3. Dua Karakter

1155 Words
"Stttttthh..." Anggara mengeram kesal diatas tempat tidur sambil memijat pelipis, ia lekas membuang muka dari Jesika yang kemudian menatapnya dalam. "Hemm, jangan gitu donk om!" rayu Jesika. Ia menyampirkan rambut disela telinga, kemudian mencengkeram dagu Anggara, sampai pria itu menoleh lagi padanya. "Om harus semangat, mungkin ini cuma karena Om kelamaan nganggur, jadi agak sedikit kaku dan berkarat." goda Jesika menaik turunkan alis dengan senyum penuh dukungan. Sementara itu, Anggara masih berusaha menyembunyikan wajah, ia tak bisa membuang rasa malu begitu saja. Atau benar yang dikatakan Jesika, menduda selama lima tahun ditambah memperistri Agnia yang membuat dirinya makin berkarat. "Butuh lebih banyak pelumas dan foreplay kayaknya, nanti kita coba lagi ya!" Jesika menawarkan diri. Tak sedikitpun Jesika meremehkan kemampuan Anggara sebagai laki-laki atas percobaan mereka yang gagal kesekian kali, walau sebenarnya ia cukup dikecewakan. Hal itulah yang membuat Anggara membutuhkan Jesika. "Om!" rengek Jesika lagi, didalam dekapan Anggara. Ia bergerak lebih agresif meski harus memegangi selimut untuk menutupi tubuh yang tanpa pakaian. "Hemm!" gumam Anggara menyahut lemah. "Om kan baru pulang kerja, wajarlah kalau capek!" kata gadis itu pengertian. "Nanti deh, aku pesenin jamu penambah stamina, biar Om bisa langsung joss!" kata Jesika sambil berkedip nakal. "Hemm, terserah!" Anggara menjawab canggung, sebenarnya ia malas menuruti saran Jesika sebab dengan cara itu ia malah jadi lebih merasa payah dan tidak pantas menjadi lawan seimbang bagi gadis penuh gairah itu. "Itu muka jangan malas gitu lah, bete banget liatnya!" Jesika memajukan bibir, ekspresi Anggara malah membuat harapannya anjlok, padahal ia juga sedang mati-matian membangkitkan kepercayaan diri lelaki itu. "Ehmm, Jes. kayaknya Om harus pulang!" Tiba-tiba Anggara melepaskan rangkulan mesranya lalu bangkit memunguti pakaian hingga mengurung diri dikamar mandi. Tak lebih dari sepuluh menit, Anggara keluar dalam keadaan rapi seperti sedia kala. "Padahal aku udah pesenin makanan loh Om, kirain mau nginep." dengan pose s*****l, Jesika mengajak Anggara untuk duduk lagi disisi tempat tidurnya. Anggara mengangkat sebelah tangan demi melihat arah jarum jam yang melingkar di pergelangan. "Gak bisa, anak Om pasti nyariin!" bak putri kecilnya, Anggara mengusap pucuk kepala Jesika. "Terus rencana tadi gimana?" "Lain kali aja ya!" Anggara sudah tak lagi ingin. "Om, mobilku belum kebengkel, besok jemput ya!" upaya mempertahankan Anggara masih berlanjut. Anggara menghembus napas kasar. "Om transfer lagi bisa kan, besok panggil aja tukang bengkelnya sekaligus kamu traktir sarapan teman-teman, biar kuliahnya jadi tambah semangat." ucap Anggara sebelum berpamitan. Dengan senang hati sang direktur memindahtangan hasil kerja kerasnya ke rekening Jesika, toh siapa lagi yang bisa diajak menghabiskan uang selain gadis muda itu, karena istrinya tidak pernah meminta apapun, bahkan sang putri yang telah bergaul dengan Agnia selama tiga tahun terakhir juga ikut-ikutan tidak berminat dengan uangnya. Pikir Anggara, kini Jesika lah yang membuatnya bersemangat dalam bekerja, maka hari-hari sibuk yang ia korbankan hasilnya akan ia persembahkan pada mainan barunya itu pula. Hari berikutnya, Anggara sibuk di kantor hingga sore hari, berbagai pertemuan dan rapat ia tuntaskan. Meski semuanya berjalan lancar dan terkendali, tapi pikiran Anggara terus berkecamuk mempertanyakan tentang kualitas kelelakian yang mulai menghawatirkan. Karena itu Anggara coba menghubungi teman SMA nya dulu yang sekarang sudah menjadi seorang psikolog. "Setidaknya, gua gak terlalu jaim cerita soal ginian sama lu!" ucap Anggara yang baru saja menghubungi Dokter Aarav sambil menyetir. "Haha its oke, lu bisa cerita apa aja ke gua!" Dokter Aarav dan Anggara akhirnya mengatur waktu pertemuan malam itu juga. Ia menunda waktu pulang padahal jam praktek diklinik sudah selesai. "Nah itu!" Anggara setuju dan memantapkan niat berkonsultasi. Tanpa keraguan, Anggara memasuki ruangan khusus milik Aarav yang telah menunggu diruangan. Tak membuang waktu, Anggara seketika memberikan surat hasil tes yang pernah ia lakukan di rumah sakit kepada Aarav. "Hemm ... Menurut hasil pemeriksaan, kondisi lu normal!" dengan kening berkerut, Aarav membaca ulang hasil lab yang sejatinya sudah diketahui Anggara. "Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, tapi gua ... " Anggara menggantung kalimatnya. "Takut!" tebak Aarav. Anggara mengangkat wajah kemudian menganggukkan kepala. Aarav terkekeh sebentar lalu beralih tempat, ia bertumpu tangan pada sandaran kursi Anggara. "Memangnya apa yang lu takutin?" tanya Aarav masih dengan senyuman kecil. Anggara tak menjawab, ia mendengkus dalam mode sinis, kesal sekali ia melihat Aarav yang diam-diam menertawakan. "Oke oke, sekarang lu bisa ceritain ke gua, apapun!" pria beralis tebal itu mulai serius. Selama setengah jam, Anggara menceritakan masalahnya, ceritanya cukup bisa dipahami dan Aarav pun bisa dengan mudah mendapatkan kesimpulan. Akan tetapi, Aarav mempertanyakan tentang pola hubungan Anggara dengan sang istri karena merasa janggal dengan cerita tersebut. "Sebentar! Bukannya pernikahan kalian udah dua tahun, tapi kok percobaan nina ninuya baru tiga bulan belakangan?" tanya Aarav bingung. "Ya kan gua nunggu dia siap dulu, usianya juga baru genap 21, daripada gua dibilang PDF?" gerutu Anggara mulai misuh, sedangkan Aarav kembali mengangguk diimbangi senyuman konyol sambil bersiap memberi pertanyaan berikutnya. "Oke next, lu bilang dia masih malu-malu, kekanak kanakan, lugu, polos, dan malah sering memperlakukan lu kayak bapaknya... Tapi kok dia bisa jadi trio macan pas diranjang? Kayak punya kepribadian ganda gak sih, bro? selidik Aarav menganalisa. Anggara tersedak kikuk, ia berusaha mencari alasan. Karena faktanya yang diceritakan Anggara adalah karakter dari dua gadis yang berbeda, hal wajar jika Aarav pun sampai terheran-heran. Ketika bercerita tentang kegiatan diatas ranjang, tentu Anggara akan menggambarkan sosok Jesika. Tapi, ketika ia harus bercerita tentang karakter dan kepribadian sang istri sehari-hari, tanpa sadar Anggara menggambarkan sosok Agnia sebagai sosok yang selalu tulus menemaninya. "Bisa lah, ya kan sangenya sama gua, suaminya sendiri!" sahut Anggara cepat, tak ingin Aarav makin bertanya. "Eh tapi dia unik lo, wanita-wanita seperti ini memang ada tapi langka." Aarav menambahkan. Sang Dokter berusaha bijak sambil mempelajari karakter manusia yang memang tidak semua sama. "Iya kali!" Anggara mulai malas membahas, apalagi ia sudah canggung sendiri karena penjelasannya pun tidak berdasarkan fakta. "Elu cinta gak sama dia?" Triiing Dering telepon dimeja Aarav menjeda pertanyaannya. Anggara yang ragu langsung menghela napas lega, untuk pertanyaan Aarav satu itu ia belum punya jawaban, sementara Aarav yang malas mengangkat gagang memilih menekan tombol pengeras suara. "Selamat malam pak, apakah benar saya sedang bicara dengan Dokter Aarav?" terdengar lengkingan suara seorang gadis diseberang sana. Bahkan Anggara yang tadinya berpaling kini menoleh kembali. Suara ditelpon Aarav barusan, seperti suara orang yang ia kenal. "Ya saya sendiri!" sahut Aarav sedikit menundukkan kepala. "Maaf sebelumnya pak, hehe jadi tiba-tiba gini... (gadis diseberang terkekekeh kaku). "Santai aja!" Senangnya, Aarav tetap menyambut dengan ramah. "Emm ... Begini pak, misalkan saya minta sedikit waktunya untuk wawancara pribadi, apakah anda bersedia?" tanpa basa basi, gadis itu menyampaikan tujuannya menelpon. Sementara Aarav sibuk berpikir mengingat sosok pemilik suara, Anggara pun terlihat makin menajamkan pendengaran karena suara itu benar-benar tak asing. "Baik, tapi apakah boleh saya tau kira-kira dengan siapa saya bicara!" tanya Aarav ingin memastikan. Jujur, iapun merasa tak asing. "Owh maaf banget pak saya lupa ngasi tau," diseberang sana gadis itu kembali cengengesan salah tingkah sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Hal yang membuat Aarav ikut tersenyum mendengarnya. "Saya mahasiswa di kampus tadi pak, Nama saya Ag--" Drrrttt Ponsel Anggara tiba-tiba ikut berdering "Iya sayang, kenapa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD