bc

SUGAR DADDY MAGANG

book_age16+
7
FOLLOW
1K
READ
billionaire
family
age gap
fated
second chance
friends to lovers
pregnant
kickass heroine
independent
neighbor
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
kicking
bold
campus
city
office/work place
affair
addiction
like
intro-logo
Blurb

"Kenapa om mau pacaran sama aku?"

"Karena cuma sama kamu saya bisa gabisin uang!"

"Emangnya istri Om gasuka shopping?"

"Suka, tapi pas lebaran aja, itupun paling banyak habisin sepuluh juta buat semua anggota keluarga."

"Kalau gitu, yang sembilanpuluh jutanya buat aku ya Om."

"Tentu baby!"

Kata Anggara, ia selalu pusing setengah mati karena setiap bulan jumlah saldo tabungan selalu menggendut tanpa tahu kemana harus menggunakan. Ujarnya lagi, memiliki istri yang muda, super sederhana, mandiri, cantik dan pintar tidak membuatnya puas dalam segi apapun. Karena itulah, ia akhirnya memilih menyalurkan hasil dari kerja keras kepada sugar baby.

Namun, keperkasaan Anggara malah diragukan oleh sugarbabynya.

chap-preview
Free preview
1. Coba Pegang!
"Ngapain om suruh saya buat pegang-pegang itunya om, engkol nih!" "Saya gak sengaja, Nia!" "Awas aja kalau otak Om piktor!" "Dih geer, kamu yang piktor." "Geer gimana, lah itu kenapa bisa tiba-tiba bangun?" "Mana saya diarahin buat pegang!" lanjut sang gadis menggerutu sambil bergidik geli. "Itu artinya saya pria normal, tiap pagi itunya memang selalu bangun!" kata Anggara malas sembari mengusap wajahnya frustasi, resiko menikahi perawan lampir yang tontonannya Boboboi. "Serius?" Nah kan, Agnia malah membuka matanya lebar-lebar seolah meminta penjelasan. "Iya, makanya jangan cuma bisa ngomel doang, sekali-sekali peratiin punya saya!" Repot sekali, harus banget dijelaskan? "Hah... Perhatiin????" tentu saja gadis muda berhijab itu segera bergeleng kepala cepat, tak sudi. Agnia bersedekap menatap Anggara takut-takut, ini tantangan baru, ia harus lebih waspada Anggara mulai agresif! Lima menit sebelumnya. "Om!" Sepasang tangan halus yang lentik dan mungil menggoyang-goyang kasar tubuh Anggara saat masih tertidur pulas dibawah selimut. "Hemm!" Anggara menjawab dengan gumaman serak khas bangun tidur. "Bangun!" "Hemm, oke beib!" Beib?? Seumur-umur Agnia tidak pernah dipanggil beib, but now?? Wajah Agnia memerah panas dan suara gemertak gigipun tak terelakkan. "Bangun Om!" paksa Agnia lagi. "Aku sudah bangun beib, sini deh!" Pria dewasa yang masih dalam keadaan setengah sadar itu tersenyum lembut tanpa membuka mata, dalam mode malas ia bersikap seperti anak kucing yang manja. "Om bangun!!!" Agnia lebih tegas sekali lagi, giginya mulai genertak. "Aku udah bangun dari tadi kok!" dengan jahilnya pria tampan berusia hampir empat puluh tahun itu meraih tangan Agnia untuk ditaruh diatas sebuah benda bulat panjang di bagian depan tubuhnya yang telah berdiri tegak menantang. Sementara itu, Agnia yang lugu dan baru pertama kali menyentuh daging keras tersebut langsung berteriak diimbangi gerakan tangan yang reflek memukul benda mirip sosis jumbo itu seperti mengusir seekor tikus got. plak plak "Auuch..." "Om gila!" maki Agnia kesal bukan main. Baginya tindakan Anggara sudah melanggar kesepakatan dan sangat tidak sopan. Anggara sibuk meringis sambil mengusap pelan sesuatu dibalik celana yang serasa ditebas. "Sakit Jesika!" teriak Anggara masih meringis. "Jesika!" barusan dipanggil beib, lalu Jesika, apa sih maksudya. "Siapa itu?" tanya Agnia dengan nada murka. Saat itulah, Anggara sadar jika yang memanggil sejak tadi bukanlah si sugar baby, melainkan istri sahnya. "Ni-nia!" Kini, Anggara melotot gugup. "Agnia, aku Agnia Om!" ia bertolak pinggang. "Ya ampun Nia, bisa gak sih jangan panggil saya Om, saya ini suami kamu loh!" Anggara membenarkan posisi, pria bertelanjang d**a itu duduk bersandar dikepala ranjang. "Memangnya cuma si anu yang boleh panggil Om?" pancing Agnia walau lupa nama yang barusan disebut Anggara, ia tahu Anggara mencoba mengalihkan topik. "Bukan gitu!" elaknya mengerjap. Teng, stok kesabaran Agnia sudah habis, makanya Anggara pantas dicueki dan tidak usah didengar. "Om selingkuh?" Anggara terjengkit, istrinya langsung menyambar dengan pola singkat, padat dan curiga. "En-enggak kok!" jawab Anggara bergeleng-geleng tapi meragukan. Alhasil, terjadilah perdebatan kecil merembet pada perkara tangan Agnia yang sempat mampir di bagian inti Anggara yang menegang. Setelah mendapatkan jawaban tak sesuai espektasi yang jatuhnya malah membuat suasana jadi canggung, Agnia yang masih sebal pun hanya bisa mendengkus dan mendelik sekujur tubuh suaminya dengan tatapan benci. Lalu ia beranjak turun dari tempat tidur seraya merapikan pakaian. Melihat penampilan sang istri, Anggara sudah bisa memastikan jika Agnia pasti hendak berangkat kuliah. "Berangkat sekarang?" pria tampan itu berusaha menunjukkan perhatian. "Iya!" sahut Agnia ketus. Tak banyak basa-basi, Anggara meraih dompet brand luar negerinya yang berada didalam nakas lalu mengulurkan selembar uang kertas berwarna merah. "Ayo ambil!" bujuk Anggara karena uang diujung jari tak kunjung diraih, ia heran mengapa Agnia yang hanya memandang tanpa minat. "Kebanyakan Om!" tolak gadis itu. "Gak papa sesekali bawa uang seratus ribu, biar kamu puas jajan!" ujar Anggara lagi. "Enggak ah, Nia juga gak terlalu suka jajan diluar!" alasan klasik yang membosankan karena sudah berulang kali didengar Anggara. "Sekali-sekali traktir temen-temen!" Anggara kembali memberi saran. "Nia gak punya banyak temen!" Anggara heran, ada saja alasannya, manusia mana yang tak suka uang? cuma Agnia sepertinya. Ia memeriksa isi dompet sampai ke sela-sela. "Saya gak punya uang kecil, adanya cuma ini!" bahkan, seisi dompet sudah diobrak abrik dan diperlihatkan. Sementara, sang istri nampak menggigit bibir bawah seperti sedang menimbang suatu kebijakan atau mencari solusi. "Oke, kalau begitu uang sakunya Nia bagi dua sama Caca!" Lembaran uang berwarna merah itu akhirnya berpindah tangan juga, Nia pun berlalu meninggalkan kamar tidur sang suami. "Eh sebentar!" Akan tetapi, langkah berikutnya gadis itu tiba-tiba berbalik cepat saat diambang pintu. "Astagfirullah!" Ia tak sengaja melihat tubuh athletis Anggara yang berdiri disisi ranjang hanya mengenakan celana boxer. Seperti melihat penampakan hantu, ia langsung menutup kedua mata dengan telapak tangan. Anggara yang sudah terbiasa melihat reaksi itu, hanya memutar mata. "Apalagi?" tanya Anggara malas. "Sekali lagi Om jangan geer, tadi Nia kesini cuma mau bilang, Caca mau sarapan bareng Om, jadi buruan deh siap-siap! jangan sampai anaknya telat gara-gara bapaknya yang pemalas!" celotehnya menyindir. "Iya iya cerewet!! suruh kaka tunggu dimeja makan!" Anggara melirik Agnia yang mengacung dua jari jempol dengan selembar uang merah yang masih dalam genggaman. Kekesalan itu berubah menjadi terkekehan saat Agnia salah tingkah dan kebingungan mengkondisikan diri, akibat tangannya berhenti menutup mata saat mengacungkan jari. Gadis itu juga hampir terbentur pintu gara-gara mencoba memutar tubuh dengan mata tertutup. "Pagi papa!" "Pagi juga sweetheart!" Ayah dan anak itu saling sapa dibarengi cipika-cipiki. "Oh ya Ca, kapan kaka mulai try out?" Setibanya dimeja makan, Anggara menyempatkan diri memberi perhatian pada sang putri tunggal, tahun ini ia lulus SD. Sementara Agnia sibuk melaksanakan peran sebagai istri dan ibu sambung dengan menyiapkan kebutuhan mereka. Obrolan itu terputus setelah Anggara menerima notifikasi transferan di ponsel, ia langsung memanggil dan bicara dengan klien bisnisnya. "Sarapan dulu pah!" Hasya mendesak Anggara mengakhiri obrolan ditelpon. "Iya bentar lagi, Ca!" Anggara menutup speaker. Pria itu baru meletakkan ponsel bersamaan dengan Agnia yang hendak duduk disamping. Namun, benda pipih itu kembali berdering setelah berada diatas meja. Drrt Service AC is calling Alih-alih menerima panggilan tersebut, Anggara malah terlihat panik dan gelagapan sendiri, ingin menyembunyikan tapi tak sempat. "Kok gak diangkat?" tanya Agnia tanpa curiga melahap sarapannya. "I-ini mau diangkat!" jawab Anggara tergagap kikuk. "Memangnya ada Ac yang rusak?" tanya Agnia lagi. Bukannya kepo atau sok tau Tapi nama si pemanggil memang terpampang nyata diatas meja tadi. Tangan Anggara yang sudah hampir meraih ponsel tiba-tiba menggantung diudara. "Yuk pa anterin Caca, nanti telat!" Anggara mendengkus lega, Hasya menyelamatkannya disaat yang tepat. Ia berhasil kabur menghindari sederet pertanyaan sang istri. Meski terlihat acuh tapi Agnia menyimpan kecurigaan yang makin kuat. Sesampainya di parkiran, Agnia mengajak Caca untuk pergi jajan sekaligus menukar uang dari Anggara agar bisa dibagi dua. Anggara yang menunggu dimobil sendirian melirik ke kanan dan kiri waspada. Aura curi-curi waktunya kuat banget. Ia berkesempatan melakukan panggilan ke tukang servis yang aslinya memang nomer kontak Jesika. "Om jemput, mobil aku mogok!" Dasar cabe diterongin, Jesika menggunakan jurus manja dan merengek. "Emm Jes, Om kayaknya gak bisa deh!" "Kok gabisa?" protes si selingkuhan. "Om lagi nganter anak Om kesekolah!" jelas Anggara. "Trus kuliahku gimana?" "Naik ojol dulu ya beb, nanti pulangnya om jemput!" Anggara menyarankan solusi. "Om ngomong sama siapa?" Agnia tiba-tiba muncul diluar jendela.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.8K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook