Agnia berjalan pelan menaiki anak tangga menuju kamar. Sambil memegang paper bag berwarna coklat, ia tersenyum tipis. Rasa bahagia menyelimuti entah darimana datangnya, tubuhnya seakan baru saja menerima pelukan hangat seorang ayah yang selama ini sekalipun tak pernah dirasa. Setidaknya Anggara bisa melegakan dahaganya, rasa haus akan kasih sayang dari orangtua. Tinggal bersama pria yang tak pernah menuntut, memberikan kebebasan dalam belajar dan bergaul, serta keberadaan putri yang lebih dari sekedar teman, membuat Agnia merasa cukup bersyukur. Meski takdirnya bukan menjadi gadis muda yang bebas untuk menyukai laki-laki, paling tidak ia tak lagi hidup dalam bayang-bayang ketergantungan, dan selalu dalam tekanan seperti saat dalam asuhan orangtua angkat. Satu pelukan yang Anggara be

