Samaan?

1041 Words
"Kenapa menu makanannya disamain?" tanya Dion, saat waiters tersebut telah hilang dari hadapan mereka berdua. Mendapat pertanyaan yang seperti itu, tentu saja membuat Keysa sedikit gelagapan, karena ia gengsi untuk memberitahukan yang sebenarnya. Jika dirinya tak mengerti dengan makanan-makanan yang tadi dibaca tersebut. "Memangnya kenapa kalau makanannya sama? Masalah?" Tentu saja jawaban Keysa yang tadi langsung membuat Dion menggelengkan kepala dan menjawab, "Enggak masalah, tapi aneh aja gitu. Kenapa dari sekian banyaknya menu, lo malah milihnya makanan yang sama kayak gue pilih tadi. Apa jangan-jangan?" Dion sengaja tak melanjutkan ucapannya tadi, karena memang ia tak ingin membuat masalah dengan perempuan yang ada di depannya itu. "Oh iya! Gue mau nanya sama lo," ujar Keysa tiba-tiba, yang membuat Dion langsung mengernyitkan dahinya dan menaikkan satu alis miliknya itu. "Memangnya pertanyaan penting banget? Sampai raut wajahnya enggak kayak biasa?" tanya Dion, dengan tatapan yang juga ikut serius. "Enggak jadi deh, lupain aja, lupain!" jawab Keysa, membuat Dion kembali merasa heran dengan perempuan yang ada di depannya ini. "Kebiasaan lama gitu! Orang kalau ngomong itu gak pernah tuntas, selalu aja gantung! Tadi mau nanya, pas udah dijawab malah disuruh lupain!" protes Dion. "Apaan sih? Kan gue bilang udah lupain aja! Gue enggak inget apa yang mau gue tanyain tadinya. Lagian, terserah gue dong, mau gue gue tanya ini kek, tanya itu kek. Ya terserah gue lah!" jawab Keysa, yang tak ingin kalah sama sekali. "Hadeuh! Iya dah iya, dimana-mana yang namanya cewek itu enggak mau banget ngalah, maunya paling benar terus, enggak pernah mau salah!" ujar Dion, lalu memberikan senyum sinis membuat Keysa kesal dan tak terima. "Para perempuan itu memang pada dasarnya benar, laki-lakinya aja yang enggak pernah mau ngalah. Apa yang tadi gue ngomong juga bener dong! Gue itu udah lupa mau nanya apa, makannya gue bilang: udah lupain aja, daripada lo mikirin kayak gitu kan buang waktu," sahut Keysa, yang membuat Dion langsung mengibaskan tangan kanannya. Tak perduli dengan apa yang akan diucapkan oleh Keysa setelah ini. Mereka sama-sama diam hingga beberapa menit, tetapi menunggu waiters tadi datang kembali itu terasa sangat lama sekali. Hingga mereka berdua sama-sama bosan dan Kiara langsung ingat tentang apa yang akan ia tanyakan tadi. Buru-buru ia berseru, "Oh iya! Gue baru inget!" Dengan tangannya sedikit menggebrak meja. Tentu saja bunyi yang dihasilkan oleh Keysa tadi, membuat semua pengunjung yang ada di situ menatap mereka berdua dan melempar tatapan bertanya-tanya, sedangkan Dion hanya bisa menutup wajahnya. Ia merasa malu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Keysa. "Lo itu jadi cewek bisa enggak sih, ya ampun! Alim sedikit?" Dengan sangat bangganya Keysa menjawab, "Gue bisa alim kok, tapi ada tempatnya. Kalau lagi di depan lo mah keknya nggak penting banget gue nunjukin sikap alim!" "Ya ampun! Yang namanya sifat alim itu buat siapa aja, enggak bisa pilih pilih. Gimana nanti lo punya pasangan, kalau begitu!" ujar Dion, yang tentu saja membuat Keysa langsung heran dan berfikir lebih keras lagi tentang apa yang diucapkan Dion tadi. "Lagian siapa juga yang mau cari pasangan di umur sekarang? Gue itu lebih fokus ke dunia saat ini, lebih condong ke kuliahan dan ya ... ini rezeki tambahan gue, bisa kuliah nyambi kerja," sahut Keysa, dengan sangat bangga sekali. Tentu saja Dion langsung berucap, "Nah! Lo tau kan kalau yang ngasih kerjaan itu gue, tapi enggak ada rasa terima kasihnya sama sekali. Atau kalau enggak ngucapin terima kasih, ya minimal baik sama gue lah!" Keysa berdeham sebentar, lalu setelah itu menatap wajah Dion dengan sangat serius "Apa perlu gue ingetin lagi ya? Di sini kita itu sama-sama beruntung, ibaratnya simbiosis mutualisme! Lo beruntung, gue juga beruntung. Nah, artinya itu gini, lo beruntung karena gue itu mau jadi kekasih pura-pura lo, sampai akhirnya lo enggak usah dijodohin lagi. Nah, kalau gue beruntung karena dapat pekerjaan sampingan, yang mungkin bisa seenak gue-lah masuk kerjanya. Iya enggak?" Mendengar pemikiran Keysa yang baru saja dia ungkapan itu, tentu saja Dion langsung mengibaskan tangan kanannya dan berbicara, "Bukan gitu juga konsepnya gue ngasih pekerjaan, kalau udah, lo jangan mentang-mentang kenal sama pemilik perusahaan itu. Jadi, lo kek nganggap gampajg banget, lo kerja seperti biasa aja dan gue hitung jam kerja lo itu!" "Oh gitu, oke nanti juga kalau lo butuh bantuan gue tentang semua hal nyokap lo itu, enggak bakal langsung gue terima! Karena lo juga enggak ngertiin gue. Yang namanya anak kampus, itu pasti tugasnya banyak banget! Enggak mungkin dong, gue lebih fokus sama kerjaan yang sekarang, karena udah dipastikan gue bakal ngutamain tugas kampus dulu!" ancam Keysa, dengan sangat kesal. "Ih! Dasar enggak mau ngalah sama sekali, keras kepala emang!" kesal Dion, lalu memilih untuk tak melihat wajah Keysa lagi dan memutuskan untuk mengedarkan pandangannya, melihat-lihat dekorasi yang berada di restoran tersebut. Dan Keysa juga tak mau ambil pusing, memilih untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Dion. Sampai akhirnya pandangan mata miliknya itu jatuh pada waiters, yang tengah membawa nampan. Dengan dua piring dan juga dua gelas. Tentu saja Keysa langsung mengulas senyum, menantikan perempuan sebagai waiters itu datang mengantarkan piring di atas meja dan mempersilahkan Keysa juga Dion, untuk memakan makanan itu. Ya meskipun, ia sendiri tak tahu apa makanan yang sebenarnya ia pesan tadi. Dan ternyata langkah kaki waiters tersebut cukup cepat, karena saat ini tengah bertugas untuk menata piring di atas meja. Satu di depan Dion dan satu lagi berada di depan Keysa. Setelah itu barulah menaruh dua gelas di samping piring tersebut, lalu sebelum pergi iya terlebih dahulu berucap, "Itu makanan yang kalian pesan ya! Silahkan dimakan, semoga menyukai masakannya. Saya permisi." Dan Keysa menganggukkan kepalanya, serta menampilkan senyuman ramah. Itu menurutnya, tetapi menurut pandangan Dion, itu sangat-sangat memuakkan. Masa bodoh dengan laki-laki yang ada di depannya itu, ia menggerakkan tangan kanannya untuk meraih alat makan dan mulai untuk menata di atas sendok, lalu memasukkan ke dalam mulut. Seakan sudah tak ada lagi rasa canggung atau apa pun, mungkin karena terkalahkan oleh rasa lapar yang sudah dirasakan Keysa. Sehingga tatapan yang dilontarkan oleh Dion itu, tak berarti bagi dirinya. Ia terus aja melanjutkan makannya dengan sangat santai, bahkan sama sekali tak melihat ke arah Dion. Keysa memilih untuk terus fokus mengisi perut yang sudah sangat lapar, apalagi ternyata masakan restoran di situ sangatlah enak, meskipun awalnya ia sama sekali tak paham dengan nama-nama makanan yang tengah ia lahap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD