2. Sugar Baby

1286 Words
"Insting seorang istri itu kuat, Om jangan macam-macam!" Agnia bersedekap dan kembali memberikan peringatan setelah memergoki Anggara. Saat ini keduanya sudah berada didalam mobil, giliran Agnia yang diantar pergi ke kampus. "Siapa yang macam-macam? kamu jangan mengada-ada!" Anggara terus berkilah. "Nia denger sendiri kok, Om tadi ngomongnya mesra!" bibir Agnia sudah maju. "Gak ada, Niaaaa, dia bukan siapa-siapa!" segera Anggara menepis tuduhan. "Kalau gitu, bisa dong Om ngasi tau soal Jasuke itu siapa?" secara halus Agnia menepis alibi suaminya. Anggara mengerjap dan kebingungan sendiri. "Jas-jasuke?" ia membeo dengan kening berkerut. "Tukang servis AC itu aslinya Jasuke kan?" tuntut gadis itu kesal. "O-owh, Jesika maksud kamu... ups!" Anggara keceplosan dan menutup mulut dengan tangan. "Terserah, mau Jasuke atau Jesika, itu pasti selingkuhan Om, ngaku deh!" tunjuk Agnia murka. "Bu bukan! Dia itu sekretaris saya!" Anggara kukuh beralibi. "Pokoknya Nia mau kita buat perjanjian baru!" "Perjanjian yang mana?" Anggara terkejut saat ia kembali menoleh dan menemukan sang istri sudah sibuk mengetik laptop dipangkuan. "Perjanjian pranikah kita waktu itu!" sahutnya tanpa melihat lawan bicara, Agnia menyempatkan diri untuk menyelesaikan kesepakatan sebelum mobil Anggara sampai digerbang kampus. "Poinnya, kalau ada yang ketahuan selingkuh, yang diselingkuhi bebas menggugat cerai!" ucap Agnia tegas. Anggara lagi-lagi mengerjap, ia tidak menyangka Agnia akan secepat itu mengultimatum. "Kok!" pria itu reflek bersuara. "Kok kok kok, ayam jago dilarang berkokok, matahari udah diubun-ubun!" Agnia tak peduli pada Anggara yang ingin protes. "Tapi saya boleh tambahin poinnya juga kan?" ucap Anggara berusaha mencegah. "Mau tambahin apasih, ribet banget kek bapak-bapak!" kesal Agnia mengoceh sembari memutar mata malas. Namun, demi pertumbuhan Hasya, Anggara juga tak peduli apapun soal sindiran sang istri. "Eumm ... begini! Waktu kita nikah dulu, kamu pernah minta izin ke saya untuk tidak menuntut hubungan suami-istri setidaknya selama dua tahun." jelas Anggara pelan-pelan, "Iya bener, lagian waktu itu saya kan masih abege, mana baru mulai kuliah, masa iya harus... (Agnia terhenti dengan mata mengerjap) Om jangan belibet gitu deh, langsung ke intinya bisa kan?" Agnia merasa Anggara mengalihkan topiknya lagi. Anggara mengolah kesabaran, desakan sang istri membuatnya tak sempat menyusun kata-kata. "Oke, jadi kira-kira usia pernikahan kita udah berapa tahun?" kata Anggara sambil mengusap dagu berpura-pura lupa. Agnia memiringkan kepala, ia dengan serius menanggapi, lalu gadis itu kembali memandangi sisi samping wajah Anggara yang sedang mengemudi. "Dua tahun!" sambungnya dengan nada bingung. "Jadi berapa usia kamu sekarang?" tanya Anggara mendikte. "Dua puluh satu!" sahut Agnia makin lesu. "Hemmm..." Anggara mengangguk-anggukan kepala. "Sudah dua tahun lebih kamu jadi istri saya, harusnya kamu juga bisa lebih dewasa ... kamu ngerti maksud saya kan?" sindiran Anggara makin menjurus pada satu hal. Namun, Agnia yang masih sibuk dengan dunianya ternyata memiliki tanggapan berbeda. "Ishhh om ngaco deh... dua tahun saya jadi ibu dari anak anda, om masih menganggap saya anak kecil?" ia bergeleng kepala tak terima. "Dewasa sebelum waktunya sih iya!" gumamnya lagi, sambil menghempas punggung di sandaran kursi. "Bu-bukan itu maksud saya ... Saya tahu, kerja keras kamu dalam mengurus rumah tangga memang sudah tidak perlu diragukan, saya akui kamu hebat dan sangat bertanggung jawab, tapi dalam sebuah pernikahan kamu juga harus tahu kalau ada yang namanya hak bi-- " "Saya kurang apa coba? dari pagi sampai malam ngurusin kalian berdua, taunya diselingkuhi!" potong Agnia bergumam sendiri. Wajahnya begitu dramatis, ia membuang muka, enggan memperlihatkan wajah kecewaan. Anggara menggantung kalimat lalu mengusap wajahnya frustasi, ia sangat ingin menjelaskan sekali lagi, tapi daripada si labil itu tantrum, iapun mengurungkan niat dan memilih untuk menerima isi perjanjian. Setidaknya, rumah tangganya terselamatkan dan aman terkendali. Toh dalam pikirannya masih ada Jesika sang sugarbaby, apapun yang ia butuhkan, Jesika bisa diandalkan. Terlebih ruang lingkup sang istri hanya seputar kampus dan rumah, pulang pergi dijemput supir keluarga. Agnia bukan tipe anak muda yang suka kelayapan, mana mungkin ia bisa tahu kemana saja Anggara pergi. Waw ... sepertinya Anggara cukup bangga dengan prestasinya ini. "Permintaan kamu udah saya setujui, kenapa masih cemberut!" kata Anggara melihat Agnia yang tak mau turun dari mobil ketika sampai. Wajah Agnia yang masam menjadi petujuk bahwa ia sedang merajuk. "Eh ada es pisang hijau, jajan yuk!" seru Anggara penuh semangat, dalam kondisi ini, traktiran merupakan cara jitu merayu sang istri. Benar saja, Agnia sudah mau tersenyum setelah mereka makan es pisang hijau didekat kampus tersebut dan Anggara bisa pergi dalam keadaan lega. Diperjalanan, Anggara bergeleng sendiri, semua gadis memang suka dirayu, akan tetapi uniknya Agnia ia tidak minta barang mahal dan mewah, ia hanya butuh pemanis lidah dan pendingin hati. Beruntung sekali pria yang berhasil mendapatkan gadis itu, tak banyak menuntut. Oh tidak! Tapi bukan Anggara orangnya. Sebab Anggara, malah jadi bosan dan tidak semangat. Memangnya dia bekerja untuk siapa kalau bukan demi anak istri. Nah, kalau istrinya saja menolak untuk disantuni, apakah salah jika ia menyantuni gadis lain yang lebih membutuhkan? Hanya karena sandwich buatan Agnia sangat enak, sampai Hasya pun rela jika posisi almarhumah ibu kandungnya digantikan oleh Agnia yang kala itu baru lulus SMA. Sebagai timbal balik, Agnia yang mengabdi sebagai ibu sambung mendapatkan biaya kuliah penuh sesuai permintaan. Tiga tahun sudah mereka bertiga menjadi keluarga kecil. Namun, kesempurnaan yang dimiliki putri tercinta nyatanya masih menyisakan sebuah kejanggalan. *** "Surprise!" Sore hari menjelang pulang, Anggara berkunjung ketempat sugarbabynya yang juga sedang merajuk, padahal uang transferan sebagai ganti rugi sudah dilebihkan berkali lipat. Alih-alih merasa dirugikan, Anggara malah merasa untung sebab jika uangnya keluar lebih banyak untuk Jesika, artinya kesempatan membuat hidup gadis itu bergantung padanya akan semakin besar. Dengan alasan hanya Jesika yang mampu membuat hidupnya lebih b*******h. Pria itu mendatangi mainan kecilnya di sebuah apartemen, uang transferan yang masuk semalam segera ia habiskan untuk memesan barang mewah demi mendapat kata maaf. Karena apartemen yang ditinggali Jesika adalah kepunyaan Anggara, maka ia bisa masuk kesana secara leluasa. "Beib, ini Om dateng!" Biasanya, Jesika akan langsung menerjang dan memeluk ketika Anggara tiba. "Kamu gak suka Om kesini?" namun kali ini, Jesika berpura-pura tak peduli. "Kalau cuma membawa diri, mending gausah datang!" ia memutar tubuh membelakangi. "Tentu tidak beibe Om kesini pasti bawain sesuatu!" Anggara tahu Jesika suka hadiah, karena itulah ia langsung menyerahkan paperbag berisi dompet bermerk kepadanya. Benar saja, senyuman Jesika langsung merekah dan berbinar setelah menerima hadiah Anggara. Jesika melingkarkan tangan dileher Anggara setelah tubuhnya melambung ke udara, dengan gaya bridal style ia pasrah dibawa masuk kedalam kamar. Agnia berjalan cepat di tengah koridor kampus, satu-satunya teman akrab dikampus yang ia punya adalah Tiara, seorang gadis populer yang kerap menjadi primadona dalam setiap penampilan. "Niaaaaaaaa!" Sebelum masuk ke kelas, Tiara yang datang belakangan tiba-tiba memanggil. Suara cempreng Tiara tentu saja didengar oleh si empunya nama, alhasil Agnia mendadak memutar tubuh dan tanpa sengaja malah bertabrakan dengan seorang pria berkacamata, berwajah putih bersih dan beralis tebal yang berjalan tepat dibelakangnya. Braak Beberapa barang yang dibawa pria itu langsung jatuh kelantai. "Maaf, maaf!" kata Agnia segera berjongkok dan membantu si pria memunguti barang bawaannya. "Ya ampun Nia, kalau jalan pakai mata dong?" sela Tiara yang sudah menghampiri namun langsung menghakimi. "Hey!" Pria berjas putih itu langsung mengultimatum Tiara. Akan tetapi, bukannya sadar dengan peringatan si pria, Tiara malah membelalakkan mata dan berbinar binar. Pasalnya ia salah fokus dengan ketampanan pria paruh baya itu. "Masyaallah, ini cowok apa malaikat?" Tiara bergumam kagum. "Kamu apa-apaan si? Maaf Om temen saya emang rada kurang seperempat!" sela Agnia, ia segera menarik tangan Tiara. "Ah iya, aku baru ingat! pokoknya kamu harus ralat ucapan tadi, dia gak pantes dipanggil Om!" namun, Tiara malah protes pada Agnia. "Loh kenapa?" Agnia berpikir logis, sebab pria itu memang nampak lebih tua dari mahasiswa lainnya dan mungkin seumuran dengan Anggara. Maka dari itu, iapun tidak segan menyebut pria itu sebagai om. "Gada om-oman, dia itu sugar daddy tauk, eh maksudnya Dokter Aarav!" Tiara berbisik kemudian kembali bicara dengan lelaki itu. "Ya kan, anda Dokter Aarav kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD