benar-benar sangat elegan, banyak sekali pengunjung yang berada di situ dengan berbagai aktivitas. Mulai dari pembayaran, pemesanan, dan juga makan di tempat. Anehnya, sampai ia mendapatkan tempat duduk pun tak ada ucapan sama sekali yang dikeluarkan, inisiatif Keysa sendiri yang juga ikut duduk di samping Dion. Kalau tidak seperti itu, perempuan tersebut bisa jadi tidak akan mendapatkan tempat, apalagi ada sedikit rasa canggung untuk masuk ke dalam bangunan yang semegah itu dan sedikit takut juga jika makanannya akan masuk ke dalam perutnya itu, akan ditanggung biayanya oleh diri sendiri. Namun Keysa langsung berfikir tidak mungkin, jika ia sudah menjadi pasangan pura-pura dari seorang bos besar, lalu kenapa tidak mendapatkan apa pun sama sekali? Tidak mungkin juga jika ia hanya mendapatkan hal yang negatif saja. Maka dari itu, ia berencana untuk meminta makanan yang akan ia masukkan ke dalam mulut itu, dibayarkan semuanya oleh laki-laki yang saat ini berada di sampingnya. "Dion!" panggil Keysa, Dion menolehkan pandangannya saja, dengan mulut yang sama sekali tak terbuka. Hal itu tentu saja membuat Keysa memilih untuk menggaruk tengkuk yang sebenarnya sama sekali tak merasakan gatal, tetapi karena pandangan Dion yang dilemparkan tak bersahabat dengannya, maka ia lebih memilih untuk mengurungkan niat yang tadinya sudah dirancang matang-matang itu. Menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Keysa, tetapi tak kunjung keluar, Dion memilih untuk mengangkat tangan kanannya itu. Pertanda jika ia tengah memanggil waiters, dan tak lama setelah itu seorang perempuan menghampiri, dengan membawa buku pesanan di genggaman tangan kanannya. "Selamat siang! Selamat datang di restoran kami, maaf pelayanannya sedikit lama dan silahkan dilihat-lihat dulu makanan yang kami sediakan di sini," ucap waiters tersebut dengan sangat sopan, lalu tangan kanannya menyerahkan buku menu yang dibawa tadi. Satu diserahkan untuk Dion, dan satu lagi diserahkan untuk Keysa. Namun, perlu diketahui untuk hal ini, Keysa benar-benar tak mengerti nama-nama menu makanan yang ada di buku itu. Terlihat sangat asing, sehingga Keysa hanya berpura-pura untuk membaca, tapi otaknya itu tidak berfikir sama sekali. Sampai akhirnya Dion berucap dan memberitahukan apa yang menjadi pesanannya itu. Selesai mencatat apa yang akan menjadi pesanan milik Dion, waiters tersebut akhirnya melempar pandangan ke arah Keysa dan langsung bertanya, "Maaf, Mbaknya mau pesan makanan apa ya?" Mendapat pertanyaan yang seperti itu, tentu saja Keysa langsung bingung harus menjawab apa, karena ia sama sekali tak memiliki rencana untuk makanan yang akan ia pesan itu. Sehingga ia lebih memilih untuk bertahan sebentar dan berpura-pura untuk tegas, lalu menjawab, "Samakan saja dengan laki-laki ya ada di depan saya ya!" Waiters tersebut langsung senyum dan menganggukkan kepalanya, menggerakkan tangan kanan lagi untuk mencatat apa yang menjadi pesanan Kiara tadi, meskipun ia hanya mencatat ditambah satu di dalam buku pesanan yang ada di genggaman tangannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD